Resensi Buku Penakluk Badai, Aguk Irawan Novel Biografi


“Hai Kiai, kamu tuli?”
Kembali Kiai Hasyim diam, siksaan demi siksaan semakin gencar dilancarkan. Mendadak salah seorang interogator tentara Jepang tersebut mengambil catut dari balik meja
“Barangkali kamu memilih cara ini agar mulutmu mau bicara?!” (Hal 340)
***
Ini adalah sepenggal kisah yang saya ambil dari bagian tengah buku ini, karena sikap keraskepala Kiai Hasyim yang tidak mau mencabut fatwa haram atas kebijakan Nippon, kuku jari jemarinya dicopot paksa oleh tentara jepang itu. Dari sini saja kita bisa merasakan betapa perih perjuangan Kiai Hasyim dalam memperjuangkan agama dan Negeri ini.

Buku yang ditulis oleh Aguk Irawan ini terdiri dari 25 Bab. Di Bab awal kita akan disuguhi kisah seorang kiai bernama Abdus Salam atau yang terkenal dengan Kiai Shoihah, Salah seorang penyebar agama Islam di daerah Jombang. Kiai Shoihah kemudian membuka dusun Gedang yang tadinya hanya berupa ilalang, mendirikan pesantren, lalu berdatanganlah santri dari berbagai penjuru daerah untuk menimba ilmu kepadanya.

Diantara santri-santrinya yang mahir dan cerdas itu, terdapat seorang santri bernama Usman, berasal dari Lasem, Usman adalah kakek dari Hasyim Asy’ari. Karena kepintaran dan kecerdasannya, Usman kemudian diambil mantu oleh Kiai Shoihah. Setelah dinikahkan dengan Layyinah, putri Kiai Shoihah, Usman kemudian pindah ke Dusun... dan mendirikan pesantren di sana.

Pesantren Kiai Usman begitu ramai, banyak santri yang juga berdatang untuk menimba ilmu kepadanya. Diantara santrinya yang mahir dan terkenal cerdas, terdapat seorang santri yang berasal dari Demak, Santri ini bernama Asy’ari yang tak lain merupakan ayah dari Sang pendiri Nahdlotul Ulama.

Asyari adalah putra Kiai Abdul Wahid, seorang tentara Jawa yang tergabung dalam pasukan Pangeran Diponegoro, dan masih keturunan langsung dari Pangeran Sambo. Setelah sekian lama mondok di Pesantrennya Kiai Usman, Asyari dijodohkan dengan anak Kiai Usman sendiri yang bernama Halimah atau yang biasa dikenal dengan sebutan Nyai Winnih.

Dari pernikahan ini, Hasyim yang menjadi tokoh utama dalam novel biografi ini lahir. Hasyim sendiri adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Dalam catatan sejarahnya, Hasyim lahir pada 14 Februari 1871, bertepatan dengan 24 Zulqa’dah 1287 Hijriah, ketika Belanda masih bercokol di bumi Nusantara. Hasyim tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas bahkan bisa dikatakan genius, sebab semua kitab yang dipelajarinya dia hapalkan diluar kepala.

Di dalam buku ini juga diceritakan kisah Hasyim Asyari sewaktu masih kecil, terutama mengenai akhlak dan budipekertinya yang begitu hormat dan patuh kepada orangtua. Hasyim kecil juga sangat loyal kepada teman-temannya, pernah suatu hari ia memanggil semua teman-temannya untuk pergi ke dapur rumahnya, di sana ia mempersilahkan semua temannya untuk makan sekenyang-kenyangnya. Ibunya menjadi kaget, karena semua lauk di dapur telah habis dimakan, padahal lauk itu dipersiapkan ibunya untuk menjamu seorang tamu dari jauh. Hasyim begitu menurut kepada ibunya saat sang ibu 'menghukumnya’ untuk pergi mencari lauk yang baru, tapi ibunya bersyukur karena anaknya juga baik terhadap lingkungan sosialnya (Lihat Halaman 59)

Di dalam buku ini juga dikisahkan betapa Hasyim kecil sudah mempunyai keinginan yang begitu kuat untuk mondok. Keinginan ini selalu ia utarakan kepada kakeknya, Kiai Usman, karena ia paham, orangtuanya, Kiai Asyari belum mengijinkan Hasyim untuk pergi merantau. Tetapi setelah Kiai Usman berdialog dengan Kiai Asyari, akhirnya Hasyim kecil diijinkan untuk mondok menimba ilmu ke pesantren di luar Jombang.

Pesantren pertama yang disinggahi oleh Hasyim kecil adalah Wonokoyo, tak selang berapa lama, Hasyim pindah ke Trenggilis, lalu pindah mengaji ke Kiai Ahmad Sholeh Pondok Langitan. Dan pada usia yang masih belia, usia 13 tahun, Hasyim sudah menyebrangi lautan untuk mondok ke Kademangan Bangkalan, asuhan Hadrotus Syekh KH. Kholil. Dari sini saja kita bisa membayangkan dalam usia yang masih sangat belia, Hasyim sudah malang melintang ke berbagai pesantren ternama di tanah Jawa.

Hanya satu tahun saja Hasyim Asyari mondok di Bangkalan. Pada usia 14 tahun kembali ia menjadi gerah untuk menimba ilmu ke luar Jombang. Dengan saran dari orangtuanya, Hasyim kemudian diijinkan untuk mondok ke Semarang, tepatnya ke Kiai Sholeh Darat, dari Kiai Sholeh inilah, Hasyim belajar untuk memahami kriteria Ahlussunah Waljamaah, disamping juga mempelajari taqlidnya kepada Imam Abu Hasan al-'Asyariah dan Imam Maturidi.

Di Pondok Kiai Soleh Darat ini, Hasyim ternyata satu kurun dengan Muhammad Darwis atau Ahmad Dahlan, pendiri Ormas Islam Muhammadiah, juga satu kurun dengan Mahfudz Termas, Idris Jamsaren Solo, Sya’ban Semarang, Anom Surakarta, Dalhar Watucongol dan Munawir Krapyak, yang kelak kesemuanya menjadi kiai besar dan banyak memberi sumbangsihnya kepada bangsa Indonesia (Hlm 77).

Dalam novel ini, si penulis sepertinya ingin menggambarkan tentang kedekatan Hasyim Asyari dengan Ahmad Dahlan, tentang hubungan mereka yang sangat akrab dan begitu harmonis, hal ini dibuktikan dengan kisah mereka yang diberikan porsi lebih besar ketimbang perjalanan Hasyim sendiri saat mondok ke berbagai pelosok daerah. Dari sini, kita bisa meneladani sikap mereka yang sebenarnya tetap rukun meskipun ada banyak perbedaan.

Selang dua tahun lamanya di Pondok Kiai Soleh Darat, pada usia 16 tahun, Hasyim Asyari mondok ke Kiai Ya’kub Siwalan, di sini Hasyim sampai 4 tahun lamanya berguru ke Kiai Ya’kub, dari semua pondok yang disinggahi, hanya Siwalan-lah yang menjadi pesantren terlama Kiai Hasyim Asyari. Kiai Ya’kub sendiri mempunyai seorang putri bernama Nafisah yang kemudian dinikahkan dengan Hasyim.

Pada tahun itu juga, beberapa bulan setelah mereka menikah, Hasyim beserta istri, turut juga kiai Yakub beserta istrinya pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan ke kota suci Mekkah, jarak ini ditempuh hampir 6 bulan lamanya. Nafisah, istrinya yang hamil tua itu melahirkan seorang putra bernama Abdullah di kota suci Mekkah, tapi karena kondisi tubuhnya yang memang sudah lelah semenjak berangkat dari tanah air, Nafisah meninggal dunia di Mekkah juga putranya yang tak memiliki usia panjang. Istri dan anaknya lalu dikebumikan di Ma'la tempat pekuburan Mekkah. Di Mekkah, tidak hanya menunaikan ibadah haji, Hasyim juga ikut mengaji kepada Syekh Khotib Minangkabau.

Setelah pulang dari tanah air, kesedihan Hasyim Asyari atas meninggalnya istri dan juga putranya, tak juga melunturkan kesedihannya. Kiai Yakub mertuanya, menyarankan Hasyim untuk menikah kembali, tetapi Hasyim rupanya belum berkeinginan untuk menikah alih-alih ia malah ingin kembali ke Mekkah memperdalam ilmu agamanya.

Untuk yang keduakalinya, Hasyim dengan mengajak adiknya, Muhammad Anis kembali ke Mekkah untuk menimba ilmu kepada gren syekh ternama seperti Syekh Mahfudz Termas, Syaikh Shata dan Syaikh Dagistani yang merupakan ulama terkenal pada masa itu.

Sepulangnya dari kota suci Mekkah, Hasyim Asyari mendirikan pesantren Tebu Ireng dan menjadi tokoh utama pelopor berdirinya Ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlotul Ulama. Tentunya membaca buku ini, kita tidak hanya disuguhi cerita perjuangan Hasyim sewaktu masih kecil juga kita akan disuguhi latarbelakang dan alasan-alasan dibalik kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pada akhirnya, tidak ada gading yang tak retak, begitulah pepatah mengatakan, meski buku ini terbilang cukup fenomenal, tetapi Si penulis sepertinya terlalu takut untuk membumbui segelas fiksi sehingga kita tidak mnemukan banyak konflik dan imajinasi terliar dari Aguk Irawan. Meski demikian kita patut mengapresiasi buku ini yang dari awal sampai akhir tetap menjaga keorisinalitas tokoh utamanya. Kelebihan dari buku ini juga terdapat rujukan Kosa Kata sehingga memudahkan para pembacanya untuk memahami kata-kata asing yang terdapat di dalam buku. Juga disertai gambar-gambar bersejarah pada halaman 470-sampai akhir buku, yang memperkuat bukti-bukti sejarah dan saksi bisu dari perjuangan Kiai Hasyim Asyari.

Novel ini juga dikemas dengan sangat baik, di belakang sampul bukunya juga di bagian awal buku, kita banyak disuguhi komentar-komentar dari para tokoh sehingga memudahkan kita untuk memahami isi kandungan buku. Akhir kata, buku ini terbilang sangat sukses untuk sebuah novel biografi, membaca buku ini membuat kita tidak bisa berhenti hanya dalam satu bab saja, sebab kita selalu dibuat penasaran untuk terus dan terus membacanya sampai selesai.

Post a Comment

0 Comments