Prabowo Ngawur, Tidak Layak Dipilih Jadi Presiden

Ilustrasi gambar dari mediaindonesia.com

"... tetapi di negara-negara lain mereka telah membuat studi, di mana Republik Indonesia telah dinyatakan tidak ada lagi pada tahun 2030. Bung! Mereka menyatakan kita bubar ...".

Begitu kata Prabowo berbicara dengan penuh semangat dalam sebuah video yang diunggah beberapa waktu lalu. Pensiunan jenderal bintang tiga dengan suara gemuruh itu menyampaikan kekhawatirannya tentang masa depan Indonesia.

Tiba-tiba pernyataan Prabowo membuat keributan di seluruh penjuru negeri. Apa dasar pemikiran Prabowo mengeluarkan statemen ngawur itu? Ternyata Prabowo mengutipnya dari novel fiksi berjudul Ghost Fleet, yang ditulis oleh Peter Warren Singer dan August Cole, seorang novelis terkenal dari Amerika.

Pidato berapi-api Prabowo ternyata menerima tanggapan dari penulis bukunya, Peter Warren Singer. Dia menilai Prabowo Subianto telah mengutip pidato dari novelnya. Singer mungkin tidak pernah curiga bahwa novelnya akan dikutip oleh seorang politisi dari Indonesia.

Cuitan tentang Prabowo, yang dia sebut sebagai Pemimpin Oposisi Indonesia, kemudian dijawab oleh August Cole, rekannya yang menulis novel Ghost Fleet, mempertanyakan apakah isi novel tentang Indonesia yang akan bubar itu sebagai fiksi belaka atau memang sebuah ramalan?. Jawaban Singer sangat lucu "Coba Anda tanya ke jenderal Indonesia ..."

Singer sendiri, yang merupakan penulis novel, tidak tahu apakah novel yang ia tulis adalah fiksi atau memang sebuah ramalan tentang keberadaan Indonesia dalam 12 tahun ke depan. Atau ia dengan sengaja tidak memberi tahu Cole jawaban yang sebenarnya, di akun twitter-nya, novel itu dikatakan sebagai karya fiksi, sehingga Prabowo semakin terpojokan.

Berdasarkan berbagai pernyataan yang tidak masuk akal itu, muncul sebuah pertanyaan yang sangat prihatin, apakah Prabowo benar-benar sudah depresi? seperti yang dikatakan oleh Effendi Gazali, bahwa Prabowo sepertinya benar-benar stres. Dia terdesak oleh umur, dia juga dipaksa maju oleh permintaan kader agar kembali mencalonkan diri menjadi kandidat presiden.

Di satu sisi, Prabowo masih sangat ingin menjadi presiden. Dia masih sangat ingin menjadi pemimpin tertinggi di negara ini. Namun, di sisi lain, ia harus benar-benar berpikir hingga ratusan kali untuk menetapkan strategi apa yang paling efektif untuk dapat mengalahkan Jokowi. Dia juga harus benar-benar memikirkan kebutuhan logistik dari para pendukungnya yang sangat banyak itu.

Selain itu, Prabowo juga harus mempertimbangkan kenyataan pahit yang dihadapinya saat ini. Di mana tidak ada satu partai pun yang mau secara terbuka mendukungnya selain partainya sendiri, Gerindra, dan PKS. Tetapi akhir-akhir ini PKS juga mulai goyah karena sikap dan ucapan Prabowo yang semakin hari semakin banyak ngawurnya.

Situasi yang Prabowo hadapi saat ini berbanding terbalik dengan apa yang dia alami dalam Pemilu Presiden 2014 lalu. Pada saat itu, Prabowo berhasil mendapatkan hampir semua dukungan partai politik, ia namakan dengan Koalisi Merah Putih. Golkar, PAN, PPP, PKS, PBB, dan Partai Demokrat (walaupun partai yang dibuat oleh SBY ini sekarang agak malu-malu menyebut dirinya bagian dari Koalisi Merah Putih). Koalisi gemuk ini berhasil merebut kursi di Senayan dengan 353 kursi.

Tetapi, situasi pemilihan presiden 2019 sangat berbanding terbalik dengan situasi tahun 2014. Prabowo, yang memiliki taring cukup tajam pada 2014, tidak memiliki lagi taringnya di tahun 2019. Partai-partai yang dulu loyal kepadanya kini beralih mendukung Jokowi. Prestasi besar yang Jokowi capai selama kurang dari empat tahun telah menghasilkan partai-partai yang sebelumnya mendukung Prabowo kini berbalik mendukungnya.

Untuk semua kekhawatiran yang dialami Prabowo, ia kemudian mengeluarkan berbagai pernyataan pesimistis, ilusi, delusi dan ucapan kontroversial. Dia sengaja menjual masalah tak berdasar untuk mencoba mendapatkan simpati dari masyarakat Indonesia. Alih-alih mendapat reaksi positif dari publik, sebaliknya, Prabowo malah dianggap ‘stres’ dan tidak pantas untuk menjadi pemimpin di Indonesia. Bagaimanapun juga, Prabowo adalah simbol kepengecutan, kengawuran, dan keblingeran. Ucapannya yang selalu kontroversial sekali lagi membuktikan bahwa Prabowo memang tidak layak untuk menjadi pemimpin di negeri ini.

Post a Comment

0 Comments