KH. Mahrus Ali, Detik-Detik Meninggalnya Pengasuh Pon-Pes Lirboyo

KH. Mahrus Aly sudah 47 tahun membina rumah tangga, disamping membina pesantren dan masyarakat. Semua itu tentu ada motivator yang mendampinginya, selain keuletan pribadinya yang tak kunjung putus asa, yang tak boleh di pandang sebelah mata adalah peran istrinya, Nyai Zaenab. Meski KH. Mahrus Ali bertamperamen keras dan statusnya sebagai suami, namun bila di hadapan sang istri KH. Mahrus selalu menghormatinya. Disamping nyai Zainab merupakan putri dari gurunya, sehingga dalam keadaan apapun keluarga ini selalu terlihat akrab penuh kedamaian.

Tidak heran saat sang istri jatuh sakit, KH. Mahrus Ali merasa prihatin. Lebih-Iebih penyakit yang diderita Ibu Nyai itu adalah tumor kandungan yang berkepanjangan. Selama enam tahun: penyakit itu diendapnya,  kemudian kurang lebih satu tahun sakitnya makin menjadi-jadi hingga sampai di operasi di Rumah Sakit Islam Surabaya.

Senin tepat 11 jumadil Akhir 1405 H/4 Maret 1985 M. Nyai Zainab di panggil sang maha kuasa, dari situlah KH. Mahrus sering sakit-sakitan hingga saat bertemu muka dengan ribuan santrinya dalam acara memberikan ijazah khizib Khirzul-Jausan di serambi masjid tanggal 3 Sya’ban 1405 H./22 April 1985. Di sela-sela fatwanya beliau selalu menyebut-nyebut nama istrinya “Kalau saya diberi umur panjang oleh Allah, semoga saya selalu diberi kesehatan. Kalau tidak, hari Seninlah yang saya harapkan. Sebab, Rasulullah dipanggil Allah pada hari Senin, begitu juga KH. Abdul Karim dan istri saya”. Permintaan Kyai Mahrus itu terkabul, tepat hari Ahad Sore malam Senin, 26 Mei 1985. Seakan-akan dalam pertemuan itu, KH. Mahrus pamit yang terakhir kalinya dengan para santri.

Penyakit yang diderita KH. Mahrus adalah kencing manis, paru-paru dan ginjal. gejala itu dirasakannya sejak minggu malam 12 Mei. Pagi harinya, putra-putranya membawa KH.Mahrus ke dokter dan tidak mengira jika harus di opname selama 3 hari di RS Bayangkara Kediri. karena kesehatannya semakin membaik, beliau minta pulang. Tak disangka pada hari Sabtu 18 Mei sekitar jam 02.00 dini hari, beliau dalam keadaan kritis sehingga Pangdam V Brawijaya mengharap agar Kyai Mahrus bisa dirawat di Surabaya. Keluarga segera mengadakan rapat, kemudian mengabulkan harapan Pangdam itu. Sebab pihak keluarga sadar bahwa Kyai Mahrus bukan lagi milik keluarga melainkan juga milik masyarakat. Apa lagi dalam rapat itu ada keterangan dari dokter bahwa Kyai Mahrus kemungkinan besar masih bisa di sembuhkan. Sabtu sore 18 Mei, Kyai Mahrus (Masih dalam keadaan koma) diterbangkan dari Kediri ke Surabaya dengan helikopter milik TNI AL diantar oleh para putra-putri beliau menuju RS. Dr Sutomo Surabaya. Helikopter ambulan terbesar di Indonesia itu dikirimkan atas restu Pangab Jenderal TNI LB Murdani, yang belum lama (waktu itu) berkunjung ke pesantren Lirboyo.

Meski masih tetap dalam keadaan kritis, Kyai Mahrus yang sudah 6 hari di RS Dr Sutomo sudah mulai sadar, jam 23,00 Kamis sudah bisa ménarik selimut yang melongsor ke bawah. Keadaan ini tentu saja amat menggembirakan dibanding saat Kyai Mahrus pertama kali tiba di RSUD Dr Sutomo. Sebab saat dibawa helikopter, Kyai mahrus sebenarnya masih tak sadar dengan nafas yang tersendat-sendat. Selain tak sadar, tekanan darahnya juga sangat rendah, sekitar 70. Padahal orang normal biasanya mencapai 120. Yang lebib mengkhawatirkan lagi Dr. Chaeruddin (dari juanda), Dr. Askandar Tjokropawiro, Dr. Sutomo dan Dr. Suhanjono Sudjono, yang saat itu merawat beliau dalam perjalanan, ternyata detak jantungnya mencapai 15 per menit. Padahal detak jantung seorang yang normal biasanya 80 per menit.

Sebagai pertolongan pertama, dokter memberi oksigen guna membantu beliau agar mudah bernafas dan memasang infus yang dijalankan dengan cepat. Berkat kerja tim dokter yang terdiri dari Dr. Karijadi Wirjoatmodjo (direktur RSUD Dr. Sutomo), Dr. Askandar Tjokropawiro, Dr. Tomy Suhattono, Dr. Eddy Rahardjo, Dr. Hanindhika dan Dr. Hardiono. Maka, keesokan harinya, masa kritis tersebut berhasil diatasi. Tekanan darahnya bisa dinormalkan kembali. Meski kesadaran beliau belum bisa dipulihkan. Ketidaksadaran Kyai Mahrus menurut Dr. Askandar disebabkan karena komplikasi kencing manisnya ditambah dengan kondsi otak pada usia tua. Sedang nafasnya yang tersengal itu tak lain karena elastisitas paru-paru yang berkurang akibat penyakit paru-paru kronis yang sudah lama diderita Kyai Mahrus. Selain keadaan koma yang disebabkan kencing manisi. Kondisi otak pada usia tua itulah yang sebenarnya menyebabkan pemulihan kesadaran beliau agak terhambat.


Salah satu peralatan yang digunakan untuk membantu Kyai Mahrus adalah kasur air. Kasur tersebut sangat berguna untuk membantu mempertahankan suhu badan sang Kyai. Bila suhu badannya turun, air yang mengaliri kasur itu dipanaskan. Sedang kalau suhu tubuhnya menurun maka air yang ada di dalam kasur itu didinginkan. Air dalam kasur itu mengalir dari satu sisi ke sisi lain, sehingga menimbulkan rasa denyut seperti kesemutan di seluruh tubuh pasien, Pengukuran suhu air dari kasur itu dilakukan melalui alat yang berbentuk kotak, digantungkan di sebuah papan di atas ranjang dimana kasur itu dipasang. Setiap saat, yang diawasi oleh dokter bukan hanya suhu badan Kyai saja. Tetapi juga. kadar gula darahnya, serta beberapa faktor metabolik lainnya. Dengan alat monitor khusus, kadar gula Kyai Mahrus setiap jam diukur. Selain dari darahnya, pengukuran juga dilakukan melalui reduksi air kencingnya yang selama dirawat di tampung dalam tabung plastik khusus.

Agar gula darahnya tetap terkontrol, maka dokter senantiasa menyuntikkan insulin (hormon yang berguna untuk mengatur kadar gula dalam darah). Bukan hanya itu, yang diperhatikan dokter, tekanan darah dan detak jantung sang Kyai tak luput dari pengawasan. Tak sampai di situ, dipasang pula alat pengukur tekanan darah paling modern yang dimiliki RSUD Dr. Sutomo. Dengan alat yang memakai petunjuk sistem digital ini tekanan darah sang Kyai bisa diketahui setiap lima menit sekali, atau bisa juga lebih cepat dan lebih lama dari itu. Sesuai dengan kebutuhan. Karena kerja keras tim dan para perawat yang setia pada tugasnya, maka pada hari rabu sore, 22 Mei. KH. Mahrus sudah mulai bisa membuka matanya. Kesadarannya mulai pulih kembali.

KH. Mahrus Ali pulang ke rahmatullah
Innalillahi wainnailaihi roji’un, tak di sangka jika pada hari Ahad jam l6.35 tanggal 26 Mel 1985 M. atau 16 Ramadlan 1405 H. KH. Mahrus Aly yang terkenang sebagai pahlawan bangsa dan agama itu dipanggil menghadap Allah dalam usia ke 78 di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya, setelah delapan hari di rawat di sana. Sebenarnya ada 6 kitab yang akan dibacakan beliau di bulan romadlon 1405 Hijriah itu. Pengumuman 6 kitab itu sudah lama di pampang di papan tulis serambi masjid Pondok Pesantren Lirboyo, yakni kitab Syarah Jauhar Maknun (kitab balaghah yang cukup tinggi di kalangan pesantren), Sulamul Munawaroq (mantek/logika), Lathaiful Isyarah, Nashaikhuddiniyyah, dalailul Khairat, dan Khizbul Jausan Tetapi rencana tinggallah rencana. Sebab, Tuhan jualah yang menentukan. Insha Allah niat /rencana balk itu ditulis dan akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan pula, menjelang bulan Ramadlan tiba, kyai Mahrus jatuh sakit, dan setelah sembilan hari dalam keadaan koma (tak sadarkan diri terus menerus), beliau meninggalkan kita, meninggalkan dunia fana, menuju alam abadi di sisi Tuhan nya.

Post a Comment

0 Comments