Waliullah Banten, Abuya Dhimyati Cidahu, Ulama Kharismatik Nan Tasawuf

Dalam istighotsah rutin bulanan yang diadakan oleh Institut Dakwah PBNU pada hari Rabu (30/10), ada kegiatan yang lain, yaitu ijazah Hizib Nashar untuk Nahdliyin dari berbagai peserta. Ijazah itu, ijazah yang diperoleh oleh Abuya Dimyati Banten, sarjana karismatik dari Banten, ayahnya Mustasyar PBNU KH Abuya Muhtadi.

Abuya Dimyati dikenal sebagai guru tarekat "saleh dan wara". Nama lengkapnya adalah KH Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin al-Bantani yang biasanya disebut Abuya Dimyati atau oleh orang-orang santri Jawa yang dikenal sebagai "Mbah Dim".

Lahir sekitar tahun 1925 dari H. Amin dan Hj. Ruqayah. Dari saat Abuya Dimyati lahir, dia telah menunjukkan kecerdasan dan kepintarannya. Dia belajar dari satu sekolah ke yang lain dan menjelajahi negara Jawa sampai ke pulau Lombok untuk memenuhi dahaga keilmiahnya.

Popularitas Mbah Dim sebanding dengan Abuya Busthomi (Cisantri) dan kiai Munfasir (Cihomas). Mbah Dim adalah sosok yang selalu menjadi pusat perhatian, dan saat itulah ia lebih memilih untuk "meminimalkan" pencampuran dengan makhluk untuk mengisi sebagian besar waktunya dengan Quran dan tawajjuh ke Hadratillah.

Misalnya, siapa yang nyangka, ketika para siswa keluar setelah sholat subuh, ternyata telah berada para tamu di luar menunggu (panjangnya lebih dari 100 meter) yang ingin bertemu Mbah Dim. Ini terjadi hampir setiap hari. Peziarah Walisanga yang berkeliling Jawa, seperti rombongan dari Malang, Jember atau Madura, merasa bahwa mereka tidak lengkap jika mereka belum mengunjungi Cidahu tempat spiritual meskipun hanya untuk melihat wajah Mbah Dim; hanya untuk melakukan Mushafahah (berjabat tangan), atau untuk meminta air dan berkah dalam doa.

Mbah Dim menekankan tentang arti pentingnya Alquran dan pembelajaran, yang sering disampaikan oleh Mbah Dim kepada para siswa dan kiai dan mengingatkan bahwa belajar Quran tidak boleh menyerah karena kegiatan atau usia. Karena Alquran tidak dibatasi oleh usia. Sejauh ini, kata Mbah Dim, Tariqah Aing Mah ngaji !, yang berarti bahwa Al-Quran dan belajar adalah Tarekat saya.

Bahkan kepada putra dan putrinya (termasuk murid-muridnya), Mbah Dim menekankan arti pentingnya mengaji dan belajar Alquran untuk mencapai gelar yang diperlukan. Artinya, itu tidak dijalankan untuk siswa, kecuali putra dan putri mereka.

Mbah Dim tidak akan memulai dengan doa dan Al-Qur'an, kecuali putra dan putrinya, yang semuanya hafidz Al-Quran telah berbaris rapi dalam barisan shaf. Jika belum datang, maka kentongan itu seperti sinyal ketika sholatnya dipukul berulang kali. Sampai semua putra putrinya hadir, dan solat berjamaahpun dimulai.

Mbah Dim merintis pesantren sekitar tahun 1965 di desa Cidahu Pandeglang dan telah menghasilkan banyak ilmuwan terkenal, seperti Habib Hasan bin Ja'far Assegaf yang mengetuai pertemuan Nurul Musthofa di Jakarta. Di bidang tasawuf, Mbah Dim telah menerima perintah Tarekat Qodiriyyah-Naqsabandiyyah dari Sheikh Abdul Halim Kalahan. Tetapi dalam praktik dan atas perintah, para peziarah Mbah Dim hanya mengajarkan Thariqah Syadziliah dari Syekh Dalhar.


Itulah sebabnya dia terlihat tawadhu ', zuhud dan tulus dalam perilakunya sehari-hari. Banyak partai dan jurnalis yang mencoba mengungkap kegiatan mereka di pesantren selalu ditolak dengan halus oleh Mbah Dim, bahkan ketika ia menerima sumbangan dari pejabat, ia selalu menolak dan sumbangan itu dikembalikan. Ini terjadi dengan Mbak Tutut (putri mantan Presiden Suharto) yang memberikan sumbangan 1 miliar tetapi dikembalikan oleh Mbah Dim.

Pada 3 Oktober 2003, tepatnya Jumat pagi Mbah Dim dipanggil oleh Allah SWT. Banten telah kehilangan citra para cendekiawan karismatik dan tawadhu ', yang telah dimintai saran oleh banyak kalangan. Tidak hanya masyarakat Banten, tetapi juga umat Islam umumnya merasa kehilangan. Dia dimakamkan tidak jauh dari rumahnya di Cidahu Pandeglang, dan selama ini makamnya selalu penuh dengan peziarah dari berbagai daerah di negara ini.

Post a Comment

0 Comments