Gus Mus dan Kenangannya Tentang Lirboyo

Artikel ini merupakan hasil wawancara dengan Gusmus pada sekitar tahun 2010.
***********

Gus Mus Berkata:
Pada sekitar tahun 1958-an saya mulai menimba ilmu di Lirboyo. Satu setengah hingga dua tahun lamanya, saya itu nyantri disana. Pada waktu itu usia saya masih sangat muda. Setelah saya keluar dari SR (Sekolah Rakyat) yang sekarang setingkat SD, saya langsung kesana tanpa memasuki jenjang SMP terlebih dulu. Jadi, ketika kawan-kawan saya memasuki jenjang SMP, ketika itulah saya ke Lirboyo. Oleh karenanya, ketika telah nyantri di Lirboyo, saya masih belum bisa nulis arab. Sebab sebelumnya saya menempuh jenjang pendidikan SR, saya tidak pernah mondok kemana-mana melainkan langsung nyantri ke sana.
Awal mula nyantri ke Lirboyo, saya nyusul kakak saya Kyai Kholil Bisri yang memang sebelumnya sudah disana. Jadi kakak saya itu lebih lama sedikit dibanding saya. ketika saya nyusul itu, kira-kira dia sampai tiga tahun lamanya menimba ilmu di Lirboyo. Berhubung belum pernah mondok sama sekali akibatnya pada waktu itu saya ndak bisa nulis arab. Setelahnya saya disana memasuki kelas tiga Ibtida’iyyah itu, saya nulisnya masih pakai latin semua. I’lal dan seluruh pelajaran yang diajarkan itu saya tulis semuanya dengan ejaan latin. Karena itu, banyak yang tertawa kalau saya sedang meng-I’lal ”As-Sakin Idza Hurrika, Hurrika Bil Kasri”. Sebab tidak Hurrika seperti bunyi arabnya tapi saya baca Hurrika karena tulisannya pakai ”Ha”. Hehe (tertawa). Aneh juga saya disana itu, sebab sampai naik ke kelas empat-pun tetap saja saya masih ndak bisa nulis arab.
Saya terkenang sebab pertama kali belajar nulis arab yah di Lirboyo itu. Dulu, di Lirboyo itu kalau santri-santri dari berbagai daerah seperti santri Cirebon dan santri dari masa saja pada ngumpul mau mengadakan perkumpulan, musyawarah atau apa begitu, biasanya selalu bikin iklan terlebih dahulu. Santri dari Cirebon bikin iklan sendiri, santri asal Banyuwangi juga bikin sendiri, sehingga iklan-iklan yang mereka bikin itu seperti sebuah pameran, jadi baGus-baGusan tulisan. piranti modern pada waktu itu belum seperti sekarang, jangankan komputer, listrik saja pada waktu itu ndak ada. Nah, saya bikin iklan itu mula-mula saya gambar tulisannya dulu, disana saya belajar bentuk tulisan yang baik-baik.
  Dulu saya dekatnya dengan Gus Miek dari ploso. Beliau itu pernah nyantri di Lirboyo, hanya saja beliau itu kadang muncul, kadang tidak, sebab rumahnya dekat, di daerah ploso. Saya itu sama kakak saya bergaulnya dengan Gus Miek. Gus miek itu khan orangnya gak pakai aturan Lirboyo, dilarang nonton film kalau bagi Gus miek dan CS-nya yah ndak ada ta’zir, jadi kalau saya ikut Gus Miek itu enaknya bisa nonton film tanpa takjiran, bisa kluyuran kemana-mana. Hehe (tertawa) begitulah enaknya.
Lirboyo dulu pada waktu saya masih disana, ndak ada yang namanya listrik, Radio, Transistor apalagi HP dan segala macem tekhnologi. Jadi, Masya Allah, kondisi jalan menuju Lirboyo pada waktu itu belum diaspal. Jika  jam 8 malam sudah nggak boleh keluar sementara banyak sekali bakul-bakul dibalik tembok, namun demikian kalau pas saya lagi punya duwit. Nah, kita naik ke atas lalu pesen sate sebab mumpung lagi punya duwit. Hehe (tertawa).
Semua kenangan saya pas waktu mondok di Lirboyo tertuang dalam puisi ”Lirboyo Kaifal Hal”, sebab di sana sudah terekam semua kondisi Lirboyo zaman dahulu. Sebenarnya puisi itu saya buat sebagai nostalgia saya kepada Lirboyo, terinspirasi situasi Lirboyo tempo dulu yang masih dikepung pohon-pohon tebu, ndak ada Listrik, ndak ada majalah. Malah dulu bisa dikatakan bagi Lirboyo semuanya itu haram, hehe (tertawa). Madrasah-nya saja, pada waktu itu hanya berupa penerang petromak sedangkan gotakan-gotakan santri masih menggunakan penerang sentir-sentir kecil.
Dulu kamar saya di kamar MARS yang dihuni oleh santri dari Malang, Rembang, Semarang. Pernah pula kamar yang dua tingkat ini mengalami kebakaran, entahlah, saya sudah lupa apa penyebabnya. Sebab, dulu itu penerangnya pakai uplik bukan lampu seperti sekarang. Kalau tidak hati-hati, ketika uplik itu tumpah sedikit saja maka tumpahannya bisa menjalar dan apinya bisa menjadi besar.
Saat saya nyantri di sana bertepatan dengan musimnya rambut panjang, jadi masih bebas sekali. Dulu itu rambut panjang menjadi semacam trend. Bisa dikatakan, tren rambut panjang seperti itu menjadi kebanggaan. Kyai Idris saja waktu itu rambutnya panjang, Gus Miek juga panjang. Nah, saya sendiri rambutnya juga panjang, jadi masih kecil tapi rambutnya panjang-panjang. Beberapa waktu kemudian ayah saya khawatir akan masa depan saya, sebab saya ini nggak mau menghafal, malah kadang-kadang menghafalkan ijazah-ijazah jaduk segala, Beberapa waktu kemudian, saya ditarik oleh orang tua.

GUS MUS, DAN TEBU-TEBU LIRBOYO

Jadi, semua peristiwa masa kecil saya sewaktu di Lirboyo, tidak begitu saya rasakan sebagai sesuatu. Yah, senangnya anak se-umuran itu. Hanya, yang membuat saya merasa senang, di Lirboyo pada waktu itu sudah  banyak santri dari berbagai daerah. Meski terkungkung tidak boleh keluar kaya’ dipenjara begitu, tapi karena didalamnya banyak sekali teman-teman santri dari berbagai daerah, maka saya merasa senang sebab bisa bergaul dengan mereka. Akhirnya saya jadi tahu adatnya orang Jawa Barat, adatnya orang Jawa Timur-an, termasuk juga adat orang-orang Madura. Disamping saya juga bisa ngumpul bareng dengan mereka. Bahkan dengan bahasa Indonesia, akhirnya para santri bisa terlatih karena banyak kawan yang pada saat itu tidak bisa memahami bahasa daerah yang lainnya. lalu dipakailah Bahasa Indonesia itu.
Bagi saya, ada kesenangan tersendiri saat mau mandi nimba air dengan senggotnya yang besar. Kadang satu senggot air saja bisa untuk mandi. Hehe (tertawa). Masya Allah, jadi Lirboyo pada waktu itu terdapat sumur-sumur untuk mandi. Saya masih teringat kalau anak-anak kecil ndak kuat nimba atau ndak ada yang menimbakan, yah ndak jadi mandi dan akhirnya banyak juga yang gudiken, hehe (tertawa), Dan semua itu bagi saya sangatlah menyenangkan. Disamping itu, santri bisa belajar agar mandiri betul. Mau makan saja, harus masak sendiri dengan lauk sambal, kuluban. Dan sekali tempo dapat wesel mereka langsung pergi ke warung.
Yang paling asyik lagi ketika ikut Ro’an (kerja bakti), tapi untuk urusan ro’an tebu itu kita nggak ikut-ikut sebab sudah ada tukangnya sendiri. Jadi roa’nya itu seperti bongso tandur, dawud, ikut  membantu nanam padi dan segala macem. Sedangkan tebu-tebu di Lirboyo pada waktu itu sudah dikerjakan oleh tukang, termasuk nebang dan segala macemnya mereka yang mengerjakan. Hanya saja, nanti jika tiba masanya mendekati masa tebang, lha, itu baru kita nyuri. Hehe (tertawa)
Ada satu hal menarik, waktu itu saya dan kawan-kawan sedang berkumpul dan merencanakan mau ’ngambil’ tebu. Sebab saya dengar bahwa sebentar lagi tebu akan di tebang. Untuk itu bersama kawan-kawan, saya berencana mengambil beberapa lonjor tebu. Anak-anak yang nakal termasuk saya waktu itu sedang ngumpul tengah bersiap-siap. Nah, lokasi kamar Mars yang saya tempati itu khan dekat ndalemnya Mbah Marzuki. Dan ketika saya lewat, tiba-tiba saya dipangil oleh Mbah Marzuki.
”Gus, Gus, mriki ?” kata beliau yang denagan siapa saja selalu memakai bahasa kromo, kepada santrinya yang masih anak kecil sekalipun, beliau selalu berbahasa kromo. Ternyata beliau benar-benar memangil saya.
 ”Mriki-mriki, Gus ?”
Panggilan beliau tentu membuat saya kaget, sebab bersamaan saya mau ’nyolong’ tebu bersama kawan-kawan. Tahu-tahu saya di pangil lalu ditanya begini.
”Gus, sampean suka tebu..!” kontan saja, kagetnya bukan main, saya kringetan semua pada waktu itu. 
Begitu mendengar tawaran beliau seperti itu saya hanya diam. Sebab, sama sekali sebelumnya  saya tak menyangka  tiba-tiba saja beliau bertanya kepada saya seperti itu.
“Nanyanya kok pas sekali” pikir saya He he (tertawa).
Jadi saat saya dipanggil oleh beliu itu sendirian, sedangkan kawan-kawan yang tadinya mau ‘nyolong’ tebu menunggu saya dibelakang. Kata Mbah Marzuki kepada saya “Mriki Gus, jenengan doyan tebu tha”, Inilah pertanyaan yang membuat saya terdiam. Saking takutnya saya tidak bisa bergerak sama sekali. Beliau lalu menyuruh saya menunggu dan sebentar kemudian beliau keluar dari ndalemnya dengan memanggul se-onggok lonjor tebu. Beliau bilang :
“Niki, sampean kulo pilih-ake sing apik-apik, Gus..!” .
 Setelah tebu itu diberikan kepada saya, beliau lalu bilang :
“Niki dipun bagi sama kang-kang lainnya, yah”.
Setelah melihat hal itu, akhirnya saya dan kawan-kawan ndak jadi nyuri tebu. Hehe (tertawa).
Akhirnya saya jadi bertanya-tanya kira-kira siapa yah orang yang telah bocorin rencana itu, padahal saat itu beliau khan tidak tahu rencana saya dan kawan-kawan.
“Gimana beliau bisa tahu, kalau saya mau nyuri tebu”. Pikir saya.
Dimulai dari sanalah, kemudian saya mulai kepencut pengin sakti segala macem seperti Kyai Marzuki. Tapi jadinya malah nggak bisa terus di Lirboyo. Hanya  gara-gara kepingin sakti kaya kyainya. Hehe. (tertawa)
Kenyataanya, pada wkatu itu memang banyak santri yang terobsesi kepingin jadi orang sakti. Banyak santri yang saya temui melakukan amalan-amalan aneh dan wirid-wirid, seperti puasa mutih dan puasa lainnya. Malah kadang saya juga banyak diajari hal hal yang begituan. Hehe. (tertawa) meskipun Mbah Marzuki tidak pernah mengajari hal semacam itu.
Fenomena ini bermula dari santri-santri sendiri. Jadi, mereka saling tukar “ilmu kesaktian”, berhubung waktu itu jumlah santrinya sudah membludak. Maka santri dari Cirebon punya ilmu, dikasihkan sama yang lain, santri banyuwangi punya ilmu ini, misalnya, juga dikasihkan kepada yang lain. Jadi saling tukar ilmu. Bisa dikatakan “ilmu kesaktian” pada waktu itu sudah menjadi trend. Bertepatan juga dengan banyaknya komunis  pada waktu itu yang tinggalnya dikiri-kanan pesantren. Sedangkan komunis itu khan tidak suka santri. Jadi, saat ada acara mauludan dan hari-hari besar lainnya, selalu digelar atraksi pencak silat. Pada waktu itu banyak sekali yang meperagakan berbagai ilmu kanuragan, hingga pertunjukan debus segala, bahkan ada juga yang mampu melempar bongkahan batu besar. Tentu saja sebagai anak yang masih kecil___ otomatis kepengen juga punya ilmu begituan. Hehe (tertawa).

KE-AKRABAN GUS MUS KEPADA GUS AZIZ DAN GUS MIEK

Pada tahun 1958 Lirboyo sudah dihuni oleh ratusan santri, kalau ndak banyak, kemungkinan saya sendiri ndak bakalan krasan. Jumlahnya SEKITAR 1000 sampai 1500-an santri. Dan sudah terbagi menjadi dua tempat, ada yang dipondok HM dan ada yang di pondoknya mbah marzuki. Jadi Mbah Mahrus sudah punya sendiri hanya saja waktu itu masih belum begitu banyak santrinya.
Disana, pada waktu itu sekolah-nya masih di Masjid. Gedung-gedung dan segala macem itu belakangan sekali. Sedangkan lurah pondoknya adalah Pak Iskandar dari Denanyar jombang, ayahnya Muhaimin Iskandar. Ada juga Kyai Ali dari tulungagung, Allahu Yarhamu, yang kemudian menjadi seorang kyai besar.
Guru-guru yang masih terkesan, bahkan masih tetap berhubungan ketika saya sudah tidak disana adalah kyai Ali Tulungagung, kyai Iskandar yang dulu menjadi lurah pondok Lirboyo. Ada juga kyai khosim, dan kebetulan yang waktu itu menjadi ustazd-ustadz diLirboyo belakangan menjadi kyai-kyai besar semua. Kyai Ali misalnya, saya pernah sowan beberapa kali ke beliau, ke Kyai Iskandar di Denanyar juga begitu.
Teman akrab saya sewaktu disana adalah Kyai Aziz Mansyur dari Pacul Gowang. Dia sangat cocok bergaul dengan saya, sering dia datang ke Lirboyo sebab kakaknya, Gus War pada waktu itu sudah di Lirboyo. Saya teringat ketika dia datang terakhir kalinya, waktu itu dia belum mondok, lantas bilang kepada saya :
 ”Tahun depan saya akan mondok di Lirboyo, Insya Allah nanti kita sama-sama”
Namun ternyata tahun berikutnya malah saya yang ndak jadi dateng, kemudian Gus Maksum juga sudah mulai ke Lirboyo tapi saya sudah ndak nyantri di sana. Jadi tahun dimana Gus Aziz dan Gus makshum mulai menimba ilmu di Lirboyo, bertepatan dengan tahun dimana saya keluar dari Lirboyo. Hanya saja, sewaktu saya nyantri di sana, sering saya ketemu ketika beliau main ke Lirboyo.
Jadi, waktu saya disana sudah zamannya mbah Marzuki yang ngurusin pondok barat. sedangkan Mbah Mahrus sudah mendirikan pondok HM itu. Sebelum saya ke Lirboyo, dulunya ada Kyai Maemun (sarang), kyai Dimyati (kaliwungu). Seingat saya pada waktu disana Mbah Maksum masih belum begitu menonjol. Yang masih saya ingat itu Gus Idris, Gus Toha dan Gus Miek. Sebab Gus Miek itu sering mengajak saya main kerumahnya, bahkan pakaian kita seragam, sama-sama tidak pakai baju. Jadi, mulai dari Lirboyo ke Ploso boncengan sepeda sama-sama nggak pake’ baju. Hehe (tertawa)
Barangkali itulah beberapa hal yang menyebabkan ayah saya khawatir. Mungkin beliau takut kalau saya jadi “wali”. Beliau pernah bilang begini “wah, kalau diteruskan begini, jadi wali kamu” hehe (tertawa). Maka kepada saya sering teman-teman seniman pada bertanya “sampean kenal Gus Miek?” saya jawab “bukan kenal lagi, tapi satu perguruan waktu masih sama-sama nyantri di Lirboyo” hanya bedanya kalau saya itu drop out duluan. Hehe (tertawa)


“ISTIMEWANYA SHALAWAT MBAH MAHRUS”

Sebelum menimba ilmu di Lirboyo, Kyai Mahrus itu pernah mondok di daerah sini (Rembang), tepatnya di Kasingan berguru kepada Kyai Khalil, Mbah saya. Meski Kyai Mahrus itu putra-putranya sudah jadi kyai semua, tapi tetap saja beliau masih suka mondok kemana-mana. Beliau lama sekali mondok di daerah sini (kasingan), entah tepatnya tahun berapa saya sudah lupa, mungkin sekitar tahun 1938-1939-an. Jadi lumayan lama beliau itu nyantri disini, dan beliau pernah pula menjadi seorang jagoan. Hehe (tertawa)
Saya tidak tahu berapa lama beliau mondok di kasingan. Hanya, yang saya tahu beliau di daerah kasingan menjadi sosok kyai yang paling banyak dikenal orang. Sebab beliau pernah ngobrak-ngabrik tontonan-nya orang Cina. Pada suatu hari, mereka menggelar pertunjukan sandiwara di klenteng. didalamnya itu yang dijadikan lakon tentang Mbah Kyai Hasyim Asy’ari. Tentu saja ulah mereka membuat Mbah Mahrus berang. Beliau marah lalu meng-obrak-abrik hingga membuat orang-orang cina lari tungang langang ketakutan. Saking takutnya, pintu-pintu rumah mereka di kunci. Kyai Mahrus mengancam :
 “Pokoknya kalau saya pulang ke kasingan, bertemu dengan orang Cina, maka akan saya bunuh semua”. Mendengar ancaman itu banyak orang-orang Cina pada waktu itu yang bersembunyi ketakutan.
Kepada Kyai Mahrus itu yang terkesan bagi saya adalah keistimewaan sholawatnya, ketika sudah tidak di Lirboyo lagi, sangat sering saya itu kesana. Bahkan kalau saya tidak kesana, beliau sendiri yang datang kesini, sebab disini (Rembang) itu bagi beliau adalah almamaternya. Dan ketika berkunjung kesini mesti ke tempat ayah saya, sebab dia sudah kenal sejak di kasingan. Jadi erat sekali hubungan kyai Mahrus itu dengan keluarga kami, hal itu bermula sebab pernah sama-sama di kasingan sebelumnya. Kepada ibu saya itu ibaratnya sudah seperti saudara sendiri.
Sebenarnya saya itu banyak di beri ijazah oleh beliau, tapi yang saya amalkan cuma shalawatnya saja, karena ijazah yang lain-lain itu saya anggap sulit sebab ada puasanya segala. Hehe (tertawa). Saya itu lumayan nakal, ketika saya mendengar beliau pernah menjadi jagoan di Rembang. Pernah sutau hari saya membuka ingatan beliau, saya tanya begini :
“Riyen tirose nate dadi jagoan”
“Iyo, aku biyen menangan” jawab beliau.
 “Rahasiane nopo niku, kulo mbok dipun Ijasahi” pinta saya kepada beliau.
 Mendengar permintaan saya itu, beliau memberi ijasah lalu bilang :
“iki…! Tapi nggak entok di tulis, lek kowe apal berarti jodo lek ora apal yo nggak jodo”
Padahal kyai Mahrus itu khan agak groyok ketika berbicara. Jadi ya sulit bagi saya ngapalkan. Saya sebenarnya hafal. tapi akhirnya ndak berani mengamalkan. Dan yang lebih menarik lagi bagi saya adalah keistimewaan shalawatnya. Pada suatu hari, Ketika saya datang kepada beliau, saya melihat ada bangunan yang berbeda dari sebelumnya. Saya heran sebab beliau itu ketika “bangun” cepet sekali.
“Niki winginane dereng wonten lho, sebulan yang lalu belum ada, sakniki kok sampun wonten”
Dengan enteng beliau menjawab
“OO kuwi pitungatus seket”, Penasaran menyelimuti pikiran saya setelah mendengar jawaban beliau seperti itu, lalu saya perjelas lagi pertanyaannya :
“750.000 rupiah !
Beliau lalu menjawab jika pembangunan yang baru selesai itu berbekal 750.000 bacaan shalawat. Jadi shalawat Kyai Mahrus itu istimewanya bisa dibaca terus meskipun sambil ngomong. Ketika beliau diam mulutnya selalu bergerak-gerak melantunkan shalawat. Ketika sedang mendengarkan orang lain, beliau juga membaca shalawat dan ketika menjawab tentu saja beliau menjawab hanya beliau mampu menjaga shalawatnya. Bisa dikatakan, meski sambil omong-omongan bgitu, beliau selalu bisa bershalawat. Itulah luar biasanya shalawat beliau.

Kyai Kholil Kasingan Rembang

Jadi, seperti halnya kyai Mahrus Aly, kyai Hamid Pasuruan dan Kyai Bisri Syamsuri dalam petualangan ilmunya itu pernah berguru kepada Kyai Khalil. Dalam sejarahnya, Kyai Kholil yang di kasingan itu memang disebut-sebut sebagai “Imam Sibawehnya” tanah Jawa. Beliau seorang yang ahli dalam bidang Nahwu. Bisa dikatakan bahwa pada waktu itu ada “Kholilaini”, pertama kyai Kholil Bangkalan yang  menjadi kyai-nya tanah jawa. Dan kedua adalah kyai Kholil (kasingan).
Jadi, kyai Kholil (kasingan) itu mempunyai menantu kyai-kyai semua, seperti Kyai Abdullah Zaini, kyai khamzawi dan kyai Bisri Mustofa. Hanya saja para menantunya itu di kemudian hari pulang ke rumahnya masing-masing. kyai Abdullah zaini pulang ke demak, disana punya Pondok Sendiri lalu kyai khamzawi pulang ke Kauman, sedangkan kyai Bisri kembali kesini (Rembang) sementara Kyai Mahrus menuju Lirboyo, Kyai Hamid ke Pasuruan dan kyai Bisri Syamsuri ke Denanyar dan banyak kyai-kyai lain yang pernah berguru kepada Kyai Kholil kasingan.
Makanya, kalau bahasanya sekarang, Kyai Kholil Senior itu adalah yang di Bangkalan, Madura. sedangkan Kyai Kholil junior yang ada di kasingan dan masih satu kurun dengan Mbah Kyai Hasyim Asy’ari. Beliau bernama lengkap Ahmad Kholil Bin Harun.
Dalam sejarahnya, setelah kyai Dimyati Termas wafat, maka banyak kyai-kyai besar, qori’-qori’ itu menimba ilmu ke Kasingan semua. Termasuk Kyai Hamid, Kyai Wahid Hasyim putranya Kyai Hasyim Asy’ari. Termasuk juga ayah saya, beliau pernah pula di Kasingan bahkan disuruh oleh kyai Kholil ke Tebu Ireng untuk mengajar di sana.
Tentang petualangan kyai Kholil itu pernah nyantri di Bangkalan saya tidak tahu persis, hanya saja beliau itu berasal dari Sarang. Karena itulah, antara kami dengan Kyai Maemun Zuber masih ada hubungan darah, beliau masih paman saya. Jadi Kyai Maemun itu manggil saya dengan sebutan “Lek”. Oleh sebab itu antara Sarang dan Madura itu juga masih ada keterkaitan. makanya di Sarang itu terdapat nama Sarang-Madura dan Sarang-Jawa.
Konon, nenek moyang kami itu juga berasal dari Madura. Jadi, putranya Kyai Harun ada yang bernama Kyai Kholil lalu menjadi seorang kyai besar di Rembang dan satunya lagi menjadi kyai besar di sarang.

Shalawat para Kyai

Dan kebetulan sama antara shalawatnya kyai Mahrus, shalawatnya kai marzuki, dan shalawatnya syuyukh-syuyukh yang lainnya. Ijasah semacam itulah yang akhirnya saya amalkan sedangkan yang lainya ndak, saya tidak pernah mengamalkan ijasah jaduk-jaduk itu.
Jadi dulu, saat saya masih disana, opini yang terbentuk dalam pikiran saya dan santri-santri pada waktu itu, bahwa selain alim, dua sosok kyai itu sama-sama jaduk, jadi opini umum di Lirboyo pada waktu itu, kyai Mahrus bisa silat diatas pohon tebu, sedangkan opini yang beredar tentang kyai marzuki pada waktu itu adalah kalau ada hujan, beliau itu ndak kehujanan. Jadi apa namanya, dua kyai ini mempunyai kesan tidak hanya sebagai orang alim, sebagai pendidik, tapi dua kyai ini juga menjadi orang sakti, makanya santrinya banyak yagn kepengen sakti. Malah ada yang kepengen saktinya saja, tapi tidak kepeingin alimnya, hehe(tertawa). Sebab kalau yang sebangsa sakti itu khan mudah, tinggal puasa mutih tujuh hari, sedangkan kalau kepingin pinter-pinter kaya’ beliau-beliau itu khan harus tenanan.
Model belajar kyai Mahrus dulu ketika mondok itu pakai sistem nadzar. Misalnya “saya tidak akan keluar kamar sebelum hafal alfiyyah”, saya tidak akan pakai baju, sebelum menguasai ini, semisal gitu. Dan beliau itu, kyai yang paling jelek tulisannya, jadi kalau tidak sama-sama kyai tidak akan bisa baca, jadi tulisan beliau itu kaya’ tulisan dokter. Hanya beliau punya tanda tangan paling cantik. Jadi saya tahu beliau itu tulisannya paling buruk, tapi tanda tangannya paling cantik. Hehe (tertawa). Berbicaranya-pun masih sangat kental logat Cirebon-nya, kebetulan juga asrama santri di HM pada waktu itu banyak dihuni santri yang berasal dari Cirebon. Sehingga komunikasi beliau sering mengunakan logat cirebonan. Saya suka, sebab beliau terbuka dengan siapa saja. Kepada anak muda, orang tua, beliau tidak pernah membedakan satu sama lain.
Waktu itu, saya khan masih sangat muda sekali, tapi kepada saya beliau itu suka guyon dan suka ngelakar, dan beliau waktu itu memang menjadi aktifis di kalangan NU, tapi pada waktu itu saya belum mengenalnya sebagai seorang aktifis NU. Baru kemudian saya tahu beliau menjadi aktifis, ketika saya sendiri juga aktif di NU. Jadi sebelum saya aktif, saya ndak tahu kyai Mahrus itu aktifisnya dimana. Setahu saya beliau adalah seorang kyai yang sibuk “nunggoni” para santrinya. Bahkan ketika sudah kyai, beliau itu masih saja suka mondok, puasanan kemana-mana. Bisa dikatakan seorang kyai yang paling suka mondok meskipun sudah punya anak.
Sebaliknya, kalau mbah marzuki itu di rumah saja. Jarang sekali beliau keluar. Pas lewat itu mesti lihat beliau ote-ote ndak pakai baju. Dan bagi saya beliau itu luar biasa, sama santri-santrinya dan anak sekecil saya yang pada waktu itu masih 12 tahun-an, tetap saja beliau itu boso (memakai bahasa jawa yang sangat halus). Beliau sangat sederhana, sangat tawadlu’ dan itu luar biasa sekali bagi saya sebab ingat betul ketika saya di pangil beliau lalu dengan bahasa kromo beliau berbicara kepada saya.
Yang sangat terkesan dengan kyai marzuki adalah kesederhanaannya, tawadlu’nya. Sedangkan kyai Mahrus itu seorang yang “enak” dengan siapa saja. termasuk kepada saya itu beliau “ceplas-ceplos” . hehe (tertawa). Dan kebanyakan ceramahnya masih kental dengan bahasa Cirebon-an, kadang campur bahasa Indonesia. Tapi yang paling banyak pakai bahasa cirebonan. Karena itu sebetulnya, orang lebih melihat ke-kyaian-nya dari pada ceramahnya. Berbeda dengan ayah saya yang memang seorang orator dan kalau ayah saya mempelajari pidato. Berlatih di depan kaca segala macem. Sekarang jarang sekali ada orang seperti itu, sebab para mubalig sekarang semuanya alamiyyah. Jadi pidato itu oleh ayah saya dipelajari bagaimana memahami psikologi masa dan semua tehnik-tehniknya, dan memang semenjak jaman jepang beliau itu mempelajari ilmu tabligh.

Kondisi PP Lirboyo Sewaktu Gus Mus Mondok

Di sekitar Lirboyo pada tahun 1958 itu banyak dikepung oleh komunitas PKI, tapi untungnya kyai-nya sakti semua, sehingga banyak PKI yang keder dibuatnya. Hehe (tertawa). Sehingga relatif tidak ada gangguan kegiatan belajar-mengajar waktu itu. Meski ada kejadian-kejadian serta barbagai ulah yang mereka perbuat tapi santri-santri tidak tahu-menahu sebab sudah di redam sejak dari awal.
Menurut pandangan saya, munculnya PKI itu akibat kemelaratan. Asalkan banyak kemelaratan maka Komunisme itu semakin laris. Sebab Komunisme terutama yang di Indonesia pada awalnya yang ditawarkan adalah “sama rata, sama rasa”. Ketika kondisi sebuah Negara jomplang, semisal disini ada orang yang sangat kaya, perwira-perwira, dan tentara itu banyak yang kaya sekali. Haji-haji kaya sekali, sementara ditempat lain rakyat miskin sekali, nah kondisi semacam ini gampang sekali di sulut provokasi oleh mereka. Mereka menggunakan istilah setan-setan desa, setan-setan kota. Bisa dikatakan pula jendral-jendral itu setan kota sedangkan haji-haji yang kaya itu setan desa. Nanti, dibagilah kekayaan-kekayaan mereka, yang kaya sama dengan yang kaya. Yang Mlarat juga sama-sama dengan yang mlarat. Itu khan menarik sekali. Jadi kalau sebuah Negara itu makmur, ya sudah, maka komunisme itu tidak laku.
Paham komunisme sebenarnya dari luar negri. Pokonya semua yang “isme-isme” itu datang dari luar. Termasuk juga “nasionalisme”, itu datangnya juga dari luar. Maka banyak PKI yang bertebaran di Lirboyo, biasanya kebanyakan dari kalangan petani yang tidak berkecukupan.
Di Indonesia sendiri paham ini memang di lindungi oleh bung karno. Beliau mempunyai prinsip bahwa di Negara ini terdiri dari orang-orang nasionalis, orang-orang agama dan orang-orang komunis, dan semua itu oleh Soekarno ingin dilindungi dalam sebuah wadah yang disebut “NASAKOM” dan didalamnya adalah kalangan Nasionalis, agama dan komunis. Oleh karena itu, dulu ketiga golongan ini berkelahi terus, sebab ketig-tigaanya mempunyai under grouw semua. Nasionalis itu TNI yang mempunyai pemuda Demokrat, Komunis punya PKI, pemudanya bernama “pemuda rakyat”. Sedangkan kalangan agama itu punya ANSOR dan lain sebagainya. Nah, bung Karna sebenarnya ingin menyatyukan semuanya. Hanya saja ada dua kelompok yang tidak mau disatukan. Terumatama yang paling dimusuhi oleh komunis adalah kalangan tentara. Namun berhubung tentara punya banyak senjata akhirnya menang tentaranya.

Kesan dan komentar

Pada waktu itu mbah marzuki ngajinya kitab ihya’. Saya ndak berani ikut, sebab itu orang-orng gede semua. Termasuk ustadz-ustadz saya. Saya ndak berani ikut sebab masih kecil, jadi saya Cuma melihat saja malah kadang sambil tidur-tduran, saya ndak berani ikut. Hehe (tertawa).
Jika hari selasa dan jumat disini (Rembang) ngajinya juga libur, saya ndak pernah ngurus mengenai libur ngaji hari selasa, sebab mulai dari dulu sudah begitu, hehe (tertawa). Barangkali juga alasannya kalau hari senin merupakan hari kelahiran kanjeng rosul sedangkan jum’atnya termasuk hari “sayyidul ayyam”.
Menurut saya pondok Lirboyo bisa bertahan bahkan besar seperti sekarang ini, sebab generasi selanjutnya masih meneruskan pendahulunya. Selain itu juga pesantren Lirboyo telah tersistem dengan baik. Dan masih tetap eksis sebab ada MHM-nya. Mereka mempertahankan sistem dan tradisi pendahulunya. Sebab pada umumnya hal ini juga dipegang oleh pesantren-pesantren besar.
Pondok yang dikasingan tuntas sebab tidak ada yang meneruskan. Di tinggal Para menantunya sebab punya pondok sendiri-sendiri. Sementara putra-putranya perempuan semua, jadi gak bisa meneruskan.
Sedangkan di Lirboyo, dulu ada mbah yai manab, belakangnya ada mbah marzuki, mbah Mahrus Aly, untuk masa sekarang ada Gus Idris, Gus Imam, Gus Anwar, Gus an’im dan seterusnya. Jadi, Putra-putranya tinggal melanjutkan sistem Madrasah itu. Andaika disana tidak ada system madrasah yang sudah mapan. Belum tentu bisa bertahan hingga sekarang. Oleh karenanya menurut saya satu-satunya yang membikin sebuah pesantren tetap survivel antara lain adalah kemapanan lembaga pengajaran dan pendidikannya. Di tebu Ireng misalnya, sebenarnya disana sudah ndak ada kyai-nya, tapi bisa terus hidup kenapa, Karena disana ada lembaga-lembaga madrasahnya yang sudah berjalan bahkan sampai ke jenjang perguruan tingginya juga ada.
Pandangan saya tentang titik tekan pendidikan salaf itu ada dua hal yang di rancukan oleh orang-orang sekarang, yakni pendidikan dan pengajaran. Pendidikan itu tarbiyyah, sedangkan pengajaran lebih menitik beratkan “ta’lim”. Dulu, dipesantren itu yang ditekankan adalah tarbiyyahnya sementara ta’lim nomor sekian. Oleh Karenanya aktifitas pengajian-pengajian jaman kuno itu, bisa dikatakan tidak pake’ metode. Saat kyai-nya ngaji membacakan kitab, sementara santrinya mendengarken atau tidur-tiduran, itu bukan urusan. Jadi system bandongan memang seperti itu kemudian meningkat pada system sorogan. Namun, secara tarbiyyah, pendidikan Kyai tak lain adalah mengawasi santri selama dua puluh empat jam. Makanya santrinya ada yang mau nyolong tebu juga tahu, entahlah dari mana beliau mampu mengetahui masalah ini, pokoknya beliau tahu. Semuanya kyai bisa tahu, lalu ada ta’zir dan lainnya, ada segala macem yang kesemuannya itu merupakan pendidikan ala pesantren. Termasuk sikap kemandirian, pendidikan disiplin dan lain sebagainya. Sedangkan sistem pengajarannya diurus belakangan. Jadi ini adalah sebuah ta’lim yang bisa menunjang pesantren. Di Tebu Ireng misalnya, disana ada lembaga madrasah wahid hasyim yang didirikan oleh kyai wahid hasyim. Sedangkan di Lirboyo ada MHM yang sudah mapan baik kurikulumnya maupun silabusnya, sehingga pada zaman apa saja bisa tetap dilaksanakan dalam pengawasan Kyai-nya.
Jadi perbedaan MHM Lirboyo sekarang dengan dulu, menurut saya hanya terletak pada wawasan Kyai-nya saja. Tapi untuk lembaganya masih tetap. kalau para kyai-nya tidak mau meneruskan lembaga ini misalnya, berpendapat bahwa hal semacam itu tidak penting, nah itu sudah bubar. Sedangkan diLirboyo saya melihat masih tetap mempertahankan madrasahnya dengan sangat baik, dan memang sejak dulu yang menjadi kekuatan pesantren Lirboyo adalah MHM-nya. Jadi tidak berdampak kepada para santrinya andai saja kyai-nya berpolitik atau tidak, sebab madrasah MHM sudah tersistem, sudah terpola dengan baGus. Kalau tidak terpola dnegan baGus maka madrasah MHM akan terpengaruh. Misalnya di Lirboyo tidak ada MHM, maka bisa membuat guncang. Karena setiap pesantren itu, sebetulnya sangat tergantung kepada kyai-nya, kecuali pesantren yang memang sudah mempunyai sebuah system, dan telah terpola tadi. Sekarang khan masih banyak pesantren-pesantren besar yang seperti itu, misalnya Lirboyo, krapyak dan yang lainnya. Nah, itu andai para klyai-nya berpolitik-pun ndak urusan artinya masih banyak santrinya karena ada lembaga sekolah di dalamnya. Ada lagi pesantren sarang misalnya, itupun kyai-nya menjadi tokoh partai juga ndak ada urusan. Sebab disana sudah ada sekolah-nya.
Bahkan menurut saya, Lirboyo lebih maju karena lebih terbuka. Sekarang sudah mempunyai pondok putri yang aktifitasnya tidak kalah dengan pondok putra. Hubungan kepada masyarakatnya tidak seperti dulu, sebab dulu, Lirboyo itu terkesan tertutup seperti pulau terpencil, apalagi di kelilingi tembok pembatas yang membuat para santrinya tidak boleh keluar. Wah sekarang ini Lirboyo malah sudah masuk internet.
Dalam mengahadapi usia pesantren Lirboyo yag ke 100 tahun ini, menurut saya yang terpenting adalah pegangan kyai-nya, apa yang telah menjadi pegangan sehingga pesantren bisa tetap berjalan. Jadi “al muhafadlatu ‘ala qadimi shalih wal akhdu ‘ala jadidi al’aslah” kyainya tetap berpegang terhadap hal itu, kemudian mengambil hal-hal baru yang aslah. Tapi tetap mempertahankan al-qadim (hal-hal lama) yang masih relevan. Jadi seperti halnya pendidikan pesantren bukan hanya relevan, tapi tidak boleh di tinggalkan. Sebab ada juga pesantren itu yang “bertukar”. Pendidikan salaf yang seharusnya menjadi unggulan malah ditukar pengajarannya. Maksudnya mereka mengadopsi sebuah pengajaran yang bagus tapi tarbiyyahnya ditiadakan. Dia istimewa dalam bidang ta’lim, tapi tanpa tarbiyyah. Nah semacam ini akan sama nantinya dengan sekolah-sekolah formal. Jadi menurut saya yang paling ideal adalah tetap memertahankan tarbiyyah ‘ala pesantren dengan mengadopsi system pengajaran modern, dan terobosan semacam ini  telah di lakukan oleh Pondok Pesantren Lirboyo.
Satu hal yang perlu di waspadai lagi adalah “kegenitan” yang diakibatkan oleh sikap rendah diri. Saya melihat masih banyak terjadi di pesantren-pesantren, maksudnya karena terlalu rendah diri akhirya merasa tidak modern jika tidak menggunakan bahasa asing, bahasa barat. Misalnya bikin buku kumpulan bahtsul masa’il saja harus di namai “modofikasi” . menurut saya kenapa tidak memakai semisal judul “majmu’ah” atau “kumpulan” begitu saja. Itu karena dibawah sadar masih terdapat “sikap rendah diri”, biar atau kepingin agar di-arani modern, padahal ndak tahu bahwa sebenarnya mereka sendiri sudah modern, jadi menurut saya ndak perlu mengambil istilah-istilah dari luar yang di anggap lebih modern, sebab sekarang ini antara bahasa inggris dan bahasa arab di mata internasional sudah setaraf. Jadi ndak perlulah kalau memang kita sudah tahu bahasa arab masih menggunakan bahasa asing. Malah, ketika pidato-pun sering saya itu melihat anak-anak seneng menggunakan bahasa asing yang ada si, si-nya. He he he..(tertawa).
Nah, hal semacam itu menurut saya adalah kegenitan-kegenitan yang ndak perlu-lah. Dan menurut saya hal itu merupakan pengejawantahan sifat rendah diri yang  harus di hilangkan. Artinya kita semua harus berbangga dengan milik kita sendiri karena memang patut dibanggakan, sebab kalau kita tidak bangga, berarti itu menunjukan kalau kita masih “silau” dengan orang lain. Wallahu A’lam. 

Post a Comment

0 Comments