F Hijrahnya Nabi Muhammad Saw, Singgah Di Masjid Quba

Hijrahnya Nabi Muhammad Saw, Singgah Di Masjid Quba

HIJRAHNYA NABI YANG TERPILIH SAW

Setelah terjadinya baiat Aqabah yang kedua, tepatnya hari senin tanggal 2 Rabi’ul Awwal, bertepatan dengan tanggal 20 Juli tahun 622 M, tiga belas tahun setelah kenabian, sebagaimana  yang disebutkan beberapa riwayat. Dan hal ini merupakan awal dari kalender islam (Hijriyah) sebagaimana yang telah disepakati para sahabat pada masa Daulah ‘Umariyah.

Dalam kitab Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari nabi bersabda “Aku telah bermimpi hijrah dari Makkah menuju bumi yang didalamnya terdapat pohon kurma, pada mulanya aku menduga daerah Yamamah atau Hajar, namun  ternyata daerah Yatsrib (Madinah)”. kemudian kala beliau  menyampaikan mimpi ini pada sahabat beliau, maka sebagian para sahabat sama melaksanakan eksodus ke Madinah. Mayoritas sahabat yang hijrah ke Habasyahpun tak ketinggalan dalam eksodus ke Madinah. Demikian pula dengan sahabat Abu Bakar  juga bersiap-siap dalam perjalanan ini, namun beliau nabi mencegahnya “Janganlah engkau terburu-buru, karena aku masih menunggu izin dari Allah” nabi berharap agar ia menemani beliau. Kemudian Abu Bakar berkata “Demi ayah dan ibuku, apakah anda berharap saya menemani anda?” “ia” sahut nabi. Kemudian sahabat Abu Bakar menangguhkan perjalanannya dan ia merawat dua ekor unta miliknya selama empat bulan sebagai persiapan dalam rangka menemani beliau.

Shafiyurrahman menyebutkan. Siang itu pemuka Quraisy membuat persiapan untuk melaksanakan rencana yang telah ditetapkan dalam pertemuan di Dar an-Nadwah, dan pada pagi harinya ditunjuk sebelas orang terkemuka dalam melaksanakan misi ini. Diantara mereka adalah :
Abu Jahal ibn Hisyam
Al-hakam ibn Abu al-Ash
Uqbah ibn Abi Mu’aith
An-Nadhar ibn al-Harits
Umayyah ibn Khalaf
Zam’ah ibn al-Aswad
Thu’aimah ibn Ady
Abu Lahab
Ubay ibn Khalaf
Nubih ibn al-Hajjaj
Munabbih ibn al-Hajjaj

Setelah ada ketetapan bulat dari kaum Quraisy untuk menghabisi Nabi Muhammad Saw. Malaikat Jibril turun kepada beliau mewartakan bahwa diantara Quraisy terdapat persekongkolan, dan beliau telah mendapat izin hijrah dari Allah sesuai dengan waktu yang telah agendakan berikut solusi menghadapi orang-orang kafir tersebut. Jibril berkata “Wahai Rasulullah, malam ini janganlah engkau tidur di tempat biasa”.

Ketika malam tiba, orang-orang Quraisy telah siap siaga didepan pintu, sambil mengintai rumah Rasulullah  untuk melakukan aksinya. Namun sebelum mereka datang Nabi Muhammad Saw. memerintahkan sahabat Ali ibn Abi thalib untuk tidur ditempat beliau dengan mengenakan selimut warna hijau. Dengan mantap, beliau keluar rumah dengan manaburkan debu diatas kepala orang Quraisy _setiap orang yang terkena debu tersebut mati dalam perang badar dalam keadaan kafir_sembari membaca:

Artinya: "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat."

Kemudian Allah menurunkan rasa kantuk, tanpa sadar mereka tertidur pulas, sehingga tak ada seorangpun yang mengetahui kepergian Rasulullah. Setelah itu, datang seseorang laki-laki, ia menghampiri kaum Quraisy yang sedang tertidur didepan rumah Rasulullah seraya berkata "Apa yang sedang kalian lakukan disini?" "Mencari muhammad" jawab mereka. Orang tersebut melanjutkan "Allah telah melalaikan kalian semua. Demi Allah, Muhammad telah keluar dari rumah ini dengan selamat, ia telah menaruh debu diatas kepala kalian. Dan apakah kalian  tidak menyadarinya?" kecewa telah menghinggapi benak orang-orang kafir saat itu, sambil menaruh tangan diatas kepala, dan mereka semakin terkejut saat mereka menemukan debu diatas kepala mereka. Dan peristiwa ini telah disebutkan dalam Al Qur'an:

Artinya: "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya".

Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat Kubranya menyebutkan, kala waktu subuh menjelang, sahabat Ali beranjak dari tempat tidur Rasulullah Saw. Kemudian orang-orang kafir tersebut menanyakan perihal beliau,  sahabat Ali menjawab “aku tidak tahu”

Selepas Rasulullah dapat keluar dari rumah dengan selamat, kemudian beliau menuju kerumah sahabat Abu Bakar di Makkah dan beliau berada disana hingga malam tiba. Kala sahabat Abu Bakar melihat kedatangan beliau nabi, ia berkata “Rasulullah datang pada siang bolong begini (tidak seperti biasanya) pasti ada hal yang sangat penting”. Kemudian beliau memasuki rumah Abu Bakar, disana ada Sayidah ‘Aisyah dan Asma’ dan sahabat Abu Bakar sendiri yang sedang duduk disamping beliau. Kemudian beliau berkata “Suruhlah menyingkir orang yang sedang berada disampingmu” nabi memohon pada Abu Bakar agar kedua puterinya tidak mendengar pembicaraan beliau. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka kedua puteriku. Demi ayah dan ibuku, anda tidak perlu khawatir” Abu Bakar memastikan bahwa pembicaran beliau aman.

Tak lama kemudian beliau melanjutkan “Sesungguhnya Allah telah memberikan izin padaku untuk keluar dari Makkah dan melaksanakan hijrah” kemudian Abu Bakar berkata “Apakah anda berhasrat saya menemani perjalan ini?” “benar” sahut nabi. Tak terbayang kebahagian yang dirasakan sabat Abu Bakar saat itu, dan seketika itu pula Air mata bahagia sahabat Abu Bakar menetes. Kemudian Sayidah ‘Aisyah segera menyiapkan bekal dalam kantong kulit, kemudian Asma’ puteri sahabat Abu Bakar merobek secarik kain ikat pinggangnya, lantas ia memasukkan kain tersebut dalam kantong kulit dan memotong kain lain untuk dijadikan sebagai pengikat pada mulut kantong tersebut. Oleh karenanya Asma’ mendapat sebutan “Dzatun Nithaqaini.

Kemudian keduanya keluar melalui jendela belakang rumah menuju goa Tsur _sebuah gunung di dataran rendah Makkah_. Abu al-Qasyim al-Baghawi menuturkan pada saat Rasulullah dan Abu Bakar menuju goa, kadang ia berada di depan Nabi, dan pada saat yang lain ia berada dibelakangnya. Rasulullah menanyakan perihal tersebut pada Abu Bakar. “Ketika aku berada dibelakang anda , aku hawatir musuh akan datang dari depan, demikian pula sebaliknya saat  aku berada didepan anda aku hawatir musuh akan datang dari belakang.”

Setibanya dimulut goa Abu Bakar berkata pada nabi “tetaplah ditempat anda wahai Rasulullah, aku akan masuk untuk memeriksa keadaan.” Ia melanjutkan “jikalau didalam goa ada binatang buas yang hendak menyakiti anda, maka biarlah aku orang pertama yang tersakiti sebelum anda.” Demikianlah sahabat Abu Bakar memperlakukan nabi Muhammad melebihi keselamatan dirirnya sendiri. Imam bukhari juga meriwayatkan hadis yang senada namun  dengan bahasa yang berbeda. Kemudian keduanya memasuki goa. Tak lama kemudian Allah mengirim seekor laba-laba yang kemudian menenun sarangnya diantara goa dan pohon yang berada dimulut goa menutupi Rasulullah dan Abu Bakar. Allah juga mengirim dua burung dara liar didepan mulut goa.

Dikala senja hari tiba asma’, putri Abu Bakar datang mengantarkan makanan berikut segala kebutuhan Rasulullah dan  ayahnya kedalam goa. Ia menceritakan, ketika keduanya telah berangkat golongan orang-orang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahal ibn Hisyam datang  padanya, dan  berhenti didepan  pintu rumahnya sembari berakata “Dimana ayahmu?.” “demi Allah aku tidak tahu dimana beliau berada.” Sahut asma’. Kecewa , geram, terlihat jelas diwajah Abu Jahal saat mendengar jawaban itu, tanpa sepatah katapun keluar dari mulut Abu Jahal, sekonyong-konyog ia menampar asma’. lalu berlalu pergi bersama rombongan.

Selepas kepergian Rasulullah dan Abu Bakar. Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang mengunjungi cucunya, ia adalah seorang tuna netra. Ia berkata pada cucunya “Ia (Abu Bakar) telah membuat kalian semua bersedih, ia pergi maninggalkan kalian dan tiada menyisakan hartanya disini.” Asma’ berkata “Kakek jangan berkata begitu. Ayah telah meninggalkan sesuatu yang sangat berharga disini.” Dengan mengambil sebongkah batu ia mulai meletakkannya pada lobang dinding rumahnya, dimana ayahnya baisa meletakkan hartanya. Asma’ menutupinya dengan sehelai kain dan mulai memegang tangan kakeknya untuk menyentuh batu tersebut sembari berkata “Kakek, inilah harta yang ayah tinggalakan bagi kami.” Abu Quhafah “Dengan harta ini berarti ayahmu telah berbuat baik dan cukup sebagai bekal kalian.” Asma’ berkata dalam hati “ayah tidaklan meninggalkan apapun buat kami, aku melakukan semua itu tak lain untuk menenangkan dan menjaga perasaan sang kakek.” Demikian tulus dan penuh keihlasan asma’ ditinggalkan tanpa harta demi memperjuangkan islam mengikuti jejak sang ayah. Tak ubahnya Abu Bakar dengan seluruh jiwa raga dan hartanya rela ia korbankan demi sang Nabi dan mentaati perintah Allah.

Kala orang-orang Qurasiy tidak berhasil melaksanakan niatnya untuk menghabisi nabi Muhammad Saw. Kemudian mereka mencari jejak beliau kesegala arah. Ketika meraka tiba di sebuah gunung, dalam pekat malam pikiran mereka kacau tak karuan tak tahu kemana mereka harus mencari beliau. Namun pada akhirnya mereka naik keatas gunung dan melewati goa, disana mereka melihat ada sarang laba-laba sembari berkata “tak ada seorang pun yang masuk kedalam goa ini. Padahal saat itu nabi sedang berdiri melaksanakan sholat didalam goa, dan sahabat Abu Bakar sedang mengamati keadaan. Kemudian ia berkata “Wahai Rasulullah, kaum anda sedang mencari keberadaan anda, demi Allah aku sama sekali tidak bersedih akan keberadaan diriku, namun aku khawatir akan sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi pada diri anda.” Nabi menjawab “janganlah khawatir, Allah bersama kita”. Imam Ahmad dan Syaikhani menyebutkan, saat itu Abu Bakar berkata pada beliau “Andai saja mereka melihat kebawah, niscaya mereka akan melihat kita” “Apa yang engkau pikir Jika ada dua orang? Allah adalah yang ketiga” beliau menenangkan sahabatnya.

Beliau dan Abu Bakar tinggal didalam  goa selama tiga hari. Kala malam hari Abdullah ibn Abu Bakar menginap didalam goa untuk menjaga Rasulullah, saat waktu sahur tiba ia mulai bertolak kembali menyusuri jalan menuju Makkah, dan kala subuh menjelang ia telah berada di Makah bersama orang Quraisy seolah-olah ia tetap berada dirumah. Disana ia mencari perkembangan info orang–orang yang sedang mengancam keberadaan Rasulullah dan ayahandanya. Dengan kecerdasannya ia dapat menghimpun info dengan baik, kala petang mulai menyelimuti ia sudah tiba digoa kemudian ia sampaikan berita tersebut pada beliau. Pada siang hari 'Amr ibn Fuhairah (budak Abu Bakar) menggembala kambing sang tuan dan kala sore hari tiba ia datang menuju goa untuk mengistirahatkan kambing gembalanya sekaligus untuk diperah susunya selama beliau dan abu bakar berada didalam goa. Mereka berdua melakukan hal ini selama tiga malam.

Abu Bakar dan Rasulullah telah menyewa 'Abdullah ibn 'Uraiqith sebagai pemandu jalan menuju Madinah, ia dipilih sebagai penunjuk jalan, karena memang selain cakap dalam hal ini ia juga dapat dipercaya, walaupun saat itu ia masih belum memeluk islam. Sahabat Abu Bakar dan Rasulullah memberikan kedua kudanya agar supaya pada waktu subuh malam yang ketiga ia membawakan dua kendaraan tersebut untuk Abu Bakar dan Rasulullah.

Abdul Malik mengatakan, Tepatnya pada hari senin malam ke-empat Bulan Rabi’ul awal mereka berempat berangkat, dan pada hari selasa ia tiba didaerah Qudaid.dalam perjalanan sahabat Abu Bakar  selalu mengamati kawasan sekitar untuk mencari tempat berteduh. Disela-sela perjalanan mereka berhenti disebuah batu besar, kemudian ia menghamparkan pakaian dari bulu onta dan mempersilahkan beliau untuk duduk diatasnya sembari melihat-lihat tempat sekitar apakah ada orang yang sedang mengintai.

Tak lama kemudian sahabat Abu Bakar melihat ada seorang penggembala yang hendak berteduh disekitar tempat mereka berteduh. Lantas kami bertanya padanya "kamu bekerja untuk siapa?" "seorang laki-laki Quraisy" ia menjawab seraya menyebut nama pemilik kambingnya, Dan sahabat Abu Bakar mengenalinya. "apakah terdapat susu pada kambing-kambing ini?" sahabat Abu Bakar melanjutkan. Ia menjawab "ia" "apakah kau berkenan untuk memerah susu buat kami?" sahabat Abu Bakar memohon "baiklah" ia menjawab. Lalu ia mulai mengikat kambingnya, dan sahabat Abu Bakar memintanya untuk membersihkan kapur susunya dari debu yang melekat dengan kedua tangannya. Kemudian  kedua tangannya juga ia bersihkan sesuai dengan perintah sahabat Abu Bakar.

Kemudian ia mulai memerah susu dari kambing tersebut dan berhasil memerah sedikit susu. Kemudian sahabat Abu Bakar mendinginkannya, lalu menawarkannya pada Rasulullah yang sedang bangun dari istirahatnya. "Silahkan minum wahai Rasulullah" Aku mempersilahkan, lalu beliau mulai meminum secukupnya. "Perjalanan harus dilanjutkan" sahabat Abu Bakar mengingatkan beliau. lalu mereka berangkat, sementara orang-orang Quraisy masih mencari keberadaan mereka dan tak ada seorangpun yang dapat menemukan mereka kecuali Suraqah ibn Malik ibn Ju'syum. Disebutkan dalam kitab Siyaru al a'lam al Nubala’ dikisahkan oleh Suraqah ibn Malik. Suatu ketika ia sedang duduk-duduk diantara kaumnya bani Mudlij, tiba-tiba datang padanya utusan orang-orang Quraisy dalam rangka mengadakan sayembara, barang siapa yang dapat menangkap Rasulullah dan Abu Bakar hidup atau mati maka mereka akan mendapatkan seratus onta -sebagaimana yang diriwayatkan dalam keterangan yang  lain.

Lalu datang padanya salah satu dari golongan orang Quraisy, sambil berdiri sembari berkata "wahai Suraqah, aku melihat tiga gerombolan berkuda melewati pinggiran kota, dan aku menyangka mereka adalah Muhammad dan para sahabatnya" Sebenarnya Suraqah telah mengetahuinya, namun ia berpura-pura tidak tahu. Lantas ia berkata "saya kira yang kamu lihat itu bukanlah Muhammad dan sahabatnya tapi orang lain yang berhianat dan hendak melarikan diri" Mendengar  berita tersebut taklama kemudian ia bergegas meninggalkan majelis. lalu ia memasuki rumahnya sambil memerintah budak perempuannya untuk mengeluarkan kuda dan membawanya ketempat yang telah ia perintahkan untuk menunggu kedatangannya disana.

Sementara Suraqah sendiri sedang mangambil tombak dan menyelinap melewati pintu belakang sambil sembunyi-sembunyi dan mengendap-endap, hingga akhirnya ia sampai pada kuda yang telah dipersiapkan oleh budaknya. Kemudian ia berangkat menyusul Nabi Muhammad dan ketika jarak diantara mereka semakin dekat, anak panah yang sudah dipersiapka Suraqah dikeluarkan dan ia bermaksud memanah mereka berdua (Rasulullah dan Abu Bakar), entah menegenai sasaran atau tidak, namun realita berkata lain, anak panahnya salah sasaran, dan ia mulai mendekati mereka kembali hingga terdengar bacaan Rasul oleh Suaraqah.

Disi lain sahabat Abu Bakar sering menoleh kebelakang mengawasi gerak-gerik Suraqah. Tapi tak lama kemudian tiba-tiba kedua kaki kudanya terperosok kebumi hingga lutut, dan spontan ia terjungkal. Tapi ia mencoba bangkit dan berusaha mengeluarkan ontanya, ia berhasil menarik ontanya hingga berdiri tegak, debupun berterbangan bak asap yang menjulang tinggi ke langit. Kemudian aku menyiapkan anak panah untuk kedua kalinya dan mulai memanah, namun usahaku tetap gagal.

Dan pada akhirnya aku memanggil mereka dengan damai sambil berkata "tunggu! Demi Allah, aku tidak akan menyakiti kalian" merekapun berhenti. lantas aku  menghampiri mereka langsung tersbersit dalam hatiku untuk  memenjarakan mereka berdua dan Suraqah telah menduga bahwa Rasulullah telah mengetahui niatnya. Al sholihy al-syamy menuturkan bahwa pada saat ini Rasulullah berkata pada Abu Bakar  "katakan padanya apa yang ia inginkan?" ia berkata pada Rasulullah "Sungguh kaummu telah memberikan upah bagi orang yang dapat menangkap kalian” semua rencana kafir Quraisy dibeberkan pada Muhammad oleh Suraqah. Kemudian ia menawarkan bekal harta pada mereka, namun mereka menolak dan mengatakan "Rahasiankanlah keberadaan kami dari mereka (kafir Quraisy)" lantas ia meminta pada nabi untuk menulis surat sebagai lisensi keamanan. Nabi mengabulkannya seraya memerintahkan Amr ibn Fahira untuk menulisnya diatas secarik kulit, kemudian Rasulullah dan sahabatnya berlalu pergi.

Lalu mereka berempat melanjutkan perjalanan, menyusuri daerah Qudaid. Disana mereka melewati rumah Ummi Ma'bad 'Atikah binti Khalid al-Khuzaiyyah, dan mereka hendak membeli susu dan daging darinya. Namun disana tidak menemukan apapun, karena kondisi sosial masyarakat Qudaid saat itu menengah kebawah dan sedang paceklik, Ummu Ma’bad kemudian berkata “Andaikata kami memiliki jamuan, maka kalian tidak akan kekurangan”. Setelah itu, Rasulullah melihat seekor kambing di dalam kemah yang telah termakan usia dan kelelahan. Rasulullah bertanya pada Ummi Ma'bad "apakah kambing tersebut memiliki susu yang dapat diperah?" "tak ada apapun yang dapat diharapkan dari kambing tersebut" ia menjawab "lalu nabi meminta izin "bolehkah kami memerah susu kambing tersebut?" ia menjawab "silahkan, jika memang engkau yakin akan hal Itu."

Setelah mendapat izin dari sang empunya, lalu beliau berdoa menyebut nama Allah sambil mengusap kapur susu kambing tersebut “Ya Allah berilah berkah pada kambingnya” Kemudian air susupun mengalir deras dari kambing tersebut, lantas beliau meminta wadah yang besar yang cukup untuk memberi minum pada jama’ah. Kemudian Nabi memerah, dan memenuhi wadah tersebut dengan air susu, kemudian seluruh jamaah dapat meminumnya sampai kenyang, dan yang lain juga masih kebagian. Sementara Rasulullah  masih memerah untuk yang kedua kali dan meletakkannya disamping pemiliknya, lalu beliau bersama Abu Bakar berlalu pergi.

Tak lama kemudian suami Ummu Ma'bad datang memberi minum pada kambing betina miliknya, dan ketika ia melihat ada susu disampingnya ia terkejut seraya berkata "Dari mana susu ini wahai Ummi ma'bad? Padahal kambing ini kurus kering tak ada susu dalam kapur susunya" suaminya heran bukan kepalang  seakan tak percaya "Demi Allah, tadi ada seorang laki-laki yang penuh  berkah datang" ia menjawab. Suaminya melanjutkan "ia pasti orang Quraisy yang sedang dicari-cari, ceritakanlah padaku perihalnya?” suaminya menebak sekaligus penasaran. Kemudian Ummu Ma’bad menyebutkan visuallisasi fisik Rasulullah, suaranya, akhlaknya, tuturkatanya, dan semua hal yang berkenaan dengan beliau nabi. Kemudian suaminya berkata  “Laki-laki ini adalah orang Quraisy, yang telah sampai kepadaku berita tentangnya, andai saja aku  bertemu dengannya, maka aku akan memohon untuk dapat menyertainya, sungguh aku akan melakukannya andai saja ada kesempatan"

Ketika berita keberangkatan Rasulullah telah terdengar oleh penduduk Madinah, setiap pagi mereka bersiap-siap menunggu kedatangan beliau di tanah lapang, dan ketika terik mentari mulai terasa panas menyengat, mereka kembali ke rumah masing-masing. Hingga waktu kedatangan Rasulullah kami tetap menanti sebagaimana biasanya, namun beliau belum juga tampak, dan pada ahirnya mereka pulang. Namun masih ada seorang yahudi yang menunggu kedatangan beliau dibenteng, tiba-tiba ia melihat Rasulullah dan para sahabat yang serba menegenakan baju putih datang ke arah mereka. Tanpa sadar ia berteriak "wahai golongan orang arab! ini dia, putera leluhur kalian yang ditunggu-tunggu telah datang" mendengar suara tersebut sontak kaum muslimin membeludak keluar menjemput Rasulullah dan para sahabat dibawah terik mentari, Kemudian beliau bergerak kearah kanan menghampiri kaum muslimin yang sedang berkumpul.

SINGGAH DI QUBA

Ketika orang-orang muslim Madinah mendengar berita keberangkatan Rasulullah saw menuju negeri mereka. setiap pagi, setelah melaksanakan shalat subuh mereka duduk-duduk menanti kedatangan beliau. Pada saat matahari meninggi, mereka pindah ke tempat teduh. terus berada di situ sampai matahari menghapus bayang-bayang tembok, barulah mereka kembali kerumah masing-masing. Tidak lain karena rasa rindu ingin berjumpa dengan orang yang sangat mereka cintai.

Hal itu terus mereka lakukan -meski dalam musim panas- hingga Rosulullah saw tiba di Madinah. Akan tetapi yang pertama kali melihat kedatangan beliau adalah seorang laki-laki Yahudi. Pada saat itu ia tengah berada di benteng pertahanan kota Madinah. Tampak olehnya dari kejauhan dua orang yang mengenakan pakaian serba putih. Si yahudi itupun terkejut dan spontan berteriak pada penduduk madinah, ”Wahai Bani Qîlah orang yang kalian tunggu-tunggu telah datang". Ia berteriak karena Bani Qîlah telah kembali ke rumah-rumah mereka. 

Kedatangan Rasulullah ini bertepatan pada hari senin bulan Robî'ul Awwal. Terik matahari sama sekali tidak menyurutkan mereka untuk menyambut Rasulullah saw yang tengah berteduh di bawah bayang-bayang pohon kurma bersama Abu Bakar ra yang usianya sepadan dengan beliau.

Melihat kedatangan mereka Abu Bakar ra sontak berdiri. Sedangkan Rasulullah saw tetap duduk, diam dan menundukkan kepala. Setiap orang yang belum mengenal Rasulullah saw memberikan penghormatannya pada Abu Bakar ra karena mengira dialah Rasulullah saw Sampai ketika matahari mengenai Rasulullah saw Abu Bakar mendekati beliau dan memayungkan selendangnya. Saat itulah mereka baru mengetahui yang mana Rasulullah saw.

Bersama mereka Rasulullah saw Tidaklah langsung masuk ke kota Madinah akan tetapi berjalan kearah kanan Madinah hingga singgah di Qubâ’. tepatnya di kabilah Bani ‘Amr ibn ‘Auf. Beliau tinggal di rumah Kultsum ibn al-Hidm (menurut satu riwayat yang disetujui Muhammad ibn al-Hasan ibn Zabâlah, saat itu Kultsum ibn al-Hidm masih musyrik) dalam riwayat lain, nabi tinggal di rumah Sa’ad ibn Khaitsamah. Sedangkan riwayat lain menggabungkan kedua pendapat itu berkata bahwa, beliau tinggal di rumah Kultsum ibn al-Hidm kemudian keluar menuju rumah Sa’ad ibn Khaitsamah dan tinggal di sana karena waktu itu Sa’ad adalah lelaki bujang dan rumahnya telah menjadi tempat tinggalnya kaum Muhajirin yang masih bujang.

Sesampainya di tanah Qubâ yang pertama dilakukan oleh nabi adalah mendirikan tempat peristirahatan yang sekaligus tempat ibadah. Tanah jemuran kurma milik kultsum akhirnya diminta beliau untuk dijadikan masjid yang didirikan atas dasar taqwa. Beliau sendiri adalah yang pertama kali mengumpulkan bebatuan bahkan beliaulah yang pertama kali membangun masjid diantara orang-orang muslim di Madinah. Menurut sumber lain sahabat yang hijrah lebih dahulu telah mendirikan Masjid bersama kaum Anshar.

Dalam satu riwayat dikatakan ketika warga Qubâ’ meminta kepada Nabi untuk mendirikan masjid bagi mereka, beliau Saw. Memerintahkan kepada salah seorang untuk berdiri dan naik unta. Abu Bakar sahabat lantas berdiri dan menaiki unta, lalu mencoba menggerakkannya. Namun unta itu tidak mau bergerak, akhirnya Abu Bakar turun dan kembali ketempat duduknya.

Rasulullah saw mengulangi perintah beliau kemudian Ali ra berdiri. Ketika meletakkan kakinya pada pelana unta dan berada di atasnya, Nabi saw bersabda  “lepaskanlah kendalinya, kalian bangunlah masjid di tempat dia berputar karena unta itu mendapatkan perintah!”.

Saat pembangunan, Rasulullah saw terlihat membawa batu besar sampai putih debupun terlihat di perut beliau. Seorang sahabat menghampiri beliau karena ingin menggantikan nabi untuk mengangkat batu itu, akan tetapi nabi menolak dengan halus dan beliau minta untuk mencari sendiri batu yang seukuran dengan yang beliau bawa, sampai akhirnya beliau sendiri yang menanamnya.

Ada yang mengatakan masjid itu adalah masjid yang paling lurus arah kiblatnya berdasarkan sabda nabi “sungguh Jibril memberi isyarat padaku ke arah ka’bah”. Dan hadits yang kedua "ini adalah masjid yang apaling lurus arah qiblatnya".

Mengenai waktu singgahnya nabi di Qubâ, terjadi silang pendapat. Menurut versi shahîh beliau tinggal di Qubâ’ selama lebih dari sepuluh malam. Menurut sahabat Anas ra. Beliau tinggal selama empat belas malam. Ibn Ishâq berkata: Rasulullah Saw. tinggal di Qubâ’ pada hari senin, selasa, rabu, kamis. Dan hari jum’atnya beliau meninggalkan daerah itu dengan mengendarai unta beliau (al-Qashwâ`) dan berhenti di kabilah Bani Sâlim. Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat yang lain. Yang pada intinya sama-sama setuju jika nabi masuk ke tanah Qubâ pada hari senin. beliau melaksanakan sholat jum’at di sana tepatnya di tengah Wâdî Ranûnâ` milik bani sâlim ibn amr. Inilah shalat jum’at yang pertama kali beliau laksanakan di Madînah atau secara umum bisa dikatakan yang pertama. Karena beliau bersama para sahabat ketika di Makkah belum pernah bisa melaksanakan Jum’at dengan terang-terangan lengkap dengan khutbah dan wejangan tidak lain karena penentangan musyrikîn dan sikap menyakitkan mereka terhadap nabi.

Dalam pelaksanaan jum’at beliau berkhutbah dua kali.
khutbah pertama
Kala itu beliau berdiri lantas memuji Allah, kemudian bersabda:
“amma ba’du, wahai manusia, lakukanlah hal yang baik untuk diri kalian, sehingga kalian akan tahu. Demi Allah, sungguh Ia akan mematikan seseorang dari kalian lalu meninggalkan kambingnya tanpa ada yang mengembala, dan Allah akan bertanya padanya tanpa ada penterjemah dan penghalang apapun: ”apakah belum datang utusanku padamu? lalu ia menyampaikan risalah padamu. Aku telah memberimu harta dan anugrah tapi apa yang kamu lakukan untuk dirimu? lalu ia(seorang tadi) melihat ke kanan dan ke kiri namun ia tidak menemukan apapun, lalu melihat ke bawah, dan ia tidak melihat apapun kecuali neraka jahanam. Maka dari itu, barang siapa mampu menjaga dirinya dari api neraka walau hanya dengan sodaqoh separuh kurma maka lakukanlah! sedangkan yang tidak punya apa-apa maka dengan perkataan yang baik, sesungguhnya satu kebaikan akan dibalas sepuluh hingga tujuh puluh kali lipat”.
Wassalâmu’alâ rosûlillâh Wa rahmatullâh Wa barakâtuh.
Khutbah ke-dua
إن الحمد لله أحمده واستعينه نعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله [ وحده لا شريك له ]
"Sungguh sebaik-baik ungkapan adalah kitab Allâh benar-benar beruntung seseorang yang hatinya dihiasi oleh Allâh dan memasukkannya ke agama islam setelah kufur dan menjadikan kitab-Nya sebagai pilihannya daripada ucapan manusia. Sungguh ia adalah sebaik-baik ungkapan dan yang paling balîgh. Cintalah kalian pada apa yang dicintai Allâh, dan cintailah Allâh dengan segenap hati kalian. Janganlah kalian bosan pada kalâm Allâh dan berdzikir pada-Nya, jangan hati kalian keras darinya!Karena sesungguhnya orang yang telah dipilih Allâh telah diberi amal-amal pilihan, hamba-hamba pilihan, hadits shôlih, dan apa yang disampaikan pada manusia dari yang halal dan haram. Sembahlah Allâh janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, bertaqwalah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, dan jujurlah pada Allâh dengan ucapan baik kalian. Saling mencintailah kalian dengan rahmat Allâh. Sungguh Allah murka bila diterjang janji-Nya".
Wassalâmu’alâkum Wa rohmatullâh Wa barokâtuh.

Selesai shalat dua orang yang mewakili Bani Sâlim yaitu Atban ibn Malik dan Abbas Binu’badah ibn Nadhlah menghadap nabi meminta beliau untuk tetap tinggal bersama mereka. Namun Nabi bersabda: “lepaskanlah (berilah jalan) unta itu karena ia  telah mendapatkan perintah!”. Mereka akhirnya melepaskannya. Beliau lantas berangkat menuju Madinah. Sejak saat itulah Yatsrib dinamakan Madinatur-Rosul Saw. Yang kemudian disingkat dengan nama Madinah.

Sebelum melakukan perjalanan ke madinah yang tepatnya di daerah Bani Najar, nabi beserta para sahabatnya berbincang-bincang pada siang hari di rumah Sa’ad bin Rabi’ untuk merembukkan tentang pemberangkatannya ke Bani Najar.

Mengenai Perjalanan Nabi bersama para sahabatnya sampai ke madinah pada hari senin yang bertepatan dengan hampir tergilincirnya matahari. Imam al-waqidi berkata : bahwa nabi sampai di Madinah pada tanggal 2 Rabiul Awal. Sedangkan ibnu ishaq berkata bahwa Nabi sampai di madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal, dan ini adalah pendapat yang masyhur.

pertama kalinya nabi masuk ke kota Madinah terdapat satu riwayat dari sahabat Anas ra berkata : ketika orang-orang mengatakan Nabi Muhammad telah datang, aku bersama beberapa pemuda bergegas di jalan namun kami tidak melihat apapun, kemudian kami bersembunyi di balik tembok Madinah pada saat nabi bersama Abu bakar tiba dan mengutus seseorang untuk meminta izin kepada Anshar (Bani Najar). Kemudian kira-kira 500 orang dari mereka dengan menyandang senjata menghadap beliau dan berkata: “silahkan berangkat dengan aman!”.

Sungguh kehadiran beliau merupakan kebahagiaan yang tiada duanya bagi penduduk Madinah, hari itu Madinah memancarkan cahaya. Mereka keluar ke jalanan meluapkan kegembiraan bahkan para wanita dan anak-anak mendedangkan:
Purnama telah terbit pada kami
dari arah dataran tinggi wadâ
Wajiblah kami bersyukur
Selama masih ada orang yang mengajak pada (agama)Allah
Wahai orang yang diutus pada kami
Engkau datang membawa perintah (ajaran) yang harus ditaati.

Unta yang beliau kendarai terus berjalan, merekapun turut di kanan kirinya. Tak henti-hentinya mereka berebut memegang tali kekang unta. Setiap kali melewati salah satu rumah mereka, beliau diminta untuk tinggal bersama mereka. Bani Bayyâdloh , Bani Sâ’idah, Bani al-Khârits ibn al-Khazraj, Bani ‘ diy ibn an-Najâr (mereka adalah paman Nabi dari jalur ibu). Namun beliau selalu bersabda: “lepaskanlah dia (unta) karena ia mendapat perintah!, aku hanya akan tinggal di tempat yang diperintahkan Allah”.

Unta itu akhirnya menderum di halaman rumah Abi Ayyub, Rasulullah kemudian turun, beliau bersabda: “insya Allah di sinilah tempatnya". lalu berdoa : ”Ya Allah tempatkanlah aku ditempat yang penuh berkah dan engkau adalah sebaik-baik dzat yang menempatkan”. Abu Ayyub membawa perbekalan beliau nabi dan meletakkan dirumahnya, sementara As’ad bin Zurarah datang dan mengambil tali unta lalu meletakkannya di rumahnya, lalu tetangga-tetangga dari Bani an-Najar dengan menabuh rebana mereka berdendang :
Kami adalah tetangga dari bani najar
wahai orang yang beruntung
wahai alangkah baiknya Muhammad sebagai tetangga

Lalu beliau bertanya pada mereka “apakah kalian mencintaiku?”, Mereka menjawab “iya kami mencintai anda.” Lantas beliau berkata: “Allah tahu bahwa hatiku mencintai kalian”.

Ketika itu datang juga Abdullah ibn Abdissalâm dia berkata "aku bersaksi bahwa anda adalah Nabi Allah yang nyata dan datang membawa kebenaran. Orang Yahudi telah tahu bahwa aku adalah junjungan mereka juga putra gusti mereka dan yang terngalim juga putra terngalim mereka. Oleh karenanya serulah dan tanyalah pada mereka!"

Kemudian orang yahudi menghadap Nabi, dan beliau bersabda: "Wahai kaum yahudi celakalah kalian! takutlah kepada Allah, demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, sungguh kalian tahu bahwa aku adalah utusan Allah yang nyata, dan aku datang membawa kebenaran, masuklah islam kalian semua!" Mereka berkata tiga kali "kami tidak tahu akan hal itu."

Di rumah Abi Ayyub beliau memilih tinggal dilantai bawah agar mudah bagi orang-orang yang mengunjungi beliau, namun Abu Ayyub ra tidak rela akan hal itu, karena ia sangat memuliakan nabi. khawatir beliau terkena debu akibat hentakan kaki atau air yang tumpah dari atas.

Pernah suatu ketika, buyung (kendi tempat air) milik Abi Ayyub yang berisi air pecah, sehingga ia dan isterinya mengusap air itu dengan selimut mereka berdua, padahal itulah selimut satu-satunya, karena khawatir akan menetesi beliau. Oleh sebab peristiwa itulah Abu Ayyub memohon dengan sangat kepada beliau agar berkenan tinggal dilantai atas. Pada awalnya nabi menolak. Namun karena terus didesak oleh Abi Ayyub, akhirnya beliaupun mau pindah di atas.

Abu Ayyub berkata “setiap kali kami mengirimkan makanan untuk beliau, jika dikembalikan dan masih ada sisa maka aku dan istriku mencari bekas tangan beliau lantas makan dari tempat itu dengan mengharapkan keberkahan. Sampai suatu ketika, kami mengirimkan makan sore yang kami bumbui bawang merah atau bawang putih. Ketika dikembalikan kami tidak melihat bekas tangan beliau kemudian aku menghadap beliau dan menanyakan kenapa beliau tidak berkenan pada makanan itu. Beliau bersabda 'karena aku menemukan bau dari tumbuhan itu, aku adalah orang yang senantiasa bermunajat. Sedangkan kalian makanlah!' Kemudian kami memakannya namun setelah peristiwa itu kami tidak lagi menyertakan bumbu itu pada makanan beliau’".

Setiap malam selalu ada dermawan kaya dari sahabat Anshar yang mengunjungi beliau dengan membawa makanan, seperti Sa’d ibn 'Ubâdah, As’ad ibn Zurarah dan Ummu Zaid ibn Tsâbit, sehingga setiap malam selalu ada tiga atau empat mangkuk Tsarîd didepan pintu beliau. Beliau tinggal di rumah itu sampai  masjid dan kediaman beliau selesai didirikan.

**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments