Perang Sawiq, Kisah Nabi Muhammad di Tahun Kedua Di Madinah


PERANG SAWIQ

Seorang lelaki di tengah amarah yang sedang meledak-ledak mengucapkan sumpah serapah bahwa ia mengharamkan minyak atas dirinya serta tak akan mengusap kepalanya dengan air karena jinabat sebelum berperang dan menuntut balas kepada baginda nabi s.a.w.  laki-laki itu adalah Abu sofyan bin Harb. Gembong kafir Quraisy yang merasa sangat terpukul atas kekalahan kaum kafir dalam perang badar, tidak hanya itu ia juga kehilangan seorang anak dan beberapa kerabatnya yang ikut tewas dalam insiden itu, sementara ia sendiri tidak ikut dalam peperangan tsb. 
   
Dengan iringan 200 penunggang kuda, segera ia bergerak ke Madinah demi meluluskan sumpah tersebut. Dengan semangat di sertai emosi ia memacu kudanya melesat melewati dataran tinggi , hingga akhirnya berhenti didepan sebuah terusan sungai yang mengarah kegunung yang disebut gunung Tit (تيت) di kawasan Madinah, dan turun disebuah  بريد (kurang lebih 12 mil). setelah masuk waktu malam Abu Sufyan pergi menuju perkampungan bani Nadhir untuk mencari bantuan pada mereka untuk memerangi Rasulullah saw.

Tepat tengah malam ia sampai diperkampungan bani Nadhir, iapun bergegas menuju rumah Khayyi bin Akhthab, guna mencari tahu tentang Rasulullah serta para sahabatnya kepada tokoh yahudi tsb. Sesampai dirumahnya, dedengkot kafir ini segera mengetuk pintu. Namun entah apa yang ada dalam benak yahudi itu, disertai munculnya perasaan takut kepada Abu Sufyan, sehingga enggan untuk membukakan pintu rumahnya. Merasa kedatangannya tidak disambut baik oleh tuan rumah ia memutuskan  untuk pergi ke kediaman salam bin muskim seorang pemimpin bani nadhir. Ternyata tidak sia-sia, iapun disambut baik oleh pemimpin yahudi ini. Abu Sufyan diizinkan masuk ,untuk kemudian diberikan jamuan makan dan memberinya minuman arak. Salam bin muskim  sangat merahasiakan kedatangannya agar tak diketahui oleh khalayak umum begitu pula rasulullah s.a.w. ia juga memberi tahu kabar tentang beliau. Setelah beberapa saat dirumah itu, dan mengutarakan maksud kedatangannya ia segera pergi meniggalkan rumah salam bin muskim dan bergegas kembali keteman-temannya yang telah lama menunggu.

Saat masuk waktu sahur, ia menyuruh beberapa orang laki-laki untuk berangkat kemadinah untuk melaksanakan sumpahnya. Mereka mendatangi ‘Aridl, sebuah lokasi yang termasuk bagian dari wilayah Madinah. Disana mereka membuat keonaran dengan membakar beberapa pohon kurma. Di situ mereka menemukan seorang sahabat Anshar  yakni Ma'bad ibn Umar al-Anshari dan orang yang membantu pekerjaan diperkebunannya. Tak pelak lagi kedua orang itulah yang menjadi sasaran amukan massa tersebut sehingga syahidlah keduanya. Tidak hanya nyawa mereka yang terenggut oleh keganasan orang-orang musrik, namun perkebunan Ma’bad juga terberangus dalam peristiwa ini. Dua rumah penduduk telah mereka bakar pula. Dari sini abu sofyan merasa puas karena sumpah nya telah terlampiaskan. Mengetahui tindakan tersebut kaum muslimin mulai waspada, Rosulullah yang mulai mendengar berita tersebut, segera beliau keluar pada hari ahad  dari bulan Dzulhijah tahun ke-dua Hijriyah bersama dua ratus orang Muhajirin dan Anshar untuk mencari mereka. setelah menyerahkan kepemimpinan Madinah di bawah Sahabat Basyir bin Mundzir. Seperti yang telah di duga ternyata mental keberanian mereka tidak sepadan dengan omong besarnya. setelah melakukan aksi brutal itu buru-buru Abu Sufyan dan anak buahnya kabur meniggalkan daerah tersebut, untuk menghindari kejaran baginda nabi dan para sahabatnya. Sesampainya di Qarqarah al-Kadry  Rasulullah dan para sahabatnya hanya menemukan beberapa kantong terbuat dari kulit wadah tepungyang merupakan bekal mereka. Sengaja mereka mencampakkannya agar mampu kabur dengan cepat supaya nabi tidak sempat mengejar mereka. sehingga kaum musliminpun hanya bisa memungut barang-barang tersebut. merasa pengejaran itu sia-sia, akhirnya baginda Rasul dan para sahabatnya memutuskan untuk kembali ke Madinah. Dari sinilah istilah perang sawiq muncul.  Beliapun ditanya oleh sahabatnya "Wahai Nabi Allah adakah tuan menginginkan adanya peperangan antara kami dengan mereka?" "ya, benar." Jawab Rasul saw.


SHALAT 'IED

Pada Tahun ke-2  hijriyyah ini, kaum muslimin melaksanakan amal ibadah yang sangat berperan besar, yang mampu mempererat tali persudaraan dan dapat menguatkan ikatan persaudaraan agama. Mereka melakukan dua shalat Ied, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments