Menganalisa Kebangkrutan Bagi Investor, Ketahui Manfaatnya


Beberapa perusahaan yang telah tumbuh untuk waktu yang lama dan perusahaan baru memiliki risiko kebangkrutan. Secara umum, kebangkrutan adalah ketidakmampuan perusahaan untuk menjalankan bisnisnya. Ini juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketika perusahaan tidak dapat membayar hutang dari kreditor mereka.

Tentunya sulit bagi sebuah perusahaan untuk menerima bahwa perusahaan yang sedang berjalan tidak akan lagi bekerja karena kebangkrutan, terutama untuk perusahaan pemula, mereka harus berusaha untuk memastikan bahwa perusahaan yang dijalankan dapat bersaing dengan perusahaan yang telah berkembang untuk waktu yang lama dan tidak akan mengalami kebangkrutan.

Untuk alasan ini, sangat penting bagi para eksekutif bisnis untuk melakukan analisis kebangkrutan perusahaan mereka untuk mencegah kebangkrutan. Analisis kebangkrutan adalah analisis untuk mendapatkan tanda-tanda awal kebangkrutan.

Kebangkrutan (bankruptcy) biasanya diartikan sebagai orang awam sebagai kegagalan perusahaan untuk menjalankan bisnisnya untuk menghasilkan laba, sedangkan menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1998 adalah ketika suatu institusi dinyatakan dengan keputusan pengadilan jika debitornya dua atau dua. memiliki lebih banyak kreditor dan tidak membayar setidaknya satu utang yang dapat ditagih.

Sementara itu, menurut Lesmana (2003: 174), definisi kebangkrutan adalah sebagai berikut: "risiko kebangkrutan terkait dengan ketidakpastian tentang kemampuan suatu perusahaan untuk melanjutkan kegiatannya jika kondisi keuangannya menurun".

Setelah melakukan analisis kebangkrutan, perusahaan harus melanjutkan kegiatannya, caranya adalah dengan menarik investor untuk menanamkan modal di perusahaan sehingga perusahaan dapat memenuhi kewajibannya.

Dalam dunia finansial, seorang investor adalah pihak, baik individu dan institusi, baik domestik maupun asing, yang berinvestasi dalam jangka pendek atau panjang (bentuk investasi sesuai dengan jenis investasi yang dipilih).

Selain itu, dapat diartikan bahwa investor adalah pemodal untuk mengembangkan perusahaan. Apakah analisis kebangkrutan juga bermanfaat bagi investor? Bagi investor dengan analisis kebangkrutan perusahaan itu memiliki keuntungan untuk melihat apakah perusahaan itu investasi yang baik atau tidak.

Dengan membandingkan hasil analisis kebangkrutan antara perusahaan dan lintas sektor, investor dapat menemukan kemungkinan kebangkrutan di perusahaan yang menjual saham perusahaannya, sehingga merupakan pertimbangan yang lebih matang bagi investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan.

Ini akan memudahkan investor untuk mengurangi risiko kerugian investasi. Itulah sebabnya melakukan analisis kebangkrutan penting bagi investor.

Sebelum kita melakukan analisis, kita harus tahu caranya. Ada banyak metode yang digunakan untuk melakukan analisis kebangkrutan, salah satu caranya adalah metode analisis z-score.

Model Altman (Z-Score) adalah model analisis multi-variabel yang berfungsi untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan tingkat akurasi yang relatif dapat diandalkan dan akurat. Model ini memiliki akurasi hingga 95% jika menggunakan data 1 tahun sebelum kebangkrutan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediksi kebangkrutan dan kinerja keuangan perusahaan. Secara matematis, persamaan Altman Z-Score dapat dirumuskan sebagai berikut:

Z = 1,2 X1 + 1,4 X2 + 3,3 X3 + 0,6 X4 + 1,0 X5

Dengan informasi berikut; X1 adalah modal kerja untuk total aset (modal kerja terhadap total aset), X2 adalah laba ditahan untuk total aset (laba ditahan untuk total aset), X3 adalah pendapatan sebelum pajak dan bunga atas total aset (laba sebelum bunga dan pajak atas total aset)), X4 adalah nilai pasar ekuitas dibandingkan dengan nilai buku utang (nilai pasar ekuitas versus nilai buku total utang) dan X5 adalah penjualan total aset (Penjualan terhadap total aset).

Dalam model ini, perusahaan dengan skor-Z> 2.99 diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat, sedangkan perusahaan dengan skor-Z <1.81 diklasifikasikan sebagai perusahaan yang berpotensi bangkrut.

Selain itu, skor antara 1,81 dan 2,99 diklasifikasikan sebagai perusahaan di wilayah abu-abu atau wilayah abu-abu, dengan "nilai cut-off" untuk indeks ini 2,675 (Muslich, 2008: 60).

Namun, Z-score tidak digunakan untuk penyedia jasa keuangan atau lembaga keuangan, baik lembaga swasta maupun pemerintah, karena kecenderungan perbedaan yang signifikan antara neraca suatu lembaga keuangan dengan lembaga keuangan lainnya.

Post a Comment

0 Comments