F Kisah Nabi Muhammad, Hijrah Ke Habasyah Etiopia (Bag 2)

Kisah Nabi Muhammad, Hijrah Ke Habasyah Etiopia (Bag 2)


ISLAMNYA SAHABAT UMAR

Umar merupakan orang yang pemberani. Pada mulanya ia sangat membenci dan menyakiti orang Islam. Dikisahkan dari seorang wanita yang bernama Laila. Ia dan suaminya merupakan bagian dari rombongan yang hijrah ke Habasyah. Laila berkata “Umar adalah orang yang sangat menentang terhadap keislaman kita”.

Saat Laila hendak  pergi ke Habasyah dan sudah menaiki kendaraannya, tiba-tiba dia bertemu dengan Umar. Umar bertanya "Hendak kemana engkau wahai ummu Abdillah?”. Laila menjawab "kalian telah mengganggu agama kami, kami akan pergi ke bumi Allah (Habasyah), hingga  tidak ada lagi yang menyakiti kami." Umar menyahut  "Semoga Allah menyertai kalian".

laila bercerita pada suaminya, Amir, tentang Sikap lembut yang tak biasa di tampakkan Umar ini. Lantas Amir berkata "apakah kau berharap dia akan masuk Islam ?, demi Allah, ia tidak akan masuk Islam sehingga khimarnya masuk Islam."

Amir berkata demikian, karena Dia tahu bahwa Umar seringkali berbuat kasar dan keras kepada kaum muslim, sehingga menurutnya Umar tidak akan mungkin masuk islam.

Ibnu Ishaq berkata: Umar Bin Khattab memeluk Islam setelah peristiwa hijrah yang pertama ke Habasah, bertepatan dengan bulan Dzulhijjah, 6 tahun setelah kenabian. Menurut Ibnu al- Jauzi, 5 tahun setelah kenabian. Sedangkan menurut Abu Na'im, 3 hari setelah Hamzah memeluk agama islam.

Menurut riwayat Ibnu Sa'ad dari Ibnu Al musayyab, saat itu, Umar telah  menginjak usia 26 tahun. Ibnu Ishaq mengatakan: bahwa pada saat itu, jumlah kaum muslimin sudah mencapai 40 orang, laki laki dan perempuan. Ishaq bin Basyr meriwayatkan dari Ibni Abbas, bahwasannya jumlah kaum musllimin pada saat itu sudah mencapai  99 laki laki dan 23 wanita.

Sahabat Umar merupakan orang yang berkuasa dan berpengaruh, kaum muslimin merasa terlindungi dengan kehadiran nya dan hamzah, dalam ikut serta memerangi  kaum quraisy.

Ibnu Mas'ud berkata: Pada mulanya, Kami (muslimin) tidak berani Shalat di sekitar Ka'bah. Namun, setelah  Umar memeluk islam. Beliau melawan kaum Quraish yang selalu memusuhi kami. Sehingga Nabi Saw berani melaksanakan shalat disekitar Ka'bah, begitu pula kami.

Al- Buka'i berkata: Aku telah diberi kabar oleh Mus'ir bin kidam (E391 (F C/'E) dari Sa'd bin Ibrahim, Sa'd mengatakan: Abdullah bin Mas'ud berkata: Islamnya sahabat Umar merupakan kemenangan, hijrahnya merupakan pertolongan, kepemerintahannya merupakan rahmat. Pada mulanya, kami (muslimin) tidak berani melaksanakn shalat disekitar Ka'bah. Namun setelah beliau memeluk islam, beliau dengan gigih melawan qaum quraish, sehingga Nabi saw berani melakukan shalat di sekitar Ka'bah, begitu pula kami.

Masih terjadi kontroversi tentang penyebab Umar memeluk agama islam, menurut riwayat Ibnu Ishaq, Ibnu Sa'd, Abu ya'la dari Anas al-Barraz dan al-Tabrani meriwayatkan dari Aslam(budak yang dimerdekakan Umar) Abu Naim meriwayatkan dari Ibnu umar, Aslam, budak yang dimerdekakan Umar menceritakan bahwa Umar berkata "apakah kalian semua  mau mendengarkan kisah tentang keislamanku?” Kami menjawab "ya".

Umar berkata: Aku adalah orang yang paling membenci Rosulullah SAW. Suatu ketika, aku duduk bersama Abu jahal bin Hisyam atau Syaibah bin Robiah .Tiba tiba Abu jahal berkata "wahai kaum quraish! Muhammad telah mencela tuhan- tuhan kalian, membodoh bodohkan orang pandai dari golongan kalian, dan menyangka kalau nenek moyang kalian semua yang telah meninggal saling berdesak desakan di neraka. Ingatlah! Barang siapa dapat membunuh Muhammad. Maka, dia akan mendapatkan imbalan seratus ekor unta hitam dan putih, serta mendapatkan seribu auqiah  perak.

Setelah mendengar ucapan tersebut, aku pergi mencari Muhammad dengan mengalungkan pedangku dan menyingkirkan tempat anak panahku. Dalam perjalanan, aku melewati anak sapi yang akan disembelih oleh sekelompok kaum. aku berhenti sejenak dan mengamatinya. Tiba- tiba, ada suara laki laki dengan bahasa yang amat fasih memekik dari dalam anak sapi tersebut. Ia berseru agar bersaksi "tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah". aku berkata dalam hati " ucapan itu hanya ditujukan kepadaku". aku melanjutkan perjalanan, taklama kemudian, aku bertemu dengan seorang laki laki dari kabilah Quraish Nu'aim berkata "kau hendak kemana, wahai Ibnu al Haththab?". Akupun menjawab "aku mencari Muhammad, orang yang telah memecah belah kaum quraish, membodoh bodohkan orang orang pandai dari golongan mereka, mencela agama mereka, dan menghina tuhan tuhan mereka. Aku akan membunuhnya".

Mendengar perkatakaanku, Nu'aim menjawab "Demi Allah! Nafsu telah membujukmu, wahai Umar. Apakah kau fikir kalau Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu bebas berkeliaran setelah membunuh Muhammad?, Mengapa kau tidak kembali saja menemui keluargamu dan mengikuti mereka". Aku menyahut "Siapa keluargaku?". Nu'aim menjawab "adik ipar dan anak pamanmu, Sa'id bin Zaid, dan adik perempuanmu, Fatimah. Demi Allah! Mereka berdua telah memeluk agama islam dan mengikuti ajaran Muhammad SAW. Maka, ikutilah mereka!". Mendengar itu, aku langsung mendatangi rumah adik perempuanku, Fatimah. Waktu itu, di sampingnya ada Hubab bin al- Arat sedang membawa lembaran yang bertuliskan surat "tha ha", serta membacakannya untuk Fatimah. Ketika mereka mendengar suaraku, hubab bersembunyi di tempat rahasia atau dalam sebuah kamar. Fatimah  mengambil lembaran tersebut dan menyembunyikannya dibawah paha Namun, ketika mendekat ke pintu, aku sudah mendengar bacaan Hubab. Ketika masuk, aku langsung bertanya "suara apa, yang barusan aku dengar?". Fatimah dan Sa'id menjawab "tidak ada suara  apapun". Tidak puas, aku kembali berkata "tidak! Demi Allah, aku tahu kalau kalian telah mengikuti agama Muhammad". Seketika itu, aku memukul adik iparku, Sa'id bin Zaid. Melihat kejadian tersebut, Fatimah datang untuk menyelamatkan sang suami. aku tidak membiarkannya untuk menyelamatkan suaminya, bahkan aku pukul sekalian, dan diapun merasa bersedih akan hal itu. Karena aku telah menyakiti mereka berdua, akhirnya merekapun mengaku.

Mereka berkata "benar! Kami memang telah memeluk agama islam. Kami telah beriman kepada Allah dan Rosulnya. sekarang, lakukanlah apa yang kau inginkan!" ketika aku melihat keadaan adikku bersimpah darah. Maka, aku merasa menyesal atas apa yang telah ku lakukan. Aku berkata " serahkanlah lembaran yang baru saja kalian baca kepadaku. aku akan melihat apa yang telah disampaikan oleh Muhammad." Saat itu, aku sudah bisa menulis dan membaca. Mendengar permintaanku, Fatimah menjawab " kami khawatir, kalau lembaran tersebut berada ditanganmu". Aku berkata "jangan khawatir!, aku bersumpah demi tuhan, setelah membacanya, akan ku kembalikan lembaran tersebut kepada mu." Melihat sikapku, Fatimah berharap jika nantinya aku juga akan masuk islam. dia berkata ”Wahai Saudaraku, sesungguhnya kamu masih keadaan najis atas syirikmu. tidak boleh menyentuh lembaran tersebut kecuali orang orang yang dalam keadaan suci”. Taklama kemudian Umar beranjak mandi. Setelah itu, Fatimah memberikan lembaran tersebut padaku.  didalamnya terdapat tulisan surat “tha ha”. Ketika pertama kali membaca, aku berkata ”sungguh kata-kata ini sangat indah dan mulia” . mendengar ucapanku, Hubab keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berkata pada ku ” wahai Umar, Demi Allah, aku berharap Allah akan memberikan keistimewaan padamu atas doa yang dipanjatkan Nabi Muhammad Saw. Sesungguhnya, kemarin aku mendengar beliau berdoa” Ya Allah, kuatkanlah islam dengan Abilhakam bin Hisyam (abu jahal) atau Umar bin Al Haththab.!”

Mendengar itu, aku berkata pada Hubab ”wahai Hubab, tunjukkanlah padaku di mana Muhammad berada. Sehingga, aku datang padanya dan memeluk agama Islam”. Hubab pun menjawab ”Sekarang, Beliau sedang berada di sebuah rumah  didekat Shafa bersama para sahabatnya”. Sejurus kemudian, aku mengambil pedang dan menyandangnya. Aku pergi ketempat Muhammad bersama sahabat sahabatnya. Ketika aku sudah berada di depan rumah, akupun  mengetuk pintu. mendengarkan suaraku, salah seorang dari mereka beranjak, kemudian mengintip dari celah pintu. ia melihatku menyandang pedang.

Merasa ada yang takberes serta kaget, dia segera menemui Rosulullah, lalu berkata ”wahai Rosulullah diluar ada Umar bin al-Haththab sedang menyandang pedang”.  Hamzah menyahut ”biarkan dia masuk. Bila dia menginginkan perdamaian, maka kita turuti. Tapi jika dia menginginkan permusuhan. Maka, kita akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri”. Rosulullah berkata ”biarkan dia masuk”. laki laki itupun mempersilahkanku masuk. Rosulullah menemuiku disebuah ruangan. Beliau memegang tempat ikat pinggang  dan bajunya kemudian menarik sekeras – kerasnya lalu berkata ”angin apa yang membawamu kemari, wahai Umar!, Aku tidak menyangka kamu sampai ketempat ini”. Aku menjawab ”Wahai Rosulullah! Aku datang menemuimu untuk beriman kepada Allah dan Rosulnya. aku juga akan mengikuti ajaran yang telah disampaikan oleh Rosulnya”.

Mendengar apa yang telah aku katakan, Rosululloh mengumandangkan takbir dengan suara keras. Akhirnya, orang orang yang berada dalam ruangan tersebut mengetahui kalau saat itu, aku telah memeluk agama islam. mereka meninggalkan tempat dan merasa senang dengan masuk islamnya Hamzah dan Umar. Mereka yakin, kalau kedua orang tersebut akan mampu melindungi Rosulullah Saw dan bersama sama mereka untuk menghadapi musuh musuh islam.

 Ibnu Ishaq mengeluarkan statement bahwa, cerita tersebut merupakan kisah yang di sampaikan penduduk Madinah tentang masuk islamnya Sahabat Umar bin al- Haththab ra.

Ibnu Ishaq juga menyampaikan kisah lain tentang kronologis geneologi masuk islamnya sahabat Umar ra. Ibnu Ishaq Berkata:  aku mendapatkan riwayat dari Abdullah bin Abi najih Al makkiy, dari sahabatnya, Atha’ dan Mujahhid, dan orang orang yang menceritakan keislaman Umar.

Setelah memeluk islam, Umar berkata ”pada mulanya, aku merupakan orang yang mengutuk agama islam. pada masa jahiliyyah aku juga pecandu minuman keras. Aku mempunyai tempat mangkal bersama teman teman didaerah Hazurah -2H1)( pasar  di kota Makkah). Suatu malam, aku keluar menuju tempat tersebut.   Namun, disana aku tidak menemukan seorangpun. Aku bergumam  aku akan pergi ke pembuat arak, pasti aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan dan meminumnya .

 Taklama kemudian, aku pergi ketempat tersebut. Namun, lagi-lagi aku tidak menemukannya. Aku kembali bergumam ”aku akan pergi ke Ka’bah, aku akan  Thawaf  sebanyak tujuh atau tujuh puluh kali. Akupun pergi ke Masjid. Disana, aku melihat Rosulullah saw sedang melaksanakan shalat dengan menghadap ke Syam dan menjadikan Ka’bah berada diantara tubuhnya dan Syam. Sedangkan tempat shalatnya berada diantara rukun Aswad dan Yamaniy. Ketika melihat Rosululloh, aku bergumam ”sebaiknya aku mendengarkan apa yang diucapkan oleh Muhammad pada malam ini. Aku akan mendekat, agar aku bisa mendengarkan apa yang diucapkannya”. Aku mendekatinya melewati sisi Hajar aswad. Aku masuk ke selambu Ka’bah. aku berjalan sembunyi- sembunyi ketika Rosulullah sedang berdiri dalam shalatnya dan membaca Alqur’an, hingga aku berdiri di hadapan beliau. Kami hanya terhalang oleh selambu Ka’bah. Tatkala aku mendengarkan al- Qur’an, hatiku merasa terenyuh. Akupun menangis tersedu sedu, dan islam telah merasuk dalam jiwaku. Aku tidak beranjak sedikitpun dari tempatku, hingga beliau selesai melakukan shalat. Setelah selesai shalat, beliau menuju ke rumah Ibnu Abi Husain, yang berada di ad-Dar al-Ruqatha' ('D/'1 'D1B7!),  daerah kekuasaan Mu awiyah, Dan aku mengikutinya. Ketika beliau sampai di antara rumah  Abbas dan rumah Azhar('2G1) aku bertemu dengannya. Mendengar suaraku, beliau mengetahui keberadaanku dan berasumsi kalau aku mengikutinya karena ingin menyakitinya sehingga ia menghadangku. Beliau berkata kepadaku  angin apa yang membawamu datang kepadaku malam-malam begini?” Aku menjawab ”aku datang menemuimu untuk beriman kepada Allah, Rosulnya dan ajaran yang disampaikannya”.

Mendengar apa yang telah aku katakan, Rosululloh bersyukur pada Allah swt. Beliau berkata kepadaku ”wahai Umar! Allah telah memberikan hidayah padamu”. Beliau mengelus dadaku dan berdo'a supaya aku tetap memeluk agama islam sampai kapanpun. Setelah itu, aku pergi dari hadapan beliau dan beliaupun pulang kerumah.

Ibnu Ishaq mengatakan: Telah menceritakan kepadaku Nafi', hamba sahayanya IbnuUmar, diriwayatkan dari Ibnu Umar. Ibnu umar " tatkala Umar masuk Islam, beliau berkata "siapakah orang quraish yang paling pandai dan sering bercerita?" kemudian dijawab "Jamil bin Ma'mar Aljamhi (,EJD (F E9E1 'D,E-J) ". Umarpun pergi menemuinya.  Aku mengikuti beliau dari belakang. Sehingga, aku mengetahui apa yang dilakukannya. Saat itu, aku masih kecil. Namun, aku sudah mampu merekam kejadian-kejadian yang aku lihat. Ketika Umar telah bertemu dengan orang yang dituju, beliau mengatakan "Wahai jamil! Aku memberitahu padamu, bahwa aku sudah memeluk islam dan masuk dalam agama Muhammad SAW".

Mendengar itu, Jamil tidak menjawab sepatah katapun. dia beranjak pergi seraya mengangkat selendangnya. Umar mengikutinya, dan akupun mengikuti dari belakang. Ketika sampai di pintu masjid, jamil berkata lantang "Wahai kaum Quraish-(saat itu mereka berada di sekeliling Ka'bah)- ingatlah! Bahwa Ibnu AlHaththab telah memeluk agama Shabi'ah (menyembah bintang)".

Mendengar hal tersebut, sontak Umar menyahut dari belakang "Bohong! Aku telah memeluk agama islam,  aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah". Setelah Umar mengatakan hal tersebut, orang orang quraish naik pitam, diantara mereka dan Umar terpercik api permusuhan. Hingga terlibat adu fisik, dan umar tak mampu mengimbangi mereka.

Ketika Situasi memanas, tiba tiba datanglah orang tua dari golongan Quraish yang mengenakan jubah dan gamis ke tengah- tengah mereka. Kemudian dia berkata "apa sebenarnya yang telah terjadi diantara kalian?" Merekapun menjawab "Umar telah memeluk agama Shabi'ah(menyembah bintang)". Orang tersebut menyahut, "lantas kenapa? Bukankah ia telah menentukan pilihannya sendiri, apa yang kalian inginkan.  Apakah kalian merasa kalau Bani 'Adiy menyerahkan urusan laki laki ini (Umar) kepada kalian? Lepaskanlah dia!". mendengar  hal itu, jika mereka diibaratkan berupa pakaian, niscaya mereka seperti pakaian yang berserakan.

Setelah hijrah ke madinah, aku bertanya kepada ayahku "wahai ayah! Siapakah orang yang telah menghalangi kaum quraish untuk memusuhimu, ketika pertama kali anda memeluk agama islam dan masih berada di Makkah?" Ayahkupun menjawab "dia adalah seseorang dari bani Al-ash bin Wail Alsahmiy". cerita diatas diriwayatkan dari sanad yang jayyid dan qowiyy.

Ibnu Ishaq mengatakan: telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al-Harist, dari sebagian keluarga sahabat Umar. Sahabat Umar berkata "malam itu, ketika pertama kali aku memeluk agama islam, aku mengingat-ngingat, siapakah penduduk Makkah yang paling memusuhi Rosulullah saw., Sehingga  aku bisa mendatangi dan memberitahukan  padanya, bahwa aku telah memeluk agama islam. Orang Pertama yang aku temui adalah Abu jahal. Aku mendatangi rumahnya, kemudian mengetuk pintu rumahnya. Taklama kemudian dia keluar menemuiku. Dia berkata padaku "semoga kesehatan dan keselamatan selalu menyertaimu. Wahai keponakanku! Angin apa yang membawamu kemari?" Akupun menjawab "aku kemari untuk memberitahukan bahwa aku telah beriman kepada Allah dan Rosulnya, Muhammad. Dan aku juga membenarkan ajaran ajaran yang telah disampaikannya". Mendengar itu, Abu Jahal membanting pintu di depan wajahku seraya mengatakan "semoga Allah mencelamu dan mencela apa yang telah engkau sampaikan".

Orang-orang kafir merasa mendapatkan ancaman besar ketika mereka tahu bahwa Umar telah masuk Islam. lantas mereka berkumpul di sekitar rumah Umar bermaksud ingin membunuhnya. Kemudian datanglah Ash bin Wa'il As-Sahmi dari bani Saham, pemimpin bani Ady, satu klan dengan Umar. Dia (Ash bin Wa'il As-Sahmi) mengenakan baju yang halus dan pakaian gamis yang di balut dengan sutera. Kemudian, dia berkata kepada Umar  “apa yang terjadi padamu ?” Umar  menjawab ”kaummu bermaksud akan membunuhku jika aku memeluk Islam”. mendengar apa yang telah dikatakan Umar, Ash berkata ”tidak ada alasan bagi kami untuk menyakitimu, karena kamu adalah tetangga kami”. Sahabat umar selamat, sementara Ash bin Wa'il As-Sahmi meninggalkannya.

Taklama kemudian, dia (Ash) bertemu dengan para penduduk yang sedang menyusuri lembah, lalu dia bertanya ”hendak kemana kalian?” Merekapun menjawab ”kami menginginkan Umar Ibnu Al-Hattab yang telah pindah agama”. Setelah mendengarkan jawaban mereka, Ash bin Wail mengatakan ”tak ada alasan bagi kalian melakukan semua itu”.  lantas,  mereka pulang dengan berpencar.


**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments