(8) Kisah Nabi Muhammad, Renovasi Kakbah


RENOVASI KA'BAH.

Tatakala beliau telah menapaki usia 35tahun, terjadilah peristwa Renovasi ka'bah dan pemugaran kembali bangunan warisan Nabi Ibrahim A.S tersebut. Sejak dibangun oleh Nabi Ibrahim ka’bah telah beberapa kali mengalami renovasi.Di antaranya pada zaman Qushai dan Adbdul Muthallib,kakek Nabi. Pembangunan kali ini dilakukan setelah berulang kali terjadi banjir yang mengakibatkan runtuhnya sebagian tembok ka'bah. Selain itu, sebelumnya sebagian sisi kabah telah rapuh dikarenakan kebakaran. Di samping itu, sering terjadi kasus pencurian terhadap harta  yang diwakaafkan untuk keperluan rumah suci itu. Harta tersebut diletakkan di sebuah liang yang berada didalam ka’bah . Untuk mengatasi hal itu, beberapa pemuka qabilah Quraisy sepakat untuk merobohkan bangunan kuno yang disucikan tersebut. Dan untuk kemudian membangun kembali serta memberinya atap. Sebelumnya ka’bah hanyalah berupa tumpukan bebatuan setinggi delapan hasta.

Ibnu Ishaq menceritakan "Ketika Rasulullah telah berusia tigapuluh lima tahun, orang orang Quraisy sepakat hendak memugar Ka'bah. Mereka merencanakan hal tersebut bertujuan untuk memasang atap dan karena  khawatir akan kerobohannya, juga karena tinggi ka'bah waktu itu hanya setinggi orang berdiri tegak dengan mengangkat tangan. Karena demikian, mereka berkehendak meninggikan dan memasang atap. Bertepatan pada saat itu, berita terdamparnya kapal dagang milik seorang berkebangsaan Romawi sampai juga ke kota Makkah.

Kapal tersebut memuat berbagai macam materi bangunan milik kaisar Romawi yang hendak dikirim ke Habasyah untuk membangun sebuah gereja megah di sana. Tiba-tiba armada yang dipimpin oleh seseorang bernama Baqum tersebut tertimpa hembusan badai laut merah yang membuatnya terdampar di tepian pantai di dekat pelabuhan Syu’aibah, sebuah pelabuhan di bagian barat semenanjung Arab. Beberapa perwakilan Quraisy mendatangi tempat tersebut dan bertemu dengan Baqum. Mereka melakukan penawaran singkat dengan pemimpin armada kapal naas tersebut untuk membeli sisa reruntuhan kapal berikut muatan yang mungkin masih dapat dimanfaatkan. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berhasil mendapatkan materi bangunan tersebut dengan cara membeli dari Baqum. Perwakilan Quraisy pimpinan Walid bin Mughirah itu segera memboyong barang-barang tersebut menuju ke Makkah untuk mereka gunakan sebagai bahan bangunan ka’bah. Mereka juga membawa serta bakum menuju ke Makkah. Sebab, Bakum adalah orang orang yang tahu persis bagaimana cara mengolah bahan material yang yang mungkin masih asing bagi penduduk Makkah. Baqum adalah seorang Nasrani berkebangsaan Mesir keturunan suku Qibty yang mahir dalam urusan bangunan. Dia mulai menyiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk memenuhi keinginan orang orang Quraish, yaitu merenovasi Ka'bah.

  Di saat pekerjaan sudah akan dimulai, keluarlah seekor ular dari sumur yang terletak di dalam Ka'bah yang setiap hari diberikan makanan. Kemudian ular tersebut berjemur didinding Ka'bah. Binatang berbisa tersebut membuat takut semua orang yang akan bergotong royong membenahi kerusakan ka’bah. Setiap kali ada orang mendekat, ular itu akan mengangkat kepalanya, mengeluarkan suara, dan membuka mulutnya lebar-lebar.Karena demikian, tak seorangpun yang berani mendekatinya. Mungkin tidak seharusnya orang-orang Quraisy yang hadir pada saat itu untuk membatalkan upacara pemugaran ka’bah hanya disebkan gangguan seekor ular. Akan Tetapi, mengingat bahwa ka’bah adalah bangunan suci yang dianggap sakral secara turun-temurun oleh seluruh bangsa Arab, mereka merasa seolah-olah keberadaan ular tersebut merupakan isyarat atau pertanda buruk apabila renovasi ka’bah terus dilanjutkan.

Selang beberapa saat, ketika ular tersebut sedang berjemur di bawah teriknya matahari pada dinding Ka'bah, seekor burung menyambarnya dan membawa terbang binatang tanpa kaki tersebut entah ke mana. Melihat kejadian itu,  sebagian orang Quraish berkata kepada yang lain ”kita berharap mudah-mudahan  peristiwa ini merupakan tanda bahwa Allah merestui apa yang akan kita kerjakan. Kita telah mempunyai arsitek, telah mempunyai kayu yang diperlukan, dan Allah telah menghindarkan kita dari gangguan ular”

Setelah mereka sepakat hendak memulai memugar dan membangun kembali Ka'bah, berdirilah Abu wahab bin Umar bin 'A’idh bin Abd bin Imran bin Mahzum dan mengambil sebuah batu dari dinding Ka'bah yang bongkah, alangkah terkejutnya ketika batu yang telah digenggamannya meloncat kembali ketempat semula. Lalu dia berkata "wahai orang orang  quraisy! Dalam pemugaran rumah suci ini, janganlah kalian gunakan penghasilan kalian kecuali yang halal. Janganlah kalian menggunakan harta hasil prostitusi, hasil transaksi riba, atau harta yang diperoleh dari hasil perbuatan aniaya yang kalian lakukan kepada orang lain!”

  Ibnu Ishaq menceritakan: telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abi Najih al-Makiyy bahwasanya telah diceritakan dari Abdullah bin Shofwan bin Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudafah bin Jumah bin bin Umar bin Hushaish bin Ka'ab bin Luayy. Dalam mengerjakan tugas yang mulia ini, orang-orang quraisy membagi Ka'bah menjadi empat bagian. Bagian pertama, yaitu sisi pintu, pengerjaanya diserahkan kepada Bani Abdu Manaf dan Bani Zuhrah. Bagian kedua, sisi ka’bah antara rukun yang terdapat hajar aswad dan rukun yamaniy yang pengerjaanya diserahkan kepada Bani Makhzum dan kabilah-kabilah Quraisy yang lainnya. Bagian ketiga, yaitu sisi belakang Ka'bah yang pengerjaanya diserahkan kepada Bani Jumah dan Bani Sahm, keduanya adalah putra Amr bin Husayah bin Ka'ab bin Luayy. Bagian yang terakhir, yaitu sisi hajar aswad atau juga dikenal dengan bagian Hijr al-Hathim yang pengerjaanya diserahkan kepada Bani Abdud-dar bin Qushay, Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay, dan Bani Adiy bin Ka'ab bin Lu’ay .
Pembagian semacam ini dianggap perlu sebab siapapun mereka yang masih merasa anggota salah satu kabilah Quraisy, khususnya kabilah-kabilah yang mempunyai nama dalam masyaarakat jahiliyyah, tentu akan merasa bangga apabila mereka mendapatkan kesempatan dan secara langsung ikut terlibat dalam pembongkaran rumah suci kebanggaan mereka.

Walaupun tinggal selangkah mereka dapat merealisasikan proyek, mereka tetap tidak berani merobohkan ka’bah. Entah disebabkan karena bangunan tua tersebut telah menyatu dalam sanubari mereka sehingga timbul rasa khawatir akan hilangnya nilai sejarah yang terdapat di dalamnya. Atau mungkin mereka khawatir mengalami musibah jika meneruskan niat mereka seperti halnya Abrahah beserta pasukan penunggang gajah yang belum lama terjadi dan masih terngiang di daun telinga. Melihat kondisi ini akhirnya Walid bin Mughiroh berkata pada mereka "Kalian hendak merobohkan ka'bah dengan maksud untuk memperbaiki atau memperburuknya?" kaum Quraisy pun menjawab "Kami semua bermaksud untuk memperbaikinya". Walid menyahut "kalau begitu Allah tidak akan menghancurkan orang- orang yang berbuat kebaikan".

Setelah berkata demikian, ayah dari Khalid bin Walid itu bergegas mengambil palu godam lalu menaiki Ka'bah seraya berkata: "Ya Allah! Kami tidak meninggalkan agamamu, kami hanya menghendaki kebajikan". Kemudian beliau mulai merobohkan sisi Ka'bah yang terletak diantara rukun Yamani dan  Hajar Aswad. Orang orang Quraisy yang lainnya membiarkannya bekerja seorang diri dan menantinya selama satu hari, dan mereka mengatakan "Biarlah kita lihat dulu, kalau dia terkena musibah, kita tidak akan merobohkan ka'bah bagian manapun. Dan bagian yang sudah dibongkar kita kembalikan ke tempat semula. Jika Walid selamat, maka Allah benar-benar telah meridlai apa  yang akan kita kerjakan, dan kita pun akan  merobohkannya.”  Pagi harinya, setelah Walid bersiap siap memulai pekerjaannya, orang orang Quraisy lainya pun mengikutinya. Hingga  mereka  berhasil merobohkan seluruh bangunan ka’bah selain pondasi yang merupakan dasar bangunan, pondasi tersebut merupakan peninggalan  Nabi Ibrahim yang belum pernah mengalami perubahan sejak pertama kali dibangun. 

Di tempat itu, orang-orang Quraisy menemukan sebuah prasati yang beupa tulisan yang tidak dimengerti oleh mereka. Ibnu Ishaq mengatakan "Telah diceritakan bahwa orang orang Quraisy menemukan prasasti dengan bahasa Suryani. Merekapun tidak mengerti apa artinya hingga salah satu orang yahudi membacakannya. Ternyata, arti tulisan tersebut adalah, "aku adalah Allah sang pemilik Bakkah (Ka’bah), aku membangunnya ketika aku menciptakan langit,  bumi, dan ketika aku membentuk matahari dan bulan. Dan aku memerintahkan tujuh malaikat yang setia mengelilinginya tanpa henti hingga gunung gunung yang mengitarinya runtuh, dan aku berikan keberkahan bagi ahli Bakkah didalam air dan susu .

Tatkala Ka'bah telah berhasil dirobohkan, mereka mulai membangunnya kembali dengan berbagai perbekalan yang diperlukan, tentunya dengan catatan tidak dihasilkan dari riba ataupun hasil prostitusi seperti yang disarankan Walid bin Mughirah. Berbagai macam material bangunan berupa batu dan kayu telah mereka siapkan. Para pemuka Quraisy saling bergotong-royong, di antara mereka ada yang memikul bebatuan yang tidak ringan itu dengan pundak mereka sendiri. Termasuk diantara mereka adalah Nabi Muhammad  serta Abbas, paman beliau.

Untuk urusan pertukangan, sepenuhnya diserahkan pada seorang laki-laki berkebangsaan Romawi bernama Baqum. Seperti keterangan sebelumnya, dia adalah seorang penumpang kapal naas yang kemudian dipekerjakan oleh kaum Quraisy untuk ikut serta dalam pembangunan ka’bah. Masing-masing kabilah Quraisy  sibuk dengan bagian Ka’bah yang telah menjadi bagian mereka. Ketika persediaan mulai menipis dalam menyempurnakan renofasi, mereka mengeluarkan bebatuan dari pondasi bangunan Ismail dan memberi sedikit bangunan sebagai tanda bahwa area tersebut masih tergolong dari Ka'bah.

Begitu bangunan mencapai 18 dzira' (9m) yang dimana ketinggian itu dicapai setelah menambah tinggi bangunan sekitar 9 dzira’ (4,5m) dari bagunan aslinya. Bahkan pintu Ka'bah juga ikut dinaikkan sehingga seseorang tidak akan mampu mencapainya kecuali dengan menggunakan tangga. Disaat itulah terjadi perselisihan diantara mereka untuk menentukan siapa yang berhak meletakkan kembali batu hitam berbentuk bulat lonjong berdiameter 45 dan 25 centimeter , pada tempat semula. Setiap kabilah menginginkan dan merasa berhak untuk meletakkan kembali Hajar Aswad. Terjadilah perselisihan diantara mereka, sehingga berkembang menjadi pertikaian dan kabilah yang satu bersekutu dengan yang kabilah lainnya. Pada waktu itu hampir saja tejadi peperangan antar qabilah Quraisy. Bani Abdi Dar mendatangkan baskom yang dipenuhi dengan darah sebagai simbul chaufinisme (setia kawan) bagi siapa saja yang bersedia mencelupkan tangan ke dalam baskom tersebut.

Di antara kabilah Quraisy yang hadir hanya kabilah Adiy bin Ka’ab saja yang bersedia bersekutu dengan Bani Abdu Dar dengan memasukan tangan ke dalam baskom berisi darah itu. Namun demikian koalisi antara dua qabilah tersebut patut untuk di pehitungkan. Sebab Abdu Dar menurut sejarah adalah putra kesayangan mendiang Qushai. Sedangkan Adiy bin Ka’ab usia kabilah tersebut sudah cukup tua, sehingga jika sampai terjadi perang anggotanya tentu sangatlah besar. Kondisi semacam ini berlangsung selama empat hingga lima hari.

Persengketaan ini sebetulnya bukan merupakan sesuatu yang aneh, karena pada dasarnya ka'bah adalah kiblat mereka, dan tempat haji mereka maka setiap andil dalam perenovasiannya merupakan kebanggaan dan kehormatan tersendiri. Karena bangunan itu merupakan baitullah pertama yang dimanfaatkan untuk beribadah seperti yang telah termaktub dalam Q.S Ali Imron ayat 96-97

Artinya : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia.

Singkat cerita akhirnya salah satu pemuka qabilah yang paling tua  bernama Abu Umayyah bin Mughirah al-Mahzumi, paman dari pada Khalid bin Walid angkat bicara “wahai kaum Quraisy, janganlah kalian semua berselisih, jadikanlah orang yang pertama kali masuk masjid sebagai yang berhak meletakka hajar aswad”. Berkat pemikiran beliau diputuskan bahwa orang yang berhak meletakkan hajar Aswad adalah seseorang yang pertama kali memasuki Ka'bah. Tak lama kemudian ternyata yang masuk pertama kali adalah Muhammad, seorang yang relatif masih di anggap muda namun terkenal akan kejujuranya.Melihat semua itu semua orang yang hadir menyambut dengan penuh suka cita, karena mereka tahu betul bahwa Muhammad adalah sosok yang bisa dipercaya. Walhasil perselisihan itupun reda berkat anugerah Allah swt dengan menurunkan orang bijak semisal Abu Umayyah serta Nabi Muhammad saw diantara mereka.

Dalam usaha meletakkan Hajar Aswad Nabi Muhammad mencoba melibatkan semua kalangan yang hadir saat itu. Beliau rentangkan kain yang dibawanya serta meminta ujung- ujungnya untuk dipegang perwakilan dari setiap kalangan, setelah itu hajar aswad mereka angkat bersama- sama hingga akhirnya dapat ditempatkan kembali pada tempatnya semula.

Para ahli sejarah mencatat bahwa setelah kelahiran Nabi Ismail, ka'bah dibawah kekuasaan kabilah Jurhum, namun seiring kedzaliman yang mereka lakukan terhadap orang- orang yang berkunjung ke Makkah, akhirnya suku Khuza'ah mengambil alih kekuasaan tersebut serta mengusir suku Jurhum. Kekuasaan suku Khuza'ah atas ka'bah tidak berlangsung lama, karena setelah itu jatuhlah ke tangan suku Quraisy dimasa hidupnya Qushay bin Kilab.

Dibawah kekuasaan Qushay bin Kilab inilah Makkah terasa lebih nyaman dan tentram sehingga kaum Quraisy pun sangat menghormatinya, serta menjadi sebuah benteng yang kokoh bagi jazirah Arab. Allah memberikan anugerah bagi keturunan Quraisy dibawah naungan Qushay ibn Kilab yang termaktub dalam al-Qur’an surat al-Ankabut ayat 67

Artinya : “Dan Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?”




Post a Comment

0 Comments