Perang Badar Kubro, Kisah Legendaris Nabi Muhammad Saw

PERANG BADAR KUBRA

Termasuk perang yang sangat masyhur di kalangan kaum muslimin yang tak akan terlupakan sepanjang masa, adalah perang Badar Kubro. Allah swt mengabadikan peristiwa ini dalam al-qur’an al-kaarim. Allah swt berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 123-124

Artinya: “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, Padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.
(ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu Malaikat yang diturunkan (dari langit)?".

Ibn Ishaq menceritakan dari beberapa riwayat yang beliau gabungkan dari beberapa perawi. Beliau mengatakan : di saat nabi saw mendengar rombongan Abu Shafyan akan pulang dari Syam dengan membawa harta dagangan,  maka beliau mengajak kaum muslimin untuk menghadang mereka.

Nabi saw berkata “Rombongan Quraisy akan  pulang dari Syam dengan membawa harta dagangan, maka hadanglah mereka. Semoga allah memberikan harta itu pada kalian.”

Umat islam langsung menyambut  ajakan  nabi saw, namun ada sebagian yang kurang semangat. Hal ini di karenakan mereka meyangka bahwa Nabi tidak akan melakukan peperangan. di sisi lain Abu Shafyan saat mendekati al-Hijaz berusaha mencari berita tentang apa yang terjadi di Hijaz, dia  khawatir akan keselamatan harta dagangannya. Tak lama kemudian dia mendengar bahwa muhammad mengajak para sahabatnya untuk menghadang rombongannya. Merasa khawatir akan hal itu, abu sofiyan menyewa Dlamdlam bin Amr untuk pergi ke Makkah guna meminta bantuan pada kaum Quraisy untuk menyelamatkan harta dagangannya, karena Muhammad dan sahabatnya akan menghadang rombongannya.

Rombongan ini terdiri dari tigapuluh atau empatpuluh orang laki-laki di antaranya Mahramah bin naufal)  dan Amr bin al-Ash. Az-Zuhri mengatakan : peristiwa ini terjadi dua bulan setelah terbunuhnya ibn al-Hadlrami. Rombongan ini membawa seribu unta dan seluruh harta dagangan kaum Quraisy kecuali miliknya  Huwaythib bin abd al-‘Uzza, oleh karena itu dia tidak mengikuti perang Badar.

Kemenangan pasukan islam atas kaum Quraisy sudah di isyaratkan dalam mimpi ‘Atikah, hal ini terjadi tiga hari sebelum utusan Abu Shafyan, Dlamdlam datang di Mekah. ‘Atika mengalami mimpi yang membuatnya gelisah, sehingga dia perrgi ke saudaranya yaitu Abbas untuk menyampaikan hal itu.

Atika berkata “Wahai saudaraku demi Allah, tadi malam aku bermimpi sesuatu yang membuatku takut. Aku khawatir jangan-jangan mimpi itu sebagai isyarat akan terjadi bencana pada kaummu. Berjanjilah engkau tidak akan menceritakan apapun yang aku katakan padamu”. “mimpi apakah yang kau alami ?”. “aku melihat seseorang datang  dengan menaiki onta. Dan ketika berhenti di Al-Ibthih dia berkata dengan lantang ‘wahai para penghianat, apakah kalian tidak akan pergi kekuburan kalian pada hari ke tiga?’. Aku melihat orang-orang berkumpul padanya. Mereka mengikutinya saat masuk masjid.  Dan mereka berada di sekitarnya saat dia naik ke atas ka’bah dengan ontanya. Di atas ka’bah dia berteriak seperti semula dan ia juga melakukan hal yang sama di atas puncak Abi Qubais. Lalu dia mengambil batu besar dan di lemparkannya. Batu itu turun hingga sampai di bawah gunung dan terpeca belah. Tidak ada satu rumahpun di mekah yang tidak di masuki pecahan batu tersebut”. Mendengar penuturannya Abbas berkata “Demi Allah, ini Cuma mimpi biasa, jangan kau ceritakan pada siapapun.”

  Kemudian Abbas pergi  menemui temannya, al-Walid Bin ‘Atbah, Abbas menceritakan mimpi itu pada al-Walid dan meminta agar merahasiakannya. Namun mimpi itu di ceritakan pada ayahnya, ‘Atbah. Sehingga cerita itu tersebar luas dan di bicarakan kaum Quraisy di tempat-tempat umum.

Pada suatu pagi Abbas pergi ke Baitullah untuk melakukan Thawaf. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Abu Jahal dan teman-temannya yang sedang duduk-duduk sambil membicarakan mimpi Atikah. saat Abu Jahal melihat Abbas, dia berpesan agar Abbas daatang padanya setelah selesai Thawaf. Setelah selesai Abbas datang dan duduk bersamanya dan berbincang-bincang. “Wahai putra Abdul Muthallib, kapankah mimpi itu terjadi?”, “mimpi apa?”. “Mimpi yang di alami atika!”. “dia tidak mimpi apa-apa!”. “Wahai bani Abdul muthallib, apakah engkau tidak sudi jikalau kerabat laki-laki hingga wanitamu mampu untuk meramal?”. Aku mendengar bahwa di dalam mimpi, Atikah melihat seorang laki-laki mengatakan ‘Berangkatlah kalian pada hari ke tiga’. kami akan menantikan hari ketiga itu. Jika apa yang di katakan atika itu benar niscaya hal itu pasti terjadi. namun jika tidak, maka kami akan membuat pengumuman bahwa Bani Muthallib adalah keluarga yang paling pembohong di daerah Makkah.” Ancam Abu Jahal. Menyikapi apa yang t elah dikatakan Abu Jahal, Abbas berkata “Demi Allah, aku tidak peduli akan ancamanmu. Tapi aku katakan sekali lagi bahwa atika tidak mimpi apa-apa!”. Setelah itu Abbas meninggalkan Abu Jahal, ia sangat marah. pada sore hari nya semua wanita Bani Muthallib mendatangi Abbas.
Mereka berkata pada Abbas  ”Apakah engkau membiarkan orang fasiq itu mencaci dan menghina keluarga dan kerabat wanitamu?. Apakah engkau sedikitpupn tidak merasa terhina atas apa yang dia katakan?.” Abbas “Demi Allah, aku sudah membalasnya. Kalian jangan ikut campur dalam hal ini. Jika dia berani melakukan itu lagi , aku akan membantainya!”

Pada pagi hari ketiga dari mimpi Atikah Abbas pergi dari rumah dengan keadaan marah. Dia merasa bahwa ada yang dia lewatkan dari Abu Jahal yang seharusnya ia lakukan. Abbas masuk Masjid dan melilhat Abu Jahal sudah ada di dalam. Dia terus berjalan menuju Abu Jahal guna menantangnya lagi, agar ia dapat membalas jika Abu Jahal mengulangi perkataannya yang kemarin. Abu Jahal orang yang bodoh. Raut wajah, mulut dan matanya sangat tajam. Tiba-tiba Abu Jahal keluar Masjid dengan tergesa-gesa. Abbas berkata dalam hati “apa yang dia lakukan?, apakah dia menghindar karena khawatir aku caci maki?”. Namun tiba-tiba terdengar suara Dladlam, dengan mengendarai onta dan merobek baju ia berhenti di tengah jurang seraya berkata dengan lantang dan tergesa-gesa. “Harta dagangan, harta dagangan. Selamatkan Harta dagangan kalian yang di bawa Abu Sufyan dari Syam. Mereka akan di hadang Muhammad dan para sahabatnya. Tapi aku tidak yakin kalian dapat menyelamatkannya. Cepat selamatkan!”

Abbas dan Abu Jahal tercengang dengan apa yang di katakan Dlamdlam. penduduk mekah segera bersiap untuk menyusul rombongan Abu Sufyan.

Mereka berkata “Apakah Muhammad dan teman-temannya mengira mereka itu seperti rombongan Ibn Al-hadlromi?, sungguh mereka akan tahu atas kesalahan mereka !”.

Sebagian penduduk mekah ada yang ikut serta adapula yang mengutus seseorang sebagai penggantinya. Seluruh pemuka Quraisy ikut serta dalam pemberangkatan itu kecuali Abu Lahab. Dia meyewa al-Ash bin Hisyam bin al-Mugirah dengan upah sebesar empat ribu dirham, hutang yang tidak mampu ia lunasi.

Lain halnya dengan Umayyah bin Khalaf , di saat orang-orang sibuk untuk berangkat dia malah asyik ngobrol di Masjid. Sehingga Uqbah bin Abi Mu’aith  datang dengan membawa tempat bara api dan di letakkan di depan Umayyah. Aqbah berkata “Wahai abu Ali, silahkan memasak. Sesungguhnya kau adalah wanita”. Merasa terhina Umayyah spontan menjawab dengan nada keras “kurang ajar, apa yang kau lakukan?”. Umayyah segera pulang dan bersiap berangkat bersama rombongan.

Dalam satu riwayat di ceritakan bahwa Umayyah adalah teman Sa’ad bin Mu’azd. Saat Sa’ad pergi ke Mekah niscaya dia akan singgah di rumah Umayyah begitu pula Umayyah, di saat  pergi ke Madinah pasti dia akan singgah di rumah Sa’ad. Setelah Nabi saw pindah ke madinah, suatu ketika Sa’ad pergi Umrah dan singgah di rumah Umayyah. Dia meminta Umayyah untuk mencarikan waktu yang sepi di Baitullah agar dia bisa leluasa melakukan Thawaf. ketika hampir tengah hari keduanya berangkat ke Baitullah. Di tengah jalan mereka berdua bertemu dengan Abu Jahal.

Abu jahal bertanya pada Umayyah “siapakah orang ini?”. “Ini Sa’ad“ jawab Umayyah. Abu Jahal tahu kalau Sa’ad adalah salah satu orang Madinah yang menolong nabi saw. Ia berkata pada Sa’ad “Apakah kau merasa aman melakukan thowaf di Mekah?. Sedangkan kau telah pindah agama dan akan selalu menolong Muhammad dan para sahabatnya. Seandainya kau tidak bersama dengan Abu Sufyan niscaya kau tidak akan pulang dengan selamat!” Spontan Sa’ad membentak Abu Jahal “Demi Allah, seandainya kau berani menghalangiku melakukan Thawaf ini, niscaya aku akan melakukan yang lebih parah. Kau tidak akan bisa melewati Madinah”. Umayyah berusaha menenangkan Sa’ad “jangan berbicara kasar pada Abu al-Hakam. Sesungguhnya dia seorang tokoh daerah ini”. Sa’ad berkata “diam kau Umayyah! sungguh aku mendengaar Nabi berkata bahwa orang-orang islam akan membunuhmu” “di Mekah?” tanya Umayyah. “aku tidak tahu“ timpal Sa’ad.

Dari kejadian ini Umayyah merasa sangat gelisah. Saat pulang ia bercerita pada istrinya. “wahai Ummi Sufyaan, apa pendapatmu tentang yang dikatakan Sa’ad padaku?” “Apa yang ia katakan padamu wahai suamiku?” Ummi Sufyan penasaran. “ia berkata bahwa muhammad mengatakan kalau aku akan di bunuh oleh orang-orang islam. Aku bertanya padanya, apakah aku akan di bunuh di Makah?”, namun ia menjawab “tidak tahu”. Demi Allah, aku tidak akan keluar dari makkah.” Umayyah gelisah.

Pada hari-hari menjelang perang badar, Abu Jahal mengajak penduduk mekah untuk menyelamatkan rombongan Abu Sufyan. Namun Umayyah enggan untuk ikut serta dalam pemberangkatan tersebut. Sehingga Abu Jahal mendatanginya.

“Wahai Abu Sufyan, engkau adalah seorang tokoh yang di segani. Seandainya engkau tidak ikut serta niscaya merekapun (penduduk mekah) akan enggan untuk berangkat.” Abu jahal terus mendesak Umayyah hingga dia berkata “karena engkau telah menghinaku, maka demi allah aku akan membeli onta termahal yang ada di mekah.”

Umayyah langsung pulang dan menyuruh istrinya untuk mempersiapkan segala keperluan. Istrinya sempat menegor “wahai suamiku, apa engkau lupa pada apa yang di katakan sa’ad ?”. umayyah menjawab “tidak, aku Cuma pergi sebentar dan akan segera kembali!”.Umayyah selalu mengikat ontanya setiap ia berhenti hingga terbunuh di badar.

Ketika kaum Quraisy siap untuk berangkat mereka teringat dengan pertempuran melawan bani bakr bin Abi ‘Abd Mannah bin Kinanah mereka khawatir akan menyerang dari belakang.

Di saat itu datanglah iblis menyamar menjadi sosok seorang tokoh dari bani Kinanah yang bernama Suraqah bin Malik bin Ju’syam. Dia menjamin bahwa Bani Kinanah tidak akan menyerang mereka dari belakang. Sehingga pasukanpun di berangkatkan tanpa rasa khawatir akan serangan dari Bani Kinanah.

Mereka tertipu oleh sekenario iblis. Mereka tidak merasa akan di khianati. Padahal, di saat iblis melihat para malaikat turun dari langit ia langsung lari terbirit-birit. Dialah yng pertama kali lari dari badar setelah memberi motivasi pada kaum quraisy. Hal ini telah tergambar jelas dalam al-qur’an surat al-anfal ayat 47-48

Artinya: “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan Sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu".

Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling Lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; Sesungguhnya saya takut kepada Allah". dan Allah sangat keras siksa-Nya.
Orang quraisy berangkat dengan sombonganya. Mereka berjumlah 950 pasukan yang di lengkapi duaratus kuda dan tiga budak perempuan. Ketiga budak tersebut di tugasi untuk bernyanyi lagu-lagu ejekan pada kaum muslim di sertai musik rebana. Dalam satu riwayat dinyatakan bahwa pasukan quraisy membawa enampuluh kuda dan enam ratus baju perang. Sedangkan Rasulullah hanya membawa dua kuda dan enam puluh baju perang.

Di pihak lain pada tanggal delapan Ramadlan Rasulullah saw berangkat bersama para sahabat. Beliau menugaskan ibn Ummi Maktum sebagai imam Jama’ah di Madinah, sedangkan pemerintahan di serahkan pada Abi labanah yang beliau pulangkan dari daerah ar-Rauha’

Nabi Muhammad saw menyerahkan panji yang berwarna putih pada Muh’ab Bin ‘Umair, dan di depan beliau terdapat duabendera. Salah satunya bernama al-‘iqab di pegang oleh Ali ra, sedangkan yang satu nya di bawa salah seorang sahabat anshor. Menurut ibn hisyam sahabat Anshar itu adalah Sa’ad bin Mu’adz, namun menurut al-Amawiyah.  Dia adalah al-Habab bin al-Mundzir Rasulullah memposisikan Qais bin Abi sho’sho’ah saudara Bani  Mazin bin an-Najjar  di bagian pasukan belakang.

Dalam pasukan nabi saw terdapat dua pasukan berkuda. al-Miqdad bin al-Aswad  di sudut kiri dan al-Zubair bin al-‘Awwam di sudut kanan. Namun ada yang mengatakan pasukan berkuda itu bukan al-Miqdad akan tetapi al-Mus’ab bin ‘Umair.

Pasukan muslim membawa tujuh puluh onta yang di naiki secara bergiliran. Rasulullah saw,  Marsad bin abi Marsad  dan Ali bin Abu thalib menaki onta secar bergantian ,begitu pula para sahabat yang lain. Setiap tiga orang bergantian menaiki satu onta. Riawayat yang lain menyatakan bahwa yang bergantian dengan yang nabi saw adalah ‘Ali dan Abi Labanah. Keduanya sempat berkata pad nabi saw “Ya Rasulullah, silahkan anda saja yang nnaik, biarkan kami berjalan kaki saja”. Nabi saw menjawab “kalian berdua tidak lebih kuat dari aku. Kalianpun tidak lebih butuh pad pahala  dari pada aku”. Namun riwayat ini di fahami bahwa sebelum Abi Labanah di pulangkan dari daerah al-Rauha’. Namun setelah itu dia di gantikan oleh Martsad.

Nabi saw berangkat menuju Makkah melalui perbukitan Madinah. Di saat pasukan muslimin sampai di ‘Araqah ad-Zdabyah mereka bertemu laki-laki baduwi mereka bertanya tentang rombongan Abu Sufyan dan menyuruh dia agar mengucapkan salam pada nabi saw. Namun dia malah bertanya hal yang tidak berguna. “apa di antara kalian  terdapat utusan tuhan?” “iya“ jawab para sahabat seraya menunjukkan pada nabi saw. “kalau memang dia nabi, coba sebutkan apa yang ada dalam perrut ontaku ini?”.

Merasa jengkel, Salamah bin Waqasy menjawab pertanyaan orang ini.  “Hai orang bodoh, jangan kau tanyakan hal yang tidak berguna itu pada Rasulullah. Kemarilah, akan ku jawab pertanyaanmu. Kau telah menghamili untamu ini. Di perut nya ada anakmu”. Nabi saw langsung menegor Salmah. Beliau mengatakan “Jangan berkata kotor pada dia”. Lalu nabi saw berpaling dari Salamah.

Pasukan islam berhenti di sebuah sumur di daerah al-Rauhak yang bernama  Sajsaj. lalu melanjutkan perjalanan dan ketika di al-Munsharif  mereka mengambil jalur kanan melallui an-Nazilah.  Setelah melalui jalur kiri menuju ke Makkah. Mereka melalui jalur itu menuju badar. Saat mendekati Ash-Shafra’ nabi saw mengutus Basbas bin ‘Umair al-Jahny delegasi dari golongan Bani Sa’idah dan Abi Zhagba’  delegasi Bani Najar. Mereka berdua di utus ke Badar guna mencari tahu tengtang rombongan Abu Sufyan. Lalu nabi melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ash-shafra’ di sana beliau mendengar berita tentang pasukan Quraisy. Beliau mendengar bahwa mereka berangkat guna menyelamatkan rombongan Abu Sufyan. Beliau bermusyawarah dengan para sahabat dan memberi tahu tentang pasukan orang Quraisy. “Wahai sahabatku, apa pendapat kalian tentang hal ini?”. Abu bakar di susul oleh umar menjawab “Wahai Rasulullah, keputusan di tangan anda?”

Namun nabi tidak menghiraukan jawaban keduanya. Bahkan beliau menginginkan jawaban dari sahabat Anshar. Hal ini beliau lakukan karena disaat sahabat Anshar baiat pada nabi di Aqabah mereka berkata “Wahai Rasulullah, kami terbebas dari tanggung jawab akan keselamatan anda kecuali anda telah pindah ke negeri kami. Dan ketika anda telah pindah ke sana niscaya kami akan melindungi anda seperti kami melindungi anak dan istri kami”. Dari perkataan ini nabi saw khawatir jika sahabat Anshar tidak mau melindungi kecuali orang yang berada di Madinah.  Dan tidak akan memerangi musuh yang ada  di luar daerah mereka. Melihat nabi saw menantikan jawaban dari selain Abu Bakar dan Umar, sahabat Sa’ad bin Mu’adz langsung merespon sikap nabi saw. “Wahai Rasulullah, sepertinya anda menginginkan jawaban dari kami (Anshar)?” “ benar” sahut beliau nabi. “Sungguh kami telah beriman dan membenarkan anda. Kami bersaksi bbahwa anda membawa kebenaran. Kami telah memberikan janji atas semua itu. Lakukanlah apa saja yang anda kehendaki, niscaya kami akan selalu menyertai anda. Demi dzat yang telah mengutusmu, seandainya anda mengajak kami untuk menyeberangi lautan, niscaya kami akan patuh dan tak ada satupun yang akan mundur. Kami tidak akan menyesal jika besok akan bertemu musuh. Dan kami akan bersabar dalam pertmpuran. Semoga allah swt menunjukkkan dari kami sesuatu yang membuat hati anda tenang. Maka laksanakanlah dengan rahmat allah.”

Nabi merasa bangga atas ucapan dan perkataan sa’ad seraya berkata “berangkatlah dan berbahagialah, sesungguhnya allah telah berjanji padaku bahwa kalian akan mengalahkan salah satu dari dua golongan”. Seperti sa’ad , al-Miqdad juga memberikan pernyataan senada “Wahai Rasulullah, laksanakan apa saja yang telah di perintahkan Allah pada anda, kami akan selalu menyertaimu. Demi Allah, kami tidak akan mengucapkan kata-kata yang di katakan bani Israil pada Nabi Musa as ‘wahai Nabi Musa, berperanglah bersama tuhanmu. Sedangkan kami akan menuggu di sini’. Akan tetapi kami akan berperaang bersama anda. Demi tuhan yang telah mengutusmu, seandainyya engkau mengajak kami menuju Barqi Al-gimad niscaya kami akan menyertai anda hingga sampai di sana”. Mendengar ucapan Miqdad nabi saw merasa senang dan berdoa untuk kebaikannya.

Pasukan muslim berangkat hingga sampai di daerah Badar. Di sana mereka bertemu dengan beberapa pelayan Quraisy. Diantara mereka ada seorang budak hitam milik bani al-Hijaj. Para sahabat menagkapnya dan bertanya tentang  Abu Sufyan. Dia menjawab bahwa dirinya tidak tahu menahu tentang Abu Sufyan, akan tetapi dia tahu tentang Abu Jahal dan teman-temanya. Di rasa ia telah berbohong para sahabat memukulnya hingga dia mengatakan “iya, aku tahu tentang abu sufyan”. melihat kejadian itu nabi saw yang sedang shalat segera menyelesaikan dan menghampiri mereka “Demi Dzat yang menguasai diriku, sunggu kalian telah memukul budak ini di saat ia mengatakn kebenaran. Dan membiarkannya di kala ia berbohong.” Setelah itu beliau menunjuk ke arah beberapa tempat seraya berkata “di sini kuburan fulan, di sana kuburan fulan dan seterusnya”. Dan memang benar, tak ada satupun yang di katakan nabi saw meleset.

Dalam satu riwayat di jelaskan bahwa nabi saw mengutus ‘Ali bin Abi Thalib beserta beberapa sahabat untuk pergi ke sumur badar guna mencari berita. Di sana mereka bertemu dengan dua budak kaum Quraisy yang sedang mengambil air. Mereka adalah Aslam  budak bani al-Hajaj dan ‘Aridl Abu Yasar budak bani al-Ash bin Sa’id. mereka di tangkap dan di tanyai. Lantas mereka menjawab bahwa mereka adalah tukang pemberi minuman pasukan Quraisy. Di rasa berbohong, keduanya di pukuli oleh para sahabat. Di saat pukulan bertubi-tubi keduanya menjawab bahwa mereka adalah utusan Abu Sufyan dan pukulanpun di hentikan. Melihat kejadian tersebut nabi saw yang sedang melakukan shalat segera menyelesaikan dan menghampiri mereka sembari berkata “Ketika merka berdua berkata jujur kalian malah memukulnya, dan ketika mereka berbohong kalian melepaskannya. Demi allah mereka adalah utusan quraisy“.

Nabi saw bertanya pada mereka berdua “ceritakan tentang orang quraisy!”. “Demi Allah, pasukan quraisy telah berada di balik bukit ini yang dapat kau lihat dari kejahuan.” Sahut mereka. “berapa jumlah mereka?” nabi melanjutkan pertanyaan. Mereka menjawab “banyak, tapi kami tidak tahu pasti berapa jumlah mereka!”. “berapa onta yang mereka sembelih setiap hari?“ tanya beliau “kadang sembilan ekor kadang pula sepuluh?” mereka menjawab. “siapa saja pemuka quraisy yang ikut serrta?“ tanya nabi untuk kesekian kalinya “selain Abu Lahab!” jawab mereka.

Nabi saw berkata pada sahabat “kekayaan alam kota mekah ini akan di berikan pada kalian!” Di sisi lain Basbas bin Amr dan ‘Ady bin Abi Jaghba’ yang di utus ke Badar, setelah sampai disana keduanya berhenti di sebuah bukit dekat sumber air di kawasan Badar. Keduanya minum seteguk air dari sumber tersebut. Di sana juga terdapat Majdi bin Amr aj-Jahiy. di sana mereka mendengar percakapan dua budak wanita milik penduduk setempat.

Salah satunya berkata pada temannya “besok akan ada rombongan yang akan datanga kesini. Aku akan melanyani merka dulu, dan setelah tiu aku akan memenuhi janjiku padamu”. Setelah mendengar percakpan itu al-Majdiy  langsung pergi melewati Basbas dan ‘Adiy seraya berkata “sungguh benar budak wanita ini”. Basbas dan ‘Adiy beranjak pergi. ketika keduanya sampai di hadapan Rasulullah mereka menceritakn apa saja yang mereka dengar.

Abu Sufyan terus  melanjutkan perjalan dengan memimpin di depan, karena khawatir ada sesuatu yang tidak di inginkan. Saat mendekati sumber air badar Abu Sufyan bertanya kepada al-Majdiy. “Apa kau bertemu dengan seseorang?” menjawab “Aku tidak melihat orang  yang mencurigakan. Hanya tadi aku melihat ada dua orang mengendari onta yang ada di bukit ini. Dan setelah minum keduanya pergi.”

Abu Sufyan menghampiri tempat kedua orang tadi, dia mengambil kotoran onta kedua pengendara tadi. Setelah di bersihkan  dan melihat biji kurma dia terkejut, ternyata itu dalah kurma Yastrib. Dia segera pergi dengan rombongan dari badar melalui jalur pantai sebelah kiri dengan tergesa-gesa. Setelah merasa selamat, Abu Sufyan mengirim utusan kepada pasukan Quraisy. Dia mengatakan bahwa rombongan telah selamat dan berharap agar pasukan di tarik mundur. Peringatan Abu Sufyan ini hanya di dengar oleh Bani Zahrah dan Bani ‘Ady. Keduanya kembali pulang ke Makkah. Lain halnya dengan Abu Jahal dan yang lainya. Abu Jahal berkata “Demi Allah, kami tidak akan kembali sampai ke badar. Badar adalah  salah satu musim arab.  Kami akan bertempat di sana selama tiga hari sambil menyembelih onta, berpesta, minum arak dengan diiringi lantunan lagu-lagu biduan. Seluruh arab akan mendengar peristiwa ini. Dan kita akan selalu di segani di manapun.”

Pasukan Quraisy terus maju hingga sampai di ‘Udwatil al-Quswah. daerah ini sulit di lalui karena kondisi tanahnya tidak baik. Akan tetapi Allah menurunkan hujan yang menjadi rahmat bagi pasukan muslimin sehingga merasa mudah melaluinya. Lain halnya dengan pasukan Quraisy dengan turunya hujan tersebut mereka malah tambah kesulitan pergi dari daerah itu.

 Pada malam hari menjelang perang badar tepatnya malam jum’at tangal 17 Ramadlan 2 H, Allah menurunkan hujan rintik-rintik yang menghilangkan debu. Seluruh pasukan muslimin terlelap dengan tenangnya kecuali rasulullah saw. Beliau selalu melakukan shalat di bawah sebuah pohon. Ketika sujud beliau memperbanyak membaca يا حي يا قيوم Kemudian pada tengah malam dengan pasukan muslimin beliau bergegas menuju ke arah sumber air badar. Setelah  sampai di sana Al-Hubab bin al-Mundzir bin al-Jamuh bertanya pada Nabi Muhammad  saw “Wahai Rasulullah, apakah anda memang di perintah Allah untuk berada di sini, dan kita tidak boleh berpindah? ataukah ini Cuma strategi berperang?” “ini hanya taktik berperang” tegas nabi. “kalau begitu, ini bukan tempat yang tepat. Kita pindah saja di sebelah sumber yang menghadap ke arah lawan. Dan di sebelah yang berlawanan kita buat kolam agar seluruh air mengalir kesana, sehingga kita saja yang dapat meninumnya.” ia memberikan usulan pada beliau nabi “kau telah memberi pendapat yang bagus”. sahut nabi mengiyakan pada pendapatnya.

Di saat Nabi Muhammad saw mengatur pasukan dengan di dampingi Malaikat Jibril tiba-tiba beliau di datangi seorang Malaikat seraya berkata “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah titip salam pada anda.” “Allah adalah Dzat yang memberi keselamatan. Dari-Nya lah keselamatan datang dan pada-Nya pula keselamatan akan kembali“ jawab nabi  . “Allah berpesan pada anda bahwa pendapat al-Hubab itu benar” lanjut Malaikat. Kemudian nabi bertanya pad Jibril “Wahai Jibril, tahukah engkau siapa dia?” Jibril menjawab “Tidak semua penghuni langit aku kenali, tapi sungguh dia bukan syetan dan dia berkata benar”.

Mendengar itu semua, nabi saw mengerahkan pasukan untuk  membuat sebuah kolam tempat penampungan air. Sehingga tidak satupun dari orang musyrikin yang  dapat meminum air kecuali harus melewati barisan pasukan muslimin. Kala itu Sa’ad berkata pada nabi saw “Wahai nabiyAllah perkenankanlah kami untuk membuat tenda untuk anda?. Dan di dekatnya akan tersedia kendaraan untuk anda. Biarkan kami yang menghadapi musuh. Jika Allah memberi kemenangan pada kita, maka itulah yang kami idam- idamkan. Namun jika tidak, maka kembalilah anda ke Madinah. Di sana masih banyak orang-orang yang mencintai anda sama seperti kami. Jika anda pergi berperang niscaya mereka akan menyertai anda dengan sekuat tenaga” . Nabi saw memuji ucapan Sa’ad dan berdo’a untuk  kebaikannya, lantas di buatlah tenda untuk nabi saw.

Pasukan muslimim berjumlah 313 orang yang terdiri dari 60 lebih dari sahabat Muhajirin dan 240 dari Anshar. Pada saat kedua pasukan berhadapan, Allah swt menampakkan pasukan masing-masing di hadapan musuhnya seakan mereka lebih sedikit. Hal ini memiliki hikmah yang sangat besar. Karena  setiap kubu akan semangat untuk berperang di saat mereka melihat kalau jumlah musuhnya lebih sedikit, seperti yang terambar jelas dalam Q.S. Surat al-Anfal ayat 44:

Artinya: “Dan ketika Allah Menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. dan hanyalah kepada Allahlah dikembalikan segala urusan”.

Namun di saat  perang berkecamuk, seolah-olah di hadapan kaum Quraisy, pasukan muslimin dua kali lipat dibanding mereka. Hal ini di jelaskan dalam al-Qur’an Q.S. Surat Ali imran ayat 13:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati”.
Di saat menjelang pertempuran, Nabi Muhammad saw mengatur barisan peraang sambil membawa sebuah gelas. Melihat Sawad bin Ghaziyah utusan Bani ‘Adiy bin Najjar tidak meluruskan barisan perang beliau. Melihat hal ini beliau langsung memukul perutnya dengan gelas tersebut.  “Hai sawad luruskan barisanmu!” “Wahai Rasulullah, anda telah menyakitiku. Padahal anda di utus dengan membawa kebenaran dan keadilan. Aku meminta keadilan pada anda”. Nabi membuka baju seraya berkata “Wahai Sawad, balaslah! pukulah perutku.” Sawad langsung memeluk nabi saw dan menciumi perutnya. “Apa gerangan engkau melakukan ini wahai sawad?” tanya  nabi. Sawad menjawab “Wahai rasulullah, perang sudah di depan mata, dan di akhir pertemuanku dengan anda ini, aku ingin kulitku dapat bersentuhan langsung dengan kulit anda.” melihat itu nabi saw berdo’a untuk kebaikan Sawad.

Setelah mengatur barisan, nabi saw di sertai sahabat Abu Bakar kembali ke tenda. Sedang Sa’ad dengan beberapa sahabat Anshar berjaga-jaga diluar, khawatir ada penyusup yang datang.  Abu Bakar adalah sahabat pilihan, sehingga beliau yang di pilih untuk menemani nabi saw di tenda. Hal ini terbukti ketika selesai pembuatan tenda, sahabat Ali bin Abi Thalib ra langsung mengumumkan di depan pasukan. “Wahai segenap pasukan siapakah yang paling berani di antara kita, agar dia dapat menyertai dan menjaga nabi saw di dalam tenda?” “Andalah wahai amirul mu’minin” jawab pasukan serentak. “tidak, jika aku yang menyertai beliau lalu ada yang datang menyerang, niscaya aku tidak dapat menyelamatkan beliau. Demi Allah, tidak ada seorangpun di antara kita yang dapat melindungi nabi saw kecuali Abu Bakar. Dulu, saat nabi saw di siksa orang-oarng Quraisy Abu Bakarlah yang melindungi beliau. Disaat Quraisy berkata pada nabi saw “Apakah kamu yang akan menjadikan beberapa Tuhan hanya menjadi satu saja?”.  Demi Allah, ketika peristiwa itu terjadi hanya sahabat Abu Bakarlah yang dapat melindungi nabi saw. Dialah yang mengatakan pada orang-orang Quraisy “apakah kalian akan membunuh orang yang mengatakan ‘tuhanku hanyalah Allah swt’”

Ali mengangkat sorban, dengan air mata mengalir membasahi pipi,  beliau berkata "katakan padaku, siapakah yang paling baik diantara Abu Bakar dan keluarga Fir'aun yang beriman pada Nabi Musa as?". Seluruh pasukan tak mampu berkata, kepala mereka tertunduk dengan  tajamnya kata-kata Ali. "Demi Allah, satu jam dari Abu Bakar lebih baik dari bumi seisinya yang di berikan keluarga Fir'aun. Mereka menyembunyikan iman sedangkan Abu Bakar menampakkannya di depan musuh-musuh islam yang kejam" lanjut sahabat Ali berapi-api.

Tibalah saat yang di janjikan, kedua pasukan berhadapan di saksikan oleh Sang Maha Pencipta. Lantunan do'a-do'a di kumandangkan nabi saw di sertai seluruh pasukan islam kepada sang maha kuasa pemusnah lara pengabul do'a. Nabi saw memerintahkan agar pasukan tidak menyerang sebelum ada perintah. Beliau memerintahkan pasukan untuk bersiap-siap. Di saat mereka di kepung musuh maka mereka harus menghujani anak panah lebih dulu. perangpun di mulai, kedua belah kubu saling menyerang sasaran. Nabi saw di sertai sahabat Abu Bakar berada di tenda. Beliau selalu berdo'a. Saat melihat pasukan musuh jauh lebih banyak, beliau mengangkat tangan hingga selendangnya terjatuh tidak terasa. Dengan linangan air mata beliau berdo'a "Ya Allah, hamba memohon ‘penuhilah apa yang engkau janjikan padaku. Ya Allah, seandainya pasukan ini kalah niscaya engkau tidak akan di sembah di dunia ini selama-lamanya’".

Melihat itu Abu Bakar merasa iba pada nabi saw. Sambil memakaikan selendang yang telah tergeletak di tanah pada nabi saw dia berkata "Wahai Rasulullah, cukuplah anda memohon pada Allah. Sungguh, Allah akan mengabulkan do'a anda dan memenuhi janji-Nya". Lalu Allah swt menurunkan surat al-Anfal ayat 9:

Artinya: “(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut".

Pertempuran terus berkecamuk dengan hebatnya. Di tengah barisan muncullah ‘Utbah bin Rabi’ah di dampingi saudara dan anaknya’, Syaibah dan Walid bin ‘Utbah. mereka menantang dengan menampakkan keperkasaan. Tantangan di sambut tiga sahabat Anshar yaitu ‘Auf, Mu’adz dan Abdullah bin Rawahah. Ketika berhadapan, ‘Utbah berkata "Siapa kalian?"  sahabat Anshar menjawab "Golongan Anshar!". Lantas mereka melanjutkan "Kami tidak berurusan dengan kalian!. Keluarkan orang-orang dari golongan quraisy!"

Dengan lantang salah seorang diantara Utbah dan teman-temannya mengatakan "Hai Muhammad, keluarkan orang-orang yang sebanding dari golongan kami!". mendengar itu nabi saw mengutus ‘Ubaidah bin al-Harits, Hamzah dan 'Ali untuk menghadapi. Saat berhadapan mereka di tanya. "siapa kalian?" para sahabat menjawab "Ubaidah, Hamzah, Ali!" "ya, kalau begitu kita sepadan, ayo kita bertempur" jawab mereka dengan congkanya.

Ubaidah yang paling muda menghadapi 'Utbah, Hamzah dengan Syaibah sedangkan 'Ali berhadapan dengan al-Walid bin 'Utbah. Hamzah dan 'Ali tidak berlama-lama dengan lawannya. Sebentar saja nyawa  Syaibah dan al-Walid melayang di tangan Hamzah dan 'Ali. Lain halnya dengan 'Utbah dan 'Ubaidah, Keduanya imbang. Lalu 'Utbahpun di bantai oleh Hamzah dan Ali. Dalam peristiwa ini 'Ubaidah terluka parah, kakinya terputus. Dia di bopong keduanya. Di hadapan nabi saw 'Ubaidah yang terluka parah terbata-bata berkata "Wahai Rasulullah, apakah aku termasuk orang-orang yang mati syahid?" "Iya, engkau termasuk dari mereka" jawab nabi saw mendamaikan hatinya. Tidak lama kemudian 'Ubaidah memghembuskan nafas terakhir di pangkuan nabi saw sebagai syahid.

Setelah berdo'a nabi saw di sertai Abu Bakar keluar dari tenda. Beliau melihat para malaikat turun dari langit di pimpin Malaikat Jibril. Nabi saw memberi semangat pada pasukan muslimin. Beliau berkata "Demi Dzat yang menguasai diri Muhammad, pada hari ini tidak ada seorangpun yang terbunuh tanpa lari dari perang kecuali, pasti di masukkan ke surga yang luasnya seluas bumi dan langit". Mendengar itu ‘Umair bin al-Hamam al-Anshary yang sedang memakan kurma di tangannya langsung berkata "bagus-bagus, wahai Rasulullah, apa aku hanya perlu berperang saja agar masuk surga?" nabi menjawab "iya, tapi kenapa kau mengatakan bagus-bagus?" Umair berkata "tidak, tidak apa-apa wahai Rasulullah. Aku Cuma berharap menjadi salah satu penghuni surga". "iya, kau memang termasuk dari penghuni surga" sahut beliau.

Selepas itu sahabat ‘Umair mengeluarkan beberapa biji kurma dari tabung tempat anak panah. Sambil menggebu-gebu dia berkata “sungguh, seandainya aku masih hidup hingga dapat memakan kurma ini, niscaya ini adalah hidup yang terlalau lama.” Dengan semangat merinduhkan kenikmatan surga dia bertempur tanpa rasa takut sedikitpun. Kurma ditangan ia letakan, dan tidak lama kemudian dia gugur dalam keadaan syahid.

Nabi Muhammad saw bertempur dengan gagah perkasa. Beliaulah orang yang paling dekat dengan pasukan musuh, paling berani, dan paling hebat dalam menyerang. Ali ra berkata “kami berlindung pada nabi saw di saat pasukan musuh mendesak. Beliaulah orang yang paling berani menghadapi musuh”.

Berkat do’a nabi muhammad saw, Allah swt memberi pertolongan berupa tentara Malaikat yang berjumlah seribu. Lima ratus pasukan di pimpin Malaikat Jibril berada di sebelah kanan nabi saw, dan lima ratus di pimpin Malaikat Mika’il di sebelah kiri. Ali ra berkata “saat melewati sumur aku merasa ada hembusan angin besar yang bertubi-tubi”. Jibril mendatangi nabi saw, dia bertanya “Bagaimanakah anda menilai pasukan-pasukan muslim yang ikut perang badar?”. “Mereka adalah orang-orang pilihan!” jawab nabi saw. “Begitupula malaikat yang ikut dalam pertempuran ini!”  lanjut jibril.

Dalam pertempuran banyak sekali keganjilan-keganjilan yang terjadi. Di  kala seorang muslim hendak menebas kepala musuh, tanpa di sangka kepala itu lepas dari badan sebelum pedang sampai di leher. Ada pula yang mengejar musuh dari belakang, namun ketika hampir sampai di mendengar seakan ada suara cambuk di atasnya di sertai suara orang mengatakan “Majulah Haizum". dan seketika ia melihat musuh yang menjadi target tergeletak dalam keadaan hidung hancur, wajah pecah dan hangus. Merasa penasaran ia menanyakan hal itu pada nabi saw. Beliau menjawab “kamu memang benar, itu merupakan pertolongan ke tiga dari langit”. Dan banyak lagi keganjilan-keganjilan yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah para malaikat utusan Allah swt yang menguatkan kaum muslimin dan memporak porandakan pasukan kafir. Allah swt berfirman :

Artinya: “(ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para Malaikat ‘Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman’. kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka”.

Para malaikat turun dari langit dengan menyerupai bentuk manusia biasa. Mereka menunggang zebra dengan memakai sorban putih kecuali Malaikat   Jibril, dia memakai sorban kuning. Saat melihat malaikat turun dari langit, iblis yang berwujud Shuroqo dan berada di barisan musuh langsung lari tunggang langgang. Dia berkata “Aku terbebas dari kalian, sungguh aku melihat sesuatu yang tidak kalian lihat”. Merasa tindakan iblis yang berwujud Shuraqa dapat membunyarkan semangat pasukan, Abu Jahal langsung berkata “kalian jangan terpengaruh dengan penghianatan Shuroqo, sungguh dia telah bersekongkol dengan Muhammad. Demi berhala Latta dan ‘Uzza, kita tidak boleh kembali sebelum menangkap Muhammad dan teman-temannya. Jangan bunuh mereka, tangkap hidup-hidup biar mereka merasakan kekonyolan yang mereka lakukan karena telah berhianat pada kita.”

Malaikat jibril menyuruh nabi Muhammad saw agar mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah lawan. Beliau melakukan hal itu seraya berkata “wajah-wajah yang jelek”.dan tidak ada satupun mata, mulut dan hidung lawan yang tidak terkena oleh pasir tersebut. Mereka lari tunggang langgang, dan dengan mudah dapat di lumpuhkan.  hal ini bukanlah murni dari usaha pasukan muslimin, namun semata-mata atas pertolongan Allah swt. Peristiwa ini dituangkan dalam fieman Allah swt:

Artinya: “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan Sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir”.

Dalam pertempuran ini korban dari golongan kafir berjumlah tujuh puluh orang. Di antarnya adalah kedua putra Rabi’ah yaitu ‘Utbah dan Syaibah, Walid bin ‘Utbah mereka orang pertama yang tewas. al-Jarah terbunuh oleh anaknya sendiri, Abi ‘Ubaidah. Umayyah bin Khalaf dan putranya yang di bunuh oleh beberapa sahabat Anshar, Bilal bin Rabah dan ‘Ammar bin Yasar.

Abdur Rahman mengatakan : Umayyah adalah sahabatku di Makkah, pada saat itu namaku adalah Abdu ‘Amr. Dan setelah masuk islam aku berganti nama Abdul Rahman. Suatu ketika aku bertemu dia di Makkah dan kami bercakap-cakap.“Hai Abdu ‘Amr, apa kaubenci dengan nama yang di berikan ayahmu?” “iya, aku tidak suka dengan nama itu!” sahut Abu Amr. “lalu aku harus memanggilmu dengan nama siapa?” Abu Amr melanjutkan “terserah kau mau memanggil aku dengan nama apa, tapi jangan dengan namaku yang dulu! “kalau begitu aku akan memanggilmu dengan nama abdul Illah, gimana?” “ya, bolehlah”.

Memang setiap aku bertemu dengannya lalu memanggilku dengan nama yang pertama maka aku tidak menghiraukannya, lantas dia memanggilku dengan nama Abdul Illah dan akupun menjawab lalu berbincang-bincang dengannya.

Pada saat perang badar aku bertemu dengan Umayyah dan anaknya. Aku berjalan dengan membawa beberapa baju perang hasil pertempuran. Umayyah memanggilku dengan Abdu ‘Amr, aku tidak menghiraukanya. Lalu dia memanggilku dengan Abdu Illah.“Hai Abdu Illah” “ya ada apa?” aku menyahut. “Apakah kau mau menolongku?, sungguh aku lebih baik dari apa yang kau bawa di bahumu!” “tentu, aku akan menolongmu!” jawab Umayyah.

               Aku melemparkan baju Jira di bahuku dan memegang tangan keduanya. Umayyah berkata “aku tidak menyangka hari ini akan terjadi. jika kau berhasil menolongku, aku akan memberi tebusan onta yang banyak air susunya!”. Aku tidak menghiraukan perkataannya. Aku terus berjalan membawa keduanya. Di tengah jalan Umayyah berkata lagi  “Siapakah di antara kalian orang yang di kenal halus terhadap tawanan”. Aku menjawab “Hamzah, iya dialah yang berbuat begitu. Aku akan mengantarkan kalian padanya”.

Namun sayang, di tengah perjalan kami bertemu dengan Bilal. Dulu di Makkah _bilal adalah budak Umayyah_, ia telah menyiksa bilal agar mau keluar dari agama islam. Bilal langsung menghampiri kami,  dengan wajah sangat marah ia berkata “Umayyah adalah dedengkot orang kafir, kau tidak akan selamat jika orang ini selamat”. “ wahai bilal, dia adalah tawananku!” aku menenangkannya. Bilal marah sembari berkata “Tidak, kamu tidak boleh menyelamatkannya. Kau akan celaka jika dia selamat.” Bilal berteriak dengan sekeras kerasnya “Hai pejuang-pejuang agama Allah (sahabat Anshar), Ummayyah bin Khalaf adalah gembong orang kafir, kamu akan celaka jika dia selamat”. Dengan segera mereka mengepung kami. Aku berusaha melindungi Umayyah dan anaknya. Tiba-tiba ada tebasan pedang yang menghampiri kaki anak Umayyah hingga ia terjatuh. Umayyah berteriak histeris. Usahaku sia-sia, dan keduanya tewas di tangan mereka semua dengan tebasan pedang yang bertubi-tubi.

Di antara korban tewas adalah Abu Jahal. Dia mati di tangan dua pemuda Anshar yang mendengar bahwa Abu Jahal sangat menyakiti nabi saw. Abdur Rahman berkisah: Pada saat berada di barisan perang badar aku melihat di kanan kiriku ada dua pemuda Anshar yang sangat muda. Salah satunya berkata lirih padaku “Wahai paman, apakah anda tahu yang mana abu jahal itu?”. Abdur Rahman menjawab “Iya aku tahu, tapi kenapa kau menanyakannya?” “Aku mendengar dia sering mencaci maki Rasulullah saw. Demi zdat yang menguasai diriku, jika aku bertemu dengannya niscaya aku tidak akan melepaskannya sebelum ada yang mati, aku atau dia”. Bisik kedua pemuda tersebut. Aku kagum dengan pemuda ini, dia sangat bersemangat membela nabi saw dan tidak membiarkan ada orang yang menyakiti beliau. Dia akan merelakan nyawa demi membela beliau.

Lalu pemuda yang satunya bertanya hal yang sama padaku. Di saat aku melihat Abu Jahal berkeliling di antara pasukan perang aku berkata pada kedua pemuda tersebut  “Coba lihatlah kesana. Apa kalian melihat orang itu. Lah dialah orang yang kalian cari!”. Keduanya langsung melesit menuju ke arah Abu Jahal bagai singa kelaparan. Kedua pedang mereka bertubi-tubi menyerang Abu Jahal hingga dia tewas di tangan keduanya. Kemudian mereka menghadap nabi saw dan mencerikan apa yang telah mereka lakukan. Nabi saw bertanya “siapakah di antara kalian yang telah berhasil membunuhnya?” masing-masing menjawab “saya”. Nabi kembali bertanya “apa pedang kalian sudah di bersihkan?” “belum ya Rasulullah!”. “coba sini aku lihat dulu.” Setelah melihat pedang keduanya beliau berkata “kalian berdua telah berhasil membununya”. Karena memang pedang mereka berdua telah menebas habis badan Abu Jahal hingga tewas, maka harta rampasan  dari Abu Jahal di berikan pada keduanya. Mereka adalah Mu’adz bin ‘Amr bin al-Jamuh dan Mu’adz bin ‘Afra`.

Dalam satu riwayat di jelaskan bahwa Abdullah bin Mas’ud juga ikut andil atas terbunuhnya Abu Jahal. Nabi saw berkata pada para sahabat “siapakah yang akan mencari tahu tentang abu jahal?”. Ibn mas’ud menjawab “saya yang akan mencari tahu tentang dia!”. ibn Mas’ud langsung berangkat, lalu dia melihat Abu Jahal bertempur dengan dua pemuda tadi. Ia di bantai tanpa ampun hingga tergeletak tak berdaya. Ibn Mas’ud memegang kepalanya seraya berkata “siapakah sekarang yang kalah?, kami atau kamu? ,apakah kau yang meneror kami di mekkah?”. Tidak lama kemudian Abu Jahal di habisi ibn Mas’ud.

Ibn Mas’ud mendatangi nabi saw dan memberi tahu bahwa Abu Jahal telah ia bunuh. Nabi masih agak kurang yakin, beliau berkata “Benar kau telah membunuhnya, demi Allah tiada Tuhan selain dia?” beliau mengulangi kata-kata ini sebanyak tiga kali. “benar, sungguh aku telah menghabisinya”. “Allahu akbar segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji, menolong hamba dan mengalahkan musuh-musuh islam. Sekarang tunjukkan tempatnya, aku ingin melihatnya.” Setelah melihat Abu Jahal tidak bernyawa beliau berkata “Dia adalah Fir’aun bagi ummat ini”.

Ketiga orang ini memang ikut andil atas terbunuhnya Abu Jahal. karena, setelah Mu’adz bin Amr bin al-Jamuh menyerang Abu Jahal. kemudian ia di serang oleh anaknya Abu Jahal, ‘Ikrimah hingga tangannya hampir putus. Abu Jahal lari dan bertemu dengan  Mu’awadz ibn ‘Afra` yang kemudian juga menyerangnya habis-habisan hingga tergeletak tak berdaya. Sebelum Abu Jahal meregang nyawa, Mu’awwadz meninggalkannya dan terus bertempur hingga gugur. sebelum Mu’awadz gugur, saudara laki-lakinya, ‘Auf telah gugur terlebih dahulu. Lantas ibn Mas’ud menemukan Abu Jahal dalam keadaan sekarat dan langsung menghabisinya. Sehingga di saat nabi saw berdiri di tempat pemakaman dua putra ‘Afra’ beliau berkata “Semoga Allah memberikan rahmatnya pada dua putra ‘Afra’, mereka termasuk sebagian orang yang membunuh Fir’aun ummat ini pemimpin para tokoh kafir”. Lantas ada yang bertanya “lalu siapa lagi orang yang ikut andil atas terbunuhnya Abu Jahal?”. Beliau menjawab “Malaikat dan ibn Mas’ud!”.

Sebagaimana Fir’aun, Allah swt juga menampakkan siksa Abu Jahal di dunia karena keduanya begitu hebat dalam memusuhi islam. Hal ini terbukti dengan menampakkan sosok orang laki-laki di daerah badar. Dia keluar dari bumi lalu di pukul kepalanya dengan tongkat besi hingga terbenam masuk ke dalam bumi. Hal itu terjadi berulang kali dan di saksikan oleh salah seorang sahabat. Merasa heran dengan pemandangan mengerikan yang ia saksikan maka ia menghadap pada nabi saw dan menceritakan apa yang di lihat. Nabi menjawab “laki-laki itu adalah Abu Jahal, sedang yang memukul adalah malaikat yang di beri tugas menyiksa abu jahal hingga hari kiamat.”

di antara korban tewas dari pihak lawan adalah Naufal bin Khuwailid ia dibunuh  Ali  bin Abi Thalib, ubaidah, al-Ash ayah Abi Ukaihah  Said al-ash bin Umayyah dan masih banyak lagi yang terbunuh.

Sedangkan jumlah tawanan perang sebanyak tujuh puluh orang. Salah seorang di antara mereka yang bernama ‘Utbah bin Abu Mu'id dan Nadzar bin al-Harits di bunuh nabi saw. Mereka sangat sering meyakiti dan menghina beliau di Makkah. saat hampir di bunuh, ‘Utbah memelas pada nabi saw. “Wahai Muhammad , apa kau mau membunuhku di antara kaum qurays?”. Beliau menjawab “iya, kau harus mati. Ingatlah apa yang kau lakukan padaku di mekkah. Saat aku sujud di belakang Makam Ibrahim kau datang menginjak leherku keras ssekali. Kau tidak melepaskan kakimu hingga aku merasa mataku akan copot!. Ingatlah lagi, saat aku sujud kau datang membawa kotoran onta dan melemparkannya di kepalaku. Fatimah putriku datang membersihkan kepalaku, air matanya berderai tidak tega melihat kelakukan bejatmu.”

  ‘Utbah di bunuh ‘Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aklaf di daerah Uruqu ad-Dzabyah. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 17 Ramadlan bertepatan dengan hari pertama turunnya al-Qur'an. Kedua peristiwa bersejarah ini terpaut genap empat belas tahun Hijriyah.

Selepas insiden berdarh ini, Nabi Muhammad saw memerintahkan agar mengumppulkan seluruh mayat orang kafir. Mereka  tergeletak tak bernyawa tepat di tempat yang sudah di isyaratkan nabi saw sebelum terjadi nya pertempuran. Dan merupakan kebiasan nabi saw, ketika selesai berperang beliau selalu memakamkan seluruh mayat tanpa membedakan teman ataupun lawan.

Ketika giliran mayat ‘Utbah di masukkan ke sumur, nabi saw sempat melihat putranya, Abi Hudzaifah salah seorang yang masuk islam pertama kali. Tampak begitu dalam kepedihan di matanya saat melihat ayahnya terbujur kaku tak berdaya jatuh kedalam sumur badar. Nabi muhammad saw menghampirinya “Wahai Abi Hudzaifah, aku melihat ada kerisauan dalam hati mu atas apa yang menimpah ayahmu?” “tidak, demi Allah tidak ada apa-apa ya Rasul. Aku hanya mengenang kebaikan dan keutamannya saat masih hidup. Aku sangat berharap kalau Allah memberi Hidayah padanya agar masuk islam. Dan ketika aku melihat ayahku meninggal dalam keadaan kafir maka aku merasa sangat sedih.” Ia mencoba menenangkan hatinya dan mencoba bertabah.

Nabi saw dapat merasakan kepedihan yang sangat dalam di hati Abi Hudzaifah, karena beliau merasakan hal yang sama, paman beliau Abu Thalib yan sangat di cintai meninggal dalam keadan belum islam. Sehingga beliau berdo’a untuk kebaikan Abu Hudzaifah.

Nabi saw merintahkan untuk mempersiapkan kendaraan untuk beliau. Beliau naik dan berjalan hingga sampai di tepi sumur badar , kuburan orang-orang musyrik. Beliau berhenti di sana dan memanggil satu persatu nama mayat di sana. "wahai Fulan bin fulan, wahai Fulan bin fulan, apa kalian marasa bangga telah patuh pada perintah Allah dan rosulnya?. Aku telah mendapatkan apa yang telah di janjikan Tuhanku. Apa kalian juga telah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh tuhan kalian ?“. Merasa  heran dengan yang di lakukan nabi saw, Umar bertanya “wahai Rasulullah,  apakah anda berbicara denga mayat-mayat yang tak bernyawa?” Nabi berkata “Demi Dzat penguasa diriku, sungguh kalian tidak lebih dapat mendengar apa-apa yang telah aku katakan”.

 Aisyah ra berkata : Rasulullah  menyampaikan hal tersebut , sebagai bukti bahwa saat itulah orang kafir tahu akan kebenaran perkataan nabi saw. Mereka mendapatkan kebenaran saat mereka bertempat di neraka. Aisyah ra membaca ayat :
فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وما أنت  وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ
Artinya:  “Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar. Dan kau tidak akan bias membuat mayat-mayat di dalam kubur dapat mendengar”.

Nabi saw mengutus Abdullah bn Rowahah ke daerah Aliyah (yaitu daerah dekat Madinah al-Munawwaroh) dan Zaid bin Haristah pada pendudyk as-Safilah dengan menaiki unta Rasulullah. Keduanya di utus ke Madinah terlebih dahulu guna memberi kabar kemenangan pasukan muslim. Namun, kebiasan musuh-musuh islam yang selalu ingin memecah belah persatuan kaum muslimin. Seperti yang dilakukan kaum yahudi, mereka menyebarkan isu-isu tentang nabi saw yang membuat resah kaum muslimin di Madinah. Akan tetapi kerisauan itu lenyap tanpa bekas saat datangnya dua utusan nabi saw. Mereka bergembira ria atas berita yang di bawa keduanya. Hal itu terjadi setelah kaum muslimin Madinah selesai memakamkan Ruqayyah putri Rasulullah istri Sayidina Utsman.

Sebelum pulang ke Madinah, pasukan muslim terbagi menjadi tiga kelompok. Sebagian mengejar musuh yang lari tunggang langgang, sebagian mengumpulkan harta rampasan, dan sebagian lagi bersama Rasulullah saw mengawasi keadaan, khawatir ada penyusup yang masuk. Ketika malam tiba, semua pasukan berkumpul seraya berbincang-bincang dan sempat terjadi perselisihan. “kamilah yang telah mengumpulkan semua harta rampasan, jadi semuanya milik kami, tidak seorangpun selain kami yang berhak atasnya” kata golongan pengumpul jarahan. “tidak, kamilah yang paling berhak mendapatkannya, karena kami yang telah mengejar  dan mengusir musuh hingga harta ini menjadi aman” sahut pengejar musuh. Lain lagi dengan golongan yang menyertai nabi saw mengawasi musuh, mereka mengatakan “bukan kalian tapi kami yang berhak mendapatkannya, kami yang telah bersama nabi saw dan melindungi beliau dari ancaman musuh, jadi kami yang akan mendapatkannya!”.

Hal ini wajar terjadi di antara  mereka. Karena saat perang berkecamuk nabi saw pernah  berkata “orang yang dapat membunuh lawan maka rampasan adalah miliknya. Dan tawanan adalah milik sang penawan.” Sehingga sebagian sahabat yang tidak sempat membunuh dan merampas harta berkata pada golongan yang berhasil membunuh dan merampas “kita telah membantu dan melindungi kalian. Seandainya kalian dalam keadaan berbahaya niscaya kami akan segera menyelamatkan. maka kita kita juga harus mendapatkan bagian”.

Perselisihan semacam ini sangat rentan menimbulkan kelemahan, perpecahan, dan permusuhan di antara kaum muslimin. Guna menghilangkan perselisihan yang merugikan ini Allah swt menurunkan surat Al-Anfal:

Artinya: “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman".

Seketika itu cahaya al-Qur'an menyinari hati mereka, hati yang hampir terpecah belah menjadi tersentuh di buatnya. Sehingga mereka menyerahkan sepenuhnya urusan harta rampasan kepada Nabi saw. Mereka tidak peduli atas apa yang akan beliau lakukan, sebagai mana yang telah ditetapkan al-Qur'an. Nabi saw membagikan Harta rampasan dengan membedakan antara pejalan kaki dengan penunggang kuda. Sedangkan sesama pejalan kaki dan sesama penunggang kuda bagiannya adalah sama. Nabi juga memberi bagian pada beberapa orang yang tidak ikut perang karena sedang melaksanakan tugas yang lain. mereka adalah Abu Lubabah al-Anshari, ia tugasi menjadi khalifah Nabi di Madinah selama beliau berperang. al-Harist bin Hatib, ia di perintahkan nabi saw untuk menyelesaikan urusan dengan Bani Amr bin Auf  yang belum sempat terselesaikan. al-Harist bin As-shah dan Khawat bin Jabir, di ar-Rauha’ keduanya tidak dapat meneruskan perjalanan karena keduanya terjatuh dan sakit. Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid, keduanya diutus untuk mencari kabar tentang pasukan musuh dan belum sempat kembali hingga pertempuran berakhir. Utsman bin Affan, ia di perintah nabi saw untuk menjaga istrinya putri nabi saw, Ruqayyah yang sedang sakit keras.  Ashim bn Aduw, ia di beri tugas untuk mengurusi penduduk di daerah Quba' dan Aliyah.

Rasulullah juga memberi bagian untuk pahlawan syuhada’ Badar. mereka berjumlah empat belas orang di antaranya Ubaidah bin Harist bin Abdul Muthallib bin Hasyim. Ia terluka parah ketika duel dengan ‘Utbah bin Rabi’ah. Ia wafat saat pasukan muslimin dalam perjalanan pulang ke Madinah. dan  dimakamkan di As-Shafa'.   

Saat mendekati Kota Madinah nabi saw dan seluruh pasukan disambut__ yang membawa terbang seraya mendendangkan:
Bulan tampak pada kita # dari bukit-bukit jurang wada’
Karenanya kita wajib bersyukur# selama masih ada orang yang mengajak ke jalan Allah
Wahai orang yang diutus untuk kita # engkau memabawa perintah yang ditaati
**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010


Post a Comment

0 Comments