Permintaan Dukungan Rosulullah Kepada Kabilah-Kabilah Arab

PERMINTAAN DUKUNGAN RASULULLAH SAW
KEPADA KABILAH KABILAH ARAB

Pada bulan Dzul Qo’dah tahun kesepuluh dari kenabian, tepatnya pada bulan Juni atau awal bulan Juni tahun 619 M. Rasulullah saw Kembali ke Makkah. Al-Dzahabiy menyebutkan, Nabi Muhammad menetap di Makkah selama tiga tahun sejak awal kenabian secara sembunyi-sembunyi. Kemudian beliau mulai menampakkan diri dan mengajak kaumnya untuk memeluk islam selama  sepuluh tahun.

Ketika nabi melihat penentangan kaum Quraisy terhadap penyampaian risalah dan rasa sombong yang menguasai hati mereka. Maka, Allah swt berkehendak untuk menampakkan agama melalui tangan-tangan orang arab selain mereka. Pada mulanya beliau melaksanakan dakwahnya setiap musim haji. Tak henti-hentinya beliau menawarkan islam pada orang-orang yang hendak melaksanakan haji dengan cara face-toface di tempat persinggahan mereka. Dakwah ini beliau lakukan di pasar Ukadz, Majinnah, dan Dzil Majaz, tanpa kenal lelah beliau mengajak kaumnya untuk bekerja sama agar beliau dapat menyampaikan Risalah tuhannya dengan imbalan surga.

Ikhtiar beliau telah maksimal, namun Allah yang maha berkehendak. Kala itu tak satupun dari kaumnya yang mau merespon dan memberikan pertolongan pada beliau. Hingga pada akhirnya beliau merubah metode dakwah yang semula beliau lakukan dengan cara perorangan, selanjutnya beliau melakukan dakwahnya antar kabilah, di tempat mereka beliau menyerukan “Wahai para manusia, ucapkanlah ‘Lailaahaillallah’ niscaya kalian akan mendapatkan keberuntungan, dan dengan kalimat itu kalian dapat menaklukkan orang arab, orang Ajampun akan bertekuk lutut pada kalian. Manakala kalian mau beriman maka kalian akan dijanjikan kerajaan disurga.” Penuh semangat beliau berdakwah, namun dibelakang beliau sang paman, Abu Lahab juga tak patah semangat merongrong dari belakang sembari berkata “Janganlah kalian mengikutinya, karena ia adalah pendusta”. Mendengar hasutan Abu Lahab Ahli Makkah menolak ajakan beliau dengan penolakan yang keras, tak segan mereka menyakiti beliau dan berkata “Keluargamu lebih tahu siapa kamu, namun mereka tak mengikutimu”. Sangat pahit dan memekak telinga jawaban mereka. tak berhenti disitu, mereka terus-menerus menentang dan memojokkan beliau, namun sebanyak itu pula beliau dapat bersabar menyampaikan hujjah dan menyeru mereka kejalan Allah. Kemudian nabi berdoa “Ya Allah, andaikata Engkau tak menghendaki demikian, maka semua tak akan seperti ini.”

Diantara kabilah yang pernah didatangi nabi adalah Bani Amir ibn Sho’sho’ah, Bani Maharib ibn Khashafah, Bani Fuzarah, Bani Ghasan, Bani Murrah, Bani Hanifah, BaniSulaim, Bani ’Abas , Bani Nadlr, Bani al-Buka’, Bani Kindah, Bani Kalb, Bani al-Harits ibn Ka’ab, Bani ‘Udzrah, Bani al-Hadlaramah.

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku seorang sahabatku yang dimana aku tidak menaruh curiga kepadanya barang sedikitpun, dari Zaid ibn aslam, dari Rabi’ah ibn ‘Ibad al-dualiy, dan telah menceritakan kepadaku pula Husain ibn Abdillah ibn Ubaidillah  ibn Abbas. Dia (Husain) mengatakan “Aku telah mendengar cerita dari Rabi’ah ibn Ibâd yang mendapat cerita dari ayahku, saat itu aku sedang mendampingi ayahku berada di Mina. Tatkala Rasululah saw sedang berada ditengah tengah perkampungan berbagai kabilah Arab. Beliau menyerukan kepada mereka:” Wahai bani Fulan! Sesungguhnya diriku merupakan utusan Allah untuk kalian semua. Aku perintahkan kalian semua untuk menyembah kepada-Nya,  tidak menyekutukan-Nya barang secuilpun. Dan tinggalkanlah sesembahan kalian selain Allah. Berimanlah dan percayalah kepadaku! Dukung dan lindungilah aku! Sehingga aku akan menyampaikan kepada kalian semua ajaran yang diberikan Allah kepadaku”

Melihat peristiwa tersebut, Husain bertanya kepada ayahnya ”Wahai ayah!siapakah laki laki yang baru saja berkata dan menolak apa yang telah disampaikan oleh beliau nabi?” “dia adalah pamannya, Abdu al uzza ibn Abdu al-Muththalib, dialah Abu lahab” jawab sang ayah. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits yang senada namun  dengan lafadz yang berbeda.

Dalam riwayat al-imam Ahmad dan al-Baihaqi dari al-‘Asy’ats bin Salim dari laki-laki dari Kinanah menyebutkan ketika nabi berada dipasar Dzil Majaz, nabi mengajak manusia untuk berkata “Laailaaha Illallah” dan ketika itu datanglah seorang laki-laki dibelakang Rasulullah dengan menaburkan debu, dalam hadits tersebut laki-laki itu adalah Abu Jahal, namun menurut al-Hafidz bin Katsir laki-laki itu adalah abu lahab dan dari dua keterangan tersebut mungkin-mungkin saja terjadi karena mereka berdua sering kali melukai nabi.

Musa ibn ‘Aqabah menceritakan dari riwayatnya al-Zuhri : Pada tahun tersebut, Rasulullah saw meminta dukungan kepada Beberapa kabilah Arab didalam beberapa Mawasim. Beliau mengajak berunding semua pemuka kabilah dan tidak meminta kepada mereka kecuali supaya mereka membela dan mendukung beliau. Beliau mengatakan kepada mereaka:” Aku tidak akan memaksa salah seorangpun dari kalian untuk melakukan sesuatu. Aku hanya ingin kerelaan  dari kalian semua untuk memenuhi apa yang aku minta. Apabila ada yang tidak rela, maka aku tidak akan pernah memaksa. Aku hanya meminta perlindungan kepada kalian. Sehingga aku dapat menyampaikan Risalah Tuhanku kepada kalian semua dan hingga Allah akan memberikan balasan kepadaku dan orang orang yang mengikuti ajaranku.”

Demikianlah cara beliau nabi mengajak kaumnya untuk memeluk agama Allah. Namun, Tidaklah beliau mendatangi seseorang dari kabilah-kabilah Arab kecuali mereka berkata “kaumnya (Rasulullah saw)  lebih mengetahui atas dirinya. Apakah kalian mengira orang tersebut akan berdamai dengan kita, sedangkan kaumnya sendiri memusuhi dan mengusirnya.”

PERMINTAAN DUKUNGAN KEPADA BANI KALB

Ibnu Ishaq mengatakan, Muhammad ibn Abdi al-Rahman ibn Abdillah ibn hashin telah menceritakan kepadaku, bahwasanya Rasulullah saw telah mendatangi pemukiman Kabilah Kalb hingga di kawasan pedalaman, hingga sampai kepada suatu marga yang bernama bani Abdillah. Rosulullah mengajak kepada mereka untuk mengikuti ajaran ajaran beliau dan beriman kepada Allah. Beliau juga meminta dukungan kepada mereka sambil berkata “wahai bani Abdillah! Allah telah memperindah nama nenek moyang kalian”. Walaupun demikian mereka tetap tidak mau mengikuti ajakan  dan mengabulkan permintaan beliau.


PERMINTAAN DUKUNGAN KEPADA BANI HANIFAH

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku seorang sahabatku, dari Abdullah ibn Ka’ab ibn Malik. Bahwasanya Rasulullah Saw. mendatangi pemukiman Bani Hanifah. Setelah sampai disana, beliau mengajak mereka untuk beriman kepada Allah Swt. dan mendukung beliau. Akan tetapi tak satupun dari golongan mereka yang mau mengikuti. Bahkan penolakan mereka merupakan penolakan yang terparah diantara kabilah-kabilah bangsa Arab yang lainnya. Kendati demikian, sebagian  dari mereka ada yang menolak dengan baik, ada juga yang dengan cara yang kasar.  Diantara yang paling kasar adalah golongan keturunan bani Hanifah yaitu klan Musailamah al-Kadzzab.

al-Bukhari meriwayatkan dalam tarikhnya dan imam at-Tabrany dalam al-Kabirnya dari Mudrak bin Munib al-‘Arimy dari bapaknya dari kakeknya berkata “Pada masa jahiliyyah saya pernah melihat Rasulullah mengatakan ‘wahai manusia! ucapkanlah Lailahaillallah maka kalian akan bahagia’”. Melihat hal ini, sebagian dari mereka ada yang meludahi wajah beliau dan ada yang menaburinya dengan debu, serta ada juga yang mencela nabi sampai matahari menyingsing, kemudian datanglah seorang perempuan yang membawa air kemudian membasuh wajah dan tangan nabi. kemudian nabi berkata: “wahai putriku, janganlah engkau takut jikalau ayah akan dikalahkan dan direndahkan” kemudian Mudrak bertanya ”Siapakah wanita itu?” “Zainab putri Rasulullah” jawab orang Quraisy, ”ia adalah wanita yang bersih”.

Ibnu Ishaq berkata : Telah bercerita kepadaku sebagian sahabatku dari riwayat Abdullah bin Ka'ab bin Malik, Bahwa nabi pernah mendatangi bani Hanifah di rumahnya. Kemudian beliau mengajaknya ke jalan Allah dan menawarkan diri kepada mereka untuk bersedia ikut melindungi beliau dalam menyampaikan ajaran beliau. Namun ajakan dan tawaran beliau ditolak dengan kasar oleh bani Hanifah. Tidak ada dari orang-orang arab yang lebih kasar dalam menolak ajakan dan tawaran beliau yang lebih kasar dari bani Hanifah.


PERMINTAAN DUKUNGAN KEPADA BANI ‘AMIR

Banu Amir meminta pada nabi agar dijadikan pemimpin setelah beliau jika mereka beriman, Kemudian nabi berkata kepada mereka “untuk urusan kepemimpinan itu sesuai kehendak Allah swt”. Ibnu ishaq berkata: Az-Zuhri bercerita kepadaku bahwasanya nabi pernah mendatangi bani Amr bin Sho'sho'ah untuk menyeru  kepada mereka untuk beriman kepada  Allah dan meminta perlindungan kepada mereka. Kemudian, seorang laki-laki dari mereka yang bernama Baiharah bin Firash berkata _menurut ibnu Hisyam adalah Firash bin Abdullah bin Salamah bin Quraisy bin Ka'ab bin Robi'ah bin Amir bin Sho'sho'ah_ “apabila saya menangkap pemuda ini, niscaya orang-orang arab akan menghabisinya”, lantas ia melanjutkan “apa pendapatmu andai kata kami baiat kepadamu, kemudian Allah mengalahkan orang-orang yang memusuhimu, apakah kami masih mempunyai kedudukan setelah engkau meninggal?” Kemudian nabi menjawab ”masalah kepemimpinan, kita kembalikan kepada Allah; dan Allah  akan memberikan kedudukan sesuai yang dikehendaki-Nya”. Baiharah bin Firash melanjutkan "apakah kami harus menyerahkan batang leher kami kepada orang arab?. Sedangkan, ketika Allah telah memberikan kemenangan untukmu kedudukan itupun akan jatuh pada orang lain, kami tidak butuh dengan urusanmu!” mereka menolak ajakan dan permintaan Nabi Muhammad saw.

Ketika telah selesai menunaikan ibadah haji, Bani Amr kembali menemui sesepuh mereka yang tidak mampu menunaikan ibadah haji karena telah lanjut usia. Sudah menjadi kebiasaan, ketika mereka telah kembali. Maka, mereka menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi disana. Mereka berkata “Tadi kami didatangi seorang pemuda dari kabilah Quraisy, dia berasal dari Bani Muthalib, dan mengaki menjadi nabi, ia mengajak kami untuk melindunginya, bergabung dengan agamanya dan berdomisili di negara kami". Mendengar ucapan mereka tak lama kemudian, orang tua itupun meletakkan tangannya ke atas kepalanya, lalu mengatakan “wahai Bani Amir! Adakah kesalahan dalam cerita kalian? Apakah kalian mempunyai misi didalam menceritakan hal tersebut? Demi Dzat yang dimana fulan dalam kekuasaan-Nya, tidaklah pernah Bani Isma’il mengatakan hal tersebut. Sesungguhnya hal tersebut adalah suatu kebenaran, dimanakah pendapat kalian yang pernah kalian kemukakan?

**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments