(7) Kisah Nabi Muhammad, Pernikahan Dengan Khodijah


PERNIKAHAN NABI MUHAMMAD SAW DENGAN  KHADIJAH

 Peristiwa sakral ini adalah pernikahan Nabi Muhammad yang pertama. Ketika beliau nabi menikahi khadijah, usia beliau sudah menginjak 25 tahun. Dilain sisi, Khadijah yang berstatus janda sudah menapaki umur 40 tahun. Sebab dari pernikahan yang suci nan sakral ini ialah, tatkala Maisyarah menginjakkan kedua kakinya dikota makkah setelah mengembara untuk berniaga ke negeri syam bersama beliau nabi. Tanpa diminta oleh sang majikan, dia menceritakan semua kejadian ganjil yang terjadi pada diri muhammad. Diantaranya, ketika ia melihat malaikat yang sedang menaungi nabi dalam setiap perjalanan beliau. Tak luput dari ceritanya, ketika terjadi percekcokan antara beliau dan seorang laki-laki mengenai komoditi dagangan. Lantas, laki-laki itu berkata "Bersumpahlah atas nama Lata dan Uzza." Beliau nabipun menjawab "Ajalku menjadi taruhannya, aku tidak akan melakukannya."

Maisyarah juga menceritakan kepada sang majikan apa yang dikatakan oleh Rahib kepadanya. Dari apa yang dilihat oleh mata Khadijah sendiri dan cerita dari budaknya. Menimbulkan keyakinan bahwa beliau benar-benar utusan ilahi, kepada umat manusia. Semua kejadian itulah yang telah membuat hati Khadijah menaruh rasa kagum yang sangat mendalam pada beliau.   Keyaqinan tersebut mampu merubah rasa kagum Kadijah kepada beliau nabi menjadi rasa cinta dalam waktu yang relatif singkat. Kulminasinya, ia berkehendak untuk menikah dengan Muhammad, setelah sebelumnya dia menampik pinangan-pinangan para pemuka dan pembesar Quraisy. Sedangkan, saat itu, beliau hidu menjanda dan telah menapaki usia 40 tahun.

Setelah selang waktu dua bulan dua puluh lima hari sejak kepulangan beliau dari Syam. Dan setelah mendengarkan penuturan budaknya tentang muhammad. Khadijah membicarakan tentang gejolak perasaan yang menggelayutinya kepada sahabatnya, Nufaisah binti Mun-ya. Mendengar curahan hati dari khadijah,   Nufaisah ingin membantu kesulitan yang melanda sahabatnya. Muncullah ide untuk mengorek sang pemuda yang menjadi tambatan hati khadijah. Setelah dia bertemu dengan muhammad, muncullah dari bibirnya awal kata bernada introgasi "Mengapa engkau tidak mau menikah?" "Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan." Jawab Muhammad. "Kalau ada yang bersedia dan yang melamarmu itu perempuan cantik, berharta, terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kau terima?"
"Siapa?" Nufaisah menjawab hanya dengan sepatah kata "Khadijah" "Dengan cara bagaimana?" tanya Muhammad lagi.  "Serahkan saja padaku" kata Nufaisah. Kemudian beliaupun menyatakan persetujuannya.

Mendengar penawaran Nufaisah tersebut beliau memberi tahu pamannya tentang maksud Khadijah. Pucuk dicinta ulampun tiba, ternyata  sang paman segendang-sepenarian dengan rencana Khadijah. Karena, ia adalah sebuah anugerah, ia pemuka wanita Quraisy, disegani diantara kaumnya dan memiliki nasab yang mulia pula. Setiap orang dari kaumnya  sangat menyukai akan kepribadiannya.

Taklama setelah itu, beliau bersama paman-pamannya, diantaranya Hamzah, menuju rumah Khadijah untuk meminang saudagar kaya raya kaum Quraisy. Tatkala mereka telah bertatap muka dengan keluarga besar khadijah (Khuwailid bin asad), lantas Hamzah melamar Khadijah untuk nabi Muhammad dengan mahar 20 bakrah  . Dalam tempat tersebut juga nampak hadir Abu bakar dan para pemuka bani Mudlar. Lantas Abu Thalib memulai Khutbah lamarannya:

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita keturunan Nabi Ibrahim as, serta menjadikan kita putera dari Ismail as keturunan Maad dan kerabat Mudor. Allah juga telah menjadikan kita penjaga dari Baitullah, Dia mengatur tanah Haram, menjadikan bagi kita bait yang dikunjungi jama’ah haji, menjadikan tanah haram aman, serta menjadikan kita sebagai pemutus persoalan masyarakat. Kemudian putera dari saudaraku yang bernama Muhammad bin Abdullah yang kita tahu keutamaannya tidak pernah dapat tersaingi oleh siapapun. Meskipun harta Muhammad sedikit, semua tidak lain hanya karena kenikmatan harta benda pasti akan lenyap serta membuat kita lalai dan merupakan pinjaman yang harus dikembalikan, demi Allah, setelah  ini muhammad memiliki cerita agung dan derajat mulia. Hari ini, dia datang kepada kalian guna melamar salah satu putri kalian yang bernama khodijah. Saat ini pula dia menyerahkan mas kawin dalam jumlah sekian dengan demikian bereslah urusan”.

 Setelah itu, Abu Thalib menikahkan beliau dengan Khadijah. Lantas Waraqah bin Nufail menyampaikan Khutbahnya dengan mukaddimah, dan pada akhirnya berkata "Saksikanlah wahai golongan Quraisy bahwa aku menikahkan Muhammad Bin Abdullah dengan Khadijah binti Khuwailid dengan mahar empat ratus dirham.” Abu Thalib berkata "Aku ingin paman Khadijah (Amr bin Asad) juga menyatakan seperti itu.” lantas  paman Khadijah berkata “saksikanlah wahai golongan Quraisy bahwa aku menikahkan muhammad bin Abdullah dengan Khadijah binti Khuwailid.” Peristiwa akad nikah ini disaksikan oleh beberapa kabilah Quraisy.
Nabi Muhammad Saw hidup mengarungi samudera kehidupan bersama siti Khadijah ra selama 24 tahun. Dari buah pernikahan tersebut dikaruniai dua orang putera dan empat orang putri, mereka al-Qasim, 'Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum dan Fatimah az-Zahra. . Sebelum menikah dengan nabi Muhammad, Khadijah pernah menikah dengan seorang laki- laki yang bernama Abi Halah bin Zurarah, dan dari hasil perkawinannya dengan Abi Halah at-Taymi, khadijah telah melahirkan dua putera bernama Halah dan Hindun. Kemudian Khadijah dinikahi ‘Atiq bin ‘A`id al Mahzumy dan melahirkan dua orang putera yaitu Hindun dan ‘Atiq. Sementara mengenai putera Khadijah yang dihasilkan dari pernikahan dengan nabi ada enam dan Khadijah meninggal dunia saat berusia 65 tahun sementara Beliau nabi telah menapaki usia 50 tahun.
**************
Ahli sejarah (orientalis) menyatakan bahwa Khadijah mengutus seseorang untuk menawarkan diri untuk dinikahi beliau nabi.  Sementara, ia adalah wanita yang meiliki derajat yang tinggi, dan banyak sekali orang-orang Quraisy yang berhasrat untuk menikahinya. Sudah menjadi mikrocosmos bangsa arab ketika hendak meminang, mereka akan menyodorkan pernak-pernik hadiah. Lantas,  Khadijah memanggil ayahnya dan memberinya minuman arak hingga mabuk, Khadijah juga menyembelih seekor sapi, ia telah membuat ayahnya bertingkah aneh, dan memberi pakaian yang berwarna-warni.
Sedetik kemudian, Khadijah mengirim seorang utusan kepada nabi agar beliau datang bersama pamannya. Lalu nabi datang bersama pamannya dan ayah Khadijah menikahkannya dengan beliau. Dan saat ayah Khadijah sadar ia berkata: “Apa ini? kenapa disini banyak orang? Kenapa aku memakai pakaian ini? Khaddijah menjawab: “Anda telah menikahkanku dengan Muhammad. Ayahnya berkata: “aku tidak sadar telah melakukan ini semua, dan seandainya para pemuka Quraisy melamarmu maka aku tidak akan melakukannya”.
Menurut al Waqidi cerita ini tidak benar. Dan yang benar menurut kami adalah apa yang telah diriwayatkan dari muhammad bin abdullah bin muslim dari ayah dari muhammad bin jabir bin mut’im bin ikrimah dari ibnu abbas. Sesungguhnya paman Khadiajh, amar bin asad yang telah menilkahkannya dengan Nabi Muhammad. Sementara ayahanda Khadijah telah meninggal sebelum terjadinya perang fijar, padahal penikahan beliau nabi dengan khadijah berlangsung setelah terjadinya perang fijar.
Sebagian pakar sejarah menceritakan dari Amar bin Yasir, ia berkata: “aku adalah orang yang paling tahu dengan pernikahan Nabi Muhammad dengan Khadijah binti Khuwailid, aku adalah sahabatnya. Suatu hari kami berjalan bersama beliau diantara shafa dan marwa, tiba-tiba kami bertemu dengan Khadijah dan saudaranya yang bernama Halah. Saat Halah melihat Rasulullah, lantas ia menghampiriku. Tanpa aku duga, ia mengatakan, “Wahai amar, apakah sahabatmu berkenan untuk menikahi Khadijah?”. “Demi Allah, Aku tidak tahu”. Lalu aku menyampaikan hal tersebut pada beliau.
Nabi : “ Kembalilah dan suruhlah ia untuk mempersiapkan hari, agar kita dapat menemuinya pada hari itu”.
Lantas Amar melaksanakan apa yang diperintahkan beliau. Tak lama kemudian, hari pertemuan itu telah tiba, dan aku diutus beliau untuk berangkat menuju Amar bin Asad (paman Khadijah). Saat itu ia sedang diberi minuman arak, jenggotnya diberi semir warna kuning. Kemudian, nabi bersama rombongannya datang. Paman beliau (Abu Tholib) berada pada urutan paling depan.
Setelah acara usai, paman beliau undur diri. Sesaat setelah Paman Khadijah (Amar bin Asad) sadar, tiba-tiba ia kaget melihat apa yang sedang terjadi. Lalu ada orang yahudi mengatakan padanya: “ini adalah menantumu (Muhammad bin Abdullah bin Abddul Muthalib), ia telah memberimu hadiah ini. Sontak, Amar bin Asad menyahut : “Kapan aku menikahkannya?”  “kemarin” lanjut si yahudi. Karena masih merasa ganjil, diapun masih mencerca si yahudi dengan pertanyaan penuh selidiknya: “Aku belum menikahkannya” “Benar, kami semua bersaksi bahwa anda telah menikahkannya dengan Muhammad”. Dan ketika Amar bin Asad melihat rasulullah ia berkata, Amar bin Asad : “Saksikanlah! Andaikata aku belum menikahkannya kemarin, maka aku akan menikahkannya hari ini”.

Post a Comment

0 Comments