Islamnya Abu Dzar Al-Ghifari, Iyaz Bin Mu'adz, Suwaid Bin Shamit, Thufail bin Amir Ad Dausy


ISLAMNYA IYAS IBN MU’ADZ


Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku    ibn Abdi al-Rahman ibn Umar ibn Sa’ad ibn Muadz, dari Mahmud ibn Labid. Dia mengatakan,  datanglah Abu al-Haisir, Unsu ibn Rafi’ ke Makkah. Dan keduanya dikawal oleh para pemuda dari kabilah Abdu al-Asyhal dalam rombongan tersebut juga terdapat Iyas ibn Mu’adz. Mereka datang ke Makkah bertujuan untuk meminta bantuan kepada kabilah Quraisy untuk mendukung kaumnya dari serangan Kabilah Khazraj. Berita tersebut didengar oleh Rasulullah Saw. datanglah beliau kepada mereka lalu mengajak untuk duduk dan berbincang-bincang. Beliau mengatakan kepada mereka ”apakah kalian ingin  mendapatkan  suatu kebaikan jika kalian mengikutinya?” “apa itu?” jawab mereka. Beliau melanjutkan ”aku adalah seorang utusan Allah untuk para hamba-Nya. Aku mengajak kalian semua untuk menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya barang sedikitpun. Dan aku telah diberikan-Nya al-Kitab”.  Setelah itu, Beliau menerangkan kepada mereka tentang islam dan membacakan al-Qur’an.

Tak lama kemudian, Iyas ibn Mu’adz _saat itu dia merupakan orang yang termuda diantara mereka_mengatakan ”sungguh demi Allah! hal ini, lebih baik dari pada apa yang kalian cari”. Karena mendengar apa yang telah baru saja dikatakan oleh Iyas, Abu al-Haisir dan Unsu ibn Rafi’ mengambil segenggam debu kemudian mereka lemparkan ke wajah Iyas ibn Mu’adz dan mengatakan “kami tidak pernah mengikutimu! dan kami akan meninggalkanmu!, demi umurku! Kita datang kemari bukan untuk hal itu.” Karena mendapatkan perlakuan seperti itu, Iyas pun diam membisu seribu bahasa dan Rasulullah Saw. pun berlalu dari hadapan mereka. Tak lama kemudian, mereka kembali ke kota Madinah. dan akhirnya terjadilah pertumpahan darah diantara kabilah Aus dan Khazraj.

Ibnu Ishaq melanjutkan, tak lama setelah peristiwa tersebut, Iyas meninggal dunia. Mahmud ibn Lubaid mengatakan: orang orang yang menyaksikan detik detik kematian Iyas bercerita kepadaku bahwasanya mereka tidak henti hentinya mendengar Iyas melantunkan tahlil, tahmid, takbir, tasbih hingga sampai akhirnya ajal menjemputnya. Merekapun tidak menyangsikan kalau Iyas menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan sudah memeluk agama islam. Dan diapun telah memberikan sumbangsih yang besar dalam menyebarkan agama islam di tempat tersebut. Setelah mendengar apa yang telah di sampaikan oleh Beliau Rosulullah saw.


ISLAMNYA SUWAID BIN SHAMIT


Ia adalah seorang penyair, suatu saat  ia datang ke Makkah untuk menunaikan haji atau umrah, kaumnya menyebut ia al-Kamil karena faktor warna kulit, syair, kehormartan dan nasabnya. Setelah mendengar akan kedatanganya, lantas Rasulullah menemuinya dan mengajak untuk memeluk islam. Suwaid berkata kepada nabi, “sepertinya apa yang engkau bawa sama dengan apa yang saya bawa”. Kemudian Nabi berkata “apa yang engkau bawa?” ia menjawab “Hikmah Luqman,” lantas nabi berkata: sampaikanlah itu kepada ku. Kemudian Suwaid Bin Shamit menyampaikan kepada nabi kemudian Nabi  berkata “ungkapan ini bagus, dan sesuatu yang saya bawa lebih baik dari ini, yaitu al-Qur'an yang telah Allah turunkan kepada saya, quran ini adalah petuntuk sekaligus cahaya,” kemudian ia meninggalkan Nabi dan kembali ke Madinah, tak lama ia berada disana, kemudian ia dibunuh oleh kabilah Khazraj, dan sebagian dari kaumnya mengatakan bahwa ia meninggal dalam keadaan islam dan terbunuh sebelum Yaumul Bi'ats.


ISLAMNYA ABU DZAR AL-GHIFARI


Dia termasuk orang yang tinggal dipinggiran Yatsrib. Kala berita tentang diutusnya seorang nabi telah menyebar di Yatsrib yang dibawa oleh Suwait Ibn Shamit dan Iyas ibn Mu’adz, pada akhirnya berita ini juga sampai pada Abu Dzar. Dan berita ini menjadi cikal bakal ke-Islamannya.
Al-Bukhari meriwayatkan dari ibnu Abbas, ia menuturkan. Abu Dzar berkata “Aku berasal dari Ghifar, aku telah mendengar ada seorang laki-laki dari Makkahyang mengaku sebagai nabi” lalu aku berkata pada saudaraku “pergilah, dan temui orang itu, serta bicaralah dengannya. Lalu kembalilah dan beritakanlah padaku tentang perihalnya”. Ia penasaran

Kemudian saudaraku pergi, kala urusannya dirasa sudah cukup diapun kembali. “Kabar apa yang telah kau bawa?” tanya Abu Dzar. “Demi Allah aku telah melihat seorang laki-laki yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan buruk” jawabnya. Abu Dzar menimpali “berita yang kau sampaikan ini belum membuatku puas”. Selepas itu, Lalu Abu Dzar mengambil kantong barang dan mengambil sebatang tongkat, lalu pergi menuju Makkah. ia sama sekali tidak pernah tahu nabi tersebut dan riskan baginya walau hanya untuk menanyakan namanya.

Setibanya disana, aku minum air Zam-Zam dan singgah di masjid. Tak lama kemudian sahabat Ali lewat didepanku sembari berkata “Sepertinya anda orang asing?” “benar” kataku. “kalau begitu, mari saya tunjukkan  kepenginapan” katanya. Lalu aku mengikutinya kepenginapan. Dalam perjalanan tidak terjadi percakapan diantara kami. Esok hari aku kembali lagi kemasjid dalam rangka menanyakan perihal nabi tersebut. Namun tak seorangpun yang  memberikan info padaku tentangnya. Tak lama kemudian shabat Ali lewat kembali didepanku seraya berkata “Apakah anda lupa jalan menuju penginapan?” “tidak” aku menjawabnya. “ikutilah aku” sahabat Ali mengajaknya menuju rumah Rasulullah.

Kemudian mereka berdua berangkat. Ditengah perjalan sahabat Ali bertanya padanya “apa keperluanmu dan apa yang telah mendorongmu kenegeri ini?” aku menjawab “jika engkau dapat menjaga rahasiaku maka aku akan mengatakannya” “baiklah” sahut Ali. “aku telah mendengar bahwa ditempat ini ada seseorang yang telah mengaku sebagai nabi Allah. Lalu aku mengutus saudaraku untuk menemuinya. Namun ia tidak membawa berita yang memuaskan, akhirnya aku memutuskan menemuinya sendiri” sahabat Ali menjawab “jika engkau merasa telah mendapat petunjuk, sebenarnya saat ini aku sedang menuju rumahnya. Jika aku masuk pada sebuah rumah, maka ikutlah masuk. Dan jika aku melihat seseorang yang membahayakan keberadaanmu maka aku akan pura-pura masuk kebun dan membenarkan terompahku. Dan engkau teruslah berjalan” saran sahabat Ali pada Abu Dzar. Akhirnya mereka berdua berangkat hingga tiba di rumah Nabi Muhammad saw.

Setibanya disana, aku berkata “jelaskanlah pada saya tentang islam” lantas beliau menjelaskan padaku tentang islam, dan kala itu pula langsung memeluk islam. “Wahai Abu Dzar, rahasiakanlah hal ini dan pulanglah ke negerimu! Jika kabar kemenangan kami telah tiba kepadamu, kembalilah kesini” beliau bersabda. Abu Dzar berkata “demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku akan menampakkan perihalku ini diantara mereka. Selepas itu aku beranjak menuju masjid dan berteriak ‘Wahai orang-orang Quraisy, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. Mendengar kata-kataku mereka berkata “bangkitlah kalian” tak ayal golongan kaum Quraisy langsung bangkit hendak menghabisi nyawaku dan menghajarku. Namun beruntung al-Abbas datang sambil mendekap tubuhku lalu berkata “Apakah kalian akan membunuh orang dari Ghifar?. Padahal jalur perdagangan kalian melewati tempat itu”.

Akhirnya mereka melepasku, pada hari selanjutnya, dimasjid aku melakukan hal yang sama, demikian pula reaksi yang ditampakkan orang Quraisy. Lagi-lagi al-Abbas menyelamatkanku untuk  kedua kalinya.


KISAH ISLAMNYA THUFAIL DARI DAUS


Ia adalah orang  terpandang, penyair, dan menjadai pemimpin kabilahnya, Daus. Kabilahnya memiliki ke-Emiratan yang mirip Emirat yang ada dikawasan yaman. Ia datang ke Makkah pada tahun kesebelas dari kenabian. Sebelum tiba di Makkah, kedatangannya disambut hangat oleh sanak saudaranya. Mereka rela mengeluarkan harta berapapun untuk penyambutan yang meriah tersebut.

Saat Rasulullah Saw berada di Makkah, dengan tabah beliau menasihati dan menyeru kaumnya menuju keselamatan, meski mereka senantiasa memusuhi. Karena tidak bisa menyentuh Rasulullah Saw yang kala itu berada dalam perlindungan Allah (lewat Muth'im), Quraisy tidak diam begitu saja, mereka melancarkan provokasi ancaman dan menghalangi pendatang 'arab yang hendak menemui Rasulullah Saw. Termasuk pendatang itu adalah at-Thufail bin 'Amr Ad-Dausy dari daerah Daus, ia termasuk kerabat Abi Hurairah ra. Thufail adalah orang mulia diantara kaumnya, ia juga penyair yang cerdas.

Kepadanya mereka katakan "Hai thufail, kamu datang ke daerah kami, lelaki di belakang kami ini (Rasulullah) telah menyimpang, ia telah memisahkan kelompok kami, menghancurkan urusan kami, ucapannya tidak lain adalah sihir yang memisahkan seseorang dari ayah dan istrinya. Kami menghawatirkanmu dan kaummu mengalami hal yang sama dengan kami. Karena itu janganlah berbicara dengannya, dan jangan sekali-kali mendengarkan ucapannya!"

Dalam hal ini Thufail juga pernah megatakan "demi Allah, tiada hentinya  mereka membujuk, menakut-nakuti, dan mecegahku menemui Rasulullah dan mendengarkan sabda beliau, akupun terbujuk mereka. Sampai-sampai aku sumbatkan kapas pada kedua telingaku setiap aku berangkat ke al-Masjid agar tidak mendengar apapun dari beliau nabi Muhammad”.

Hingga pada satu kesempatan, kala sijago merah mulai tersenyum aku mulai menapakkan kaki memasuki masjid, di sana aku melihat beliau tengah berdiri melaksanakan sholat di dekat Ka'bah. Perlahan aku dekati beliau, tanpa sengaja terdengar kalimat yang indah dari sebagian bacaan beliau. Dalam hati aku berkata “Duhai ibu! Demi Allah, aku adalah orang yang cerdas dan pandai syair, tidak kabur bagiku kalimat yang baik dan buruk. Tiada penghalang lagi untuk mendengarkan bacaan beliau, dan akan kuterima jika memang baik.” Aku masih di tempatku hingga beliau selesai dan pulang. Aku mengikuti beliau kemudian beliau masuk ke rumah perlindungan. Setibanya disana Tufail berkata pada beliau "Hai Muhammad, Kaummu mengatakan seperti itu? apa yang mereka harapkan dariku?, mereka menakut-nakutiku dengan perihalmu, sampai-sampai kusumbat kedua telingaku dengan kapas, namun akhirnya kudengar juga bacaan indah darimu, sampaikanlah perihalmu padaku” pinta Thufail.

Kemudian beliau memaparkan Islam padaku, sebelumnya beliau membaca Ta'awudz dilanjutkan surat al-Ihlâsh, al-Falaq, dan an-Nâs, demi Allah, tidak pernah kudengar sebelumya kalimat yang lebih indah dan adil isinya dibanding yang dibacakan baginda Nabi Saw., akhirnya dihadapan beliau aku masuk Islam.

Kepada beliau aku sampaikan bahwa aku adalah pimpinan kaumku dan hendak menyeru mereka pada Islam, aku meminta beliau untuk memohon kepada Allah memberikan padaku sebuah tanda kekuasaan-Nya guna memudahkanku dalam menyeru mereka. Lantas beliau berdo'a "Ya Allah berilah ia tanda kekuasan-Mu."

Setelah mohon diri, aku pulang, ketika sampai di lembah yang tampak dari perkampunganku tampaklah cahaya laksana lentera diantara kedua mataku. Aku memohon kepada Allah agar jangan meletakkanya di wajahku, aku khawatir mereka mengira cahaya itu adalah kutukan, karena aku telah meninggalkan agama mereka. Allah mengabulkan do'aku, cahaya itu pindah ke ujung cambukku sehingga tampak seperti lampu gantung. Lalu perlahan aku turun dari lembah menuju kampung halamanku.

Setibanya di rumah, ayahku datang menemuiku. lalu aku berkata padanya "menjauhlah dariku, karena aku bukan apa-apamu lagi!" "kenapa anakku?" ayahku penasaran."aku telah memeluk Islam, aku mengikuti agama Muhammad." Mendengar apa yang telah aku katakan padanya, ayahku berkata "Wahai anakku, agamaku sebagaimana agamamu." Lalu beliau mandi dan mensucikan pakaiannya, setelah selesai beliau kembali menemuiku dan aku jelaskan Islam kepadanya, dan pada akhirnya ayahku masuk Islam.

Saudariku juga menemuiku, lalu kukatakan seperti yang kukatakan pada ayahku. Iapun menjawab "agamaku sebagaimana agamamu". Setelah itu kusuruh ia mandi dan mensucikan pakaiannya. Setelah bersih, ia kembali menemuiku dan kusampaikan Islam padanya,  ia kemudian juga masuk Islam.

Setelah keduanya memeluk islam aku lalu menyeru masyarakat Daus, namun mereka menangguhkan ajakanku. Aku lalu mengadukan hal itu pada Rasulullah, aku memohon kepada beliau untuk mendo'akan agar bencana melanda mereka. Akan tetapi beliau berdo'a "Ya Allah berilah petunjuk masyarakat Daus." Kemudian nabi berkata pada Thufail "kembalilah kepada mereka, lemah lembutlah pada mereka!" perintah beliau padaku.

Akhirnya aku kembali dan tak henti-henti kuseru masyrakatku memeluk Islam. hingga Rasulullah hijrah ke Madinah, dan seusai perang Badar, perang Uhud, dan perang Khondaq. Baru setelah itu, aku bersama orang Daus yang masuk Islam menghadap Rasulullah. Akhirnya sekitar tujuhpuluh atau delapan puluh rumah didirikan di Madinah bagi warga Daus. Kami dapat menemui Rasulullah di Khaibar, kemudian beliau menjadikan kami bagian dari kaum muslimin yang lain.


ISLAMNYA DHIMAD AL-ADZI


Dia berasal dari Azd Syanu'ah Yaman, ia biasa memberikan pengobatan dengan mengunakan hembusan angin. Pada suatu ketika ia datang ke Makkah. Disana ia mendengar orang-orang yang sedang mengatakan "Sungguh Muhammad telah gila". Mendengar akan hal ini ia bergumam dalam hati "Aku akan menemui orang ini, siapa tahu Allah memberi kesembuhan padanya berkat pengobatanku".

Setelah menemui beliau, ia berkata "Hai Muhammad, sesungguhnya aku dapat mengobati dengan melalui hembusan angin, apakah engkau memerlukannya?". Lalu nabi Muhammad Saw. berkata padanya "Segala puji bagi Allah, kami memuji dan meminta pertolongan pada-Nya. Barang siapa yang telah diberi petunjuk oleh-Nya, maka tak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Barang siapa yang telah disesatkan oleh-Nya, maka tak ada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk. Aku bersaksi nahwa tiada tuhan selain Allah, dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya".

Mendengar jawaban Rasulullah, ia meminta beliau agar berkenan mengulangi kalimat tersebut. Kemudian nabi mengulanginya hingga tiga kali. Lantas Dhimad berkata "Aku pernah mendengar ucapan tukang tenun, ucapan tukang sihir, dan ucapan penyair. Namun, aku belum pernah mendengar kalimat-kalimatmu ini, sungguh sangat tinggi sastra dan gaya bahasanya. Ulurkanlah tanganmu, perkenankanlah aku berbai'at padamu atas nama islam" lantas ia menyatakan memeluk agama islam.

**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments