SIAPA ITU MAMA HARUN/ KI HERUN, WALIULLAH BANTEN



Saya agak tergelitik untuk menjawab pertanyaan ini, karena beberapa kawan selalu menanyakan tentang sosok Ki Herun atau mama Harun.

Siapa itu Ki Herun? Sosoknya memang tidak seterkenal Abuya Dimyati Cidahu atau Mama Sanja Kadukaweng, tapi bagi sebagian masyarakat Banten, justru sosok inilah yang menjadi 'pelindung' atau penanggungjawab dari beberapa waliullah di tanah Banten. Sosoknya yang merakyat dan mau membagi ilmu kepada siapapun. Konon kabarnya, Mama Herun atau Ki Herun ini belum meninggal dunia hingga sekarang ini. Wallahu A'lam.

Saya menulis tentang sosok ini hanya bertujuan untuk 'menjaga' sejarah dan kisah para leluhur agar tak mati ditelan jaman. semoga dikemudian hari ada yang mau menambahkan cerita tentang beliau.
*******
Dalam pengajiannya, Abah Uci Cilongok pernah menceritakan sosok ini. Disebutkan oleh beliau bahwa Ki Herun itu dulunya adalah seorang Kiai yang mempunyai santri yang banyak, setelah banyak dari santrinya yang menjadi Kiai, Mama Harun meninggalkan Pesantrennya lalu menjadi pedagang. Beberapa ulama mencela sikap beliau
"Nanaonan atuh Ki.. mending jadi kiai daripada jadi padagangmah ja cape jadi padagangmah"
Lalu Ki Herun menjawab "Lah jeung naon jadi Kiai cuma ngarusak hate, Jadi Kiai mah dimulyakeun ku batur, di hormati, lamun datang kanu hajat geh di amplopan, ja rusak hate aing jadina, mending jadi padagang bae aing mah, ngadorong-dorong gorobak, di hina-hina kubatur, eta nu ngenaheun kana hate mah"
Dari cerita tersebut, jelaslah bahwa Ki Herun adalah Sufi sejati yang 'maqomnya' sudah sangat tinggi karena beliau hanya ingin di hina dan diremehkan oleh masyarakat. Tidak adigung adiguna atau besar kepala dan menonjolkan diri tentang ke-AKU-annya di hadapan orang lain.
*****
Saya juga pernah bertanya tentang sosok ini kepada salah satu Kiai di Pandeglang (tidak perlu menyebutkan namanya), sampai sekarang kiai Itu hidup miskin tapi dia sudah pernah naik haji. Bagaimana cerita beliau bisa naik haji dan darimana ongkosnya? Tanya saya suatu hari.

Si Kiai itu menjawab "Ini berkah Mama Harun" lalu si Kiai itu menceritakan awal mula kisahnya dengan Mama Harun, suatu hari ia berkelakar bahwa ia ingin naik haji, Mama Harun bertanya "Kamu ingin naik haji?"
"Muhun Ki.."
"Kadieukeun duit 2000 eta dina kantong dia"
Lalu si Kiai merasa heran karena Ki Herun tau bahwa di kantongnya ada duit 2000 perak, lalu memberikannya kepada mama Harun.
"Boga Cau teu?"
"Cau??!!" kata si Kiai balik bertanya "Atuh aya di dapur"
"Kadieukeun eta cau" kata Ki Herun
Lalu tanpa banyak bertanya, si Kiai mengambil pisang dari dapur dan memberikannya kepada Mama Harun.
dan entah bagaimana ia sendiri bingung, satu bulan kemudian ada seorang jamaah pengajiannya yang menawarkan ia untuk naik haji (saat itu masih menggunakan perahu), hanya ia seorang yang naik haji, tidak dengan istri dan anak2nya.
***
Dalam trah kerajaan, kita mengenal istilah raja, patih dan prajurit, ada pemimpin ada makmun, nah kabarnya, Mama Herun ini merupakan pemimpin bagi para waliullah di Banten, ia bertugas berkeliling banten dan bersilaturrahmi kepada para Kiai untuk membantu urusan mereka.
Bahkan para Kiai di Banten, jika punya suatu hajat seperti ingin membangun majlistaklim, selalu meminta doa kepada beliau, biasanya Ki Herun meminta 'mahar' yang aneh-aneh (seperti minta kurma, minta duit, minta pisang, minta buah jambu) tapi makbul dan terjadi apa yang dihajatkannya.
***
Saya ingin bercerita banyak tentang sosok ini, tapi sosok ini selalu bersinggungan dengan para sesepuh terutama di wilayah Pandeglang seperti Abuya Dimyati Cidahu, Abah Sayuti Cengkel, Abah Otong Ciandur, Mama Sanja Kadukaweng dan sederet kiai ternama lainnya, tentunya sangat tidak etis jika saya banyak berbicara dan mengeluarkan sebuah nama, apalagi di Akun Facebook saya banyak berteman dengan keturunan Kiai yang sebenarnya sesepuh mereka selalu berhubungan dengan Mama Harun itu sendiri. Tapi sungguh menyedihkan jika para keturunan Kiai itu tidak mengenal jasa Ki Herun, Sosok sufi yang banyak diagungkan dan dicari2 para Kiai ini.
***
Satu contoh, suatu hari Ki Herun membawa semangkok beras untuk diberikan kepada Kiai Fuad Kaduronyok.
"Saeutik amat iyeu beasna Ki.." Kata Kiai Fuad
"Atuh hop bae itung ku dia.. lamun saeutikmah"
"Hese di itungna lamun hiji2mah"
"Nya kitu maksudna.. ke geh santri2 dia loba moal ka itung doang beas eta"
Dan benar saja Aki Fuad kemudian memiliki banyak santri dan jamaah pengajian yang luar biasa.

Semoga cerita ini membawa manfaat