3 Prinsip dan Karakteristik Ummatan Wasathan, Umat yang Dibanggakan Nabi Muhammad Saw


“Dan demikian (pula) Kami menjadikan kamu (umat Islam) ummatan  wasathan (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rasul (Muhammad) menjadi  saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. al-Baqarah/2: 143).

Dalam ayat diatas kita menjumpai redaksi ayat yang berbunyi “ummatan wasathan”. Kata wasath berarti jalan tengah, seimbang, sedang, adil, antara dua kutub atau dua ekstrem (kanan dan kiri), tidak condong ke kiri maupun condong ke kanan.

Ummatan wasathan adalah sekelompok umat yang berperilaku, dan berpikir moderat, adil, dan proporsional antara kepentingan material dan spiritual, keilahian dan kemanusiaan, masa lalu dan masa depan, akal dan wahyu, baik dalam individu maupun saat berkelompok, masuk akal dan idealisme, dan selalu mempunyai keseimbangan dalam mengolah ibadah baik yang berorientasi duniawi maupun ukhrawi.

Orang-orang yang mengambil jalan “wasathan” berarti tidak pelit tetapi juga tidak boros, tidak berlebihan juga tidak kekurangan.

Semuanya dilakukan secara seimbang, proporsional, adil, tidak memihak, dan tidak halal. Menurut Ibnu Faris, wasath menunjukkan makna yang adil dan menengah.

Makna ini diinginkan oleh ayat 143 dari Surat al-Baqarah. Sedangkan menurut al-Zubaidi, wasath berarti yang paling penting (afdhal) dan pilihan. Demikian juga pendapat Ibn Manzhur dan Fairuzzabadi, wasath berarti yang paling adil (a'daluhu).

Ketika menafsirkan ayat Ummatan Wasathan, at-Tabari menafsirkannya sebagai udulan (orang yang adil) dan khiyar (pilihan).

Orang-orang pilihan adalah orang-orang yang adil. Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa makna dari ayat 143 al-Baqarah adalah al-khiyar wa al-ajwad (pilihan dan yang terbaik).

Dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Ahmad, ayat ini diturunkan terkait dengan kata-kata Nabi yang berarti: "Pada Hari Kebangkitan Nuh As. Akan dipanggil (Tuhan) kemudian bertanya:" Apakah Anda telah menyampaikan (wahyu)? Dia kemudian menjawab: ya, sudah. Umatnya kemudian dipanggil dan ditanya: "Apakah dia (Nuh) memberi tahu Anda?" Mereka menjawab: "Tidak ada pemberi peringatan datang kepada kita." Kemudian Nuh ditanya lagi, "Siapa yang memberi kesaksian kepadamu?" Dia menjawab: "Muhammad dan umatnya", lalu ayat itu turun.

Ada dua sifat utama yang melekat dalam ummatan wasathan, yaitu: (1) al-khairiyyah, semuanya berorientasi pada yang terbaik, efektifitas dan berkeadilan; (2) al-Bainiyyah, tengah, sedang, tidak ekstrem kanan dan tidak ekstrim kiri.

Hal ini antara lain dapat dipahami dari patokan ayat: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir; dan pembelanjaannya itu berada di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. al-Furqan/25: 67)

Menurut Ibn Taimiyah, Islam adalah agama moderat, jalan tengah. Muslim berada di tengah-tengah para Nabi dan Rasul, dan orang-orang benar selalu melakukan tindak prilaku yang tidak berlebihan.

Tidak seperti orang Nashrani, yang digambarkan seperti dalam ayat  “mereka itu menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan  mereka juga mempertuhankan Isa bin Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.” (QS. At-Taubah/9: 31)

Umat Islam juga orang-orang kelas menengah dari berbagai syariah yang ada. Islam tidak melarang yang halal, dan tidak membenarkan yang terlarang, seperti yang sering dilakukan oleh orang Yahudi.

Islam mendorong umatnya untuk menikah dan memiliki keluarga, sementara bagi para pendeta ini tidak diperbolehkan.

Islam memerintahkan para pengikutnya untuk sami'na wa atha'na kepada Nabi, tetapi orang-orang Yahudi menyangkal dan membunuh beberapa nabi yang diutus ditengah mereka.

Ummatan Wasathan adalah prototipe dari orang-orang yang memiliki dan memegang prinsip. Pertama, prinsipnya tidak melampaui batas (ghuluww), baik dalam sikap, berbicara, bertindak, termasuk ibadah.

Allah berfirman: “Katakanlah, hai Ahli kitab janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam beragama. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan umat manusia, dan mereka tersesat dari jalan yang benar.” (QS. al-Ma’idah/5: 77).

Kedua, “Umat wasathan” mempunyai prinsip tidak melakukan hal yang sia-sia, baik dalam kata maupun perbuatan. Allah berfirman: "... Dan orang-orang yang berpaling dari amal-amal yang tidak berguna" (Surat al-Mukminun: 3). Nabi bersabda: "Di antara tanda-tanda kebaikan Islamnya seseorang adalah bahwa ia mampu meninggalkan perbuatan sia-sia (yang tidak bermanfaat)." (HR. Muslim).

Ketiga, ummat wasathan memiliki prinsip selalu dalam al-Shirath al-Mustaqim (dengan cara yang benar dan lurus). Artinya, ummatan wasathan dituntut untuk selalu berada di jalur yang benar dan tepat (Islam) dengan selalu menaati syariatnya, mengikuti Alquran dan as-sunnah.

Dalam pandangan Ibnu Taimiyah, jalan yang benar dan lurus adalah puncak kesederhanaan karena berada di jalan yang benar berarti berada di tengah-tengah kebenaran, tidak terlalu menyimpang, atau ekstrem ke kiri maupun kanan.

Selain itu, Mekah, tempat kelahiran Islam, terbukti berada di tengah, titik fokus berada ditengah bumi. Islam bukanlah agama liberal, tidak sekuler, atau ekstrem dan radikal.

Islam diharapkan menjadi jalan tengah, orang-orang terbaik, Mekkah berada di tengah antara daerah Yahudi dan Kristen ( utara Mekah), tidak sekuler dan liberal (Barat), dan tidak seperti Hindu dan Budha (selatan, India), dan tidak seperti Konfusianisme dan Shintoisme. (Timur).

Jadi, ummatan wasathan adalah khaira ummah, orang-orang terbaik yang selalu menyerukan kebikan dan melarang kemunkaran, selalu membuat hidup mereka dalam keseimbangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, ummatan wasathan selalu menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wallahu'lam bish-shawab!

Post a Comment

0 Comments