Mengapa Peradaban Islam Sangat Maju Di Andalusia?

images from viva.co.id
Andalusia atau Spanyol adalah salah satu kota terkenal di Eropa. Dulunya adalah salah satu pusat paling penting dari pemerintahan Islam. Di sanalah Abdurrahman al-Dakhil, mengakhiri pelariannya dari pengejaran kekaisaran Abbasiyah di Irak. Di tempat ini ia mendirikan pemerintahan dinasti baru yang hebat, bahkan dalam waktu singkat berhasil menyamai kebesaran dinasti Abbasiyah di Baghdad, yang menjadi lawan politiknya.

Andalusia selalu menarik untuk dipelajari. Kehadiran Islam di Andalusia telah mengakhiri kekuasaan politik monoreligi (satu agama) yang dipaksakan oleh penguasa sebelumnya. Islam menawarkan konsep politik multi-agama. Pemerintah Islam di negara ini menciptakan masyarakat Spanyol yang majemuk.

Penganut agama yang berbeda dapat bekerja bersama secara damai, aman dan satu sama lain untuk membangun negara dan peradaban Spanyol yang hebat. Islam kemudian berkembang pesat melalui proses akulturasi. Islam Andalusia menjadi pusat peradaban dunia yang cemerlang. Di sini ada Al-Hamra, sebuah istana indah yang dicat merah di atas bukit kecil di kota Granada. Ada juga Cordova yang menjadi pusat perkembangan dan perjuangan intelektual dunia. Di Andalusia juga terdapat kota tua, bernama Seville yang ekosotis. Ada istana Alcazar yang indah. Di dinding istana nya terdapat kaligrafi indah yang bertuliskan. la ghalib ill-Allah (Tidak ada pemenang kecuali Allah).

Di Abad Pertengahan, di desa-desa Andalusia, hampir semua disiplin ilmu pengetahuan diajarkan: kedokteran, matematika, filsafat, sastra, musik, arsitektur, dll., Apalagi ilmu agama, yang dipelajari secara intensif dan produktif. Kaum Muslim di sana belum mendikotomikan pengetahuan sekuler. Semua ilmu yang bermanfaat bagi manusia adalah ilmu Islam.

Dari kota ini sejumlah pemikir Islam kaliber dunia lahir dan menjadi tokoh legendaris. Nama mereka selalu disebutkan. Sampai hari ini, pikiran mereka masih dibaca dan dirujuk di pusat-pusat pendidikan Islam. Beberapa dari mereka seperti Al-Zahrawi, Ibn Hazm, Ibn Thufail, Ibn Rusyd, Ibn Arabi, Ibn Bajah, Ibn Malik dan Al-Syathibi.

Ini hanya beberapa dari banyak cendekiawan muslim lainnya, dan hanya untuk disiplin ilmu humaniora, hanya dari sejumlah disiplin ilmu seperti fisika, biologi, matematika, dan metafisika. Keahlian ilmiah mereka diperoleh melalui perjuangan intelektual yang ketat dan dialektis, kritis, pragmatis, dinamis dan bergumul dengan berbagai tradisi dan budaya, terutama budaya Helenistik-Yunani bersama dengan tokoh-tokoh besarnya, seperti Pytagoras, Socrates, Plato, Aristo, Galenus, dll. Pikiran dan metodologi ilmiah mereka terbuka lebar untuk semua budaya dan tradisi, terlepas dari latar belakang agama, kultus, dll.

Nama-nama cendekiawan mereka, filsuf dan tokoh intelektual dibahas dan dipelajari selama berabad-abad silam oleh negara-negara di dunia, terutama Eropa. Melalui para ilmuwan, filsuf dan kaum intelektual merekalah, dunia Barat mengenal ilmu sains, filsafat dan sebagainya.

Kisah di atas sama sekali tidak diceritakan dalam konteks menyombongkan masa lalu, tetapi hanya untuk mengingatkan kepada kita, membangunkan kita dari tidur nyenyak yang panjang, sementara pada saat yang sama, semangat masyarakat Muslim saat ini dibangkitkan untuk menemukan kembali pencapaian yang hilang atas tanggung jawab peradaban manusia di masa depan.

Al-Hafizh (Hadits), Al-Sakhawi dalam bukunya Al-Maqashid al-Hasanah menyatakan:

"Ambillah hikmah (kebijaksanaan/pelajaran), karena itu tidak akan menyakitimu di mana pun itu lahir".

Nabi berpesan

"Kebijaksanaan adalah sebuah benda yang hilang dari tangan seorang seorang Muslim. Jadi jika dia menemukannya, dia memiliki hak untuk mengambilnya kembali."

Al-Kindi (sekitar 873 M), seorang filsuf Muslim awal berkata:

"Kita tidak boleh malu menerima dan mempertahankan kebenaran dari mana pun asalnya, bahkan meski dari negara-negara yang jauh dari kita." (Filsuf al-Kindi).

Kisah ini menunjukkan kepada kita pada saat yang sama bagaimana masyarakat Muslim awal dapat berkolaborasi dengan orang lain, dengan tetap menghormati budaya dan peradaban, dan pada saat yang sama di mana saja berada kita harus mengapresiasi ilmu pengetahuan, termasuk "Ulum al-Awa-il" (ilmu pengetahuan klasik pra-Islam). Semua ilmu pengetahuan bernilai ‘baik’ dan bermanfaat bagi kehidupan manusia sebagai hadiah dari Tuhan YME.

Post a Comment

0 Comments