Kisah Hidup Mbah Maimun Zubair, dan Kisah Mengenai Pondok Lirboyo


Berikut merupakan petikan wawancara kami dengan beliau, beliau banyak bercerita mengenai kehidupan sewaktu kecilnya, dimasa remaja dan komentar-komentar beliau mengenai Pondok Pesantren Lirboyo. Berikut cuplikannya semoga bermanfaat:
***
=================
Mbah Hasyim Asy’ari itu teman karibnya Mbah Manab, sedangkan mbah manab itu diambil mantu oleh Mbah Sholeh bandar kidul. Pada waktu itu terdapat nama Mbah Kyai Khozin dari Langitan, Mbah Kyai Khozin Bandar Kidul, ada lagi mbah kyai Khozin dari Siwalan Panji. Mereka semuanya memiliki nama yang sama yakni Khozin, kebetulan pada waktu itu ada seseorang yang bernama Khozin (Bandar Kidul). Nah, khojin ini merupakan furqohan (muara, pecahan, cabangan) dari Mbah Hasyim Asy’ari, sebab pada waktu itu beliau sudah memiliki dua furqohan yakni Siwalan Panji dan Tebu Ireng. Pada waktu itu yang menjadi angan-angan Mbah Hasyim Asy’ari adalah kawasan Kediri, tidak heran jika dikemudian hari mbah Hasyim Asy’ari itu menjodohkan Mbah Manab dengan putrinya Mbah Sholeh sebab mbah sholeh itu termasuk familinya Mbah Khozin (Bandar kidul).

Pada waktu itu Kyai Sholeh memiliki perkebunan di desa Lirboyo, kemudian perkebunan itu di berikan kepada mbah manab guna dijadikan kawasan pondok, jadi pada waktu itu pondok lirboyo banyak sekali pohon kelapanya, jika di atasnya banyak pohon kelapa, maka di bawahnya itu banyak santri. Sewaktu-waktu buah kelapa itu jatuh, maka buah kelapa ini tidak boleh diambil kecuali oleh Nyai Dlamrah, jika ada santri kok berani mengambil, itu santri ilmunya gak begitu bermanfaat, meskipun hanya gara2 kelapa. He he..(tertawa)

Mbah Manab itu masih terhitung sahabatnya mbah saya, pada suatu hari mbah manab akan main ke Semelo, sebuah tempat yang ada di kawasan Jombang dekat dengan Kertosono, tepatnya berada di sebelah barat pinggirnya bengawan brantas, tapi pada waktu itu Mbah Manab dilarang oleh mbah saya, jadi seumpama beliau itu jadi pergi ke Semelo maka saya ini tidak akan ke Lirboyo.

Sekitar awal tahun 1945, saya mondok ke Lirboyo diantar oleh bapak saya, pada waktu itu Kyai Idris masih berusia 6 tahun, sedangkan saya sudah berumur 17 tahun, saat saya mondok kesana, pesantren Lirboyo belum memakai sistem sekolah seperti sekarang, secara kebetulan saya juga satu kurun dengan Mbah Mahrus yang mendirikan PP. HM itu, saat datang kesana pertama kali, saya sangat bahagia sekali dan itu masih terkenang hingga sekarang.

Kyai Mahrus itu menikah dengan anaknya Mbah yai Manab melalui restu dan ridlo gurunya yakni Kyai Kholil Kasingan Rembang. Kalau diingat-ingat waktu melewati Sarang, Mbah Manab itu sewaktu mondok di Bangkalan ingat punya kenalan namanya “Miftah”, miftah ini teman ngeliwetnya Mbah Manaf, dia itu sewaktu di rumah menjadi tukang adzan Masjid Pondok Sarang sekaligus jadi Carik/ Sekdes (sektretaris desa), jadi saya itu mengenal Miftah karena dia itu tukang adzan, Miftah itu orangnya fakir, jadi kalau Allah sudah mentakdirkan seseorang menjadi faqir, meskipun disugih-sugihno, yoh menjadi kaya itu sangat sulit, he he he.. (tertawa) meskipun Miftah itu sebenarnya anak orang kaya.

Setelah mondok dari Kasingan Rembang, Mbah Mahrus kemudian mondok ke tebu ireng jombang, yang paling terkesan dengan mbah mahrus, beliau itu ngaleh mawon (memasrahkan/ taat saja) pada Mbah Manab, saya tahu besanannya Mbah Manab dengan Mbahnya Kyai Mahrus sebab Kyai Mahrus itu dinikahkan dengan Bu Zainab dengan catatan beliau itu ora oleh neges gawe neng cirebon, tapi neges gawe neng rembang (nggak boleh tinggal di cirebon tapi boleh bekerja atau tinggal di rembang), karena di sana itu ada kyai kholil, nah kyai kholil khan buyut saya, jadi pada waktu saya mondok di lirboyo ada semacam khodimnya mbah manab, kalau ada peristiwa keluarga, pasti yang di ajak musyawarah itu tak lain adalah santri kelompok saya. Makanya tidak heran jika saya dekat sekali dengan kyai manab.

Saya mondok di Lirboyo dua tahun lebih, tahun 45,46,47, jadi 3 tahun saya disana tapi nggak jangkep (tidak genap). saya lepas dari Lirboyo tanggal 18 tahun 1947. Meski demikian saya sangat bersyukur sebab bisa dekat dengan Mbah Kyai Manab, Kyai Mahrus, juga dekat dengan Mbah Kyai Marzuki, hal ini berlangsung terus menerus sampai nggak ada putusnya.

Mbah manab itu dulunya mondok di Tebu Ireng, beliau berasal dari Magelang, bapaknya yang bernama Abdur Rohim wafat sehingga beliau menjadi anak kewalon (anak tiri), Abdur Rohim itu bapak kandungnya, tapi Mbah Manab itu dibesarkan oleh bapak sambung (bapak tirinya), yang paling aneh ternyata ibu kandung Mbah Manab itu sangat cinta kepada bapak tirinya mbah manab, hingga mbah manab keluar dari Magelang (untuk mondok). Cerita anak yang seneng sama bapak tiri ini terus berlanjut sampai riwayat bapak tirinya mbah manab itu habis (wafat).

Ketika Mbah Manab mondok di Tebu Ireng, saking cintanya ibu kandung terhadap anak, maka tiap tahun, ibu mbah manab ini hampir tiga atau empat kali nyambangi Mbah Manab, meskipun pada waktu itu belum ada kendaraan, jadi biasanya orang hanya berjalan kaki, sedangkan masuk pondok itu khan sulit, maka yang menjadi perantaranya adalah kyai Anwar (klaten, solo) yang kemudian menikah dengan orang Pacul Gowang, entah dikawinkan sama Mbah Hasyim atau tidak, saya tidak tahu, jadi Mbah Mansyur pacul gowang itu putranya Mbah Anwar yang berasal dari solo, nah mbah anwar (solo) inilah yang menjadi penghubung antara Mbah Manab dengan ibunya, jadi kalau ibunya datang ke tebu ireng nyambangi mbah manab, seakan-akan jika di hubungkan dengan Mbah Anwar (solo) itu ibarat tiga serangkai, ibunya Mbah Manab, Mbah Manab, dan Mbah Anwar (solo) ayahnya Kyai Mansyur (pacul gowang). Jadi kesinambungan itu dimulainya sejak di Tebu Ireng.

Suatu hari Mbah Manab pernah berkata, “Jangan kita lupakan riwayat mulai Tebu Ireng sampai Lirboyo”, makanya Mbah Manshur itu diambil menantu oleh mbah manab, jadi jika kita telusuri sejarahnya, satu sama lain Pondok pesantren itu ada saling kait mengait, dari sinilah kita bisa mengetahui bahwa Allah itu ternyata mempunyai jaman, jadi yang di maksud dari maqolah al-Insan Abna’u Zaman adalah bahwa Allah itu mempunyai jaman bagi orang yang baik-baik dan kebaikan jaman ini harus diketahui oleh kita.

Kalau dimasa mbah Hasyim, orang gak bakalan bisa menjadi kyai besar tanpa adanya Mbah hasyim asy’ari. Satu contoh lasem, di daerah Lasem itu Kyainya besar-besar, Mbah Baidlowi malah lebih alim, ada juga Kyai marzuki, mbah kyai kholil dan mbah kyai ma’shum, empat kyai ini yang erat hubungannya dengan Kyai Hasyim adalah Mbah Kyai Makshum, maka tidak heran jika mbah kyai makshum itu santrinya paling banyak, tidak ada sejarah pondok pesantren yang di asuh Mbah Kyai Baidlowi (Lasem) itu memiliki banyak santri, paling pool adalah khomsina (50), itu menurut saya, karena hal itu memang sudah wayahe, jadi pada waktu itu yang menjadi Abna’uz Zaman-nya adalah Mbah Kyai Hasyim, Pondok yang ada di Sarang ini seumpama tidak ngaji ke Kyai Hasyim, yah habis Pondok Sarang. Jadi lirboyo itu jika tidak ke Tebu Ireng yah habis santrinya, Ploso juga ke Mbah Kyai Hasyim, Rejoso Peterongan juga ke Mbah Kyai Hasyim, Buntet Cirebon yang di asuh kyai Abbas juga demikian.

Kemudian setelah itu adalah kurunnya kyai Lirboyo. Jadi, lonceng dimulainya Lirboyo banyak menelorkan Kyai itu saat saya mondok di sana, sebelumnya tidak ada Kyai yang menjadi besar kecuali nempel dengan lirboyo, Golkar itu pernah membesarkan pesantrennya, namanya Al-Kamal, di kawasan Jakarta, pendirinya adalah kyai Thohir Wijaya, dia itu merupakan santri Lirboyo. Lha sekarang Abna’U Jaman itu berada dimana? Wallahu A’lam. Saya sendiri tidak tahu.

Bisa kita pahami dari sini bahwa antara ulama satu dengan yang lainnya itu ada saling kesinambungan. Artinya, ulama itu tidak terputus dengan ulama yang lainnya. Cuma Allah tidak boleh dituntut, sekarang ada istilah Isthighasah Kubra itu saya setengah setuju setengah enggak, sebab menurut saya, seakan-akan di belakang layar isthighasah kubra itu ada desakan “menuntut Allah”, sedangkan Allah itu tidak bisa di tuntut.

Tahun 1945, adalah awal saya mondok di Lirboyo, pada waktu itu di Lirboyo sudah banyak bangunannya, dan banyak pula cerita-cerita yang mengalir dari sana, terutama pondok kawak yang lokasinya berada di sebelah utara masjid, itu adalah pondok asli, biasanya yang tinggal di pondok itu kebanyakan al-Fuqara wa al-Masakin, kalau ada orang yang punya uang, mereka akan membuat kombongan sendiri-sendiri (membangun kamar sendiri-sendiri). Dan untuk pertama kalinya di bangunlah sebuah Madrasah yang lokasinya tepat berada dipinggirnya Masjid.

Tentang hubungan Lirboyo dengan pondok Kedunglo pada waktu itu memang sangat dekat, sebab sama-sama jadi menantunya Mbah Kyai Sholeh. lantas apakah Mbah Sholeh pernah mondok di Bangkalan?, barangkali iya, sebab Mbah Manab itu orangnya sudah sepuh, barangkali lebih tua Mbah Manab ketimbang Mbah Sholeh sendiri. Mbah Manab itu orangnya mukhlis, tidak ada kyai yang seperti mbah manab. Saya dititipkan ayah saya karena pada waktu itu tidak ada kyai seperti mbah manab, saya syukuri dan resapi hal ini sewaktu di Lirboyo hingga saya mondok ke Makkah.

Hal yang mengesankan dari Mbah manab adalah beliau itu selalu mengedepankan wiridan yang thla’ thala’ (sunah-sunah), bayangkan saja jika pada waktu itu desa lirboyo masih dihuni oleh mayoritas orang-orang yang nggak pernah sembahyang, yang mau sembahyang pada waktu itu cuma pak guru, Itupun statusnya adalah PKI. Hal ini saya ketahui sebab saya kenal baik dengan seseorang yang bernama Pak Yamin, dia itu punya saudara namanya Jauri, nah Jauri itu punya anak perempuan paling cantik se-lirboyo namanya “Yar”, jadi kalau di tashrif  ‘Yaro Asluhu Yar-Ayu’, he he he…(tertawa). Rumahnya percis didepan ndalemnya Kyai Mahrus, jadi disana pada waktu itu ada jauri, pak yamin, dan ada pak guru orang PKI itu, mereka itu semuanya orang kampung tapi sembahyangnya rajin-rajin, oh yah, pada waktu itu juga ada seseorang yang bernama Rofi’i, dia juga harus diikutkan dengan mereka.

Saya ke Sarang ini punya dua orang kenalan dari lirboyo, satu putranya gus, (satunya lagi) putranya kyai Bakar, nah kyai bakar ini masih terhitung keluarganya kyai Sholeh, putra kyai bakar ini namanya Gus Ali. Sedangkan Gus ali itu memandang saya seperti adik, dulu saya punya guru namanya Hasyim, kalau menghafalkan Alfiah, mana yang cepat maka dialah yang nomor satu, sedangkan Gus Ali itu kalau menghafalkan Alfiyah, maka semua anak pondok tidak ada yang seperti Gus Ali. Jadi kalau saya melawan Gus Ali mesti kalah, maka untuk menyiasati hal ini, saya politiki hafalan alfiah itu, saya hafalkan bait yang awal saja, satar awal dan satar tsani itu semuanya hanya saya baca. Jadi saya gak usah repot-repot menghafalkan semuanya, maka jadilah saya yang menang, tapi menangnya ini menang sebab dikorupsi sama saya. He he he..(tertawa) Padahal Gus Ali itu orang paling alim seantero lirboyo, kemudian dia mondok ke rembang.

Saat saya mondok di Lirboyo, berketepatan dengan terjadinya peristiwa Shumubu, pada waktu itu semua santri dipaksa kalau bertemu tentara jepang mereka harus teriak “Tohir Wijaya” padahal dia itu masih berstatus santri, jadi kalo semua di Shumubu di apai-apai semuanya dipaksa teriak “Tohir, Tohir Wijaya”. karena tentara jepang itu menganggap thohir wijaya sebagai pengasuh pondok Lirboyo, jadi kalau tampil menghadapi Jepang semuanya pasti teriak “Thohir, Thohir Wijaya”. Oleh karena itu Pondok Lirboyo di jaman pemerintahan Jepang di jamin mendapatkan permit (semacam sembako bantuan ekonomi). Saya sendiri dapat bagian permit, jadi saya satu tahun mondok di lirboyo pada waktu itu enak-enakan terus, sebab disini pajekan (semacam pesan makanan dalam jangka waktu lama) seharga 95, saya dikirimi ayah saya 115, kata ayah saya yang 20 buat urunan beli sabun dan saya tidak di perbolehkan untuk jajan, ayah saya gak tahu kalo di lirboyo itu pajekan harganya 25, hal ini di karnakan permit (bantuan ekonomi dari jepang) masuk ke warung pondok. Kadang saya punya uang lebih sebesar 75 dan 75 ini kadang saya pajekno, seangkan uang yang 25 akan menjadi 50, pada waktu itu kebanyakan santri makan dua kali dalam sehari, tapi saya malah makan empat kali, ditambah lagi uang saya yang 10 jadi kalau di jumlah total semuanya menjadi 60, saya janji, uang 10 ini saya makan apa saja di warung gak usah di catat. Para santri sampai mengenal saya, mereka Cuma bilang “iyo iyo gus pun sak kersane (iya, iya, Gus monggo-monggo mawon)”.

Setelah setahun saya di lirboyo, sekitar pertengahan tahun 1946, permit sudah tidak ada, begitu juga dengan di rembang, tapi wesel saya masih tetap jalan. Nah, pada tahun itulah saya mulai merasakan hidup menderita di pondok Lirboyo, jadi saya menderita dua tahun, satu tahun sebelumnya saya masih gembira, setahun kemudian saya mulai merasakan penderitaan, lalu selama satu tahun itu pasti tiap hari jum`at ndas (saya seperti) cepot, akhirnya sayapun minta kiriman lebih. Tetapi karena saya ke lirboyo itu niatnya memang mau mengaji maka sayapun mendapat berbagai cobaan yang aneh-aneh setelah uang yang saya miliki mulai menipis, kemudian dari situlah banyak kejadian macem-macem, saya bertemu dengan kyai yang aneh-aneh seperti kyai Rahmat Pare (gedang sewu), ada juga seorang santri yang berasal dari gedang sewu namanya kaji kopok yang membuat kombongan (kamar besar) di sebelah utara Masjid, di sana itu kan ada sumur dan di sebelahnya itu ada kamar yang ada tangganya, saya kalau main ke daerah gedang sewu itu dimuliakan betul oleh kyai rahmat, sehingga tidak heran jika di lirboyo saya juga di muliakan oleh kaji kopok yang membuat kombongan di sebelah utara masjid itu, kaji kopok ini berpostur gendut, nah di daerah gedang sewu itu saya mempunyai bibi yang menjadi pemimpin muhammadiyyah di sana, jadi orang-orang muhammadiyyah yang ada di kediri pada waktu itu kiblatnya adalah pare (gedang sewu).

Bibi saya dinikah oleh orang namanya kyai Mustajab, bibi saya itu khan familinya kyai kholil Rembang, sedangkan Kyai Mustajab itu familinya Masduki, nah dua famili itu kemudian menjadi pemimpin Muhammadiyyah di Pare dan mendirikan Madrasah Diniyah Ula Wustho Ulya, maka tidak heran jika sampai sekarang saya itu didalam hati sebenarnya anti terhadap diniyah Ula Wustho Ulya, sebab slogan itu pertamakali yang mencetuskan adalah orang Muhamadiyyah, oleh karena itu saya katakan kalau kyai sekarang itu anak buahnya Muhammadiyyah, he he he.. (tertawa). sebab slogan Diniyyahnya itu ngiblat pada Muhammadiyyah yang tak lain adalah Ula wustho ulya.

Jadi penyebab ula wustho ulya itu berasal dari sarang, karena orang-orang yang ada di sarang itu hampir semuanya menjadi Pemimpin Muhammadiyyah. Di daerah Rembang juga ada Kyai Masduki, dia menikah dengan anak kyai pare, pokoknya hampir dimana-mana itu. Memang dia itu setengah kyai, Jadi Muhammadiyyah itu sebenarnya bisa besar karena peran kyai. NU juga bisa besar karena peran kyai, jadi sekarang itu ada semacam silang, nah silang itu bisa di katakan seperti catur, bisa pula dikatakan bertentangan arah, sebab jika yang satu ke utara maka yang lain akan ke timur, tapi bisa juga silang itu dikatakan seperti perempatan jalan, sebab perempatan itu kan seperti catur, nah sekarang apa perbedaan antara NU dan Muhamadiyyah?, silahkan lihat di kitab-kitab tauhid yang di karang oleh ulama salaf. He he.. (tertawa)

Pada waktu saya mondok di lirboyo, Kamar yang saya tempati pada waktu itu berada tepat disebelah selatan kuburan keluarga Lirboyo. Saya katakan bahwa ini merupakan Ashabus Syuffah, he he he.. (tertawa), sebab banyak orang yang bilang bahwa yang mondok di Pesantren adalah fakir miskin, lha, saya khan tidak terima dengan tuduhan itu.

Saya mempunyai cinta di pondok itu. Meski sebenarnya saya juga punya kamar sendiri. Jadi, kamar yang berada di sebelah barat bagian selatan itu sebenarnya kamar saya yang paling kecil sendiri. Saat itu saya katakan bahwa ini merupakan Ashabus Shuffah. Kebetulan di sana juga ada para pengajar. Termasuk orang Cirebon yang menjadi pengajar di Pondok lirboyo, ada juga Muhtarom, orangnya alim, Ia berasal dari Pacitan deket termas, jadi jangan dikira Pondok itu tempatnya orang-orang faqir saja, tapi juga tempatnya para Ashabus Suffah. He he he..(tertawa)

Shuffah itu merupakan istilah di zaman nabi yang diartikan dengan emperannya nabi. Kalau ada Kyai tentu di sana ada Bu Nyai, Sebab Ashabuh Suffah itu nempel dengan rumahnya Nyai Sayyidah ‘Aisyah, Jadi semua istri nabi itu santrinya tidak digandengkan kecuali dengan Nyai Sayyidah ‘Aisyah. Makna Syuffah sendiri adalah emperan yang dibuat sebagai tempat penghuninya para santri-santri nabi yang datang dari Madinah, jadi shahabat itu ada yang dari kalangan Muhajirin dan anshor, ada juga yang datang dari berbagai daerah yang kesemuanya itu sama-sama ngaji kepada Nabi, mereka berdomisili di Suffah, sebuah emperan yang ditempelkan ke rumah Sayyidah ‘Aisyah.

Pada waktu itu yang menjadi ‘pengasuh pondok’ tak lain adalah nabi sendiri, sedangkan yang menjadi ‘Nyai’-nya adalah Sayyidah ‘Aisyah. Bukan Khafsah, Maemunah ataupun yang lainnya. Oleh sebab itu tidak heran jika ada hadist yang berbunyi “ma baina baiti wa minbari raudhah min riyâd al-jannah,“ ma baina baiti itu maksudnya adalah rumah sayyidah ‘Aisyah. Dan Aisyah inilah yang menjadi “Nyai”. Jadi kalau ada “kyai” kok gak punya “nyai”, ya itu namanya “kyai” yang tidak sempurna. Jadi nabi Muhammad itu mempunyai ‘santri’ setelah berumah tangga dengan Sayyidah ‘Aisyah, ibaratnya aisyah itu sebagai permaisuri nabi yang mengasuh para santri. Jadi istri-istri nabi seperti khafsah, Shofiyyah, Maemunah itu semuanya berada di luar (Shuffah).

Sewaktu mondok di lirboyo, Banyak sekali pesan dan nasihat yang saya dengar langsung dari al maghfurlah kyai manab, sebab beliau itu tidak pernah mau meruju’i kitab dengan berbagai dhomir, mbahmanab itu kalau maknai kitab seperti ini; “wahuwa utawi iyo, wadzalika utawi mengkono-mengkono”, suatu hari Mbah manab pernah bilang begini “Ad-Dhamîr Fî Dhamîr Wa Man Lam Ya’rif Marji’ Ad-Dhamir Falaisa Lahu Ad-Dhamîr” jadi sebenarnya fenomena ini merupakan min ‘alamati ahl ilm, ‘an ya’rifa marâji’ Ad-Dhamîr min ghair an yakûna Isyarah wa la sharahah min al-mu’alif wahuwa kaqouli. Dan ini merupakan alamat (tanda orang-orang yang berilmu), jadi gak perlu di ruju’i”.

Pada waktu itu, saya ngaji kitab Ibnu Aqil dan kitab syudzûr adz-dzahab ke Mbah Manab. Saya Kalau mengaji selalu duduk disamping beliau, sering saya lihat kitab mbah manab itu gundul semua, gak ada maknanya, sehingga saya menilai bahwa pada umumnya kyai yang ada di Kediri jika membaca kitab pasti memakai kitab syarah, hal ini sangat berbeda dengan Mbah Manab. Oleh karena itu tidak heran jika sampai sekarang saya tidak punya makna, Karena saya ngaji ke Mbah Manab itu dulunya juga gak ada maknanya. Ini adalah penilaian saya, sebab saya dekat sekali dengan Mbah Kyai Manab, pas waktu ngaji, saya lihat dibelakangnya, kok kitab beliau gak ada maknanya, dan anehnya beliau kok gak pernah cari munjid (kamus) dan tidak pernah berhenti meski ngajinya itu banter.

Jadi, beliau itu sebenarnya kyai Kediri nanging walaisa ka ahli Kediri, Jami' al-Kuyuûh fî kediri, innama yaqra'ûn al-kutub bimâ kâna fihi min alfadz al-ma'ani allatî yatalaqqauna min asathir allatî min kuyûhihim. Wa amma mbah Manab katsîranmâ yaqra' al-kutub bi ghairi an yakûna hunaka at-tasyrih, wa lau musykilât fî ilqa'. Wa huwa yukhalifu jami'  al-kuyûh, wal kyai idza lam yakun hunaka al-ma'ani, lâ budda an yakûna fî janbihi kitab alladzî yuqâlu bî munjid, ya’nî al-qâmûs. Wa amma mbah Manab lâ yahmilu illa kitâban wâhid, wa qara'a dzâlik al-kitâb bi ghairi an yakûna hunaka at-tasyrih wa laa kitab ghairi ma huwa mathbu' bi dzalikal kitab, liannahu lam yata'allaq bi maa huwa bil qaamus. Wa huwa mukhalifun lil kyai mitslii, alladzi yulqi bi ghairi an yakuna tasyrih. Wa yukhalifu khilafan bahiran ma'al kuyuuh fi kediri, wal kyai fi kediri wa jombang innama yaqra'uuna bil kitab al-musyarrah. (Semua kyai-kyai di Kediri, mereka hanya membaca kitab-kitab dengan apa yang tertulis di dalamnya berbentuk lafadz-lafadz makna yang mereka dapatkan dari catatan pemberian kyai (guru) mereka. Sedangkan Mbah Manab berulang kali membaca kitab-kitab tanpa menggunakan kitab yang disyarahi (dijelaskan maknanya), meskipun terhadap hal-hal yang sulit disampaikan. Beliau berbeda dengan mayoritas kyai. (Padahal) seorang kyai pada saat tidak memiliki makna, maka menjadi sebuah kebutuhan disampingnya harus ada kitab yang disebut Munjid, yaitu kitab kamus. Mbah Manab tidak pernah membawa (apa-apa) kecuali hanya satu kitab, dan beliau baca kitab tersebut tanpa membutuhkan kitab lain yang disyarahi, tidak pula membutuhkan kitab lain yang dicetak (menjelaskan) kitab tersebut (yang beliau baca). Karena beliau tidak tergantung dengan qamuus. Sosok beliau berbeda dengan kyai seperti saya ini, beliau mampu mengajar tanpa menggunakan kitab yang disyarahi. Dan (beliau) memiliki perbedaan yang cemerlang (tak tertandingi) dengan kyai-kyai di Kediri. Sedangkan Kyai di Kediri dan Jombang, mereka membaca kitab dengan bantuan kitab-kitab syarah).

Bahkan mbah yai hasyim asy’ari itu kalau membaca kitab kosongan pasti di bantu dengan kitab lain yang sudah sah-sahan, hal ini sangat berbeda dengan mbah kyai manab. Kitab itu kan sangat sulit dimaknainya, sebab disana banyak terdapat syi’ir-syi’ir. Tapi karena Berkah mengaji, kitab yang saya kaji itu sampai khatam dan ndak pernah lowong, cuma separo thok. Pada waktu itu separo saya ngaji pada ayah saya, separo lagi ke mbah yai manab. lebih aneh lagi saat saya datang ke lirboyo itu kok pas, jadi mulai ngaji terakhir pada ayah saya sampai kelirboyo, saat itu saya ngaji ke mbah manaf beliau malah pas membaca diawal kitab yang terakhir saya ngaji ke ayah saya. jadi apa yang terjadi dengan segala apapun di dunia ini itu ada kebenarannya, ini artinya tawafuq, mislu hadzihi tawafuq fi sudzurud dzahab limadza an aqro ‘inda intiha’i an asmau min mbah manab ‘inda kyai ma qoroahu. Hal ini bisa pula dinamakan dengan muwafik, mencari hal-hal yang seperti ini ya sangat sulit.

Saya itu mempunyai mbah, namanya kyai khozin, berasal dari nganjuk, beliau mempunyai mertua namanya H. Zaini, sedangkan H. Zaini adalah anak angkatnya mbah Zainuddin Mojosari, pada waktu itu wali mojosari adalah mbah Zainudin tadi, beliau mempunyai murid namanya Kyai Fatah dari tulungagung. Kyai Zainuddin itu punya anak angkat namanya H. Zaini. Nah H. Zaini ini diambil mantu oleh mbah Kyai Khojin (nganjuk) yang tak lain adalah mbah saya.

Sedangkan Mbah Manab pada waktu itu mempunyai satu-satunya anak laki-laki pujaan hatinya yang bernama Nawawi, tapi Nawawi itu sudah lebih dahulu meninggal dunia pas mondok di makkah (pada era penjajahan jepang). ceritanya saat itu mbah saya (Kyai Khozin) sowan menghadap Mbah Manab. Kyai Khozin memeluk Mbah Manab lalu bilang “pun kulo jenengan pek dadi anak”, Mbah Manab jawab “iyo.iyo kowe anak ku”

Jadi pas saya di Lirboyo itu sering di sambangi mbah kulo (Mbah Khozin nganjuk) itu, sebab Mbah Khozin itu sebenarnya adalah anak angkatnya Mbah Manab, tentu saja tidak ada orang yang tahu kalau Mbah Khozin itu adalah anak angkatnya Mbah Manab. Sampai pada suatu hari Mbah Manab punya keinginan untuk naik haji dan berjanji sama Mbah saya (Mbah Khozin) itu, ”aku tak haji ji, wis aku ngajak kowe wae mergo aku kepengen mati nek makkah, lek mati dadi aku karo nawawi” singkat cerita yang meninggal di makkah ternyata mbah khozin dan mbah kyai manab malah yang kembali. He.. he he..(tertawa)

Mbah khojin (nganjuk) itu sebenarnya putra H. Muhsin tukang lelang paku yang meninggal di madiun, H.muhsin itu pinter dalam bidang “lan dan reh” ‘Lan’ itu artinya tanah, sedangkan ‘Reh’ itu diartikan dengan peraturan, jadi H. Muhsin itu sangat pintar dalam peraturan tanah. Lha Belanda pada waktu itu meskipun statusnya penjajah tapi mereka itu adil, pada waktu itu keadilan belanda sudah sangat masyhur, oleh karena itu peradilan internasional itu Den Hag itu menjadi adil karena ada peraturan di jawa ini, saya gak tahu apakah senusantara apa sejawa, yang jelas ada semacam istilah yang dikategorikan pribumi, sedangkan cina dan belanda itu tidak masuk kategori pribumi. Kalau menempati tanah namanya tanah el ghenof yaitu terima hak sewa atau hak paku, dalam hal ini pasti ada batas waktu dalam beberapa tahun, lima tahun atau sepuluh tahun, nah misalkan belanda itu memakai tanah selama lima tahun, cina misalnya memakai tanah ini sampai sepuluh tahun, jadi kalau sudah waktunya habis bisa dituntut di pengadilan, lha mbah saya yang bernama mbah muhsin itu termasuk orang yang kendel, kalau ada orang belanda kok memakai tanah lebih dari sepuluh tahun atau lima tahun maka mereka akan di tuntut di pengadilan, akhirnya harus di lelang oleh orang pribumi, pada waktu itu kebetulan (mbah saya) yang nglelang, akhir melelang itu di daerah nganjuk saat jepang mau menjajah, lokasinya di sebelah barat yang ada jalan menuju ke bojonegoro, di situ ada pabrik belanda yang di lelang oleh mbah H.muhsin, kemudian di tempati H.khozin, jadi mulai tahun 1945, pondok mojosari di bangun dimbilkan dari kaca-kaca pabrik itu, tapi sayang pada waktu itu tanahnya belum bisa di bereskan. Jadi selesailah persengketaan akhir dengan belanda karena pada waktu itu mereka sudah keburu di kejar-kejar jepang.

Anaknya Mbah Khojin itu sebenarnya hanya satu, namanya mashuri. jadi pas saya di lirboyo itu secara kebetulan sekali punya mbah Khozin yang anaknya mondok di lirboyo. dan Mbah Khozin inilah anak angkatnya mbah manab, beliau meninggal di makkah sewaktu mengantar mbah manab naik haji ke sana, niatnya mengantarkan mbah manab yang ingin meninggal di mekkah tapi yang meninggal di sana malah mbah H. Khojin sendiri. He he he.. (tertawa) di lain cerita, H. Zaini itu punya anak namanya basthomi yang sekarang sudah menjadi kyai, jadi saya ini gak bisa pisah dari mojosari, saya ini setiap tahun ke mojosari, sebab basthomi itu masih Putunya Mbah Hasyim Asy’ari.

Di lain pihak, Kyai marjuki dahlan itu adiknya kyai ihsan jampes, beliau mondok ke lirboyo dan di ambil menantu oleh mbah manab, jadi kyai marjki itu termasuk cucunya mbah yai sholeh, saya juga dekat dengan kyai marjuki sebab saya mengaji kepada beliau kitab fathul mu’in dan kitab dasuki sampai khatam, saya dekat dengan beliau sebab saya berada di ashabus suffah itu. Kalau ada apa-apa biasanya yang di timbali (di panggil) adalah saya. Sebab kamar saya berada di sebelah selatan kuburan keluarga Lirboyo (dekat dengan kediaman mbah marjuki) dan sering di tawari makan oleh kyai marjuki, ceritanya saat itu kalau malam saya mesti keluar pondok, sebab saya mempunyai uang lebih yang 100 itu, sebab saya tidak mau makan di pondok, saya khan ingin makan yang enak-enak, akhirnya saya keluar malam, nah kalau keluar pondok itu saya biasanya lewat pintunya kyai marjuki dan dinggap keluarga, jadi saya masuk ke rumahnya kyai marjuki terus masuk ke dapurnya itu, orang nggak mengapa apakan (berani macam-macam terhadap) saya, whong saya dianggapnya sebagai keluarga, akhirnya pada suatu malam saya di tangkap oleh kyai marjuki. dari sanalah mulai perkenalan saya dengan beliau, “sampean santri?”
Saya jawab “nggih gus”
Beliau bilang “kamu kok keluar-keluar lewat sini?”
Saya Cuma bilang “maaf gus, insya Allah saya nggak bakalan mengulanginya lagi” he he he.. (tetawa).

Justru dari sanalah saya di kenal oleh beliau, sampe saya mengaji kitab dasuki  ke beliau mestinya khatam kitab itu 3 malam, jadi saya bilang “kyai kitabnya mohon di khatamkan sekarang saja sebab saya mau pulang jadi kalau sampean nggak menghatamkan sedalu maka saya nggak bakalan ikut khataman” akhirnya di khatamkan kitab itu malam itu juga, banyak orang yang bilang dan bertanya-tanya, ada apa kok kyai marjuki menghatamkan kitab malam ini. Itu kesan saya terhadap mbah juki mengaji kitab dasuki yang seharusnya khatam 3 malam menjadi 1 malam gara-gara saya meminta beliau untuk menghatamkan. Jadi para santri sampai sekarang tidak ada yang tahu sama sekali apa penyebab di khatamkannya kitab dasuki itu, sebab pada waktu itu geger “ada apa mbah juki kok menghatamkan kitab malam ini” he he he..(tertawa). jadi nggak ada pondok yang punya santri kayak gitu itu nggak ada, pada waktu itu ngajinya khan sampe lewat jam 12 malam, pada waktu itu memang jamaah isya di mulainya jam 10 malam. Itu cerita saya ngaji kitab dasuki ke kyai marjuki. He he he..(tertawa)

Selain itu nama dasuki itu juga nama mbahnya gus ali itu. He he he.. (tertawa) jadi saya itu senang mengaji kitab dasuki karena saya punya buyut yang bernama dasuki itu. He he he..(tertawa). Nah menurut cerita, buyut saya di namakan dasuki itu sebab ayahnya senang membaca kitab dasuki itu. Dan secara kebetulan mbah dasuki itu seneng membaca kitab Mu’in saja, mbah dasuki itu mempunyai anak namanya mubin sedangkan mubin punya anak yaitu ali masyhuri itu yang tenar menjadi wali sidoarjo, jadi ali masyhuri itu termasuk buyut saya.

Kalau alumni lirboyo yang seangkatan dengan saya mungkin sudah habis, tapi ada yang bukan berasal dari daerah rembang itu mondok di lirboyo, ada kyai aqil, saat saya datang ke lirboyo kyai aqil itu sudah ada di sana, beliau punya anak namanya said aqil itu, makanya said aqil itu mondok di lirboyo, awalnya dia itu mondok di krapyak, jadi pengalaman saya di lirboyo yang paling indah adalah kamar yang letaknya dekat dengan kuburan keluarga lirboyo yang saya namakan dengan Ashabus Suffah, jadi Lirboyo itu Mbah Manab, sedangkan Mbah Manab yah Lirboyo, jadi mbah manab itu menantunya mbah sholeh, mbah sholeh mempunyai sepupu mbah jazuli yang bernama kiai Khojin yang berasal dari kemuning, dulu beliau itu mondoknya di lasem, jadi kemuning itu gak bisa di pisahkan dengan lasem, sebab saya dengan kyai abu bakar gak pernah pisah sebab beliau itu adalah ayahnya gus ali. Kyai abu bakar mempunyai menantu namanya H. Abdul Jalil (Sanggrahan), kyai abdul jalil mempunyai mantu orang yang dulu lama di sarang, jadi saya dengan pondok sanggrahan itu gak pernah pisah, sedangkan pondok sanggrahan itu di asuh oleh kyai ghozali, yang lokasinya berada di sebelah pabrik mrican itu. Cukuplah segini saja, salam-salam ke Masyayikh Lirboyo.
Wallahu A’lam.
***
Isi tulisan ini sudah dibukukan dalam buku SEJARAH PESANTREN LIRBOYO


Post a Comment

0 Comments