11 Fakta Abuya Dimyati Cidahu Beserta Karomahnya



1-Muhammad Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin. Dikenal sebagai ulama yang sangat kharismatik. Muridnya ribuan dan tersebar hingga mancanegara. Abuya dimyati orang Jakarta biasa menyapa, dikenal sebagai tokoh yang sederhana dan tidak kenal menyerah. Hampir seluruh kehidupannya diabdikan untuk ilmu dan dakwah.

2-Perjalanan spiritual Abuya Dim dengan beberapa guru sufi seperti Kiai Dalhar Watucongol merupakan teladan bagi para Sufi. Bagi masyarakat Pandeglang Provinsi Banten Mbah Dim adalah sesepuh yang sulit tergantikan. Lahir sekitar tahun 1919 dikenal orang yang berbeda dan penganut tarekat yang disegani.

3-Abuya Dimyati juga kesohor sebagai guru pesantren dan penganjur guru Ahlusunah Wal Jama'ah. Pondoknya berada di Cidahu, Pandeglang, Banten. Pesantrennya tidak pernah sepi dari para tamu atau pencari ilmu. Bahkan menjadi tempat rujukan para kiai.

4-Semasa hidupnya, Abuya Dimyati dikenal sebagai guru dari para guru dan kiainya dari para kiai. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten. Abuya Dimyati kesohor sebagai ulama yang mumpuni. Bukan saja mengajar ilmu syari'ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf.

5- Murid-murid Abuya tersebar ke seluruh penjuru tanah air bahkan luar negeri. Sewaktu masih hidup, pesantrennya tidak pernah sepi dari kegiatan mengaji. Bahkan Mbah Dim memiliki majelis khusus yang disebut Majelis Seng. Dijuluki seperti ini karena baik dari pengajian ataupun lainnya Abuya Dimyati menerima tamu-tamu penting seperti pejabat pemerintah dan para petinggi negeri. Majelis Seng inilah yang kemudian dipakainya untuk pengajian sehari-hari.

6- Abuya Dimyati lahir dari pasangan H.Amin dan Hj. Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyati memang sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lain seperti Cadasari, Kadupesing Pandeglang. Kemudian ke pesantren Plamunan hingga Pleret Cirebon.

7-Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Dimulai dari Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi para Kiai khowas lainnya. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantani. Kata Abuya, para kiai sepuh itu memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid yang sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.

8-Ketika mondok di Watucongol, Abuya Dimyati sudah dipesan untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik yang membuat Abuya masuk pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada para santri bahwa besok akan datang 'kitab banyak'. Dan hal ini terbukti saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab kuning. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan 'Mbah Dim Banten'. Karena kewira'iannya, di setiap pesantren yang disinggahinya selalu ada peningkatan santri mengaji.

9- Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai meninggalkan ngaji karena kesibukan lain atau karena berumur”. Pesan ini sering diulang-ulang, Abuya Dimyati bahkan mewanti-wanti, jangan sampai meninggalkan ngaji meskipun dunia runtuh seribu kali!

10-Salah satu cerita karomah yang diceritakan Gus Munir adalah, dimana ada seorang kyai dari Jawa yang pergi ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani di Irak. Akan tetapi ketika dia sudah dapat menziarahi ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. salah satu penjaga maqam bertanya  “darimana kamu (Bahasa Arab)”. si Kyai menjawab, "dari Indonesia".

Maka si penjaga langsung berkata, “oh di sini ada orang Indonesia setiap malam Jum'at selalu ziarah dan duduk saja di depan maqam, maka ketika beliau datang, segenap penziarah akan diam dan hormat kepadanya, beliau membaca al-Qur'an, maka penziarah lain akan ikut mengikuti membaca quran. "

Maka Kyai tadi kaget, dan berniat untuk menunggu sampai malam Jum'at agar tahu siapa sebenarnya ulama dari Indonesia tersebut. Ternyata pada hari yang ditunggu-tunggu, ulama tersebut adalah Abuya Dimyati. Maka kyai tersebut terus kagum, dan mengabarkan para Kiai di Jawa bagaimana beliau bisa bertemu Abuya Dimyati di maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (padahal saat itu Abuya Dimyati masih di rumahnya dan mengaji dengan santri-santrinya).

11- Abuya Dimyathi menempuh jalan spiritual yang unik. Dia secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Thoriqoh saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keulamaan seseorang dilihat dari bagaimana ia memberi Penghargaan terhadap ilmu. Istilah yang disebut dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadits nabi “al-Ulama'u waratsatul anbiya ', para ulama adalah pewaris para nabi.

**
Dari berbagai sumber

Post a Comment

0 Comments