(2) Kisah Kerosulan Nabi Muhammad, Menyepi di Gua Hiro


MENYEPI DI GUA HIRA'

Gua Hira` terletak di sebuah bukit sebelah kiri antara Makkah dan Mina nabi Muhammad. Tempat ini dijadikan nabi untuk menyepi sebelum diangkat menjadi nabi. Menurut ibn Abi Jamroh, rasulullah memilih gua Hira' karena tempat tersebut dapat digunakan tiga ritual sekaligus yaitu menyepi, beribadah, dan melihat Ka'bah. Beliau terbiasa beribadah di dalamnya siang dan malam selama beberapa hari. Kadang sepuluh hari, kadang lebih bahkan sampai satu bulan hingga datangnya wahyu. Dan sesuai catatan sejarah, setiap tahunnya Rasulullah pasti melakukan ritual tersebut selama satu bulan penuh. Hal ini sesuai dengan keterangan dari Ubaid.

Artinya: "Rasulullah senantiasa menyepi di gua Hira selama satu bulan penuh setiap tahunnya".

Mengenai bentuk Ibadah yang beliau kerjakan para ulama masih silang pendapat. Menurut pendapat yang dikuatkan oleh ibn Hajib, mengikuti syariat nabi-nabi sebelumya. Pendapat ini dibenarkan oleh imam al-Ghozali dan Imam Haromain. Persoalan yang menyulut perbedaan pendapat para ulama merambah pada syariat yang beliau ikuti. Adakah beliau tidak mengikuti syariat siapapun, atau beliau mengikuti syariat salah seorang nabi yang pernah diutus? Menurut ibnu Burhan, saat itu rasulullah mengikuti syariat nabi Adam. Sedangkan menurut al-‘Umadi beliau mengikuti syariat nabi Nuh as. Selain dua ulama tadi, segolongan ahli sejarah berpendapat bahwa nabi Muhammad mengikuti syariat nabi Ibrahim as dengan merujuk pada al-Quran surat an-Nahl ayat 123. Dan pendapat terakhir inilah yang dianggap kuat.
Artinya: "Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) 'Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif'  dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan".(QS. Surat An-Nahl.123)

Al-Qodli 'Iyadl berkomentar bahwa perbedaan itu tidaklah prinsip, karena pada dasarnya nabi-nabi sebelumya mengajarkan ke-Esaan Tuhan dan beriman kepada-Nya. Dengan demikian meskipun nabi Muhammad saw mengikuti agama nabi siapapun,  beliau tetap terjaga dari hal-hal yang bersifat kufur.

Selama dalam masa perenungan dalam gua hira ini, Rasulullah membawa perbekalan sendiri dari rumah. Setiap kali perbekalannya habis, beliau pulang untuk mengambilnya lagi. Ketika beliau menganggap cukup berdiam diri di sana, nabi Muhammad segera kembali kerumah dan Ka’bah merupakan tempat yang beliau tuju pertama kali. Di sana beliau melakukan thawaf sebanyak tujuh kali atau lebih, baru kemudian kembali ke rumah.

Pada Suatu ketika Jibril menemui Muhammad yang tengah berdiri di dalam gua. Dalam kitab Dalail an-Nubuwwah, al-Baihaqi meriwayatkan dari ibn Ishaq bahwa nabi keadaan tidur. Sementara riwayat yang lain mengatakan bahwa Rasulullah menerima dalam keadaan terjaga. Jibril lantas meletakkan tangannya di dada dan punggung nabi Muhammad Saw. yang terlihat ketakutan sambil berdo'a "Ya Allah ringankanlah bebannya, lapangkanlah dadanya dan bersihkanlah hatinya. Jibril berkata "Wahai Muhammad bergembiralah! Sesungguhnya engkau adalah seorang nabi bagi umat ini, Bacalah!"

kemudian dengan keadaan ketakutan dan tubuh gemetar nabi menjawab “aku sama sekali  tidak bisa membaca dan menulis”.  Kemudian malaikat Jibril mendekapnya dan kembali berkata "Bacalah!"

Nabi menjawab "Aku sama sekali tidak bisa membaca dan menulis". Kemudian malaikat jibril mendekapnya lagi dengan sekuat tenaga hingga nabi nampak kehabisan tenaga, malaikat jibril berkata untuk yang ke tiga kalinya "Bacalah!" Dan rasulullah masih memberikan jawaban yang sama "Aku sama sekali tidak bisa membaca dan menulis".

 Kemudian malaikat Jibril mendekapnya lalu mendudukkannya pada sebuah alas permadani. Saat itulah Jibril melihat sifat-sifat kenabian Muhammad bagaikan intan mulia. Setelah duduk, malaikat Jibril membacakan al-Qur’an surat al- Alaq 1-5

Artinya:  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan! Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. 4 Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Malaikat jibril berkata “Wahai Muhammad, jangan takut. Sesungguhnya engkau adalah utusan Allah SWT”. Dalam riwayat yang menyatakan nabi dalam keadaan tidur bahwa setelah jibril menyampaikan wahyu nabi terbangun dan nabi merasa seolah-olah dalam hati belaiu telah tertulisakan kata-kata yang diungkapkpan malaikat Jibril.

Setelah menyampaikan wahyu tersebut, maliakat Jibril lenyap dari hadapan Rasulullah Saw. Peristiwa turunnya wahyu yang pertama ini membuat nabi merasa gundah, beliau berkata “Apa yang telah kuperbuat dan apa yang harus aku katakan pada kaumku”.

Aku keluar dari gua Hira, ketika berada di puncak gunung itu aku mendengar suara berkumandang dilangit menyeru "Hai Muhammad engkau adalah utusan Allah, dan aku Malikat Jibril berupa seorang laki-laki yeng berdiri di cakrawala".

Ia berkata lagi "Hai Muhammad engkau utusan Allah dan aku adalah malikat Jibril!". Kuangkat kepalku ke langit, tiba-tiba kulihat malaikat Jibril berupa seorang laki-laki yang sedang berdiri di cakrawala".

Ia berkata lagi "Hai Mauhammad, engkau utusan Allah dan aku malaikat Jibril", aku berdiri terpaku tanpa berdaya, tidak bisa maju atau mundur selangkahpun. Aku palingkan mukaku dari cakrawala, tetapi kemanapun akau hadadapkan yannng terlihat hanyalah Jibril semata. Di saat aku dalam keadaan seperti itu, ku lihat beberapa orang suruhan Khadijah sedang mencari-cariku. Mereka tidak bisa menjangkau puncak gunung tempat aku berpijak. Aku masih tetap berdiri, melihat mereka turun kembali.

 Tidak lama setelah itu malaikat jibril Hilang dalam pandangan mataku. Setelah itu nabi Muhammad pulang ke rumah dengan tubuh gemetar. Dalam perjalanan pulang, beliau melihat bebatuan dan pepohonan memberikan penghormatan dan mengucapakan salam padanya. Sesampainya di rumah Rasulullah meminta Sayyidah Khadîjah untuk menyelimutinya. Beliau bersabda "Selimutilah saya! Selimutilah saya! Agar gemetar ini hilang."

Kemudian Khadîjah menyelimuti beliau hingga hilang rasa takutnya. Setelah merasa tenang beliau menceritakan kejadian di gua Hira pada isteri tercintanya ini. "Sungguh saya mengkhawatirkan keadaanku.” Mendengar  cerita tersebut, Khadîjah dengan bijak mencoba menenangkan pikiran nabi Muhammad saraya berkata "Jangan takut, Allah swt tidak akan merendahkanmu. Sungguh engkau sosok penyambung hubungan keluarga (silaturahim), menafkahi kerabat, membantu orang-orang tidak mampu. Memberikan jamuan pada tamu dan menolong orang-orang yang tertimpa musibah. Allah swt tidak akan mengizinkan syaitan menguasaimu dan tidak akan membuatmu tenggelam dalam khayalan. Tidak bisa diingkari lagi Allah swt telah memilihmu untuk memberi petunjuk pada kaummu.”

Untuk menguatkan dugaannya, Khadîjah mengajak Rasulullah menemui Waraqah ibn Naufal, putra paman Khadîjah yang telah lanjut usia dan buta kedua matanya. Pada zaman Jahiliyah, Waraqah beragama Nashrani bahkan pernah menulis kitab Injil dalam bahasa Ibrani, yaitu bahasa yang digunakan oleh kaum Yahudi Kuno. Khadîjah berkata kepadanya "Wahai putra pamanku, dengarkanlah perkataan putra saudara laki-lakimu!

Waraqah menyahut "Wahai putra saudara laki-lakiku, apa yang kamu lihat?". Lalu Nabi saw menceritakan semua peristiwa yang telah beliau alami. Mendengar cerita tersebut Waraqah berkata "Yang kamu lihat itu adalah Malaikat Jibril. Ingin rasanya aku kembali menjadi seorang pemuda yang kuat saat engkau diusir oleh kaummu. Mereka akan memusuhi dan membencimu saat engkau menyeru untuk merubah keyakinan yang mereka dapatkan dari nenek moyangnya."

Dengan penuh keheranan Rasulullah bertanya pada Waraqah "Benarkah mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab "Tidak ada seorangpun yang membawa ajaran seperti yang kau bawa ini melainkan ia akan dimusuhi.” Tak lama setelah kejadian itu, Waraqah meninggal dunia. Dan sebenarnya apa yang dikatakan Waraqah sesuai dengan firman Allah swt dalam Alquran surat Ibrahîm ayat 13.

Artinya:  Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka:  Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami." Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan memibnasakan orang-orang yang zhalim itu.”

Hal ini berbeda dengan keterangan yang terdapat dalam siroh ibnu Ishaq yang menyebutkan bahwa ia (Waraqah) pernah menjumpi bilal dalam keadaan disiksa. Dari keterangan ini mengindikasikan bahwa ia masih hidup pada zaman da'wah nabi. Imam an-Nawawi berani mengunggulkan pendapat bahwa yang benar adalah dia meninggal sebelum masa da'wah. Namun, walaupun ia meninggal sebelum masa da'wah, dalam satu hadist dijelaskan bahwa ia bukanlah ahli neraka.

Artinya: "Imam at-Turmudzi meriwayatkan dari 'Aisyah"Khodijah bertanya kepada nabi tentang status waroqoh yang membenarkan nabi, namun meninggal dunia sebelum menampakkan keislamanya. Nabi menjawab: saya melihat didalam mimpi bahwa ia mengenakan pakaian putih dan andaikata ia termasuk ahli neraka maka pakaian yang ia kenakan akan lain".

Para ulama' memberikan penafsiran yang beragam menyikapi jawaban nabi Muhammad kepada malaikat Jibril dengan ucapan
(Aku sama sekali tidak bisa membaca dan menulis). Menurut imam An-Nawawi, lafadz E' berfaedah nafi (meniadakan) dan mengkira-kirakan

(kurang mahir membaca), sehingga menurut an-Nawawi nabi bukanlah sama sekali tidak bisa membaca melainkan kurang mahir membaca.

Menurut pendapat yang lain lafadz tersebut berfaedah penandas , itu artinya nabi tidak mampu membaca sama sekali. Abu Syamah mengatakan bahwa nabi menjawab perintah Jibril dengan jawaban yang sama sampai tiga kali karena beberapa alasan. Menurutnya, jawaban yang pertama adalah ungkapan penolakan, yang kedua adalah penafian (ketidak mampuan nabi untuk membaca dan menulis) dan jawaban ketiga adalah wujud kebingungan nabi tentang apa yang harus dibacanya? Masih menurut pendapat Abu Syamah, rasulullah mengucapkan jawaban tersebut agar malaikat Jibril tidak mengulangi perbuatan itu lagi.

Turunnya wahyu ini ada yang mengatkan pada tanggal 17 ramadlan, ada pula yang mengatakan pada tanggal 24 ramadlan. Hal ini berdasar pada firman Allah surat Al-Qodr ayat 1

Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya(Al Quran) pada malam kemuliaan"

Dan firman lain
Artinya: "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu"(QS. Al- Baqoroh 185)

Dari kedua pendapat ini yang paling dikenal dan banyak dijadikan pijakan ulama adalah pada tanggal 17 Ramadlan tahun gajah ke-41 bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M.

Mengenai surat yang pertama kali diturunkan, para ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat yang shahih dari kebanyakan mufassirin (ahli tafsir), yang pertama kali diturunkan adalah surat Al-'Alaq 1-5, namun menurut jabir ibn Abdullah adalah surat al-Muddatsir. Sedangkan Maisaroh al-Hamdaniy berpendapat bahwa surat yang pertama kali turun adalah al-Fatihah.

Menurut as-Suhaili dalam Ar-Raudul Unuf ada tujuh cara penyampaian wahyu dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.
Mimpi yang haqiqi, ini adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw.
Bisikan ilham yang dihembuskan kedalam hati rasulullah saw seperti yang disabdakan beliau "Sesungguhnya Ruhul-Qudus menghembuskan kepadaku bahwa suatu jiwa sama sekali tidak akan mati sebelum disempurnakan rizqinya, maka bertaqwalah kepada Allah dan mintalah kepada-Nya.
Malaikat Jibril muncul dihadapan Nabi dalam rupa seorang laki-laki.
Wahyu datang menyerupai bunyi gemerincing lonceng, ini adalah yang terberat bagi Nabi.
Nabi melihat rupa asli Malaikat Jibril yang memiliki enamrataus sayap.
Wahyu disampaikan oleh Allah kepada nabi dibalik hijab, baik dalam keadaan terjaga seperti peristiwa malam isro' atau dalam keadaan tidur.
Turunya Nabi Israfil dengan membawa beberapa wahyu sebelum turunya Jibril.

HIKMAH.
Pengasingan nabi di gua hira’ merupakan bentuk ritual yang sangat efektif untuk beribadah kepada Allah, karena ritual tersebut dapat mengkosongkan hati dari kegelapan dunia dan memutus ketergantungan dengan makhluk. Pengasingan ini banyak diteladani oleh umatnya nabi Muhammad saw hingga mereka mendapat derajat yang luhur di sisi Allah sebagai Auliya-Nya. Bentuk peribadatan seperti ini dikenal dengan sebutan uzlah.
Dekapan malaikat Jibril sebanyak tiga kali bertujuan agar nabi tidak tersibukkan urusan dunia sehingga beliau bisa menangkap secara utuh sesuatu yang disampaikan kepadanya.
Dekapan malaikat jibril nabi sebanyak 3 kali merupakan dasar disunahkanya pengulangan sebanyak 3 kali  dalam mendidik. Dan sebagian ulama' ada yang menjadikan dasar diperbolehkannya seorang guru yang mengajarkan akhlak untuk memukul sekira tidak menyakitkan tidak lebih dari 3 kali.

BEBERAPA IBRAH

          Hadist permulaan wahyu ini, merupakan "asas" yang menentukan hakikat semua agama dengan segala keyakinan dan syariatnya. Memahami dan meyakini kebenarannya merupakan syarat mutlak untuk meyakini semua berita gaib dan masalah syariat yang dibawa oleh beliau Nabi. Sebab,hakikat wahyu ini merupakan satu satunya pembeda antara manusia yang berfikir dan membuat syariat dengan akalnya sendiri, dan manusia yang hanya menyampaikan syariat dari RabbNYA tanpa mengubah, mengurangi, dan menambah.

             Itulah sebabnya, musuh musuh islam memberikan perhatian yang lebih terhadap fenomena wahyu dalam kehidupan Nabi SAW. Berbagai argumentasi mereka lontarkan untuk menolak kebenaran wahyu, dan membiaskannya dengan ilham (inspirasi), dan bahkan dengan sakit ayan. Hal tersebut disebabkan karena mereka menyadari bahwa masalah wahyu merupakan sumber keyakinan dan keimanan muslimin terhadap apa yang dibawa Muhammad SAW dari Allah SWT. Jika mereka berhasil meragukan kebenaran wahyu. Maka, mereka akan berhasil menolak segala bentuk keyakinan dan hukum yang bersumber dari wahyu tersebut. Selanjutnya, mereka akan berhasil mengembangkan pikiran bahwa, semua ajaran dan prinsip yang disampaikan Muhammad SAW hanyalah bersumber dari pemikiran sendiri.

           Untuk merealisasikan tujuannya, para musuh islam berusaha menafsirkan fenomena wahyu dengan penafsiran palsu. Mereka memberikan penafsiran palsu sesuai dengan imajinasi yang mereka rajut sendiri.

           Sebagian dari mereka menggambarkan, bahwa Muhammad SAW terus merenung dan berpikir hingga sampai terbentuk dalam akal pikirannya secara berangsur angsur. Suatu aqidah yang dipandangnya cukup untuk menghancurkan paganisme (watsaniyyah). Adapula yang mengatakan bahwa Muhammad belajar alquran dan prinsip prinsip islam dari pendeta Bahira. Bahkan, ada yang menuduh bahwa Muhammad SAW menderita penyakit syaraf atau ayan.

          Apabila kita perhatikan tuduhan tuduhan naïf seperti ini, maka akan kita ketahui dengan jelas rahasia ilahi mengapa permulaan turunnya wahyu kepada RasulullahSAW dengan cara yang telah kami sebutkan diatas.

         Mengapa Rasulullah saw melihat Jibril dengan kedua mata kepalanya, padahal wahyu dapat diturunkan dari balik tabir? Mengapa Rasulullah SAW takut dan terkejut memahami kebenaran wahyu, padahal cinta Allah swt kepada Rasulullah saw dan pemeliharaan-Nya semestinya cukup memberikan ketenangan dihatinya. Sehingga, tidak timbul rasa takut lagi?
Mengapa Rasulullah SAW hawatir terhadap dirinya, kalau kalau makhluk yang dilihatnya di gua Hira adalah makhluk halus dari bangsa jin? Mengapa Rasulullah saw tidak memperkirakan kalau mahluq itu adalah malaikat utusan Allah saw? Mengapa, setelah itu wahyu terputus sekian lama. Sehingga menimbulkan kesedihan yang mendalam pada diri Nabi SAW. Sampai sampai timbul keinginannya -seperti yang telah disebutkan sebelumnya- untuk menjatuhkan diri dari atas gunung?

         Pertanyaan pertanyaan tersebut adalah wajar dan ilmiah sesuai dengan permulaan turunnya wahyu. Dan jawaban jawaban atas pertanyaan tersebut akan terungkapkan. Yang selanjutnya dapat menghindarkan orang orang yang berpikiran sehat dari pengaruh para musuh islam dan imajinasi palsu mereka.

Ketika larut dalam Khalwatnya di goa Hira', Rasulullah dikejutkan oleh jibril yang muncul dihadapannya seraya berkata,"bacalah". Hal tersebut menjelaskan bahwa, masalah wahyu bukan merupakan "urusan pribadi" yang bersumber dari inspirasi atau intuisi. Akan tetapi merupakan penerimaan dari haqiqah kharijiyyah (kebenaran yang  bersumber dari luar) yang tidak ada kaitannya dengan inspirasi, pancaran jiwa, ataupun intuisi. Dekapan malaikat dan kemudian dilepaskannya seraya mengatakan "bacalah" merupakan penegasan terhadap hakikat wahyu. Dan juga merupakan counter attack terhadap anggapan bahwa, fenomena wahyu tidak lebih dari sekadar intuisi.

Timbulnya rasa takut dan cemas pada diri nabi saw saat bertemu dan melihat jibril. Sampai beliau memutuskan khalwatnya dan kembali pulang dengan hati gundah. Merupakan bukti nyata bagi orang yang berakal sehat bahwa, nabi saw tidak pernah merindukan Risalah yang dibebankanNYA untuk disampaikan keseluruh penjuru dunia. Dan fenomena wahyu tersebut tidak datang bersamaan atau menyempurnakan apa yang telah terlintas dibenak Rasulullah saw. Akan tetapi, fenomena wahyu ini muncul secara mengejutkan dalam hidup beliau tanpa pernah terbayangkan sebelumnya. Rasa cemas dan takut tidak akan pernah dialami oleh orang yang telah merenung dan berfikir secara pelan pelan, hingga terbentuk dalam benaknya suatu akidah yang diyakini akan menjadi da'wahnya.

Selain itu, masalah inspirasi,intuisi,bisikan batin atau perenungan. Tidak akan menimbulkan perasaan takut dan cemas. Tidak ada korelasi antara perenungan dengan rasa takut,cemas, dan terkejut. Jika tidak demikian, tentu para pemikir dan orang yang melakukan kontemplasi akan selalu dirudung rasa takut dan cemas.

Anda tentu telah mengetahui. Bahwa, perasaan takut, cemas, terkejut, dan menggigil seluruh tubuh tidak mungkin bisa dibuat buat. Sehingga, tidak dapat diterima jika ada orang yang mengandaikan Rasulullah SAW mengandikan hal tersebut.

Keterkejutan dan kecemasan Rasulullah saw, hal ini nampak jelas pada keraguan beliau, jangan jangan yang dilihat dan mendekapnya di gua Hira' itu adalah jin. Ini dapat diperhatikan ketika Nabi saw berkata kepada Khadijah "sungguh saya khawatir terhadap diri saya". Akan tetapi Hadijah segera menenangkannya, bahwa beliau bukan tipe orang yang bisa diganggu oleh syetan ataupun jin. Karena ahlaq dan pekerti mulia yang  dimiliki beliau.

Adalah mudah bagi Allah untuk menenangkan hati Rasul-Nya dengan menyatakan. Misalnya, bahwa yang yang mengajak berbicara adalah Malaikat jibril. Akan tetapi, hikmah ilahiyyah ingin menampakkan pemisahan total antara kepribadian Muhammad saw sebelum dan sesudah Bi'tsah. Disamping untuk menjelaskan bahwa Akidah Islam dan perundang undangannya, tidak pernah diolah oleh Rasulullah saw dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kemudian, ilham Khadijah untuk membawa Nabi saw, menemui Waraqah ibn Naufal menanyakan permasalahannya, merupakan penegasan lain bahwa yang mengejutkannya itu hanyalah wahyu ilahi yang pernah disampaikan kepada para Nabi sebelumnya. Disamping untuk menghilangkan kecemasan yang menyelubungi jiwa Rasulullah SAW, karena menafsirkan apa yang telah dilihat dan didengarnya.

Terhentinya wahyu selama empat puluh hari, mengandung mu'jizat ilahi yang mengagumkan. Karena, hal ini merupakan sanggahan yang kuat terhadap kaum orientalis yang mengatakan bahwa wahyu merupakan hasil perenungan panjang yang bersumber dari dalam diri Muhammad saw.

Sesuai dengan kehendak ilahi, malaikat yang menemuinya di gua Hira' itu tidak muncul sekian lama, yang sehinnga menimbulkan kecemasan pada diri Muhammad saw. Kemudian, kecemasan tersebut berubah menjadi rasa takut terhadap dirinya. Karena khawatir dimurkai Allah SWT setelah dimuliakan-Nya dengan wahyu, lantaran tindakan yang telah dilakukannya. Sehinnga, dunia yang luas ini terasa sempit bagi beliau. Bahkan, sampai terbesit ingin menjatuhkan diri dari atas gunung. Hingga akhirnya, pada suatu hari, malaikat yang pernah menemuinya di gua Hira' menemuinya  kembali terlihat diantara langit dan bumi seraya berkata "wahai Muhammad, kamu adalah utusan Allah kepada umat manusia". Dengan rasa cemas, Nabi pulang ke rumah, yang kemudian diturunkan firman surat Al-Muddattsir 1-6

Sesungguhnya keadaan dan peristiwa yang dialami nabi ini, membuat pemikiran yang mengatakan bahwa wahyu merupakan intuisi merupakan pemikiran yang gila. Sebab, untuk menumbuhkan intuisi dan inspirasi tidak perlu menjalani keadaan seperti itu.

Dengan demikian, hadits yang shahih yang meriwayatkan turunnya wahyu merupakan amunisi yang ampuh untuk menghancurkan segala serangan musuh musuh islam yang menyangkut masalah wahyu dan kenabian Muhammad saw. Dari uraian yang telah dipaparkan, anda pasti dapat memahami mengapa permulaan pertama kali  penurunan wahyu diatur oleh Allah swt sedemikian rupa.

Mungkin, musuh musuh islam akan kembali bertanya "jika wahyu diturunkan melalui perantara malaikat jibril, mengapa para sahabat tidak ada yang melihatnya?" Jawabannya, bahwa untuk menyatakan keberadaan sesuatu, tidak disyaratkan harus dapat dilihat. Apakah sesuatu yang tidak terjangkau oleh mata manusia itu dapat dikatakan tidak ada? Merupakan hal yang sangat mudah bagi Allah SWT untuk memberikan kekuatan penglihatan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sehingga, dia dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Berkenaan dengan masalah ini, Malik ibn Nabi mengatakan:"buta warna itu menjadi salah satu contoh bagi kita bahwa, ada sebagian warna yang tidak dapat dilihat oleh sebagian mata. Juga ada sinar ultra merah dan ultra ungu yang tidak dapat dilihat oleh mata kita.

Post a Comment

0 Comments