(2) Masa Remaja Nabi Muhammad Dibawah Asuhan Abu Thalib


 Dibawah Asuhan Abu Thalib

Setelah Muhammad kecil ditinggal sang kakek, ia kemudian diasuh oleh sang paman, Abu Thalib. Karena sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, Abdul Muthallib sempat berwasiat kepada Abu Thalib untuk mengasuh Muhammad. Sebab, Abu Thalib sekandung dengan Abdullah ayah Rasulullah saw  yang  ibu mereka berdua adalah Fatimah binti Umar bin Aidz bin Abd bin Imron bin Mahzum. Sedangkan, Abdul Ka'bah  tidak terpilih dalam pengasuhan nabi padahal beliau juga saudara yang sekandung dengan Abdullah karena beliau sudah wafat terlebih dahulu sebelum ayahnya.

Seperti halnya Abdul muthallib, Abu Thalib juga sangat meyayangi Muhammad. Dalam mengasuh keponakannya, beliau sangat menjaganya dari sesuatu yang menyakiti dan membahayakannya. Selain itu, beliau juga memberikan perhatian yang penuh terhadap keponakannya, sampai sampai beliau tidak tidur tanpa adanya Muhammad berada disampingnya. Setiap beliau bepergian Muhammad selalu menyertainya.

Dalam menghidangkan makanan, beliau selalu memberikan menu yang special kepadanya. Disetiap keluarga beliau makan baik sendiri maupun bersama, mereka tidak merasakan kenyang. Namun, disaat  makan bersama dengan Muhammad. Mereka dapat merasakan kenyang dan puas. Ketika telah tiba waktu  makan pagi dan sore, Beliau selalu berkata pada kepada anggota keluarga "Jangan ada yang makan sebelum Muhammad datang" Tak lama kemudian, akhirnya Muhammad datang dan akhirnya dimulailah acara makan bersama lalu merekapun mengambil bagiannya sendiri sendiri, dan Muhammad yang pertama kali meminum susu kemudian yang lainnya. Bahkan, putra putra beliau sempat merasakan cemburu akibat terlalu sayangnya sang ayah kepada Muhammad.

Perlu diketahui, bahwa pada saat Muhammad dalam asuhan sang paman, kondisi ekonomi beliau sedang tidak stabil, bisa dikatakan dalam masa masa sulit. Namun, kehadiran muhammad ditengah tengah keluarga beliau ternyata tidak membuat kondisi semakin runyam. Akan tetapi, justru membawa keberkahan. Terutama dalam aspek perekonomian.

Selama dalam asuhan sang paman, Muhammad telah menampakkan sifat sifat yang terpuji. Salah satunya adalah  sifat qana’ah. Contohnya adalah ketika waktu makan telah tiba. Pada saat itu juga, anak anak Abu Thalib langsung menghambur ke meja makan. Berbeda dengan Muhammad, dia tettap tenang dan menunggu pemberian dari Allah sampai kepadanya. Muhammad juga belum pernah melakukan hal hal rendah yang umumnya dilakukan oleh teman teman sebayanya, seperti apa yang telah diceritakan oleh Ummu Aiman yang pernah mengasuh Muhammad.

Bukan suatu kebetulan jika Rasulullah saw dilahirkan dalam keadaan yatim, kemudian tidak lama ditinggal sang kakek, sehingga pertumbuhan pertama kehidupanya jauh dari asuhan ayah dan tidak mendapatkan kasih sayang dari sang ibunda. Allah telah memilihkan pertumbuhan ini untuk nabiNya, karena beberapa hikmah. Diantaranya agar musuh islam tidak mendapatkan jalan untuk memasukkan keraguan kedalam hati, atau menuduh bahwa muhammad saw telah mereguk "susu" dakwah dan risalahnya semenjak kecil, dengan bimbingan dan arahan dari sang ayahnya dan kakeknya. Sebab, sang kakek adalah seorang tokoh yang terpandang dikaumnya.

Kepadanyalah diserahkan tanggung jawab memberikan jamuan makanan dan minuman kepada orang-orang yang melakukan ibadah haji. Wajarsaja apabila seorang kakek atau ayah membimbing atau mengarahkan cucu atau anaknya kepada warisan yang dimilikinya. Hikmah allah telah menghendaki agar musuh-musuh islam tidak menemukan jalan keraguan seperti itu sehingga rasulnya tumbuh dan berkembang jauh dari asuhan ayah, ibu, dan kakeknya. Bahkan pada masa kanak-kanaknya yang pertamanya sesuai dengan kehendak Allah harus dijalani dipedalaman bani sa'ad, jauh dari keluarganya. Ketika kakeknya meninggal ia berpindah pada asuhan pamannya abu tholib. Yang hidup hingga tiga tahun sebelum hijrah.

Sampai akhir hayatnya sang paman tidak pernah menyatakan diri masuk islam, hal ini juga merupakan hikmah yang lain, agar tidak muncul tuduhan bahwa pamanya memiliki"saham" dakwahnya, dan bahwa persoalan pamanya adalah persoalan kabilah, keluarga, kepemimpinan dan kedudukan.

Demikian hikmah Allah menghendaki tumbuh sebagai yatim, dipelihara oleh Inayah Allah semata, jauh dari tangan-tangan yang memanjakanya dan harta kekayaan yang membuat hidupnya dalam kemewahan, agar jiwanya tidak cenderung pada kemewahan dan kedudukan.

Bahkan agar tidak terpengaruh oleh arti kepemimpinan dan ketokohan yang mengitarinya, sehingga orang-orang akan mencampur adukkan kesucian Nubuwwah dengan kemegahan dunia, dan agar orang-orang tidak menuduhnya telah mendakwahkan Nubuwwah demi kedudukan dan kemegahan dunia. 

Post a Comment

0 Comments