Kesalahan Terbesar Jokowi, Jokowi Bukan Keturunan Bangsawan


Apa yang Max Webber gambarkan antara relasi kekuasaan, pra-emosi dan prestise, adalah nyata dan dapat ditemukan dalam wajah politik di Indonesia.

Kita bisa melihat fakta ini ketika seseorang berhasil menduduki posisi politik sebagai Kepala Daerah. Baik itu Bupati, Walikota, atau Gubernur, prioritas utama yang dilakukan mereka setelah berkuasa adalah mengejar pengakuan hak istimewa (previllege) dan pengakuan keterhormatan (gengsi) dengan cara bersaing membangun monumen dan menorehkan prasasti sebagai upaya menambah legitimasi kepada pemerintahannya.

Geertz, seorang ilmuwan Shepsie (1972) menganggap bahwa politik primordialisme adalah sebuah kesetiaan yang berlebih terhadap budaya subnasional, termasuk etnis, agama, ras, regionalisme, dan keluarga. Sayangnya, politik primordialisme di Indonesia masih memiliki tempat yang signifikan di hati sebagian masyarakat. Primordialisme, yang diwariskan dari penjajah Belanda, sebagai bagian dari strategi politik divide et impera agar bisa memecah persatuan dengan membuat stratifikasi sosial dalam masyarakat.

Kebetulan, primordialisme itu tampaknya mendapat pembenaran ketika dikaitkan dan terkait dengan garis keturunan dan garis kebangsawanan Presiden Republik Indonesia.

Soekarno dan Megawati, darah bangsawannya mengalir dari sisi ibu seorang bangsawan dari Bali. Gus Dur, juga seorang bangsawan, ia masih memiliki nasab dari keturunan Raden Patah, Sultan Demak, dan Sultan Trenggono.

Kemudian Soeharto, selain darah biru mengalir ke istrinya Hartinah (ibu dari Tien), yang merupakan putri istana. Suharto sendiri dikabarkan seorang bangsawan. Masalah ini benar atau tidak, paling tidak kebangsawanan Soeharto ditinjau dan diterbitkan di majalah POP, Volume 2, Nomor 17, pada tahun 1974, yang menyatakan Soeharto adalah keturunan Sultan Yogyakarta.

Lalu bagaimana dengan Jokowi? Jokowi lahir dari orang biasa. Bukan keturunan raja, bukan anak bangsawan, bukan anak dari ayah sarjana ekonomi atau konglomerat. Ini adalah kesalahan terbesar Jokowi, kesalahan yang paling mendasar. Kehadiran seorang Jokowi sebagai orang nomor satu di republik ini belum siap diterima sepenuhnya oleh para elit politik dan bangsawan di negeri ini.

Kejahatan gengsi elite politik dan bangsawan disebabkan oleh kehadiran sosok Jokowi, kemudian bergema melalui politik primodialisme dan nathivisme, dengan berbagai macam propaganda dan doktrin terhadap simpatisan dan pendukung para elit politik yang menjadi lawan politiknya Jokowi.

Jokowi mungkin akan menjadi satu-satunya presiden di Indonesia yang setiap hari dicerca, dihujat dan dihina oleh para pembencinya melalui media sosial. Meskipun sering disebut kacung, boneka, mukidi, ngaciro, dan konotasi negatif lainnya, tidaklah mengurangi langkah Jokowi untuk tetap berpihak pada kepentingan rakyat jelata.

Setidaknya keberpihakan Jokowi sekarang dirasakan oleh para pelancong Lebaran. Beragam fasilitas didapat, tingkat kemacetan dan kecelakaan menurun drastis jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ini adalah penghormatan terbesar dari Jokowi terhadap martabat rakyat jelata.

Keberpihakan Jokowi dengan semua fasilitas ini, masih saja diejek dan diabaikan oleh antek dan pembenci, yang diam-diam dengan kepura-puraan dan kemunafikan juga menikmati pekerjaan Jokowi.

Post a Comment

0 Comments