Sejarah Ki Jaga Raksa Gunung Karang, Pandeglang

Kyai Syeh Jumanten Jaga Raksa Nagara adalah salah satu utusan Kesultanan Banten yang ditugaskan untuk mengkonversi orang-orang di desa saya. 
*****
Makam Kyai Syeh Jumanten yang Memegang Raksa Nagara atau disebut ki Jaga Raksa,  terletak tidak jauh di belakang rumah saya. Disana berdiri sebuah pohon kenanga besar.

Di sekitar makam itu dihiasi dengan pohon-pohon yang jebug. Saya tidak tahu siapa yang melakukannya, tetapi yang saya tahu dari awal sampai sekarang, batu nisan yang terbuat dari batu besar selalu terbungkus lapisan kain putih.

Tempat ziarah dibangun untuk pemakaman dengan dinding permanen, yang terdiri dari dua lokasi. Semua ini disiapkan untuk memisahkan peziarah pria dan wanita. Dan pada setiap Idul Fitri, seluruh penduduk desa saya mengantre untuk mengunjungi makam ini.

Sebagai tanda penghormatan tanpa batas terhadap pelayanan almarhum Kyai Syeh Jumanten Jaga Raksa Nagara di masa lalu.

Tidak jauh dari kuburan tersebut ada dinding kecil dengan kolam kecil. Dikatakan bahwa, menurut cerita orang tua, musim semi adalah sisa dari Jumanten Jaga Raksa Nagara, di mana ia biasanya mandi dan dimurnikan.

Seluruh penduduk Karang Tanjung percaya bahwa almarhum Kyai Syeh Jumanten Jaga Raksa Nagara adalah kakeknya. Jadi kami biasa menyebutnya makam Kyai Buyut.

Masyarakat Karang Tanjung mengklaim bahwa itu adalah ritual Islam. Orang-orang Karang Tanjung terbiasa berpikir bahwa mayat-mayat di bawah nisan adalah leluhur mereka yang selalu menjaga desa ini dari berbagai badai.

Memang, tidak semua warga memiliki kepercayaan seperti itu, tetapi masih ada beberapa warga yang menganggap makam itu sebagai keberuntungan. Jadi itu digunakan sebagai tempat untuk mengeluh tentang setiap kesulitan hidup dan kegembiraan.

Bahkan ibu saya sendiri masih sangat menghormati makam itu. Ibuku selalu menasehati anak-anaknya agar tidak lupa berziarah ke sana setiap kali mereka menghadapi masalah.

Atau misalnya untuk pernikahan, sunat, bahkan sebelum Anda berangkat haji. Dan jika salah satu keluarga saya beruntung, ibu saya langsung membuat nasi kebuli (nasi kuning dicampur kelapa muda, abon ayam dan ikan teri).

Kemudian nasi kebuli dibawa ke makam Syeh Jumanten Jaga Raksa Nagara, berdoa di sana dan dibagikan kepada anak-anak kecil yang berkerumun di taman makam.

Semua warga di desa saya sudah mengerti, jika salah satu warga membawa nasi kebuli ke makam, itu berarti mereka sedang beruntung. Mereka biasanya saling bertanya, penasaran ingin tahu keberuntungan apa yang bisa mereka bawa untuk membawa kebuli ke makam Kyai Syeh.

“Apa yang membuat semua nasi kebuli? apa yang dikabulkan?” Tanya para ibu yang kebetulan bertemu dengan salah satu keluarga yang membawa nasi kebuli ke makam Ki Buyut ketika mereka bertemu.

"Putra kedua saya lulus ujian" atau "Syukurlah putra saya diterima sebagai petugas polisi" atau "Syukuran putra bungsu saya sudah pulih dari penyakitnya."

Khusus bagi masyarakat Karang Tanjung, adat ini masih dilestarikan dan dibudayakan. Tidak ada bukti tertulis tentang sejarah asal usul Kyai Syeh Jumanten Jaga Raksa Nagara.

Dari tahun berapa dia tinggal di desaku dan tahun berapa dia mati. Saya bahkan berpikir bahwa tidak ada orang Karang Tanjung yang menyadari hal ini. Tetapi orang tua mengatakan kepada saya, saya pikir perpanjangan lidah orang tuanya sebelum, bahwa Kyai Syeh Jumanten Jaga Raksa Nagara adalah salah satu utusan Kesultanan Banten yang ditugaskan untuk mengkonversi orang-orang di desa saya.

Dan kebetulan dia memilih Kampungku sebagai pusat jasanya. Juga tidak diceritakan, apakah dia punya istri dan anak atau tidak? Saya hanya tahu bahwa kuburannya sudah ada di sana, mungkin jauh sebelum nenek saya lahir.

Post a Comment

0 Comments