Teriakan Syetan Saat Baiat Aqabah, Al Barra' Bin Ma'rur Shalat Menghadap Kakbah


TERIAKAN SYETAN KALA BAIAT AQABAH

Setelah semua yang hadir di Aqbah purna melaksanakan baiat. Tiba-tiba dari puncak bukit Aqabah terdengar suara teriakan menggema di udara, tertuju kepada kaum musyrikin Quraisy “Hai kaum Jabajib! (orang-orang yang menghuni pemukiman di Mina), tahukah kalian bahwa orang yang tercela itu (Rasulullah) Telah bersepakat dengan mereka yang telah berpindah kepercayaan (kaum Anshar) untuk memerangi kalian?” syetan itu mencoba mempengaruhi para hadirin.

Kala mendengar suara itu Rasulullah Saw. Memberitahu semua yang hadir, bahwa yang berteriak itu adalah syetan Aqabah yang bernama Ibnu Uzaib. Kemudian beliau memerintahkan semua yang hadir meninggalkan tempat, pulang ke penginapan masing-masing. Namun sebelum meninggalkan tempat al-Ubadah ibn Nadhlah berkata pada Rasulullah Saw. “Demi Allah,  yang telah mengutus anda dengan membawa kebenaran, bila anda menghendaki, semua penduduk Mina akan kami tumpas dengan pedang kami ini.” Beliau menjawab “kami tidak diperintah untuk itu, pulanglah keperkemahan kalian”

Keesokan harinya sekelompok orang Quraisy datang ketempat kami menginap. Kepada kami mereka berkata “kami mendengar bahwa kalian telah bertemu dengan Muhammad secara diam-diam tanpa sepengetahuan kami, dan menyatakan janji setia padanya untuk melancarkan peperangan melawan kami. Ketahuilah, tidak ada yang lebih kami benci dari pada terjadinya peperangan antara kami dan kalian”. Beberapa orang dalam rombongan kami yang belum memeluk islam menjawab sambil bersumpah bahwa yang dikatakan orang Quraisy itu sama sekali tidak benar, mereka tidak mengetahui adanya persoalan seperti itu.

Kaum musyrikin Quraisy itu kemudian menanyakan persoalan tersebut pada Abdullah ibn Ubay ibn Salul. Kemudian ia menjawab “Sungguh, itu soal besar! Tidak mungkin kaumku berbuat membelakangi diriku seperti itu. Aku tidak melihat terjadinya persoalan itu!” Akan tetapi kaum musyrikin Qurasiy belum puas mendengar jawaban tersebut. Mereka terus mengadakan penyelidikan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Sementara itu rombongan kaum Anshar sudah mulai bertolak pulang ke Madinah. Beberapa saat kemudian kaum musyrikin mengetahui bahwa soal yang mereka khawatirkan memang benar terjadi. Mereka lalu segera bergerak mengejar dan mencari-cari orang Anshar yang mungkin masih dapat ditangkap sebelum meninggalkan Makkah. Mereka berhasil menangkap Sa’ad ibn Ubadah dan al-Mundzir ibn Amr disebuah tempat yang bernama Adzakhir. Dua orang dari Bani Sa’idah itu Nakib yang telah ditetapkan oleh Rasulullah di Aqabah.

al-Mundzir dapat meloloskan diri, sementara Sa’ad ibn Ubadah tertangkap. Kedua tangannya ditekuk kebelakang lehernya. Kemudian diikat dengan tali kekang untanya. Ia dibawa ke Makkah, dipukuli dan rambutnya yang lebat dijambak serta diseret-seret.

Dalam menceritakan pengalamannya itu Sa’ad mengatakan : Ketika masih berada ditangan mereka, aku melihat beberapa orang Quraisy datang menghampiriku, diantara mereka terdapat seorang laki-laki berkulit putih dan berwajah rupawan. Aku berkata didalam hati “Kalau diantara mereka itu ada seorang yang baik hati, dia tentu orang yang rupawan itu”. Akan tetapi setelah ia dekat denganku, tiba-tiba ia menampar mukaku dengan sekuat tenaganya. Saat itu aku berfikir sembari bergumam dalam hati, “kalau begitu, tidak ada lagi seorangpun diantara mereka yang baik hati” Pada saat yang gawat itu, tiba-tiba seorang dari mereka mendekat lalu berkata “Alangkah malangnya dirimu! Apakah engkau tidak memiliki seorang temanpun dari Quraisy yang pernah berjanji akan menolongmu dari bahaya?” aku menjawab “Ya, dulu aku pernah menjamin keselamatan seorang pedagang yang bernama Zubair ibn Muth’im ibn Ady. Dan ia kulindungi dari orang-orang yang hendak berbuat jahat padanya di Madinah. Demikian juga al-Harits  ibn Harb ibn Umayyah”.

Orang itu berkata lagi “Engkau memang celaka! Teriaklah, panggil nama dua orang tersebut dan sebutkan apa yang pernah terjadi diantara dirimu dan mereka berdua”. Aku lalu berbuat seperti yang disarankan olehnya. Setelah mendengar teriakanku, ia kemudian pergi mencari dua orang tersebut. Ia dapat menemui mereka berdua didalam Ka’bah. Kepada dua orang itu ia memberitahu “Dipinggir padang pasir sana, ada seorang Khazraj yang sedang dipukuli dan dianiaya, ia berteriak menyebut nama kalian dan menyebut perihal yang pernah terjadi  diantara kalian”. “Siapa nama orang Khazraj itu?” tanya mereka berdua. “Sa’ad ibn Ubadah” jawabnya. “Demi Allah, ia tidak bohong, ia memang pernah menyelamatkan dagangan kami dan melindungi dari orang-orang yang hendak berbuat lalim pada kami” mereka berdua meyakinkan laki-laki tersebut. Sa’ad mengakhiri ceritanya dengan mengatakan “Dua orang itu datang menghampiriku, lantas melepaskan diriku dari cengkraman orang Quraisy yang menyiksaku. Orang yang menampar keras mukaku ternyata adalah Suhail ibn Amr, seorang dari bani Amir ibn Luay. Menurut ibn Hisyam”, orang yang menolong Sa’ad ibn ‘Ubadah adalah Abu al-Bukhtara ibn Hisyam.


AL-BARRA’ BIN MA’RUR SHALAT MENGHADAP KA’BAH

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ka’ab adalah termasuk salah satu orang yang hadir dalam perjanjian Aqabah yang kedua, dan berbaiat pada nabi, ia mengatakan : kami hendak keluar meninggalkan Madinah bersama orang-orang musyrik yang hendak melakukan ibadah haji. Saat itu kami sudah melakukan shalat dan mengerti tentang agama islam. Saat kami bersama dengan pemimpin kami, al Barra’ ibnu Ma’rur. Ketika ditengah perjalanan Al Barra’ ibnu Ma’rur berkata pada kami “Wahai kaumku, saya punya pemikiran, demi Allah, saya tidak tahu apakah kalian semua menyetujuinya atau tidak”. Kami bertanya padanya  “Apa pemikiranmu itu?.” al-Barra’ melanjutkan “saya punya gagasan, Saya tidak akan membelakangi Ka’bah dan saya akan shalat menghadapnya”. Kami menjawab “Demi Allah, tidak pernah kami mendengar bahwa Nabi Muhammad salla Allahu ‘alaihi wa Sallam shalat kecuali menghadap kearah  Syam, dan kami tidak ingin mendurhakainya”. Al-Barra’ berkata “sungguh saya akan sholat menghadap ke arah Ka’bah”. Kaumnya berkata “kami tidak akan melakukannya“.

Ka’ab melanjutkan ceritanya, setiap kali waktu shalat telah tiba kami shalat menghadap ke arah Syam. Sedangkan Al Barra’ ibnu Ma’rur sholat menghadap Ka’bah. Hal ini terus berlangsung sampai rombongan kami tiba di Makkah. Kami pernah menegurnya atas apa yang ia lakukan namun ia tetap bersikukuh pada pendiriannya. Setelah sampai di Makkah al-Barra’ berkata kepada ka’ab “Wahai putra saudaraku!, mari ikut bersamaku menghadap Rasullullah shalla Allahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga aku bisa bertanya kepadanya mengenai apa yang aku lakukan dalam perjalananku ini. Sungguh, demi Allah! aku merasakan tidak enak hati karena perbededaan diantara kita”.

Akhirnya Ka’ab bersama al-Barra’ ibnu Ma’rur berangkat untuk menghadap Nabi Muhammad shalla Allahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka bertanya-tanya tentang Nabi Muhammad Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam, karena saat itu mereka belum mengenal Rasul shalla Allahu ‘Alaihi wa Sallam dan belum pernah melihatnya sampai mereka bertemu seorang laki-laki dari penduduk Makkah. Akhirnya mereka bertanya pada mereka tentang nabi. Laki-laki itu balik bertanya “Apakah kamu berdua sudah mengenalnya?”. Al-Barra’ menjawab “belum”. Laki-laki itu berkata lagi “apakah kamu berdua mengenali Abbas ibnu Abdul Muthalib, pamannya?”. mereka menjawab “ia, kami mengenalnya”.

Memang saat itu mereka telah mengenal Abbas, sebab ia sering datang kepada mereka untuk berdagang. Laki-laki itu berkata nanti kalau kamu Saudah masuk ke dalam masjid laki-laki yang kau cari sedang duduk bersama al-Abbas. Akhirnya Ka’ab dan al-Barra’ ibnu Ma’rur masuk ke Masjidil Haram, tiba-tiba mereka melihat al-Abbas sedang duduk bersama Nabi Muhammad Shalla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam. kemudian keduanya mengucapkan salam, lalu duduk bersama Abbas dan rasulullah Shalla Allahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kemudian nabi shalla Allahu ‘Alaihi wa Sallam berkata pada Abbas “Apakah engkau mengenali kedua orang laki-laki ini wahai Abu al-Fadl?” Abbas menjawab “Ya, aku mengenali mereka, ini adalah al-Barro’ ibni Ma’rur pemimpin kaumnya dan Ka’ab bin Malik”. Ka’ab berkata “Demi Allah, sungguh saya tidak lupa pada ucapan rasul”. Nabi Shalla Allahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya  “Apakah ia seorang penyair?” Abbas menjawab  “Ya”. al-Barra’ ibnu Ma’rur bertanya kepada nabi shalla Allahu ‘Alaihi wa Sallam “Wahai nabi Allah! sesungguhnya aku telah keluar meninggalkan Madinah, Allah telah menunjukkanku pada ajaran islam, dalam perjalanan, saya punya gagasan untuk tidak menjadikan Ka’bah dibelakang punggungku, aku mengerjakan shalat menghadap ke arahnya, tetapi teman-temanku tidak sependapat denganku, hingga aku merasa tidak enak hati. Menurut anda bagaimana wahai nabi?” ia meminta pendapat. Nabi Muhammad shalla Allahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab “Engkau akan menghadap kiblat, andai kata kamu mau bersabar“. Akhiranya al-Barra’ kembali mengikuti Nabi Muhammad shalla Allahu ‘Alaihi wa Sallam, ia shalat bersama kaumnya menghadap ke arah Syam. Dalam syair ‘Aun ibni Ayyub al-Anshari. Dikatakan:
ومنا المصلي اول الناس مقبلا      #    علي كعبة الرحمن بين المشاعر
”Diantara kamilah orang yang  pertama kali sholat menghadap ke arah Ka’bah Ar Rohman yang berada di tanah suci haram, ia adalah al-Barra’ ibni Ma’rur”.


CERITA BERHALA AMR IBNU AL JAMUH

Saat kaum Anshar telah kembali ke Madinah, mereka menampakkan islamnya. Diantara mereka masih ada beberapa orang tua yang belum masuk islam salah satunya adalah Amr ibni al Jamuh ibni Zaid ibni Haram ibni Ka'ab ibni Ghunm ibnu Ka'ad ibni Salimah. Putranya yang bernama Mu'ad ibni Amr ikut dalam perjanjian aqobah dan berbaiat pada nabi. Sedangkan Amr ibni al Jamuh adalah salah satu pemimpin bani Salimah dan orang yang termulia dari mereka. dirumahnya Amr memiliki sebuah berhala dari kayu yang bernama Manat. Mereka menyembahnya, memuliakan dan selalu membersihkannya Sebagaimana orang-orang sebelum masuk islam. Saat  Putranya dan Mu'adz bin Jabal bersama dengan teman-temannya telah masuk islam. Mereka memasukkan berhala itu kedalam lubang yang berisi kotoran manusia dengan kepala dibawah. Amr ibnu Jamuh mengetahinya pada esuk harinya dan mengatakan " celaka siapa yang berbuat jahat pada tuhan saya tadi malam ". kemudian dia mencarinya hingga menemukannya disana. Berhala itu dibersihkan dan diberi wangi-wangian, kemudian ia mengatakan " ingat,! aku bersumpah demi allah, andaikata aku mengetahui siapa  yang melakukan ini semua kepada berhalaku, tentu aku akan menghinakannya.

Setelah Amr ibnu al- Jamuh tidur, para pemuda itu mengulanginya hal serupa hingga beberapa kali. saat kehilangan amr ibnu jamuh juga tak henti-hentinya mencari tuhannya dan ia mengembalikan berhala itu pada tempatnya, setelah ia membersihkan dan memberi wangi-wangian, sampai suatu saat ia mengalungkan sebuah pedang pada leher berhalanya dan mengatakan " demi allah  sungguh aku tidak tahu siapa yang melakukan ini semua kepadamu seperti yang engkau lihat, jika kamu memang punya kebaikan maka lindungilah dirimu, ini pedang,! kubawakan untukmu". Setelah matahari tenggelam Amr ibni al Jamuh tertidur. Putranya bersama teman-temannya melakukan hal sama, mereka mengambil pedangnya dan mengikatnya dengan sebuah tali pada bangkai anjing, dan dimasukkan pada lubang kotoran. Keesokan harinya Amr ibnu Jamuh mencarinya, dan ia menemukan berhalanya di sebuah sumur dengan kepalanya terbalik,  disertahi bangkai anjing. Setelah ia melihat keadaan berhala itu dan mendengar berita dari salah satu  kaumnya, maka ia masuk islam dengan rahmat Allah. Dan ia bersyukur pada Allah yang telah menyelamatkannya dari kesesatan". Ia mengatakan " demi Allah jika kamu adalah tuhan maka tidak mungkin kamu bersama anjing ditengah lubang ". Segala puji bagi Allah yang maha luhur yang memberikan anugrah-Nya, maha pemberi rizqi dialah yang telah menyelamatkanku dari kesesatan dengan nabi  ahmad al mahdi yang menjadi nabi.

**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments