Perang Badar Pertama, Perang Wuddan, Perang Al-Bawath, Perang 'Usyairah


PERANG WUDDAN

Ibn Abdi al-Bar berkata: peperangan pertama yang telah dihadiri beliau adalah perang  wuddan. Peperangan ini terjadi pada bulan Shafar Pada malam ke dua belas dari tahun kedua, Rasul keluar dari Madinah setelah menyerahkan kepemimpinan di Madinah pada  Sa’ad bin Ubadah. Nabi keluar untuk menghadang rombongan Quraisy, lalu nabi berangkat hingga sampai di desa Wuddan (desa diantara Makkah dan Madinah, jarak Wuddan dan Abwa’ sekitar 6 mil Bendera kaum muslim dipegang oleh paman nabi yang bernama Hamzah tetapi di sana tidak terjadi peperangan sebab rombongan mendahului nabi.
Pada perang ini nabi berdamai dengan bani Dlamrah dengan janji diri mereka akan aman dan mereka mendapat pertolongan terhadap orang yang memeranginya, tetapi mereka harus menolong orang muslim jika dimintai pertolongan kemudian orang muslim kembali ke Madinah setelah melewati lema belas malam.


PERANG AL-BUW TH(Pengiriman Pasukan)

Tidak berselang lama setelah kembalinya nabi dari perang Abwa’, ada kabar bahwa kafilah-kafilah Quraisy datang dari Syam. Dalam gerombolan tersebut didalamnya terdapat Umayyah bin Khalaf, seratus orang dari golongan Quraisy serta membawa dua ribu limaratus  unta. Setelah mendengar kabar tersebut, nabi akan menghadang mereka dengan mengerahkan duaratus orang dari kalangan Muhajirin. Rombongan nabi berangkat dengan bendera berwarna putih yang di bawa oleh Sa'ad  ibn Abi Waqas. Sesampainya di tanah Bawâth mereka menemukan kafilah-kafilah yang telah pergi. Akhirnya mereka  kembali ke Madinah tanpa menemukan peperangan. Semua itu terjadi ketika orang-orang musyrik waspada terhadap diri mereka dan berusaha menghilangkan jejak dari orang-orang Madinah. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 13 Rabi’ul Awal.

Untuk urusan pemerintahan di Madinah menurut Ibnu Sa’ad yang menggantikan adalah Sa’ad ibn Mu’âdz dan menurut Ibnu Hisyâm dan Abu Umar adalah as-Sa`ib ibn Ustmân  ibn Madz’ûn.


PERANG AL-'USYAIRAH(Pengiriman Pasukan)

Perang ‘Usyairah terjadi pada pertengahan tahun kedua Hijriyyah  sebelum perang badar dan sebelum pernikahan sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidah Fathimah. Peristiwa ini bermula ketika terdengar kabar bahwa orang-orang Quraisy berangkat dari Makkah menuju ke Syam, selain itu mereka juga mengumpulkan harta sehingga orang-orang Quraisy laki-laki atau perempuan di Makkah tidak memiliki satu mistqal kecuali menggunakan satu mistqal tersebut untuk para kafilah. Dalam kafilah tersebut diketuai oleh Abu Sufyân ibn Harb dan disertai lebih dari duapuluh orang laki-laki.

Bertepatan pada bulan Jumâdil ‘Ula, Rasulullah mengerahkan seratus limapuluh Muhajirin tanpa ada paksaan kepada mereka. Selain itu mereka membawa tigapuluh ekor unta untuk menghadang kafilah tersebut. Sedangkan yang membawa bendera berwarna putih adalah paman beliau Hamzah bin Abi Thalib. Selain itu, Rasulullah menunjuk  Aba Salamah bin Abdul Aswad untuk menjadi khalifah di Madinah.

Menurut Abu Umar, Beliau menempuh jalur Malal sehingga mereka sampai di al-‘Usyairah; yaitu sebuah jurang dikawasan Yanbu’. Ibnu Ishâq mengatakan : Rasulullah saw menempuh jalan berbukit Bani Dînâr kemudian menempuh padang pasir yang tandus tanah Khaibar. kemudian beliau turun di bawah pohon yang berada dikawasan sungai yang berpasir dan berkerikilnya Ibnu Azhar yang dinamakan Dzatu as-Sâq, kemudian beliau melakukan shalat di tempat itu, kemudian beliau makan bersama segenap pasukan disana. Bekas tungku api yang berasal dari periuk bisa dilihat disana. Kemudian mereka minum sehingga tempat tersebut dinamakan dengan al-Musytarib. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan dengan menempuh jalan berbukit yang disebut dengan bukit Abdullah, dan nama itu diabadikan sampai sekarang. Kemudian melewati tanah yang landai dengan mudah sehingga sampai di Yalyal. Kemudian beliau turun diperkampungan itu dan perkampungan ad-Dlabû'ah dan minum dari sumur mereka. Kemudian mereka menempuh tanah lapang yang dinamakan Malal, sehingga mereka menemukan jalur padang pasir kecil al-Yamam, setelah itu mereka mendapatkan jalur yang normal sehingga mereka sampai di al-‘Usyairah.

Disana nabi beserta rombongan hanya menemukan perkampungan yang telah ditinggalkan oleh penduduknya beberapa hari yang lalu, mereka adalah kafilah yang singgah ke al-‘Usyairah ketika kembali dari Syam. Akhirnya rombongan Rasulullah menetap disana pada sisa Jumâdil awwal sampai beberapa malam pada bulan Jumâdil Akhir.

Ditempat itu pula Nabi saw mengadakan perjanjian persahabatan dengan Bani Mudlij dan sekutunya dari Bani Dlamrah. Nabi Muhammad saw kembali ke Madinah tanpa menemukan peperangan.
Ibnu Ishâq berkata : Yazid bin Muhammad bin Khaitsum al-Muhairiby dari Muhammad bin Ka'b al-Quraidy dari Muhammad bin Khaitsum abi Yazid dan Ammar bin Yasir dan Ammar berkata: bahwa saya dan Ali bin Abi Thalib merupakan dua teman pada perang (pengiriman pasukan) 'Usyairah. ketika Rasulullah singgah di al-'Usyairah dan menetap disana saya melihat orang-orang bani Mud-lij sedang beraktifitas diladang kurma mereka, lantas Ali ibn Abi Thalib berkata kepadaku: “Wahai Aba al-Yaqdzhan, apakah kamu mau menemui mereka, dan melihat-lihat apa yang mereka lakukan?”, maka aku menjawab: “ya, jika anda berkenan”. Kemudian sesaat, kami melihat-lihat aktivitas mereka sampai-sampai kami ngantuk dan tertidur diperkebunan kurma. Kami terbangun dalam keadaan berlumuran debu akibat detak langkah kaki nabi saw. Dalam peristiwa ini nabi berkata kepada Ali ibn Abi Thalib “Apa yang engkau lakukan wahai Aba Turâb?”, sejenak nabi memperhatikan keadaan kami lalu melanjutkan “Apakah engkau mau saya beritahu tentang dua orang laki-laki yang paling celaka?”. Lantas kami menjawab “Ya wahai Rasulullah”. Nabi berkata “yaitu adalah Uhaimar Tsamud yang membunuh unta dan orang yang melakukan perbuatan ini kepadamu”. Kemudian nabi meletakkan tangan beliau pada leher Ali sampai tangan tersebut membasahinya dan memegang jenggotnya.

Ibnu Ishaq berkata: sebagian ahli ilmu bercerita kepadaku, bahwa Rasulullah saw berkata, alasan yang mendasar bahwa Ali dijuluki Aba Turâb adalah karena disaat Sayyidina Ali sedang mencela sesuatu pada Sayyidah Fathimah, maka ia tidak berkata sesuatu apapun pada dia. Dan ia tidak akan berkata sesuatu yang ia benci kecuali ia meletakkan debu diatas kepalanya. Dan ketika Rasulullah mengetahui keadaan ini maka beliau tahu bahwa Sayyida Ali sedang mencela kepada Sayyidah Fatimah, lantas beliau berkata: “apa yang engkau lakukan wahai aba Turab”.


PERANG BADAR  PERTAMA

Tidak berselang lama setelah kembalinya nabi ke Madinah dari perang Usyairah, dan beliau bermukim di Madinah tidak sampai sepuluh malam,  sehingga datanglah Karz bin Jabir al-Fahry menyerang ternak kota Madinah. Kemudian menggiringnya dan kemudian ia gembalakan di al-Jama` yaitu gunung  di daerah al-Aqiq sampai al-Jarf diantara daerah ini sampai ke Madinah sekitar tiga mil.  Karz bin Jabir memiliki nama lengkap Karz bin Jabir bin Hasl bin al-Ajab bin 'Umar bin Syaiban bin Maharib bin Fahry yang bersuku Quraisy, sebelum memeluk agama islam ia termasuk pembesar orang Musyrik, dan setelah kejadian ini akhirnya ia memeluk islam.
                                                 
Kemudian Rasulullah pergi mencarinya. Menurut ibnu Hisyam dan al-Waqidy nabi menunjuk Zaid bin Haristah al-Anshary sebagai pengganti khalifah di Madinah. Sedangkan yang membawa bendera yang berwarna putih adalah Ali bin Abi Thalib, peristiwa ini terjadi sebelum perang al-'Usyairah tepatnya tanggal 13 Rabi'ul awal

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan sampai Shafwan (jurang di daerah Badar), Namun Karz sudah meninggalkan daerah tersebut sehingga tidak terjadi peperangan, dan peperangan ini dinamakan dengan perang Badar I.

**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments