Kata-Kata Cak Nun Tentang Rokok, Bungkus Dji Sam Su dan Kelakarnya Tentang Muhammadiah yang Merokok


Dalam ceramahnya, Cak Nun menjawab persoalan rokok ini, beliau tidak menjawab secara spesifik, tetapi lebih menekankan pada pentingnya melakukan riset mengenai tembakau atau cengkeh yang menjadi bahan rokok.

Salah satu peserta pengajian bertanya kepada Cak Nun, bahwa di setiap bungkus rokok terdapat gambar orang yang terkena kanker, itu menunjukan bahwa rokok adalah haram. Tapi Cak nun berkilah, apakah gambar ini dari pabrik rokok? ternyata menurut Cak Nun, gambar kanker itu merupakan gambar ‘paksaan’ dari departemen kesehatan, sedangkan dalam sejarahnya, menurut Cak Nun, DepKes itu merupakan program dari WHO (World Health Organization) Organisasi Kesehatan Dunia, Tentunya badan organisasi kesehatan ini berperang di dalam perdagangan internasional dengan melawan perusahaan nikotin, sehingga WHO ‘memaksa’ semua bungkus rokok wajib terdapat gambar-gambar berpenyakit.

Cak Nun juga melanjutkan bahwa dirinya sudah tidak mau lagi berdebat soal rokok ini haram atau makruh, toh banyak ulama yang mempunyai pendapat berbeda-beda. “Kalau anda mau merokok monggo kalau tidak merokok pun silakan ini hanya persoalan hak asasi manusia saja yang terpenting kamu mengerti tentang kesehatan dirimu saja”

“Maksud saya begini, biarlah rokok ini menjadi tanggung jawab NU saja, bagaimanapun orang Muhammadiah tentu saja tetap kekeuh dengan pendapat mengharamkan rokok.

Saya ini, kata Cak Nun, sangat mengerti kapan harus makan dan kapan tidak makan, saya juga mengerti dan merasa aneh sebagaimana hampir setiap malam saya duduk begini Sampai Subuh dan tidak terkena asam urat dan lain sebagainya.

Kehidupan manusia di dunia itu beraneka ragam bentuknya, ada orang yang makan kerikil saja tidak masalah, ada orang makan beling juga tidak masalah, tidak semua manusia itu seperti anda yang makan nasi. Manusia juga ada macam-macam.

Bungkus Rokok Dji Sam Su

Coba Anda lihat bungkus rokok Dji Sam Su, kata Cak Nun kepada jamaah maiyyah, di sana kalau anda teliti, yang menyarankan membuat rokok Dji Sam Su adalah orang NU, Yakni Syaikhona Kholil Bangkalan, gurunya Kyai Haji Hasyim Asy'ari juga gurunya Syekh Ahmad Dahlan, hanya saja beliau memberi syarat, bahwa rokok tersebut harus menggunakan tembakau dari Madura. Coba anda baca lagi sejarahnya dan di gambar tersebut kita menemukan bintang sembilan, itu sama dengan NU yang memiliki bintang sembilan pada label dan logonya.

Selain Bintang, disana kita juga menemukan angka 2 3 4, itu maksudnya apa? maksudnya 2 itu adalah solat subuh, sedangkan 3 itu salat Maghrib dan 4 adalah dzuhur Ashar Isya. Di bawahnya itu ada tulisan ‘fatsal 5' itu adalah rukun Islam. Pancasila yang poinnya berjumlah 5.

Persoalan rokok didalam tubuh Muhammadiyah sendiri terbagi dua, ada yang mengharamkan merokok, itu berarti dia pengikut buya Syafi’i Ma’arif, jika ada orang Muhammadiah yang merokok maka dia pengikutnya Kiai Malik Fajar.

Sumber video selengkapnya di sini

Post a Comment

0 Comments