Wabah Penyakit Di Madinah dan Terhalangnya Kaum Lemah Untuk Hijrah

WABAH PENYAKIT DI MADINAH

Padaa saat nabi datang ternyata daerah itu sedang terjangkit wabah penyakit yang sangat besar. yaitu penyakit panas. Penyakit panas benar-benar menyebar di kota madinah, sehingga banyak penduduk madinah dan golongan muhajirin yang terjangkit. Tubuh mereka terasa sangat lemah dan tidak berdaya.

Panas merupakan sebagian dari penyakit yang sangat mengkhawatirkan terhadap jiwa manusia. Panas merupakan penyakit yang bisa membakar tubuh dan kebanyakkan manusia meninggal disebabkannya. Karena itulah ada yang mengatakan bahwa panas adalah jalannya kematian. Dan ada yang mengatakan pintunya kematian. Ulama’ ahli bahasa menggolongkan panas menjadi 3 macam sesuai dengan sifat-sifatnya, keadaannya dan menjangkit ke tubuh manusia.

Yang pertama: Panas yang berada pada tubuh manusia, sehari hilang-sehari kembali. Ke dua: Panas yang disertai dengan pusing kepala, demam dengan tubuh menggigil. Ke tiga: Panas yang terus-menerus tidak bisa hilang.

Sedangkan orang arab membagi panas menjadi 2 macam: Yang pertama, panas yang menjangkit pada manusia dengan suhu panas yang sangat besar, sehingga sampai mengakibatkan keringat bercucuran dari seluruh anggota tubuh dan sama sekali tidak disertai rasa dingin. Dan terkadang orang yang menderita panas ini, merasakan pusing yang sangat berat. Kedua, panas yang menjangkit pada manusia yang disertai dengan demam dan tubuh menggigil.

Wabah panas yang menimpa kota madinah sudah menyebar pada berbagai tempat, hingga tempat-tempat yang terdapat sumberan air, genangan air, beberapa tempat air yang warnanya sudah berubah dan tempat-tempat lainnya yang terdapat tempat airnya. Hal ini menyebabkan orang-orang arab yang sangat membutuhkan air, maka dengan terpaksa mereka menggunakan air itu untuk kebutuhan air minum. Sehimgga pada akhirnya mereka terjangkit beberapa macam penyakit, yang disebabkan karena menggunakan air itu. Dan sungguh mereka tidak mengetahui bahwa adanya nyamuk bisa mendatangkan penyakit panas. Selain itu usaha mereka untuk menjaga kesehatan dan membersihkan badan tidak bisa merata di kalangan mereka. Hal ini disebabkan kebanyakan dari mereka adalah orang faqir. Sehinga tidak bisa dihindari lagi bahwa wabah penyakit akan menyerang mereka. Bahkan ada dari mereka yang tubuhnya berubah, yang dikarenakan berbeda-bedanya penyakit yang dialaminya. Apa lagi golongan ahli madar, yaitu orang-orang yang tidak mempunyai tempat air dan air bersih serta ukuran rumah-rumahnya tidak luas. Mereka banyak yang terjangkit penyakit TBC. Sedangkan penyakit-penyakit yang lainya juga menjangkit terhadap banyak orang arab yang menjauh dari tempat tinggalnya, mereka yang tidak mengetahui masalah nyamuk, mereka yang mencari udara bersih dan mereka yang membersihkan kuman dan menyembuhkan penyakit tenggorokannya dengan panasnya matahari. Dan penyakit seperti ini sudah tidak asing lagi di kalangan orang orang jahiliyah dan mereka mengobatinya dengan cara membakar. Sungguh bencana itu telah merenggut banyak nyawa manusia. Pada saat itu, orang-orang yang kaya mengungsi pada tempat yang jauh, bahkan ada yang pergi ke padang pasir. Mereka mengembalikan sebab-sebab bencana  dan beberapa macam penyakit yang menimpanya terhadap murkanya Tuhan pada manusia, dan terhadap kuman-kuman yang berada pada makanan dan minuman dan beberapa hewan yang melata.

Ibnu Ishaq berkata : Ibnu Syihab az-Zuhri menuturkan sebuah riwayat dari Amar bin Ash, Sesungguhnya di saat Rosululloh datang ke madinah, Beliau bersama para sahabatnya tertimpa wabah penyakit panas, sehingga mereka menderita sakit keras yang menyebabkan mereka melakukan sholat dengan keadaan duduk. Namun Allah menghindarkan wabah itu dari nabi-Nya. Di saat Rosululloh keluar, dan mengetahui para sahabatnya melakukan sholat dalam keadaan duduk, maka beliau berkata pada pera sahabatnya : Ketahuilah sesungguhnya menjalankan sholat dengan keadaan duduk merupakan  setengah dari orang yang sholat dalam keadaan berdiri. Kemudian para sahabat beranjak berdiri meskipun  mereka dalam keadaan lemah dan sakit, karena demi mendapatkan keutamaan. 

Imam Ahmad, Bukhari & Muslim dan Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Syaidah A'isyah : Di saat Rasulullah sampai di kota Madinah, disana dalam keadaan tertimpa musibah penyakit panas. Jurang tempat berkumpulnya air dialiri oleh air yang berubah warna dan rasanya. Para sahabat banyak yang tertimpah musibah dan penyakit. Namun Allah menghindarkan musibah dan penyakit itu dari nabi-Nya. Berkata 'Aisyah : Bahwa Abu Bakar, Amir bin Qahirah dan Bilal yang merupakan budak yang dimerdekakan oleh Abu Bakar, telah berada dalam satu rumah. Mereka semua sedang menderita sakit panas. Kemudian aku meminta izin pada Rosulullah saw untuk menjenguk mereka. Dan beliau memberi izin aku untuk menjenguk mereka. Kemudian aku masuk ke rumah untuk menghampiri mereka. Saat itu belum ada ayat yang menjelaskan tentang hijab di antara aku dan mereka. Dan hanya Allah yang tahu tentang sesuatu yang muncul dari mereka, karena demam keras yang telah dialaminya. Kemudian aku mendekat pada Abu Bakar dan bertanya kepadanya  “Wahai ayah, apa yang sedang engkau rasakan?” Abu Bakar menjawab “Setiap orang adalah cahaya dalam keluarganya Kematian lebih dekat dari pada talinya terompa”. 'Aisyah berkata : Kemudian aku berkata : Demi Allah,  ayah tidak mengerti apa yang telah dikatakannya. Kemudian aku menghampiri  Amir ibn Qahirah dan bertanya kepadanya “Wahai Amir, apa yang sedang engkau rasakan?” Amir menjawab “Sesungguhnya aku telah menjumpai kematian sebelum merasakannya”

Sesungguhnya seseorang yang bersungguh-sungguh dengan sekuat tenaganya akan bisa mengalahkan perasaan takut yang berlebihan. Seperti lembu yang menjaga pada kulitnya dengan membersihkannya. kemudian aku berkata “Demi Allah, Amir tidak mengerti apa yang telah diucapkaanya”.  'Aisyah mengatakan bahwa Bilal di saat  reda dari sakit panasnya, dia rebahan di halaman rumah. Dia menjerit dengan suara yang sangat keras dan keluar kata-kata dari mulutnya “Mungkinkah rambutku masih bisa bermalam? Di sebuah lembah dan di sekitarku terdapat tumbuhan idhor dan jalil. Dan apakah suatu hari akan diharapkan beberapa air yang dingin dari Makkah? Apakah masih nampak kepadaku dua gunung yang berada di dekat Makkah?”.

'Aisyah berkata : Kemudian aku menuturkan keadaan dan sesuatu yang aku dengar dari mereka kepada Rasulullah. Dan aku mengatakan bahwa sesungguhnya mereka sedang mengigau dan tidak berfungsi akalnya yang disebabkan panas keras yang dialaminya. Kemudian beliau melihat ke langit dan berdo'a “Ya Allah senangkanlah kami terhadap madinah seperti  engkau menyenangkan makkah kepada kami atau lebih senang. Baguskan dan berkahilah kepada kami dalam satu sho' dan mudnya Madinah”. Maka setelah itu musibah itu berpindah ke kota Juhfah. Yaitu kota yang sekarang menjadi miqatnya orang-orang mesir, syam dan tanah magrib.

Zubair bin Bakar meriwayatkan dari Urwah bin Zubair dengan berupa hadits mursal : Pada suatu pagi hari Rosulullah bertemu dengan  seorang laki-laki yang setelah melakukukan perjalanan di daerah Makkah. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya “Apakah kamu telah bertemu dengan seseorang?” Laki-laki itu menjawab “Tidak, ya Rasulullah kecuali aku hanya bertemu seormg wanita yang telanjang dan kusut rambutnya”. Kemudian Rasulullah menjawab “Bahwa setelah hari ini, wabah panas ini sudah tidak akan kembali lagi untuk selamanya”. Zubair bin Bakar juga meriwayatkan dari Musa bin Ibrohim bin Al Harits dari Ayahnya : Di saat Nabi sampai di Madinah  para sahabatnya sedang mengalami musibah. Di saat itu pula ada seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan muhajirin. Kemudian Rosululloh duduk di atas mimbar  lantas Rasulullah berseru “Wahai manusia, sesungguhnya segala perbuatan tergantung dengan niatnya" Rasulullah mengulang kata-kata ini sebanyak tiga kali. Kemudian beliau menyambung dengan ungkapan "Barang siapa tujuan hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa tujuan hijrahnya untuk mencari dunia atau wanita sebagai istrinya, maka sesungguhnya hijrahnya  terhadap suatu yang dia tuju”. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya bedo'a "Ya Allah, hilangkanlah musibah ini dari kami". Rasulullah mengulangi do'anya sebanyak tiga kali.


TERHALANGNYA KAUM LEMAH UNTUK HIJRAH

Berbagai cobaan di alami oleh kaum Muslimin ketika hendak meninggalkan Makkah, mereka mendapatkan fitnah dan siksaan. Dengan kesabaran dan kegigihan mereka dalam menegakkan agama Islam menjadikan mereka mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah swt. Dalam al-Qurân surat An-Nahl Allah berfirman :

Artinya: “Dan Sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Menurut imam Qatadah ayat ini menjelaskan kaum muslimin yang hendak hijrah ke Madinah. Orang-orang Musyrik Makkah menahan dan menyiksa mereka. Mereka di fitnah dan di paksa untuk mengikuti agama kafir, hingga mereka tak bisa mengelak. Namun hati mereka tetap tenang dan beriman kepada Allah. Di antara mereka (kaum muslimin) adalah al-Walîd ibn al-Walîd saudara Khâlid ibn al-Walîd, ‘ayâsy ibn Abî Rabî’ah dan Hisyâm ibn Ash, keduanya adalah saudara seibu Abu Jahal, mereka bertiga merupakan cucu dari al-Mughirah.

Nabi mendo’akan mereka ketika Shalat agar terbebas dari tawanan orang-orang Musyrik Makkah. Akhirnya merekapun terbebas usai perang badar setelah mendapat tebusan, kemudian kembali memeluk Islam, ikut hijrah ke Madinah dan berjihad untuk Islam. Dalam ayat sebelumnya Allah berfirman :

Artinya: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”.

Dalam do’annya, Nabi juga memohonkan bala’ untuk orang-orang Musyrik Makkah berupa musim paceklik selama tujuh tahun. Sebagaimana terjadi pada masa Nabi Yusuf as. Paceklik selama tujuh tahun.

Do’a yang dipanjatkan oleh Rasulullah ini adalah permulaan Qunut. Imam Syâfi’i menjelaskan, Qunut disunahkan selain pada Shalat Subuh dan Witir ketika terjadi musibah. Seperti datangnya musuh, banyaknya orang muslim yang di tawan, banjir yang berkepanjangan dsb.

Dalam prakteknya Qunut dilakukan diwaktu dan tempat yang berbeda dalam Shalat. Qunut dalam Shalat witir dan Shalat subuh dilakukan setelah ruku dan sebelumnya. Sehingga para Sahabat meriwayatkan sesuai dengan yang dilihat. Ini yang menjadikan perbedaan imam-imam tentang pelaksanaan Qunut. Namun menurut riwayat yang lebih banyak dan lebih Masyhur, sebagaimana yang dianut madzhab Syâfi’i di lakukan setelah ruku.

**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments