(Bag 1) Kisah Nabi Muhammad Saw Di Masa Remaja

Dibawah Asuhan Sang Kakek
Setelah sang bunda tercinta menyusul ayahanda yang telah meninggalkan dunia fana ketika Muhammad masih berada dalam kandungan. Kira-kira setelah lima hari dari kepergian ibunda tercinta, Muhammad kecil kemudian di asuh oleh sang kakek, Abdul Muthallib. Beliaupun menyayangi sang cucu dengan kasih sayang yang belum pernah diberikan kepada putra putranya.

Beliau juga sangat menghormati dan memuliakan derajat cucunya yang kelak akan menjadi orang yang sangat terhormat diantara manusia yang lain. Ketika akan menikmati hidangan, beliau sering mendudukkan sang cucu disampingnya, dan terkadang beliau memangku sang cucu. Sebelum menikmati hidangan, beliau mempersilankan sang cucu untuk menikmatinya terlebih dahulu.

Diceritakan bahwa suatu ketika Abdul muthalib hendak menyuruh anak anaknya untuk suatu urusan. Namun anak anaknya tidak ada yang kelihatan, dan akhirnya beliau menyuruh Muhammad. Dan ternyata sang cucu bisa mengemban amanat sesuai dengan yang diharapkan. Setiap urusan yang diserahkan Muhammad pasti membuahkan keberhasilan.

Ibnu Ishaq menceritakan: Ketika Muhammad dalam asuhan sang kakek, yang saat itu menjadi pemimpin kaum quraisy dan mendapatkan penghormatan yang sangat istimewa berupa disediakan untuk beliau hamparan permadani dibawah naungan ka’bah sebagai singgasana beliau. Sedangkan anak anak beliau dan masyarakat yang lain duduk mengitarinya. Sebagai manifestasi (perwujudan) rasa hormat dan segan, taksatupun dari mereka yang berani mendudukinya.

Ibnu Ishaq melanjutkan: Syahdan, pada suatu kesempatan, Muhammad yang energik datang ke tempat tersebut dan langsung menduduki singgasana sang kakek. Sejurus kemudian, paman-pamannya membopong menjauhkannya dari singgasana. Dan hal tersebut diketahui sang kakek, sontak beliau langsung menegur mereka “Biarkanlah dia! Dalam dirinya ada suatu keistimewaan. Tak berselang waktu yang lama, beliau mendudukkannya dan mengelus elus punggungnya dengan tangan beliau. Dan beliau merasa senang dengan apa yang telah dilakukan oleh Muhammad”.

Namun, belum lama Muhammad merasakan belaian kasih sayang sang kakek yang sangat menyayanginya, ajalpun menjemput Abdul Muthallib. Ketika telah genap dalam usia se-windu, sang kakek meninggalkannya untuk tidak kembali lagi. usia kakek beliau pada saat itu sudah mencapai seratus dua puluh  tahun. Kaum Quraisy pun merasakan amat terpukul dengan kepergian Abdul Muthallib sang pemimpin yang bijaksana dan sangat disegani. Bahkan, pasar-pasar yang ada di kota Makkah tutup dalam waktu beberapa hari.
Kemudian, beliau dimandikan dengan air yang dicampur dengan daun bidara. Setelah itu, beliau di kafani dengan menggunakan dua lapis sutra  berasal dari negara yaman yang berharga seribu mithqal emas, ditaburkan pula minyak misik hingga menyelimutinya. Sebagai manifestasi dari rasa pengagungan dan penghormatan terakhir, beberapa laki-laki dari kabilah Quraisy memanggul jenazah beliau selama beberapa hari. Karena beliau akan bersemayam didalam tanah. Dan hal ini sudah barang tentu menambah kesedihan sang Muhammad kecil yang  belum lama ditinggal oleh sang ibunda.

Sepeninggal sang ayah, al-Abbas bin Abdul Muthallib selaku anak yang paling muda mengambil alih pengaturan air Zam-zam dan menyuguhkan bagi siapa saja yang membutuhkan dan pekerjaan ini berlangsung sampai islam berdiri tegak. Dan akhirnya, kekuasaaan pengaturan tersebut diakui oleh rasulullah saw. Hingga, diteruskan oleh keluarga Abbas sampai sekarang.


DIBAWAH ASUHAN ABU THALIB

Setelah Muhammad kecil ditinggal sang kakek, ia kemudian diasuh oleh sang paman, Abu Thalib. Karena sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, Abdul Muthallib sempat berwasiat kepada Abu Thalib untuk mengasuh Muhammad. Sebab, Abu Thalib sekandung dengan Abdullah ayah Rasulullah saw  yang  ibu mereka berdua adalah Fatimah binti Umar bin Aidz bin Abd bin Imron bin Mahzum. Sedangkan, Abdul Ka'bah  tidak terpilih dalam pengasuhan nabi padahal beliau juga saudara yang sekandung dengan Abdullah karena beliau sudah wafat terlebih dahulu sebelum ayahnya.

Seperti halnya Abdul muthallib, Abu Thalib juga sangat meyayangi Muhammad. Dalam mengasuh keponakannya, beliau sangat menjaganya dari sesuatu yang menyakiti dan membahayakannya. Selain itu, beliau juga memberikan perhatian yang penuh terhadap keponakannya, sampai sampai beliau tidak tidur tanpa adanya Muhammad berada disampingnya. Setiap beliau bepergian Muhammad selalu menyertainya.

Dalam menghidangkan makanan, beliau selalu memberikan menu yang special kepadanya. Disetiap keluarga beliau makan baik sendiri maupun bersama, mereka tidak merasakan kenyang. Namun, disaat  makan bersama dengan Muhammad. Mereka dapat merasakan kenyang dan puas. Ketika telah tiba waktu  makan pagi dan sore, Beliau selalu berkata pada kepada anggota keluarga "Jangan ada yang makan sebelum Muhammad datang" Tak lama kemudian, akhirnya Muhammad datang dan akhirnya dimulailah acara makan bersama lalu merekapun mengambil bagiannya sendiri sendiri, dan Muhammad yang pertama kali meminum susu kemudian yang lainnya. Bahkan, putra putra beliau sempat merasakan cemburu akibat terlalu sayangnya sang ayah kepada Muhammad.

Perlu diketahui, bahwa pada saat Muhammad dalam asuhan sang paman, kondisi ekonomi beliau sedang tidak stabil, bisa dikatakan dalam masa masa sulit. Namun, kehadiran muhammad ditengah tengah keluarga beliau ternyata tidak membuat kondisi semakin runyam. Akan tetapi, justru membawa keberkahan. Terutama dalam aspek perekonomian.

Selama dalam asuhan sang paman, Muhammad telah menampakkan sifat sifat yang terpuji. Salah satunya adalah  sifat qana’ah. Contohnya adalah ketika waktu makan telah tiba. Pada saat itu juga, anak anak Abu Thalib langsung menghambur ke meja makan. Berbeda dengan Muhammad, dia tettap tenang dan menunggu pemberian dari Allah sampai kepadanya. Muhammad juga belum pernah melakukan hal hal rendah yang umumnya dilakukan oleh teman teman sebayanya, seperti apa yang telah diceritakan oleh Ummu Aiman yang pernah mengasuh Muhammad.

Bukan suatu kebetulan jika Rasulullah saw dilahirkan dalam keadaan yatim, kemudian tidak lama ditinggal sang kakek, sehingga pertumbuhan pertama kehidupanya jauh dari asuhan ayah dan tidak mendapatkan kasih sayang dari sang ibunda. Allah telah memilihkan pertumbuhan ini untuk nabiNya, karena beberapa hikmah. Diantaranya agar musuh islam tidak mendapatkan jalan untuk memasukkan keraguan kedalam hati, atau menuduh bahwa muhammad saw telah mereguk "susu" dakwah dan risalahnya semenjak kecil, dengan bimbingan dan arahan dari sang ayahnya dan kakeknya. Sebab, sang kakek adalah seorang tokoh yang terpandang dikaumnya.

Kepadanyalah diserahkan tanggung jawab memberikan jamuan makanan dan minuman kepada orang-orang yang melakukan ibadah haji. Wajarsaja apabila seorang kakek atau ayah membimbing atau mengarahkan cucu atau anaknya kepada warisan yang dimilikinya. Hikmah allah telah menghendaki agar musuh-musuh islam tidak menemukan jalan keraguan seperti itu sehingga rasulnya tumbuh dan berkembang jauh dari asuhan ayah, ibu, dan kakeknya. Bahkan pada masa kanak-kanaknya yang pertamanya sesuai dengan kehendak Allah harus dijalani dipedalaman bani sa'ad, jauh dari keluarganya. Ketika kakeknya meninggal ia berpindah pada asuhan pamannya abu tholib. Yang hidup hingga tiga tahun sebelum hijrah.

Sampai akhir hayatnya sang paman tidak pernah menyatakan diri masuk islam, hal ini juga merupakan hikmah yang lain, agar tidak muncul tuduhan bahwa pamanya memiliki"saham" dakwahnya, dan bahwa persoalan pamanya adalah persoalan kabilah, keluarga, kepemimpinan dan kedudukan.

Demikian hikmah Allah menghendaki tumbuh sebagai yatim, dipelihara oleh Inayah Allah semata, jauh dari tangan-tangan yang memanjakanya dan harta kekayaan yang membuat hidupnya dalam kemewahan, agar jiwanya tidak cenderung pada kemewahan dan kedudukan.

Bahkan agar tidak terpengaruh oleh arti kepemimpinan dan ketokohan yang mengitarinya, sehingga orang-orang akan mencampur adukkan kesucian Nubuwwah dengan kemegahan dunia, dan agar orang-orang tidak menuduhnya telah mendakwahkan Nubuwwah demi kedudukan dan kemegahan dunia. Sebagai mana Allah berfirman yang artinya :  Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Sumber tulisan:
Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Gerbang Lama Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments