Kisah Nabi Muhammad, Hijrah Ke Habasyah Etiopia (Bag 1)


Diriwayatkan dari Ibnu Ishaq, ketika Rasululllah melihat penindasan yang menimpa kaum muslimin, sementara beliau tidak mampu untuk melindungi mereka, walaupun beliau sendiri dalam perlindungan Allah dan pamannya, Maka Beliau menyuruh mereka untuk hijrah. Beliau berkata “sebaiknya kalian pergi ke Habasyah. Sesungguhnya di sana ada seorang raja yang melindungi rakyatnya. tidak pernah ada yang teraniaya di sisinya. Habasyah adalah negeri yang penuh dengan kebenaran.  menetaplah di sana, hingga Allah memberikan jalan keluar dari apa yang menimpa kalian semua!.”
Demi menghindari fitnah dan menyelamatkan agama, pada bulan Rajab tahun kelima setelah bi'tsah, para sahabat melaksanakan anjuran Nabi saw untuk pergi ke negara Habasyah.

Dengan berbekal keyakinan, kaum muslimin Makkah meninggalkan tanah kelahiran dan harta bendanya sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah saw. Ini adalah hijrah yang pertama dalam islam.
Mereka terdiri dari 10 orang laki-laki dan 5 orang wanita. mereka adalah Utsman ibn Affan dan istrinya Ruqoyyah Binti Rosulullah, Abu Salamah dan Istrinya Ummu Salamah, Abu Sibrah Ibn Abi Wahm (saudara Abi Salamah seibu) dan istrinya Ummu Kultsum, Amir ibn Rabiah dan istrinya Laila, Abu Hudzaifah Ibn Utbah Ibn Rabi'ah dan istrinya Sahlah Binti Suhail, Abdurrahman ibn Auf, Utsman Ibn Madh'un, Mus'ab Ibn Umair, Sahl ibn Baidlo, Zubair Ibn Awam.

Mereka berangkat secara diam-diam dan tidak bersamaan. yang berangkat pertama adalah ‘Utsman ibn ‘Affan bersama istri beliau sayyidah Ruqoyyah, putri Rosulullah Saw. Diriwayatkan dari Anas, saat 'Utsman berangkat, beliau Nabi Saw  memujinya “sungguh Utsman adalah orang pertama yang  hijrah bersama keluarganya setelah Nabi Luth.”

Diriwayatkan dari Laila, ketika Umar melihat dirinya berkemas dan telah menaiki unta, Umar bertanya “hendak kemana kau, hai Ummi ‘Abdillah?” Laila menjawab “kalian telah menyakiti kami karena agama kami, kami hendak pergi menuju bumi Allah, tempat dimana tidak akan ada lagi yang menyakiti kami". Umar berkata “semoga Allah menyertai kalian” lantas laila pergi. Sikap halus yang ditampakkan ‘Umar ini, ia ceritakan pada suaminya, ‘Amir ibn Robi’ah. Suaminya lantas berkata “apakah kau berharap Umar akan islam?, demi Allah! Dia tak akan masuk Islam sebelum himar nya Al-Khotob masuk Islam.”

Mereka kebanyakan berasal dari golongan Quraisy. menurut Ibn Hisyam jumlah mereka selain anak– anak adalah 83 orang (jika memasukkan Ammar ibnu Yasir yang masih di ragukan),  sehingga sedikit sahabat yang tinggal di Makkah bersama Nabi di antara mereka ada yang bernama Utsman ibn Madh'un.

Tidak semuanya naik kendaraan didalam menempuh perjalanan, bahkan ada sebagian yang berjalan kaki. diantara mereka ada yang tidak ditemani istri ,adapula yang masih bujang. menurut Pendapat yang paling kuat (versi sumber ini), ada 4 orang yang membawa serta isterinya.

Meski berangkatnya tidak bersamaan, tetapi mereka semua berkumpul di Syu’aibah, daerah dekat pantai yang berada di jalur Yaman. Kaum Quraisy berusaha mengejar mereka. Namun usaha mereka gagal, tidak seorangpun yang bisa ditemukan, karena Allah telah Menolong kaum muslimin. sesaat setelah berkumpul, kaum muslimin segera menuju dua kapal milik para pedagang. Mereka naik kapal tersebut dengan ongkos setengah dinar.

Setelah mengarungi lautan, sampailah mereka di Habasyah, sebuah negeri yang penduduknya ramah dan damai dalam menjalankan agama beribadah kepada Allah, tiada yang menyakitkan dan kebencian.

Ibnu Ishaq berkata: setelah sampai di negri Habasyah, kaum muslimin hidup berdampingan dengan raja Najasyi. Mereka mendapat jaminan keamanan agama dan beribadah kepada Allah, tanpa ada yang menyakiti lagi, dan tidak mendengar sesuatu yang mereka benci.

Mendengar hal itu, kaum Quraisy mengutus dua orang, yaitu Abdullah ibn Abi Rabi’ah dan Am’r ibn Ash ibn Wail agar pergi ke Habasyah untuk memulangkan kaum muhajirin. Mereka memerintahkan dua orang utusannya untuk menemui raja najasyi dengan membawa hadiah, cendera mata dari Makkah. Mereka mengumpulkan kulit binatang guna di jadikan hadiah bagi setiap pejabat istana.

Mereka berpesan kepada keduanya, agar memberikan hadiah tersebut pada setiap pejabat istana dan raja, sebelum menghadap dan berkata pada raja Najasyi. Dan Hendaknya, mereka berdua segera meminta kepada raja agar menyerahkan orang-orang muslim, sebelum raja berkata kepada orang-orang itu (Muslim).

Keduapun berangkat ke Habasyah dengan membawa berbagai hadiah. Setibanya di sana, mereka berdua membagi-bagikan hadiah kepada pejabat istana sebelum keduanya menghadap dan berkata kepada Najasyi.

Mereka mengatakan kepada setiap pejabat istana: “budak-budak bodoh itu telah berlindung ke negeri sang raja. mereka telah meninggalkan agama kaumnya, dan tidak akan pernah menganut agama kalian. Mereka datang dengan membawa agama baru yang belum pernah kita kenal!.”

Para pejabat menyetujui permintaan kedua orang tersebut. Kemudian keduanya menghadap raja Najasyi untuk menyerahkan hadiah. Raja Najasyipun menerima hadiah itu. keduanya berkata  “wahai baginda raja, sesungguhnya budak–budak bodoh yang telah berlindung di negri anda, adalah orang-orang yang telah meninggalkan agama kaumnya, dan tidak akan mungkin mengikuti agama paduka. Mereka datang dengan membawa agama baru yang belum kita kenal. Kami diutus para pemuka kami, untuk membawa mereka kembali”.

Raja Najasyi tidak begitu saja menerima tuduhan keduanya. Beliau akan memberi keputusan setelah mendengar pengakuan dari kaum muslimin. 'Amr dan 'Abdullah sangat tidak menyukai keputusan ini. Karena dia khawatir jangan-jangan Najasyi akan mendukung kaum muslimin.
Para pejabat istana yang sebelumnya telah diberi hadiah dan dihasud, mereka mengiyakan perkataan kedua utusan tersebut. Mendengar hal itu, raja Najasyi marah. Beliau tetap dengan keputusannya, dan ia tidak akan menyerahkan orang-orang muhajirin pada keduanya, bahkan tetap melindungi mereka, hingga beliau bertanya pada mereka tentang kebenaran tuduan dua orang tersebut. Jika memang benar seperti yang mereka berdua katakan, maka raja akan menyerahkan kaum muhajirin pada keduanya, dan mengembalikan pada kaumnya. Namun, jika tidak benar, maka mereka tidak akan diserahkan, dan akan tetap tinggal di habasyah.

Kemudian raja mengutus seseorang untuk memanggil para sahabat Nabi Saw untuk dihadapkan kepada beliau. Utusan tersebut menemui mereka ketika sedang berkumpul.dan mengatakan kepada mereka supaya menghadap raja.

 Mendengar hal itu di antara mereka ada yang berkata pada yang lainnya “apa yang hendak kalian katakan jika kalian di tanyai oleh  raja?” ada yang menjawab “kita katakan saja demi Allah! kami tidak tahu".

Di saat para sahabat Nabi Saw menghadap, raja Najasyi memanggil uskup-uskupnya. mereka di perintahkan membuka Al-kitab (injil).
Najasyi bertanya kepada muhajirin “agama apakah yang kalian anut, sehingga kalian meninggalkan agama kaum kalian?. Dan Kalian juga tidak memeluk agamaku dan agama lainnya?”

Pada saat itu yang menjadi juru bicara adalah Ja’far ibn Abi Thalib. Beliau menjawab “dulu, kami adalah orang-orang jahiliyah yang menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat kejahatan, memutus hubungan kerabat, memusuhi tetangga, dan yang kuat menindas yang lemah. Hal itulah yang kami lakukan terus menerus, sehingga Allah swt mengutus seorang dari golongan kami pada kami. Dia adalah orang yang kami kenal asal usulnya. Dia orang yang terkenal dengan kejujuran, sifat terpercaya dan terjaganya dari perbuatan tercela. Dia mengajak untuk mengEsakan Allah dan menyembah-Nya, meninggalkan sesembahan nenek moyang kami, dan tidak menyembah batu (berhala). Dia memerintahkan kami agar berkata jujur, menjalankan amanat, menyambung tali persaudaraan, berbuat baik kepada tetangga, meninggalkan perbuatan yang diharamkan, dan pertumpahan darah. Dia juga melarang kami berbuat jahat, berbuat dusta, memakan harta anak yatim, menuduh perempuan baik-baik berbuat zina. Dia memerintah kami agar menyembah Allah,  tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, melaksanakan shalat, zakat dan puasa. Kemudian kami membenarkan dan beriman kepadanya serta mengikuti ajarannya yang diwahyukan Allah, yaitu mengharamkan segala yang diharamkan kepada kami, dan menghalalkan sesuatu yang halal bagi kami. Hingga akhirnya masyarakat memusuhi kami. mereka menyiksa kami, memfitnah agama kami, dan memaksa agar kami menyembah berhala dan menghalalkan hal-hal yang keji. Ketika mereka mendesak, menganiaya dan menghalang-halangi agama kami, maka kami pergi ke negeri paduka.Kami lebih memilih paduka dari orang lain. kami berharap tidak lagi diperlakukan sewenang-wenang ketika di sisi paduka.”

Raja Najasyi berkata: “apakah kamu membawa sesuatu dari Allah swt yang dibawa oleh nabimu?".Ja’far menjawab “ya.” Najasyi berkata “bacakanlah padaku!.”

Kemudian Ja’far membacakan permulaan surat Maryam. Mendengar lantunan ayat suci al-Qur'an, Najasyi menangis hingga jenggotnya basah dengan air mata, para uskupnya juga menangis hingga membasahi Al-kitab mereka.

Najasyi berkata: Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa Isa bersumber dari satu lentera (misykat)), demi Allah saya tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua.

Mendengar keputusan raja Najasyi,  kedua utusan Quraisy ini keluar. Am’r ibn Ash berkata “sungguh besok saya akan mendatanginya kembali” Abdullah ibn Abi Rabi’ah berkata "jangan lakukan karena mereka masih ada ikatan tali persaudaraan dengan kita sekalipun mereka menentang kita”. Umar ibn Ash berkata “demi Allah, akan ku sampaikan kepada raja, bahwa mereka beranggapan Isa ibn Maryam adalah seorang hamba."

Memang benar, Keesokan harinya Am’r ibn Ash berangkat menemui sang raja dan berkata “wahai paduka, sesungguhnya mereka mengatakan sesuatu yang sangat parah tentang Isa ibn Maryam, maka panggillah mereka dan tanyakanlah tentang hal itu!”

Najasyi pun memanggil kaum muslimin. Ketika utusan raja datang memanggil mereka,  merekapun berkumpul. Di antara mereka berkata kepada yang lainnya “apa yang kalian katakan jika kita ditanyai tentang Isa ibn Maryam?". Mereka mengatakan “demi Allah! akan kita katakan apa yang telah difirmankan Allah swt, dan yang telah dibawa nabi kita, karena memang itulah kenyataannya.”

Ketika kaum muslimin menghadap, sang raja bertanya “apa pendapat kalian tentang Isa ibn Maryam?”. Ja’far menjawab “menurut kami, sesuai dengan apa yang telah diajarkan Nabi Muhammad Saw, Isa adalah hamba Allah, utusan Allah, Ruhulloh dan kalimat-Nya yang ditiupkan pada Maryam, wanita perawan yang tekun beribadah” .

Najasyi menghentakkan tangannya ke tanah seraya mengambil sepotong kayu lalu berkata “demi Allah, tidaklah berbeda Isa ibn Maryam dengan apa yang kalian katakan kecuali hanya sepeti potongan kayu ini.”

Mendengar itu, pejabat istana menghela napas. Selanjutnya Raja berkata: Demi Allah! pergilah kalian,. kalian aman di negriku, siapapun yang mencaci kalian harus menanggung akibatnya. aku tidak suka menerima suap yang menyebabkan seorang dari kalian tersakiti. kembalikan hadiah itu pada mereka berdua!, aku tidak butuh barang itu. demi Allah! Semenjak kerajaan ini kembali kepadaku, Allah tidak pernah meminta suap dariku sehingga pantaskah jika aku meminta suap di dalamnya, sehingga rakyat tidak mematuhiku.

Akhirnya keduanya pergi dengan tangan hampa dan membawa malu. semua yang di berikan dikembalikan. Sedangkan orang-orang muslim tetap tinggal di negri yang baik, berdampingan dengan orang-orang yang baik pula.

**Sumber tulisan:
Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw 
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments