(BAG 3) Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad, Masa Hamil dan Masa Melahirkan

Masa Hamil dan Masa Melahirkan
Lewat sudah hari-hari pernikahan, tibalah saatnya sepasang pengantin baru itu untuk memulai lembaran baru mahligai rumah tangga. Tatkala sepasang manusia itu sedang duduk bermesraan. Abdullah mulai membuka pembicaraan tentang masa masa kecil nan indah bersama Aminah. Aminahpun melanjutkan cerita dengan membuka kembali memori usang masa kanak-kanak ketika berkejar kejaran dengan Abdullah memperebutkan barang mainan disekitar Ka’bah. Namun, sedetik kemudian, keduanya saling mengunci rapat rapat kedua bibir. Larut dalam perasaan masing-masing tentang suratan takdir yang akhirnya mempertemukan keduanya dipelaminan, setelah sempat liku-liku panjang keselamtan jiwa Abdullah atas efek domino nadzar pemimpin kaum Quraisy yang tak lain ialah ayahnya sendiri. Serta,cerita cerita tentang wanita-wanita terpandang yang menawarkan diri kepada Abdullah untuk dipersunting sebagai istri.

Detik terus berlalu, dan siangpun berganti sang malam. Tanpa diundang, Rasa capek berkunjung menyeruak ke seluruh relung jiwa Aminah yang memaksanya untuk memejamkan kedua matanya untuk Sejenak menyambut tamu tak diundangnya dan mengarungi samudra alam mimpi. Namun berbeda dengan Abdullah, dia tetap segar, rasa ngantuk yang menggelayuti kedua matanya tak mampu memaksanya untuk ikut larut dalam pelayaran alam mimpi bersama sang istri tercinta. Dia malah sibuk dengan aktivitas yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, memandangi senyum simpul cucu hawa yang sedang terbaring pulas disampingnya. Yang tak lain ialah belahan jiwa yang selalu mengunjungi setiap mimpinya.

Menjelang subuh, Aminah terjaga dari tidurnya. Kedua bola mata sipitnya tertumpu pada sosok makhluk cucu adam sang true prience yang menjadi idola semau cucu hawa yang tersebar di seluruh antero Makkah waktu itu. Dengan tampak terkejut karena mendapati sang suami masih terjaga, tanpa ada kata pembuka Aminah langsung memberondong Abdullah dengat bait-bait cerita spektakuler yang baru saja dialaminya di alam mimpi. Ia bercerita jika  bermimpi seakan dari dirinya keluar sinar yang sangat terang hingga menerangi kerajaan Syam. Sedetik kemudian, dia mendengar suara “engkau tengah hamil dan akan melahirkan orang yang paling mulia dikalangan umat ini”. Dengan seksama Abdullah mendengarkan penuturan belahan jiwanya dengan tanpa sedikitpun menyangsikan hal tersebut.

Namun, masa bulan madu tersebut harus diakhiri sementara, karena sang pengantin pria harus pergi berniaga ke negara Syam dan Gaza. Tibalah saat perpisahan dua sejoli pengantin baru yang paling mengharukan. Diiringi lambaian tangan sang belahan jiwa, Abdullah pergi meninggalkan  mahligai rumah tangga barunya bergabung dengan kafilah dagang Quraisy yang lainnya. Selama masa penantian suami tercintanya pulang, Aminah menghabiskan waktunya untuk merancang masa depan si jabang bayi dan membayangkan jika saja sang true prince barada disampingnya.

Hari berganti hari, tidak ada hal baru yang terjadi dalam diri Aminah, tidak sadar jika dirinya tengah mengandung. Ia pernah mengatakan "Aku tidak tahu kalau sedang dalam kondisi hamil dan aku tidak merasakan beban diperutku seperti yang dialami wanita-wanita yang sedang mengandung. Namun aku merasa heran kenapa haidlku tidak lancar seperti biasanya. Hingga pada suatu saat ketika aku sedang setengah sadar, aku merasa seakan-akan didatangi seseorang. Dia berkata padaku ‘Apakah engkau merasa sedang hamil?’ Akupun menjawab ‘Tidak’ orang itu berkata lagi ‘Sesungguhnya engkau sedang mengandung anak yang akan menjadi pemimpin sekaligus nabi bagi umat ini. Ia akan terlahir pada hari senin, tanda-tandanya adalah ketika ia lahir maka engkau akan melihat ada cahaya yang menerangi kerajaan Qishro di daerah Syam. Dan ketika dia sudah lahir maka berilah nama Muhammad.’"

Pada saat itulah aku baru yakin kalau sedang hamil, sedangkan orang itu tidak pernah datang lagi hingga aku hampir melahirkan. Dia berkata padaku " ucapkanlah "Aku memohon pelindungan pada Dzat yang maha Esa atas putraku dari segala kejelekan orang yang dengki"

Tatkala Aminah telah yakin jika dirinya sedang mengandung, kerinduannya kepada sang belahan jiwa yang sedang mengembara ke negeri orang untuk berniaga semakin membuncah dan tak tertahankan. Jika saja kedua tangannya dapat menjelma sebagai sayap, saat itu juga pasti Aminah akan terbang mencari true princenya yang telah beberapa putaran bumi tidak berada disampingnya. Mencurahkan semua kerinduannya serta memberi khabar jika dirinya telah mengandung jabang bayi, darah daging Abdullah.

Kepergian Abdullah telah memasuki bulan kedua, karena itulah Aminah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan sang suami yang dirinduinya. Siang malam dia membayangkan bagaimana perasaannya ketika pertama kali bertemu dengan Abdullah setelah sekian pergantian siang malam dia tidak mendapati sang suami berada disampingnya tatkala bangun tidur. Sang mentari mulai muncul memancarkan sinar kehidupan. Namun, pagi itu lain dari biasanya. Aminah melihat gugus depan kafilah dagang Quraisy yang berjalan menuju pusat kota. Dia yakin jika Abdullah, sang suami berada diantara mereka sebab bulan ini merupakan bulan kembalinya kafilah dagang quraisy yang berniaga ke Syam dan Gaza. Detak jantung Aminah semakin cepat seiring dengan mendekatnya rombongan kafilah ke jantung  kota Makkah. Dia merasakan laju kafilah lebih lambat dari pada semut, sementara laju detak jantungnya lebih cepat dari laju pesawat terbang.

Semakin lama kafilah semakin mendekat, hingga akhirnya sampailah di kota Makkah. Disekitar pemukiman Bani Hasyim terdengar riuh pikuk sambutan keluarga terhadap anggotanya yang baru saja tiba. Aminah dapat membayangkan betapa bahagianya orang orang yang sedang larut dalam euforia suka cita menyambut kedatangan orang-orang yang mereka cintai. Tiba tiba, tanpa ia sadari rasa kekhawatiran menyeruak menyerbu membabi buta jiwanya. Berseliweran pertanyaan hinggap dikepala. Dimanakah sang belahan jiwa? Kenapa dia tidak kunjung datang? Jangan-jangan? Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan diri agar tidak terus terusan dilanda perasaan cemas. Barang kali saja sang suami pergi menuju Ka'bah dululu untuk melaksanakan thawaf kemudian menemui ayahnya untuk diajak serta pulang kerumah menenemui istri tercinta yang dengan setia menunggu kepulangannya.

Aminah duduk termangu-mangu seorang diri didalam rumahnya menanti kedatangan orang yang ditunggu tunggu serta berusaha menenangkan diri. Jika muncul pikiran pikiran buruk tentang sang suami, ia dengan sekuat tenaga melawannya dengan dugaan yang baik. Namun, apalah arti dugaan bagi seseorang yang sedang dilanda perasaan cemas.

Suasana euforia  disekitar rumah mulai mereda, suasana berubah menjadi sunyi setelah diramaikan dengan ucapan salam dan cerita cerita yang mengasyikkan dari orang-orang yang baru saja kembali dari pengembaraan niaga. Sayup-sayup terdengar sepasang langkah menuju pintu rumah Aminah. Perasaannya berubah menjadi tak menentu, ia tidak dapat membayangkan pertama kali bertemu dengan sang belahan jiwa setelah beberapa putaran bumi tidak berada disampingnya. Sepasang mata Aminah fokus kearah pintu, lalu kedua kakinya menuntun untuk membukanya karena sepasang langkah tersebut semakin jelas terdengar. Namun, alangkah terkejutnya setelah pintu terbuka ternyata yang datang bukannya Abdullah sang belahan jiwa yang ia tungggu-tunggu. Melainkan Abdul Muthallib sang mertua bersama Wahab yang tak lain ayahnya sendiri disertai beberapa orang dari Bani Hasyim.

Dari raut muka mereka menyiratkan kekecewaan dan kecemasan. Belum sempat Aminah menanyakan keberadaan Abdullah sang belahan jiwa, ayahnya dengan terbata-bata mulai membuka pembicaraan "Aminah! Tabahkanlah hatimu nak. Kafilah yang kita nanti-nantikan kedatangannya telah kembali pulang. Namun sayang seribu sayang ketika kami menanyakan tentang Abdullah, suamimu mereka mengatakan suamimu sedang menderita sakit. Akan tetapi jangan khawatir, sebentar lagi suamimu akan sembuh dan kembali pulang untuk kembali merajut masa depan bersamamu." Baru saja Ayahnya menutup mulut, Abdul Muthalib sang mertua tak mau ketinggalan menentramkan perasaan Aminah yang sedang dilanda kegalauan "memang begitulah keadaannya aminah! Ia hanya menderita demam, tidak lebih. Dan jangan menghawatirkan akan dirinya, karena sekarang dia tinggal dan dirawat oleh paman pamanya yang berada di Yastrib (Madinah). Aku juga telah menyuruh saudaranya, Al-Harist untuk menjemputnya. Tabahkanlah hatimu dan berdoalah supaya Abdullah cepat kembali menjemui istri tercintanya" "baiklah ayah" sahut Aminah.

Al-Harist yang mendapat tugas untuk menjemput Abdullah serta mengajaknya pulang kembali ke kota Makkah ternyata pulang dengan tangan hampa. Bukannya dia pulang bersama dengan saudaranya yang ditunggu-tunggu kepulangannya oleh isteri tercintanya, melainkan dia pulang dengan memanggul kepiluan berita duka atas meninggalnya Abdullah. Beliau meninggal dunia saat nabi Muhammad saw masih berumur dua bulan dalam kandungan Aminah. Sudah barang tentu, hal ini menambah kesedihan dan kepiluan Aminah yang sedang mengandung darah daging pemuda belia yang setelah terlepas dari maut jeratan nadzar sang ayah, serta meminangnya dan sempat menanam benih dalam janin yang bersemayam dalam tubuhnya.

Aminah merasa hampa menjalani kehidupan ini. Namun, dia berusaha bertahan hidup mengingat masih ada pelipur lara, obat kesedihannya yang tak lain ialah jabang bayi yang ada dalam rahimnya. Tak lama kemudian, berita meninggalnya Abdullah tersebar keseluruh penjuru kota Makkah dengan sangat cepat, secepat tersebarnya berita akan dikorbankannya salah satu putra Abdul Muthallib untuk Tuhan penguasa Ka'bah. Mendadak suasana kota Makkah diselubungi berita duka atas meninggalnya Abdullah, pemuda belia dambaan setiap wanita kaum Quraisy saat itu. Ayahanda nabi Muhammad saw meninggal dunia saat kandungan Aminah masih berusia dua bulan.

Bagaimanapun kepergian Abdullah, putra kesayangan Abdul Muthallib itu tentu menyisakan duka mendalam bagi seluruh keluarga serta penduduk Makkah pada  umumnya. Bagaimana tidak, Abdullah yang telah dielu-elukan karna terbebas dari nadzar ayahnya, harus pergi untuk selamanya dalam waktu begitu singkat. Tidak pantaskah putra pemuka Quraisy yang baru saja menikah itu merasakan indahnya mahligai rumah tangga yang baru saja ia mulai? Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Aminah ketika mendengar suaminya telah tiada, sementara dia belum sempat memberitahukan kehamilanya kepada suami tercinta. Tapi semua itu sudah merupakan suratan takdir. Mungkin Allah swt tidak menghendaki Nabi Muhammad saw lahir bergelimang kasih sayang dari orang tua seperti anak-anak lainya. Rahasia apa yang hendak Allah tampakkan dibalik lahirnya manusia pilihan itu dalam keadaan yatim?

Sumber tulisan:
Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw


Karya Legendaris Siswa Tamatan Gerbang Lama Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments