Wali Banten, Mengenal Sheikh Nawawi Banten Beserta Karomahnya

muslimmoderat.com
Nama Sheikh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi Muslim Indonesia. Bahkan, sering terdengar bahwa kehebatannya mirip dengan ulama klasik Syafi'i Imam Nawawi (676 H atau 2727 M). Melalui karya-karyanya tersebar di pondok pesantren tradisional yang hingga kini masih banyak dipelajari.

Nama ulama dari Banten ini sepertinya masih hidup dan terus menemani orang-orang memberikan ajaran ajaran Islam yang menenangkan.

Dalam setiap majelis ta'lim, karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu, mulai dari tauhid, fiqh, tasawuf hingga interpretasi.

Karya-karyanya sangat berperan dalam mengarahkan arus utama ilmu pengetahuan yang dikembangkan di lembaga-lembaga pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).

Sayid ’Ulamail Hijaz adalah gelar yang disandangnya. Sayid adalah pangeran, sedangkan Hijaz wilayah Saudi sekarang, yang meliputi Mekah dan Madinah.

Dia adalah Sheikh Muhammad Nawawi, yang lebih dikenal oleh orang Mekah sebagai Nawawi al-Bantani, atau Nawawi al-Jawi.

"Al-Bantani menunjukkan bahwa ia berasal dari Banten, sedangkan nama Al-Jawi menunjukkan asal-usul Jawa-nya, seperti yang disebut oleh para migran Indonesia karena nama Indonesia tidak dikenal pada saat itu. Pesantren sekarang merujuk pada ulama yang juga dijuluki Banten Syaikh al-Fakih Nawawi, "kata Ismetullah Al Abbas, pewaris Kesultanan Banten, ketika ditemui di rumahnya di Banten, kompleks masjid Banten beberapa waktu lalu.

Menurut sejarah, Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu'ti Muhammad ibn Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani.

Dia lebih dikenal sebagai Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Lahir di Desa Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M atau 1230 Hijriah. Pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriah atau 1897 M. Nawawi menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 84 tahun.

Ia memiliki kaki yang bersinar ketika gelap

Sebagai sosok kebanggaan umat Islam di Jawa, khususnya di Banten, umat Islam di Desa Tanara, Tirtayasa, Banten, setiap tahun pada hari Jumat terakhir acara Syawal, diadakan acara khol untuk memperingati warisan Syekh Nawawi Banten.

Ismet mengungkapkan, Syekh Nawawi memiliki karomah. Di antara karomahnya, ketika menulis buku Bidayatul Hidayah (oleh Imam Ghozali), lampu minyaknya padam, meskipun sedang dalam perjalanan unta. Tetapi bahkan di jalan dia masih menulis.

Dia berdoa, jika buku ini dianggap penting dan bermanfaat bagi umat Islam, dia memohon kepada Allah untuk memberi cahaya agar dia dapat terus menulis.

"Tiba-tiba jempol kakinya memberi api, bersinar terang, dan dia terus menulis syarah sampai selesai dan tanda-tanda api di ibu jari membuat kesan, sampai Pemerintah Hijaz memanggilnya untuk menjadi seorang prajurit (karena tubuhnya adalah kokoh), ternyata dia ditolak karena ada jejak api di ibu jari, "katanya.


Dimakamkan Jasadnya tetap utuh

Karomah yang lain, tampaknya beberapa tahun setelah dia meninggal, makamnya akan dihancurkan oleh pemerintah untuk menghilangkan tulang-tulangnya dan penguburannya akan ditumpuk oleh badan-badan lain (seperti yang umum di Ma'la).

Saat itulah para petugas mengabaikan niat mereka, karena tubuh Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh meskipun telah dikubur selama bertahun-tahun.

"Ketika pergi ke Mekah, Insya Allah, kita akan dapat menemukan makamnya di Makam Umum Ma'la. Banyak umat Islam juga mengunjungi bekas rumah warisannya di Tanara, Serang, Banten. Itu terletak di belakang masjid Nawawi di Tanara, "kata Ismet.

Kyai Hashim Ashari sering disebut sebagai sosok yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah pendirian NU, sehingga Syekh Nawawi adalah guru utamanya.

Dikatakan, di sela-sela pembacaan buku-buku karya gurunya, seringkali Kyai Hashim Ashari mengenang tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang-kadang mengingatnya hingga menangis karena besarnya cintanya pada Syekh Nawawi.

Post a Comment

0 Comments