Hijrahnya Ahlil Bait, Dan Kisah Persaudaraan Kaum Muslimin

PERSAUDARAAN ISLAM

Islam dalam perkembangannya tidak melepaskan diri dari ukhuwah Islamiah, karena merupakan ujung tombak kejayaannya. Sebagaimana dikokohkan Rasulullah dilingkup sahabatnya, bahkan beliau mengikat tali persaudaraaan antara satu sahabat dengan sahabat yang lain.

Pada dasarnya jalinan persaudaraan itu telah terjadi dua kali seperti dipaparkan Abu Umar dalam kitab al-’Uyun dan al-Fath. Persaudaraan yang pertama adalah persaudaraan di lingkungan sahabat Muhajirin sebelum hijrah. sebuah ikatan yang melahirkan kebenaran dan saling menolong. Rasulullah mempersaudarakan sahabat Abu Bakar dengan Umar, Zaid ibn Hâritsah dengan Hamzah ibn Abdul Muthalib. Sedangkan menurut riwayat Abu Ya'lâ dari 'Abdurrahman ibn Shaleh al-Asadi bahwasanya Zaid ibn Hâritsah berkata : "Sesungguhnya Rasulullah mempersaudarakan aku dengan Hamzah ibn Abdul Muthalib, Usman ibn 'Affân dengan Abdurrahman ibn 'Auf, Zubair ibn 'Awwâm dengan Ibn Mas’ûd, 'Ubaidah ibn Hârits dengan Bilal ibn Rabbah, Mus’ab ibn Umair dengan Sa’ad ibn Abi Waqash dan begitu pula dengan sahabat-sahabat yang lain hingga tersisa sahabat Ali ra. Dengan berlinang air mata ia berkata "Duhai Rasulullah engkau telah menyaudarakan para sahabatmu, sedangkan engkau tidak mempersaudarakanku dengan siapapun." Mendengar pernyataan tersebut Rasul pun bersabda. "Tidakkah engkau ridha jika aku menjadi saudaramu?" "Ya, aku ridha wahai Rasulullah," sahut sahabat Ali. "Engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat." jawab Nabi saw.

Setelah hijrah ke Madinah dan bermukim di sana, kembali beliau mengukuhkan akad persaudaraan dilingkup sahabatnya. Kali ini beliau mewujudkan akad tersebut di antara sahabat Muhajirin dengan sahabat yang berada di  Madinah atau juga disebut Anshar. Diriwayatkan dari sahabat Anas ibn Malik ra. bahwa Rasulullah mempersaudarakan mereka semua di rumahnya.

Imam Muslim, Nasâi dan al-Khorôithi meriwayatkan dari ibn 'Umar bahwa jumlah mereka sebayak sembilan puluh orang laki-laki, _riwayat lain mengatakan seratus orang laki-laki_ 45 sahabat  dari Muhajirin dan selebihnya dari sahabat Anshar. Mereka terikat persaudaraan yang melahirkan kebenaran, saling tolong menolong, serta saling waris mewarisi setelah meninggal dunia walaupun bukan dari sanak kerabat (Dzawil Arham).

Ikatan persaudaraan ini berlangsung terus menerus, bahkan Allah mengukuhkannya dengan menurunkan wahyu:

Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang (Anshor) yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada Perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.(72) Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.(73) Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.(74). " (Q.S. al-Anfal: 72-74)

  Kemudian setelah selesai perang Badar Allah menurunkan ayat selanjutnya yang berbunyi:

Artinya : "Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu, maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat (Ulul Arham) itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (dari pada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu." (Q.S. al-Anfal: 75)
 Dengan ayat ini maka batallah akad saling waris diantara mereka, merekapun kembali kepada nasabnya, dan yang mewaris adalah sanak kerabat mereka (dzawil arham).

Sahabat Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah sangat memuliakan sahabat Muhajirin. Mereka ikhlas dengan sepenuh hati menerima dan bertempat tinggal satu atap dengan sahabat muhajirin,  bahkan mereka lebih mendahulukan kepentingan saudara mereka di atas kepentingan sendiri.

Di ceritakan oleh Imam al-Qurthubi, ketika baginda Nabi memperoleh harta rampasan perang dari Bani Nadlîr, beliau mengundang sahabat Anshar untuk berterima kasih atas apa yang telah mereka berikan kepada sahabat Muhajirin. Nabi berkata "Jika kalian senang, maka aku akan membagikan harta rampasan yang diberikan Allah padaku di antara kalian (Anshar) dan mereka (Muhajirin). Sedang mereka bertempat tinggal bersama kalian. Dan jika kalian senang aku akan membagi kepada mereka saja, selanjutnya akan keluar dari rumah kalian."

Mendengar penawaran tersebut, berkatalah Sa’d ibn 'Ubâdah dan Sa’d ibn Mu’âdzh : "Bagikanlah harta itu pada mereka, dan mereka tetap bertempat tinggal bersama kami!". Para sahabat Ansharpun berteriak: "Kami ridha dan tunduk (jika harta itu diberikan pada kaum Muhajirin) wahai Rasulullah." Demi mendengar jawaban itu baginda nabipun berdoa: "Ya Allah kasihanilah orang Anshar dan putra-putranya.”

Kemudian baginda Rasul membagikan harta jarahan itu kepada kaum Muhajirin, beliau tidak memberi kepada kaum Anshar kecuali tiga orang yang membutuhkan yakni Abu Dujânah Samak ibn Kharasyah, Sahl ibn Hunaif dan Harist ibn Shommah. Semangat mendahulukan orang lain sangat tertancap kuat dalam diri sahabat Anshar. Demikianlah karakteristik sahabat Nabi SAW. kendati kondisi mereka sendiri sangat membutuhkan.

Atas kebesaran jiwa para sahabat Nabi, Allah memuji mereka dengan menurunkan al-Quran surat al-Hasr ayat 9, yang menjelaskan kebersihan hati mereka serta hiasan diri mereka dengan keutamaan-keutamaan.

Artinya: “Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota (Madinah) dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin). Mereka (Anshar) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”.

Abu Hurairah juga menuturkan, pada suatu saat seorang tamu datang kepada Rasulullah dan mengutarakan kesusahannya. Kemudian Rasul menyuruh istrinya menghidangkan makanan. Istri beliau berkata, "Demi dzat yang telah mengutusmu, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air." Begitupun ketika beliau bertanya pada istrinya yang lain, jawaban mereka sama. Kemudian Nabi bertanya kepada para sahabatnya, "Siapakah di antara kalian yang bisa menjamu tamu di malam ini? Semoga Allah memberikan rahmat-Nya." Berdirilah seorang lelaki dari sahabat Anshar (dalam riwayat lain ia bernama Abu Thalhah), ia menjawab, "Saya ya Rasulullah!" Segera ia bergegas menuju rumahnya, setelah sampai di rumah ia bertanya pada istrinya, "Apakah engkau punya makanan?" "Tidak ada, kecuali makanan untuk anak-anak kita." jawab istrinya. "Kalau begitu buatlah alasan untuk mereka dan tidurkanlah mereka, pada saat tamu kita masuk, matikan lampu dan buatlah seolah kita sedang makan!".

Maka berbuatlah si istri seperti apa yang di perintahkan oleh suaminya. Kemudian mereka menghidangkan makanan dan bersama-sama menemani sang tamu. Sementara tamu makan, si empunya rumah menahan rasa lapar yang melilit. Keesokan harinya mereka menemui baginda Rasul, dengan bangga beliau bersabda: "Allah telah meridhai perbuatan kalian di malam kemarin".

Al-Qusyairi menuturkan, seorang lelaki dari sahabat rasul diberi hadiah kepala kambing, lantas ia mengatakan “Saudaraku si fulan dan keluarganya lebih membutuhkan dari aku, maka antarkanlah pada mereka!”. Akhirnya hadiah itupun diantarkan kepada si fulan, akan tetapi si penerima pun menyuruh untuk diantarkan pada orang lain. Sehingga hadiah itu berputar hingga tujuh rumah dan kembali pada orang yang pertama.

Khudaifah ad-Dauri mengatakan : dihari terjadinya perang Yarmûk aku berangkat untuk mencari keponakanku. Setelah bertemu, tiba-tiba ada seorang lelaki yang merintih, lantas keponakanku berisyarah agar aku mendatanginya. Ternyata ia adalah Hisyam ibn al-’ shi , kemudian aku menawarinya “apakah kau mau ku beri minum?”. ia berisyarah tanda “ya”, tiba-tiba ia mendengar laki-laki lain merintih  “ah..ah..” Hisyam pun berisyarah padaku untuk mendatanginya. Aku bergegas menghampiri orang tersebut, akan tetapi ia telah meninggal. Sehingga aku kembali pada Hisyam, ternyata iapun telah meninggal, lantas aku kembali pada keponakanku, dan ternyata ia juga telah meninggal dunia.
 
Subhanallah, bagi orang yang berfikir tentang kecintaan  yang tidak mungkin diwujudkan oleh manusia ini, bahkan  ini adalah anugrah dan rahmat dari Allah. Maka ia akan faham bagaimana mereka diberi pertolongan untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Yakni orang-orang musyrik dan ahli kitab, padahal jumlah mereka hanya sedikit. Ini adalah persaudaraan yang tinggi. Semua itu mereka lakukan karena mereka menganggap bahwa kehidupan hanya sedikit nilainya dibandingkan apa-apa yang wajib diberikan sahabat mereka. Secara keseluruhan hati mereka telah disatukan Allah, sehingga menjadi satu hati dalam badan berbeda-beda. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kaum muslimin dizaman sekarang untuk bisa menjalin persaudaran seperti ini, sehingga mereka menjadi kaum yang  mulia  sebagaimana kaum yang bersatu.


HIJRAHNYA AHLI BAIT

Ketika nabi saw sudah menetap di madinah maka beliau mengutus Zaid ibn Hâritsah dan Abi Râfi’ ke Makkah untuk menjemput keluarga nabi yang masih ada di sana. Nabi juga mengutus Abdullah ibn Urauqiq bersama mereka sebagai penunjuk jalan. Kemudian keduanya mendatangi Fathimah dan Ummi Kultsum, yaitu dua putri Nabi saw dan Saudah, istri Nabi, Ummu Aiman istri Zaid dan putranya Ummu Aiman yang bernama Usamah. Sedangkan Zainab tidak  diperbolehkan suaminya yang bernama Abdul Ash bin Rabi’ untuk hijrah. Abdullah bin Abu Bakar beserta Ibunya yang bernama Ummu Ruman, dan saudarinya Abdullah (Siti A’isyah) dan istri Zubair bin Awam (Asma) yang sedang mengandung Abdullah yang sudah hampir melahirkan, dia adalah anak yang pertama kali dilahirkan kaum muhajirin di Madinah. Seluruhnya berangkat bersama rombongan.

 Sebenarnya mengenai anak yang pertama kali dilahirkan di saat nabi hijrah ke Madinah masih terdapat silang pendapat diantara para ulama’. Sebagian ulama’ ada  yang berpendapat bahwa yang pertama kali dilahirkan adalah Abdullah ibn Zubair. Dan ada yang mengatakan bahwa Nu’man ibn Basyir lahir sebelum Abdullah bin Zubair dengan selang 6 bulan, yang bertepatan pada hari ke 14 dari hijrah Nabi. Dari dua pendapat tadi, yang dibenarkan adalah pendapat yang pertama. Hal ini dapat diperjelas dengan sebuah keterangan yang menjelaskan, bahwa Abdullah ibn Zubair merupakan anak yang pertama kali dilahirkan dari golongan Muhajirin yang bertepatan pada bulan syawal dari tahun Hijrah. Dan ada yang berpendapat pada hari ke-dua puluh bulan Hijrah. Sedangkan Nu’man ibn basyir merupakan anak pertama yang dilahirkan dari golongan Ansyor.

Imam Bukhari ra berkata : telah menceritakan kepadaku Zakariya bin Yahya, telah menceritakan kepadaku Abu Usamah dari Hisam ibn Urwah dari ayahnya, tentang perihal Asma’, bahwasannya Asma’ mengandung Abdullah ibn Zubair. Dia berkata “Aku berpergian ke Madinah dalam keadaan mengandung yang hampir melahirkan. Kemudian aku singgah di daerah Quba’. Dan akupun melahirkan anakku Abdullah di daerah itu. Kemudian Aku membawa anakku kepada nabi. Setelah sampai di tempat beliau, beliau meletakkan anakku dipangkuannya. Kemudian beliau berdo’a dengan memegang sebutir kurma. Kemudian beliau menguyahnya dan meludahkannya pada mulut anakku. Maka dari itulah, yang pertama kali masuk ke perut anakku adalah ludah beliau Nabi. Kemudian beliau menyeta’i anakku dengan sebutir kurma, serta mendo’akan kepada anakku agar mendapatkan keberkahan.

Di saat Asma’ melahirkan Abdullah, orang-orang muslim dengan semangat membara mengumandangkan takbir, karena merasa gembira dengan lahirnya anak dari golongan Muhajirin. Kegembiraan orang-orang muslim terjadi, tiada lain karena sebelum berangkat hijrah orang-orang yahudi menyihir orang-orang muslim, bahwa orang-orang muslim tidak akan bisa melahirkan seorang anak setelah hijrahnya. Namun kehendak Allah lain, sehingga apa yang diancamkan oleh orang-orang yahudi terhadap orang-orang islam tidak terjadi.

**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010



Post a Comment

0 Comments