Tolong Jaga Hati Umat


Sudah lama aku terdiam dan tidak ingin bicara politik, aku lebih suka memilih bicara soal makanan, duit, ekonomi bisnis atau apa saja yang penting bukan politik. Tetapi seorang murobbi (orang yang membimbing ruhani), tiba-tiba mengempleng hatiku. Jika kamu diam, kata beliau, maka umat akan lebih banyak tersesat. Dulu aku lebih memilih tetap diam, karena untuk menjaga hati, bagiku mengurusi hati itu lebih penting ketimbang mengurusi perkoro politik. Tetapi apa yang kemudian terjadi tatkala kita hanya bisa diam? banyak orang yang semakin kesini semakin ngaco ideologi yang dianutnya. Saya miris dan hampir menangis, melihat salah satu kiai besar di Pandeglang, yang sekarang membebek buta terhadap ormas FPI. Mungkin bagi pembaca di sini ada yang menganut FPI, tapi aku sakjane ora masalah. FPI dan NU itu yo podo bae bagiku. kita sama-sama solat dan mengaji, kita sama-sama ngariung (tahlilan) kita sama-sama makan berkat, makan oncom, makan tahu makan sayur asyem. tetapi aku menjadi sangat miris sebab si kiai itu menentang ideologi gurunya dan .... ideologi yang dianut oleh orang tuanya. Guru mengajinya yang di Subang dan Karawang adalah pentolan besar PBNU dan dia menentangnya. Orang tuanya juga adalah pentolan pembesar NU di wilayah Pandeglang dan dia juga menentangnya, dia sekarang sudah berbaiat menjadi anggota FPI. Aku pernah menyinggung soal ini kepadanya. Menurut pengakuannya dia masuk ke FPI karena kasus Ahok dan ikut2an para Habaib dan para ulama. Dari dulu aku meyakini bahwa masalah Ahok itu bukan masalah agama, melainkan ,masalah politik, toh kalau kita bicara soal penistaan agama, rocky gerung juga menghina agama dengan mengatakan kitab suci itu fiktif, lalu mengapa anda tidak marah dan memerah telinga anda jika kitab suci anda dihina si gerung rocky? Jelas semenjak dulu kukatakan bahwa Ahok itu bukan soal agama tetapi soal Politik, tetapi dia sama sekali tetap tidak percaya, dan sekarang dia menjadi bebek yang mengikuti buta terhadap FPI. Bagiku sampai sekarang FPI dan NU itu sama saja, kita sama-sama solat dan ngariung bersama, hanya saja aku menjadi sangat miris tatkala dia menjelek-jelekan ormas NU yang menurutnya terlalu condong terhadap Ahok si kapir. Bagiku, NU tidak menjaga Ahok atau gereja, tetapi yang dijaga adalah kerukunan antar umat beragama, yang dijaga bukan kekapirannya tetapi kedamaian hidup di negara ini. Negara islam yang lain sudah hancur oleh perang saudara. Kita masih perang di Media social dan perang mulut di musholah dan mimbar mesjid, kalau tidak kita menjaga umat ini, besok mungkin akan terjadi perang senjata seperti di syuriah dan negara islam lainnya. Tahun lalu aku menjadi miris dan resah tatkala acara muludan di tetangga kampungku, mengundang salahsatu Habib dari Bogor, si Habib, diatas mimbar lebih banyak bicara soal politik dan menjelek2an Jokowi ketimbang bicara bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah. Aku miris dan sedih. Umat digiring terus menerus untuk diadu domba dan diajak perang emosi ketimbang diajak beribadah dan cara menyiapkan diri menghadapi kematian. Bagiku FPI dan NU itu sama saja, sumpah, sama saja. Tak ada bedanya antara aku dan kamu, juga dengan Muhammadiah atau ormas lainnya, takbirotul ihrom kita sama. Rukuk dan sujud kita sama, tetapi tolong jaga hati umat dan jaga emosi masyarakat agar tetap adem dan tidak saling berperang antar sesama. Dariku, al-faqir al-doif yang memintamu untuk tetap tenang.

Post a Comment

0 Comments