(6) Kisah Remaja Nabi Muhammad, Perjalanan ke Syam yang Kedua


PERJALANAN KE SYAM YANG KEDUA

Menginjak usia dua puluh lima tahun, Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan ke negeri Syam dengan membawa harta seorang  saudagar wanita untuk diperdagangkan ke Syam, negri yang dikenal sebagai pusat perdagangan. Khadijah, seorang saudagar kaya telah memberikan kepercayaanya kepada Nabi Muhammad yang kala itu masih muda untuk menjadi agen dagang atas perniagaan yang dimilikinya. Perjalanan kali ini mengingatkan Muhammad muda pada perjalanan yang pernah beliau lakukan tiga belas tahun sebelumnya, saat berusia dua belas tahun bersama paman beliau, Abu Thalib. Hal ini membuat beliau banyak termenung  serta berfikir tentang segala yang pernah dilihat dan didengar oleh beliau. Beliau banyak berpikir tentang semua bentuk peribadatan serta  kepercayaan yang ada di Syam dan juga tempat-tempat lain,seperti pasar-pasar disekitar Makkah. Di syiria (Syam) ada penyembahan berhala meskipun bagi kaum minoritas, seperti halnya penganut kristen di Makkah.
 
Ibn Ishaq menceritakan bahwa Kahdijah adalah seorang wanita karir, terhormat, cerdas dan kaya raya. Dia telah terbiasa  menyewa orang laki-laki yang dianggap mampu untuk menjalankan daganganya,dan bersekutu dengan mereka dengan upah bagi hasil. Pada saat itu kaum Quraisy terkenal sebagai komunitas pedagang. Dalam satu tahun saudagar-sadagar Quraisy memberangkatkan dua kali kafilah dagang. Ribuan kilometer mereka tempuh demi kelangsungan hidup diri serta gembala mereka.Di musim dingin mereka bertolak ke selatan menuju Yaman. Sedangkan di musim panas mereka menuju ke utara menawarkan dagangan di negri Syam.

Perjalanan itu, beliau lakukan karena dorongan paman beliau Abu Thalib. Ketika, itu perekonomian keluarga Abu Thalib tengah melewati masa-masa cukup memprihatinkan dan semakin hari di rasa semakin terhimpit. Nabi Muhammad saw sebelumnya terbiasa menggembalakan kambing milik keluarga beliau serta penduduk Makkah lainya untuk membantu meringankan beban yang ditanggung paman yang saat itu telah menjadi wali beliau. Selain kondisi ekonomi yang kurang mendukung Abu Thalib juga memiliki banyak anak. Sehingga tidak Abu Thalib berharap tambahan rezeki yang  diperoleh dari pemilik kambing yang telah digembalakan oleh kemenakanya.

Suatu ketika, Abu Thalib mendengar kabar bahwa kafilah dagang milik Khadijah akan segera diberangkatkan menuju ke utara. Dia juga tahu bahwa Khadijah sedang mencari orang yang dapat dipercaya untuk menperjualbelikan hartanya ketika telah sampai di Syam. Lantas Abu Thalib berinisiatif bahwa yang paling tepat mendapatkan kepercayaan itu adalah keponakanya, Muhammad. Yang saat itu telah dikenal dengan kejujuranya.Kemudian Abu Thalib menyempatkan waktu untuk menyampaikan maksudnya tersebut kepada beliau "Wahai putra saudaraku, sesungguhnya saat ini adalah saat-saat paceklik, kita tidak memiliki harta, tidak pula harta dagangan. Sementara Khadijah telah menyuruh orang lain untuk mengurus harta dagangannya, dan sebenarnya engkaulah yang lebih pantas untuk melakukannya." Menanggapi himbauan pamanya itu beliau menjawab "Semoga saja Khadijah akan mengirim utusan padaku".

Tak lama kemudian berita itu sampai pada Khadijah, lalu iapun mengirim utusan pada beliau.  Tatkala beliau nabi dan Khadijah telah bertemu, dia memulai pembicaraan  "Aku telah mengetahui semua budi pekertimu yang terpuji, dan aku akan memberimu harta (untuk diperdagangkan)". Khadijahpun menjanjikan sebagian  laba pada beliau  dan menyuruh budak laki-laki yang bernama Maisyarah untuk membantu selama dalam perjalanan untuk melakukan perdagangan.

Setelah mendapat nasihat dari paman-pamannya, Muhammad pergi dengan budak pesuruh Khadijah, dengan mengambil route jalan padang pasir, kafilah itu berangkat menuju Syam, melalui Wadil Qura, Madyan dan Diyar Samud serta daerah-daerah yang dulu pernah dilalui beliau dengan Abu Thalib tatkala umurnya baru dua belas tahun. Hingga akhirnya, Pada malam 14 Dzulhijah, beliau dan Maisyarah sampai di kota Bostra, negeri Syam (Syiria) untuk memperjual-belikan  komoditi dagangan Khadijah binti Khuwailid bin Asad.

Sahdan, pada suatu kesempatan, beliau berteduh di bawah pohon Sidr (widara _jawa_) dekat tempat peribadatan Rahib Nashrani yang bernama Nestor. Ia tahu bahwa beliau adalah seorang nabi, Ketika bayangan pohon itu condong meneduhi dan melindungi beliau dari terik mentari, pohon itu bak tempat berlindung pada siang dan malam hari. Mengetahui hal itu, rahib Nestor mendatangi tempat persinggahan nabi. Sedetik kemudian, ciuman takdzim mendarat di kening dan kedua telapak kaki beliau. Setelah peristiwa itu, sang rahib mengatakan "Aku bersaksi, bahwa engkau adalah utusan Allah, seorang nabi yang tidak bisa membaca dan menulis (ummi), yang mana Nabi Isa telah memberi berita gembira akan kedatanganmu. Ia berkata (Nabi Isa) ‘tidak akan berteduh dibawah pohon ini setelahku, kecuali ia adalah seorang nabi yang ummi, dari bani Hasyim, dan dari kalangan arab, orang makkah, yang memiliki telaga kautsar, Syafaat, dan bendera pujian yang diberikan Allah pada hari kiamat kelak. Bendera itu diciptakan Allah dari cahaya yang nampak dari mulut nabi adam, ketika beliau nabi bersin lantas mengucapkan alhamdulillahirabbil 'alamin, dan saat ini Allah masih menyimpan bendera tersebut hingga tiba saatnya nanti’"  Setelah selesai mengatan hal itu kepada beliau nabi, Lantas Rahib tersebut berkata pada Maisyarah "Apakah pada kedua matanya terdapat warna merah?". Ia menanyakan hal ini untuk mengetahui tanda kenabiannya yang tersembunyi. "benar." Jawabnya dengan tanpa rau-ragu
 Mendengar jawaban yang baru saja terlontar darinya, Sang Rahib yakin bahwa beliau benar-benat nabi dan seorang utusan.  Belum berjarak waktu yang lama, ia melanjutkan "janganlah engkau meninggalkannya, temanilah ia dengan sungguh-sungguh. Ia adalah orang yang telah dimuliakan oleh Allah dengan kenabian dan sebagai utusan yang terakhir."

Setelah tuntas mengemban misi perniagaan, beliau pulang menuju Makkah pada saat cuaca sangat panas. Akan tetapi, tatkala kendaraan yang ditumpangi beliau menuju kearah kediaman   Khadijah, dia melihat ada dua malaikat yang berada diatas kepala beliau melindunginya dari panas terik mentari waktu dhuha dengan kedua sayapnya, karena memuliakan beliau.

Post a Comment

0 Comments