Perbedaan Antara Islam dan Sufisme, Musik dan Tarian


Islam adalah agama dogmatis dan monoteistik yang didirikan oleh Nabi Muhammad sekitar 1400 tahun yang lalu, atas dasar wahyu Allah, yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran. Islam adalah cara hidup yang dipaksakan secara ketat sesuai dengan perintah Quran dan Hadis, bahwa setiap orang wajib percaya kepada perintah Islam. Islam percaya hanya ada satu Tuhan dan itu adalah Allah dan tidak ada Tuhan selainnya. Menurut Islam tujuan hidup harus sesuai dengan Quran dan Hadis.

Sufisme, di sisi lain adalah dimensi spiritual dari Penyatuan antara Allah-manusia. Beberapa ahli agama dan spiritualitas percaya bahwa Sufisme adalah sebuah konsep mistis yang mendahului sejarah, jauh sebelum agama terorganisir muncul. Dikatakan bahwa ide tasawuf telah diungkapkan oleh para pertapa Hindu dan Kristen dan kemudian mempengaruhi Islam. Namun demikianSufi sejatinya lebih banyak berkembang dalam struktur dan praktik-praktik Islam. Beberapa percaya bahwa Sufisme di kalangan Muslim berkembang karena kekecewaan terhadap gaya hidup Muslim yang materialistis dan mewah, terutama Khilafah Umayyah. Menurut Ali Hujwiri, Ali Talib adalah pendiri Sufisme dalam Islam. Banyak sarjana Islam dan tasawuf percaya bahwa tasawuf adalah ilmu tentang internalisasi Islam yang mencakup praktik-praktik seperti pengajian, meditasi, dan kegiatan ritual lainnya. Hal ini juga diklaim oleh beberapa sarjana bahwa Sufisme berarti berusaha untuk menjadi persis seperti Muhammad.

Perbedaan 

Perbedaan mendasar antara Islam dan Sufisme berputar di sekitar jalan mencapai penyatuan dengan Allah. Menurut Islam mainstream ortodoks, itu adalah ajaran Al-Quran dari Muhammad, Hukum Syariah, dan Hadis yang mengatur pedoman untuk diikuti secara ketat oleh umat Islam untuk mencapai kedekatan abadi dengan Allah.

Perbedaan antara Sufisme Islam & Sufisme lainnya
Sufisme yang bukan Islam kurang memberikan penekanan pada Hadis dan Syariah, dan berfokus pada praktik mistis dan ritualistik saja.

Pentingnya Syariah

Muslim ortodoks tradisional percaya bahwa melayani Allah tanpa kepatuhan pada hukum Syariah Islam adalah tidak mungkin. Blok Muslim utama ini percaya bahwa Syariah adalah dasar utama tidak hanya dalam konteks atau keyakinan agama, tetapi merupakan akar dari politik identitas Islam. Pentingnya Syariah dalam jiwa kolektif Muslim ortodoks begitu banyak sehingga telah menjadi titik ketidakpuasan dalam hal pemerintahan negara di banyak pengaturan demokratis. Muslim arus utama percaya bahwa sistem hukum selain Syariah adalah anti-Islam.

Sedangkan pengikut tasawuf percaya bahwa ketaatan pada Syariah bukanlah jaminan untuk mencapai penyatuan dengan Allah. Mereka percaya bahwa praktik ritual progresif dan meditasi akan membawa seorang Muslim pada Allah. Mereka juga tidak percaya bahwa Syariah harus menjadi satu-satunya sistem hukum bagi umat Islam.

Kapan Mencapai Allah

Mainstream Muslim percaya bahwa dengan mengikuti Quran dan Hadis, seorang Muslim dapat mencapai kedekatan ilahi di surga setelah kematian. Hadis mengumumkan hadiah tak ternilai untuk para pengikut yang ketat dalam Quran dan Hadis di surga setelah kematian. Orang-orang percaya tasawuf memiliki pandangan lain bahwa melalui meditasi dan praktik ritual, seorang Muslim tidak perlu menunggu kematian, melainkan dapat memeluk kedekatan ilahi dengan Tuhan di dalam kehidupan ini sendiri.

Perbedaan Dimensi antara Islam & Sufisme
Islam ortodoks lebih mementingkan kepatuhan pada hukum syariah dan karena itu bersifat eksoteris dalam dimensi. Sufisme, meskipun patuh pada syariah, di sisi lain mereka lebih menekankan pada spiritualitas dan juga memiliki dimensi esoterik.

Materialistik

Islam mainstream tidak melarang kesenangan materialistik dan kemewahan duniawi, meskipun ada instruksi dalam Al-Qur'an untuk memberikan hibah dan sumbangan kepada anggota masyarakat yang lebih miskin. Mereka yang percaya pada Sufisme secara sukarela menerima kemiskinan dan selibat dalam keadaan faqir, menahan diri dari segala jenis kesenangan duniawi.

Spiritualitas

Mainstream Islam lebih bersekutu dengan perintah keras wajib haram halal meskipun tidak memiliki nilai spiritual. Sedangkan dalam konsep Sufisme, para sufi mendasari pada pencarian makna spiritual yang lebih dalam dari Islam. Sufisme mengisi kekosongan spiritual yang diciptakan oleh sistem agama Islam sendiri. Menurut filsuf sufi terkenal Baba Garib Shah, hukum Islam tidak kondusif untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan, tetapi Sufismelah yang mengarah pada penyatuan Tuhan.

Musik dan Tari

Dalam Islam arus utama, musik jenis apa pun selain lantunan ayat-ayat Alquran tidak diizinkan. Sedangkan dalam dunia Sufisme, tidak hanya mengambil jalan untuk musik dalam memuji Tuhan, tetapi juga memperkenalkan tarian di bidang pemujaan kepada Allah.

Post a Comment

0 Comments