Apa kabar NU di Pandeglang?

www.inamoney.com

Saya banyak mengamati kiai-kiai di Pandeglang yang besar karena NU dan berjuang mati-matian demi NU, tetapi anak cucunya malah bereinkarnasi menjadi wahabi, Muhammadiah, liberalis, Ahmadiah, HTI, dan kelompok-kelompok begundal yang cenderung memusuhi NU itu sendiri. Ini karena kurangnya pendidikan akidah terutama yang berhubungan dengan ke-NUan.

Islam itu bukan baju, bukan speaker, bukan golok, tetapi islam adalah sebuah pemikiran, diskusi, idealis, kebijaksanaan, dan metodologi berpikir yang benar. Santri-santri di Pandeglang masih meyakini, yang menggunakan jubah dan peci adalah islam yang sejati, lalu dengan serampangan mendoktrin pesantren sebagai jembatan ke surga, sedangkan SMP SMA diklaim pasti ke neraka, ini corak pemikiran yang berbahaya bagi bangsa dan islam itu sendiri.

Islam tidak melulu soal Allah, Islam seharusnya bisa berperan sebagai relasi social, budaya, dan solusi yang bisa bertransformasi dengan perkembangan jaman yang bersifat pararel tetapi tidak menghilangkan nilai terbaiknya.

Saya banyak bertemu dengan para cendekiawan muslim di Pandeglang, tetapi mereka lebih suka bersembunyi dan ambigu terhadap problematika umat islam kontemporer, ini sedikit mengecewakan sebenarnya, sebab orang-orang bodoh diluar sana lebih banyak berteriak, lebih kencang bertindak dan ngawur dalam menafsirkan agama.

Solusi satu-satunya untuk masalah kebangsaan dan islam regional di Pandeglang hanyalah memperbanyak kader NU, mengajarkan diskursus teologi tentang ke-NUan. Sebab hanya NU satu-satunya wadah paling simpel dan efisien sebagai penghubung antar ulama, antar negara, dan masyarakat sipil. NU berbeda dengan ormas 'sebelah' yang cenderung berontak pada pemerintah.

Apa kabar NU di Pandeglang? sudahkah bangga menjadi warga NU ?

Post a Comment

0 Comments