Perjanjian Aqabah Pertama


Ketika tiba tahun selanjutnya, maka datanglah 12 orang dari golongan Anshar 10 orang dari Khazraj dan 2 orang dari Aus. Mereka adalah

As'ad bin Zurarah
'Auf 
Mu’adz bin Harits
Rofi’ bin Malik
Dzakwan bin Abdi Qais, _ia adalah sahabat Anshor yang sekaligus termasuk sahabat muhajirin, karena menurut riwayat dikatakan bahwa setelah masuk islam, ia tinggal di Makkah bersama nabi Muhammad Solla Allahu 'Alaihi Wasallam dan ia ikut hijrah ke Madinah bersama para sahabat._

'Ubadah  bin Shamit
Yazid bin Tsa’labah
Abbas bin 'Ubadah
'Uqbah bin 'Amir
Quthbah bin ‘Amir. Mereka semua dari Kabilah Khazraj,
Abu Al-Haitsam bin Al-Haitani, _nama aslinya adalah Malik bin Mali_ 
'Uwaim bin Sa’idah. keduanya berasal dari kabilah Aus.

Mereka berkumpul bersama dengan nabi Muhammad solla Allahu 'alaihi wasallam di Aqobah, mereka masuk Islam dan berjanji kepada nabi Muhammad solla Allahu 'alaihi wasallam dengan Baitun Nisa -hal ini sebelum di wajibkan berperang- isi perjanjian itu adalah :
Mereka tidak menyekutukan Allah dengan apapun.
Tidak akan mencuri.
Tidak akan berzina.
Tidak akan membunuh anak-anaknya.
Tidak akan melakukan kebohongan dimanapun dan dengan siapapun.
Tidak akan mendurhakai nabi Muhammad solla Allahu 'alaihi wasallam dalam kebaikan.

jika mereka memenuhinya niscaya mereka  mendapatkan surga, dan jika menghianati salah satunya, lalu Allah menghukumnya di dunia, maka hal itu semata-mata adalah cobaan sebagai pelebur atas perbuatan mereka. Jika kesalahan mereka ditutupi sampai datangnya hari Kiamat, maka keputusannya terserah Allah. Jika Allah berkehendak, maka Allah akan mengampuni, namun jika Allah berkehendak menyiksa, maka Allah akan menyiksanya. Ini adalah perjanjian Aqobah pertama.
Menurut Abu Nu'aim, nabi Muhammad solla Allahu 'alaihi wasallam membacakan al qur'an surat Ibrohim ( Q.S. al-Baqarah ayat 126 - 128 )

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali". Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Kemudian Nabi Muhammad solla Allahu 'alaihi wasallam mengutus Mus’ab bin 'Umair al-'Abdary dan Abdullah bin Umi Maktum (putra bibik Khadijah) untuk ikut bersama mereka guna membacakan al-Qur’an dan mengajarkan tentang agama. Oleh sebab itu Mus'ab di kenal dengan al-Muqri' yang berati seseorang yang membacakan al-Quran. Selama di Madinah, Mus’ab tinggal bersama salah seorang yang ikut pembaiatan, yaitu Abi Umamah As’ad bin Zurarah. Selama di Madinah Mus'ab bin Umair menjadi imam sholat dari kabilah Khazraj dan Aus. Menurut riwayat dikatakan bahwa masing-masing dari kedua kabilah itu tidak rela jika salah satu dari mereka menjadi imam.

Mus'ab mengajak seluruh golongan Aus dan Khazraj masuk agama Islam.  Pada suatu saat Mus’ab bersama As’ad bin Zurarah pergi menuju kediaman Bani Abd al-Asyhal yaitu kabilah yang dipimpin oleh Sa'ad ibni Mu'adz dan Usaid bin Khodlir yang masih kerabat dengan As'ad ibni Zurarah. Setelah sampai disana As'ad dan Mus'ab berkumpul dengan orang-orang islam, Sementara Sa'ad ibnu Mu'adz masih memeluk agama nenek moyangnya seperti kaumnya. Mendengar kedatangan As'ad bin Zurarah salah seorang kepala kabilah itu sangat marah dan berkata pada Usaid, -anak pamannya Sa’ad- "Pergi dan temuilah kedua orang laki-laki itu. Mereka datang kekampung kita hanya untuk mengolok-ngolok dan merendahkan orang-orang yang lemah dari kita. Cegahlah ia dan jangan perbolehkan ia datang ketempat kita. Jika seandainya saja As'ad ibni Zurarah bukan keluargaku sendiri maka akulah yang akan menghentikannya" Lalu Usaid mendatangi mereka berdua dengan membawa tombak kecil. Setelah As’ad melihat Usaid ia berkata kepada Mus’ab “orang yang datang ini  adalah pemimpin kaumnya. Dia telah datang padamu. Maka tunjukkanlah ia pada agama islam".

Mus'ab menjawab "kalau dia duduk disini, maka saya akan berbicara padanya", kemudian Usaid berdiri di hadapan keduanya dan ia berkata "Untuk apa kalian datang? Apakah untuk merendahkan orang-orang kami yang lemah, pergilah kalian berdua! jika kalian masih sayang pada diri kalian”. Mus’ab berkata kepadanya  "Apakah engkau tidak duduk dulu, sehingga engkau mendengarkan penjelasanku. Jika engkau mau menerima penjelasanku maka terimalah, tetapi jika tidak, kami tidak akan memaksamu". Usaid menjawab "Baiklah" kemudian ia menancapkan tombaknya dan duduk bersama Mus'ab dan As'ad bin Zuroroh. Lalu Mus’ab memberikan berita isi agama islam dan membacakan al-Qur’an padanya. Pada saat itulah diwajahnya tampak bersinar seakan-akan tampak cahaya islam.  maka Usaid berkata "Alangkah baiknya kata-katamu", dengan perasaan kagum dan heran, Usaid bertanya "Apa yang kau lakukan ketika hendak masuk kedalam agama islam ini?",  Mus'ab berkata "Mandi, bersuci dan membersihkan baju, kemudian bersyahadat dilanjutkan dengan sholat". Setelah tahu sebenarnya bagaimana agama islam, Usaid langsung mandi dan membersihkan bajunya, serta melakukan apa yang telah dikatakan oleh Mus'ab. Ia bersyahadat dan sholat dua roka'at. Setelah selesi ia berkata "Sesungguhnya dibalakangku masih ada seorang laki-laki yang jika ia mau mengikutimu maka tidak akan ada seseorangpun dari kaumnya yang tertinggal untuk mengikutinya. Dan saya akan menyuruhnya datang kepadamu sekarang, ia adalah Sa'ad ibnu Mu'adz".

Kemudian Usaid mengambil tombaknya dan datang kepada Sa'ad yang sedang berkumpul bersama kaumnya. Kedatangan Usaid dilihat oleh Sa'ad dengan raut wajah yang berbeda, tidak seperti saat ia pergi meninggalkan mereka. Setelah sampai ditempat mereka, Sa'ad ibnu Mu'adz menjemput dan berkata "Apa yang kau lakukan?". Usaid menjawab "saya berbicara dengan mereka berdua, demi Allah aku tidak melihat ada yang berbahaya dari mereka berdua, aku telah melarang mereka berdua".

Mereka berdua menjawab "kami akan melakukan apa yang menguntungkanmu. Saya mendapatkan kabar bahwa Bani Haritsah telah keluar menuju kediaman As'ad ibnu Zurarah untuk memeranginya. Hal itu karena mereka tahu bahwa ia adalah keponakanmu, untuk merusak perjanjianmu”. Mendengar hal ini Sa’ad marah, karena kawatir akan sesuatu yang disebutkan oleh Usaid. Akhirnya ia mengambil tombaknya dan berkata "Demi Allah, kamu tidak bisa melakukan sesuatu.” Kemudian Sa'ad pergi menuju tepat Mus'ab dan As'ad, namun anehnya Sa'ad melihat mereka berdua dengan keadaan tenang. Ia tahu bahwa Usaid mengakatakan hal itu hanya sebagai rangsangan agar Sa'ad pergi menemui As'ad ibnu Zurarah dan Mus'ab, supaya ia mendengarkan seperti yang telah didengarkan Usaid. Setelah sampai diasana Sa'ad berkata "Wahai Abi Umamah ingat demi Allah jika kamu bukan kerabatku, saya tidak akan datang kemari. Apakah kamu akan membuat ulah didaerah kami". As'ad berkata pada Mus'ab bin Umair "Demi Allah, pemimpin kabilah Bani Abdi Al-Asyhal telah datang padamu, jika ia menguikutimu maka tidak ada seorang pun yang tidak ikut". Mus'ab berkata padanya "Silahkan duduk, jika engkau bekenan dengarkanlah penjelasan kami. Jika kamu senang, maka kamu bisa untuk menerimanya. Jika kamu tidak suka, maka saya tidak akan memaksamu". Sa'ad menjawab "kau benar". kemudian ia menancapkan tombaknya dan ia duduk bersama mereka berdua. Musa Ibn 'Uqbah menuturkan bahwa Mus'ab membacakan kepada Sa'ad al-Qur'an awal surat Zukhruf (Qs. Al Zukhruf ayat 1-7).

Artinya: "Haa Miim. Demi kitab (Al Quran) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan Sesungguhnya Al Quran itu dalam Induk Al kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar Tinggi (nilainya) dan Amat banyak mengandung hikmah. Maka Apakah Kami akan berhenti menurunkan Al Quran kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?. Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya"

Singkat cerita ia masuk islam dan sama persis dengan apa yang terjadi  pada Usaid. Kemudian ia kembali kepada penduduk Bani Abdu Al-Asyhal _mereka satu suku dengan Bani Aus_ lau Sa’ad berkata kepada mereka "Wahai Bani Abdu al-Asyhal, kalian menganggap aku sebagai apa?",  mereka menjawab "Engkau adalah pemimpin kami dan putra pemimpin kami dan engkau adalah orang yang paling baik pemikiranya". Dia berkata ,"ucapan laki-laki dan perempuan kalian adalah haram, sampai kalian beriman kepada Allah dan utusan-Nya".
Setelah itu tidak ada satu rumahpun dari penduduk Bani Abd al-Asyhal kecuali memenuhi ajakannya. Dan Islam tersebar luas di penduduk Yasrib sehingga tidak ada pembicaraan di antara mereka kecuali tentang Islam. Dan orang yang tidak masuk islam hanyalah sekelompok dari Bani Uamyyah bin Zaid, Bani Khutmah, Bani Wail dan Bani Waqif. Hal ini karena diantara mereka ada seorang pemimpin yang mereka taati yaitu Abu Qais ibn al-Aslat. Mereka belum mau masuk islam sampai Nabi Muhammad solla Allahu 'alaihi wasallam hijrah ke Madinah dan sampai terjadi perang Badar, Uhud dan Khondak.

Ibn Ishaq menuturkan, bahwa setelah islam tersebar keseluruh daerah dan melihat sikap kaum Yahudi pada Nabi Muhammad solla Allahu 'alaihi wasallam. Abu Qais merasa menyesal mengapa ia tidak segera masuk islam pada saat Mus'ab bin 'Umair datang ke Madinah mengajak seluruh penduduknya masuk islam  dan mereka semua masuk islam sehingga tidak ada satu daerah di Madinah melainkan pasti ada kaum muslimin dan muslimatnya kecuali Bani Waqif, yaitu kabilahnya Abi Qois, mereka lambat dan tidak segera masuk islam.

**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010




Post a Comment

0 Comments