Kisah Nabi Muhammad Menikahi Aisyah

Aisyah Ummul mu`minin, gadis belia berkulit putih nan ayu, oleh karenanya ia dijuluki al-Humaira’ -demikian al-Dzahabiy menyebutkan- Siti ‘Aisyah dilahirkan setelah diutusnya Nabi Muhammad Saw menjadi Rasul selang empat tahun. Usianya delapan tahun lebih muda dibanding Sayidah Fatimah, puteri Nabi Muhammad Saw. Ia puteri tertua dari Khalifah Abu Bakar Abdullah ibn Abi Quhafah Utsman Amir ibn Amr ibn Ka’ab ibn Sa’ad ibn Tayim ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Luay al-Qusyai al-Taymiyah al-Makiyah al-Nabawiyah. Ia dilahirkan dari rahim wanita mulia yang bernama Ummu Ruman binti Amir ibn Uwaimir ibn Abdi Syams ibn Attab ibn Udzainah al-Kinaniyah. Kemuliaan bunda  Aisyah terlukis dari ungkapan nabi kala ia wafat dan hendak dimasukkan keliang lahat “barang siapa yang ingin  melihat bidadari. Maka, lihatlah Ummu Ruuman”.

Ummu Abdillah, sebuah kunyah yang pernah diberikan nabi pada Aisyah kala ia memohon pada beliau agar berkenan memberikannya kunyah. Hal ini disampaikan Ibnu Al-jauziy dalam kitab al-Shafwah. Siti ‘Aisyah berkata ”Wahai Rasulullah,  Berikanlah aku kunyah.” Rasulullah saw  menjawabnya ”Aku berikan kamu kunyah dengan anak angkatmu, yaitu Abdullah bin Zubair”.  Ibnu Hibban menceritakan dari Siti ‘Aisyah, ia mengatakan: Tatkala Abdullah bin Zubair dilahirkan, aku membawanya kehadapan Rasulullah saw, Kemudian beliau memasukkan sesuatu _biasanya barang yang manis. Seperti korma dll_ yang telah dilumatkan  kemulutnya. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang pertama kali masuk kemulutnya. Setelah itu, Beliau mengatakan ”Dia adalah Abdullah, dan kamu adalah ummu Abdillah”. Abu bakar bin Abi Khaitsimah menceritakan dari Siti ‘Aisyah, ia berkata kepada beliau nabi ”Wahai Rosulullah, Sungguh, semua teman temanku mempunyai kunyah, aku minta kepadamu untuk memberiku kunyah,” Rosulullah SAW  menjawabnya ”Aku berikan kamu kunyah dengan anak angkatmu, Ummu Abdillah bin Al-zubair”. Dan akhirnya Siti ‘Aisyah mendapatkan  kunyah Ummu Abdillah sampai ajal menjemput.

Disamping ia wanita yang berparas elok, ia juga mendapat anugerah kecerdasan. ia telah meriwayatkan hadits dari beliau nabi mencapai kisaran dua ribu dua ratus sepuluh. Ada seratus tujuh puluh empat hadits yang telah disepakati oleh imam Bukhari dan Muslim. Dan ada lima puluh empat hadits yang telah diriwayatkan sendiri oleh imam Bukhari, demikian pula imam Muslim, juga meriwayatkan enam puluh tujuh hadits. Sayyidah Aisyah merupakan sosok yang berkeilmuan luas dan ahli dalam ilmu fiqh. Ibnu Khaitsamah dan thabrany menceritakan dengan rawi yang kuat dari az-Zuhri bahwa Rasulullah pernah berkata “Andaikata ilmu para wanita umat ini dikumpulkan yang didalamnya terdapat istri-istri nabi maka niscaya ilmu ‘Aisyah tetap lebih banyak dari mereka.” Dalam riwayat lain disebutkan dari riwayat ibnu Abi Khoitsamah dan Hakim serta thabrany dengan sanad yang Hasan dan Abu ‘Umar bin Asakir dari Urwah bin al-Zubair berkata “Saya tidaklah melihat orang yang paling alim tentang ilmu al-Qur’an, ilmu Faraidl, tentang halal dan harom tentang Fiqh, pengobatan, syair tentang hadist arab dan tentang nasab daripada ‘Aisyah” Bahkan pada masa Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman sampai  Sayyidah ’Aisyah meninggal, ia disibukkan dengan fatwa.

Dalam catatan sejarah telah tertulis, bahwa awal mula pernikahan Nabi Muhammad dengan Sayidah Aisyah berawal dari sebuah mimpi. Imam Ahmad dan Syaikhani meriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia menceritakan: Rasulullah saw mengatakan kepadaku ”Aku telah memimpikanmu sebanyak dua kali sebelum aku menikahimu”. Dalam riwayat lain, beliau nabi mengatakan ”sebanyak tiga malam”. Seorang malaikat datang kepadaku dengan membawa sebuah sutra yang mana lukisanmu terajut didalamnya, kemudian malaikat itu mengatakan kepadaku ”ini adalah istrimu” kemudian dia menyingkap wajah lukisan tersebut dan ternyata wanita tersebut adalah dirimu. Setelah itu, aku mengatakan kepadanya ”apabila hal ini datang dari Allah swt, maka pasti akan terjadi.” Imam Al-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits senada dari ‘Aisyah  _riwayat ini diklaim hasan oleh Ibnu ‘Asakir_. ‘Aisyah menceritakan:  Jibril datang membawa lukisanku kepada Rasulullah saw  dalam secarik kain sutra yang berwarna hijau, dia mengatakan kepada beliau Nabi ”ini adalah istrimu di dunia dan akhirat.” Dalam riwayat lain  dari imam turmudzi senada dengan hadits diatas, namun ada pernyataan bahwa Allah akan menikahkan beliau nabi dengan Aisyah.

Al-Dzahabiy menyebutkan Sayidah ‘Aisyah dipersunting baginda Nabi Muhammad saw. saat usianya enam atau tujuh tahun, dan ada yang mengatakan kurang dari tujuh tahun. Pernikahan ini berlangsung selang waktu sepuluh bulan atau dua tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah setelah wafatnya Sayidah Khadijah binti Khuwailid ra. Dan beliau melakukan hubungan biologis dengan Aisyah kala ia berusia sembilan tahun pada bulan Syawal tahun kedua setelah beliau pulang dari perang  Badar.

Imam at-Tabrani meriwayatkan dari beberapa perawi hadist yang Tsiqah, dari ‘Aisyah ra.  Riwayat tersebut juga diceritakan oleh Imam Ahmad didalam kitab manaqib dan musnadnya. Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abi Salamah bin Abirrahman bin Hathib _Rahimahullah_ . ‘Aisyah mengatakan, tatkala Khadijah ra. telah wafat, datanglah Khaulah binti Hakim, istri Umar bin Madz’un ra. kepada Rasulullah Saw, kemudian dia mengatakan "wahai  Rosulullah! Apakah anda ingin menikah?" beliau menjawab "dengan siapa?" lalu dia melanjutkan "anda ingin yang masih perawan atau yang sudah janda?" Rasulullah kembali menjawab "siapakah dia yang masih perawan dan siapakah dia  yang sudah menjanda?" dia melanjutkan "seseorang yang masih perawan itu ialah putri orang yang paling anda cintai (Abu bakar), dan ia juga sangat mencintai anda. seseorang yang sudah menjanda ialah Saudah binti zam'ah ra. dia telah beriman kepadamu dan memeluk agamamu" setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan, Rasulullah melanjutkan "pergilah! dan carilah informasi tentang keduanya untukku", Setelah itu,  Khaulah pergi menemui Ummu Ruman kemudian mengatakan "Wahai Ummun rumaan! keberuntungan dan barakah apa yang telah Allah berikan kepada keluarga kalian?" Ummu Rumaan menyahut "apa itu? Aku tidak mengerti". Kemudian Khaulah  menjawabnya “Rasulullah saw. hendak meminang 'Aisyah” setelah itu, Ummu Ruuman mengatakan “aku bahagia mendengar berita tersebut. tapi, nantilah kedatangan Abu bakar”.

Setelah suaminya datang,  Khaulah mengatakan kepadanya sesuatu yang telah  dikatakannya kepada Ummu Ruuman. ”Apakah ‘Aisyah layak untuk bersanding dengan Rasulullah” sahut sahabat Abu Bakar seolah tak percaya. dalam satu riwayat yang lain ia berkata ”Aisyah itu putri dari saudara Rasulullah saw” setelah mendengar jawaban dari Abu Bakar, Khaulah  kembali menghadap kepada Rasulullah saw. lalu menceritakan apa yang telah dikatakan Abu Bakar dan Ummu Ruman, setelah mendengar apa yang telah  dikatakannya. Rasulullah saw berkata kepadanya ”datanglah kembali kepadanya dan katakanlah sesungguhnya aku saudaramu dan kamu adalah saudaraku” dalam riwayat lain Rasulullah saw mengatakan “kamu itu saudaraku dan aku  saudaramu sesama pemeluk agama islam. Begitu juga putrimu” dalam riwayat lain “putrimu pantas untukku”.

Setelah mendapat jawaban dari sahabat Abu Bakar Khaulah menyampaikan hal terebut kepada Abu Bakar, beliau menyahut ”sebentar, tunggulah aku” lalu beliau bergegas pergi dari hadapannya. Taklama kemudian, Ummu Rumaan menemuinya dan mengatakan ”ketahuilah! Bahwasanya Muth’im ibn adiy telah meminang ‘Aisyah untuk putranya, Demi Allah! Abu bakar tidak pernah mengingkari janjinya”. Setelah itu, Abu bakar menemui Muth’im dan memberitahu kepadanya tentang apa yang terjadi. Saat itu juga, istri Muth’im, Ummu Ahni` sedang berada disampingnya. Tak lama kemudian, beliau melanjutkan ”apa yang akan engkau katakan kepada istrimu?” setelah itu, Muth’im menatap istrinya dan mengatakan ”apa keputusanmu?” lalu, istrinya menjawab ”aku akan menyetujui apa yang akan menjadi keputusan Abu bakar, kita semua berharap apabila kita menikahkan Rosulullah dengan putrinya, dia akan mengikuti agama yang  beliau anut” setelah mendengar apa yang telah dikatakan,  Abu Bakar menatap Muth’im dan mengatakan ”apa keputusanmu sendiri?” dia menjawab “keputusanku sesuai dengan apa yang baru saja dikatakan oleh istriku”. Setelah mendengar jawaban darinya, beliau bergegas memohon diri dengan tanpa ada ganjalan janji yang belum ditunaikan. Sejurus kemudian, beliau kembali kerumah dan menemui Khaulah kemudian mengatakan kepadanya ”temuilah Rasulullah saw dan undanglah beliau kemari” tak lama kemudian, Rasulullah saw hadir ditengah-tengah keluarga Abu bakar kemudian menikahi ‘Aisyah. Kemudian beliau tidak melakukan hubungan biologis dengannya selama dua tahun. 

Namun menurut imam al-Mawardi sebenarnya dalam kasus ini terjadi silang pendapat diatara para ulama’ Fuqaha’ dan ulama’ muhaditsin terkait dahulu mana pernikahan antara dewi Saudah dengan sayyidah Aisyah. Menurut ulama’ ahli fiqih, dahulu sayyidah Aisyah dan menurut ahli hadist dahulu sayyidah Saudah, tapi kedua pendapat ini disinkronkan bahwa yang pertama diaqadi nikah adalah sayyidah Aisyah namun beliau belum melakukan hubungan biologis dengannya, lantas beliau menikahi sayyidah Saudah kemudian menjima’nya lantas hijrah ke madinah. Pada bulan syawwal tepat nya pada tahun pertama setelah sampai di Madinah nabi membuatkan kamar untuk istri beliau-tapi menurut pendapat lain pada tahun ke dua- dan baru berkumpul (melakukan hubungan biologis) dengan sayyidah Aisyah ketika sampai di Madinah dengan jarak tujuh bulan. Kejadian diatas bertendensikan sebuah hadist.
حَدَّثَنِى عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ تُوُفِّيَتْ خَدِيجَةُ قَبْلَ مَخْرَجِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - إِلَى الْمَدِينَةِ بِثَلاَثِ سِنِينَ ، فَلَبِثَ سَنَتَيْنِ أَوْ قَرِيبًا مِنْ ذَلِكَ ، وَنَكَحَ عَائِشَةَ وَهْىَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، ثُمَّ بَنَى بِهَا وَهْىَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ
“Diceritakan dari ‘Ubaid bin ismail diceritakan dari abu usamah dari hisyam dari ayahnya berkata sayyidah khodijah wafat sebelum nabi hijrah ke madinah dalam jarak 3 tahun kemudian nabi menetap di Makkah kurang lebih 2 tahun dan menikah dengan sayyidah Aisyah yang berumur enam tahun. dan beliau melakukan hubungan biologis dengannya kala berusia sembilan tahun.”

Diantara isteri-isteri Nabi Muhammad Sayidah Aisyah merupakan wanita yang paling beliau cintai, sebagaimana yang telah di ungkapkan dalam kitab siyaru al-A’lam an-nubala’. Rasa cinta beliau nampak jelas kala sahabat Umar ibn al-Ash bertanya pada beliau “Siapakah manusia yang paling anda cintai wahai Rasulullah?” “Aisyah” jawab nabi. Lalu Umar melanjutkan pertanyaannya “Siapakah laki-laki yang paling anda cintai?” nabi menjawab “Ayah Aisyah”. Kata-kata nabi jelas melukiskan betapa berharganya Aisyah dan keluargnya dimata beliau, bahkan beliau pernah mengatakan “Andaikata akan menjadikan seseorang sebagai kekasih, maka aku akan menjadikan Abu Bakar menjadi kekasihku. Namun persaudaraan dalam islam lebih utama”.

Ismail ibn Uwais meriwayatkan hadits, Aisyah berkata : isteri-isteri beliau nabi terbagi menjadi dua kelompok. Yang pertama terdiri dari Aisyah, Hafshah, Shafiyah dan Saudah. Dan kelompok kedua terdiri dari Ummu Salamah dan yang lain. Sudah menjadi rahasia umum dikalangan kaum muslimin bahwa Aisyah adalah isteri yang paling dicintai oleh baginda nabi Muhammad. Manakala salah satu diantara madu Aisyah ada yang hendak memberi hadiah pada beliau, maka mereka menangguhkannya hingga beliau berada dirumah Aisyah. Pada suatu ketika para isteri nabi yang tergabung dalam kelompok Ummu Salamah berkata padanya “Memohonlah pada beliau agar berkenan menerima hadiah dimanapun beliau berada diantara isteri-isterinya yang lain”. Mendengar permintaan ini Ummu Salamah memberanikan diri menyampaikannya pada Rasulullah perihal mereka, Namun beliau diam seribu bahasa. Disisi lain para madu Aisyah tak kenal lelah meminta pada Ummu Salamah untuk menyampaikan permintaan mereka, “Nabi tak mengatakan sesuatu apapun” jawab Ummu Salamah. Lagi-lagi mereka memaksa “memohonlah kepada beliau!”. Ketika tiba giliran Rasulullah dirumahnya ia mencoba lagi untuk membujuk beliau, dan kali itu pula tak sepatah katapun terucap dari beliau. Entah apa gerangan yang telah membuat para madu Aisyah seakan tak rela bila cinta beliau berat sebelah, dan terahir kalinya mereka berhasil membujuk Ummu Salamah, akan tetapi usaha Ummu Salamah kali ini mendapat jawaban dari beliau “Wahai Ummu Salamah” jawab nabi “Janganlah engkau membuat hatiku sakit melalui Aisyah, karena sesungguhnya wahyu  tidak pernah turun kepadaku kecuali aku sedang berada disampingnya”. Mendengar jawaban beliau ia menyesal sembari berkata “Wahai Rasulullah, Aku bertaubat pada Allah”.

Usaha para madu ‘Aisyah melalui Ummu Salamah tak membuahkan hasil, ia pulang dengan tangan hampa. Namun mereka tak kehilangan akal, mereka mencoba memanfaatkan puteri beliau, Fatimah agar membujuk ayahandanya dan menyampaikan sesungguhnya isteri-isterinya menuntut keadilan atas puteri Abu Bakar. Tak lama kemudian ia berkata pada Rasulullah, dan nabi menjawab “Wahai puteriku, apakah engkau tidak mencintai apa yang aku cintai?” Fatimah menjawab “wahai ayah, aku juga mencintainya” lalu ia kembali pada para madu Aisyah dan menceritakan apa yang telah terjadi. Mereka memaksa kedua kedua kalinya, namun Fatimah menolak. Hampir saja mereka kehabisan siasat mengatasi masalah ini, tapi mereka masih memiliki satu lagi amunisi yang bisa diharapkan, dengan cara mengirim Zainab binti Jahsiy untuk membujuk beliau. Terbakar amarah Zainab datang pada beliau dan meminta keadilan pada beliau, dengan nada tinggi ia berkata “Isteri-isteri anda meminta keadilan atas cucu Abi Quhafah” ia berkata dengan suara keras dan memegang tangan Aisyah yang sedang duduk disamping beliau dan menghinanya. Saat itu beliau hanya mengamati dan memperhatikan, Apakah Aisyah akan melawan atau tidak. Tak lama kemudia Aisyah menjawab dan membuat Zainab terbungkam seolah tak dapat berkata-kata untuk menjawabnya. Menyaksikan peristiwa tersebut nabi melihat Aisyah sembari berkata “Sesungguhnya ia adalah puteri Abu Bakar”.

Dalam beberapa riwayat disebutkan, ada beberapa keistimewaan Sayidah Aisyah yang tidak ditemukan pada isteri beliau yang lain. Diriwayatkan dari Salamah bin 'Abdurrahman bin 'Auf ra. bahwa keutamaan Sayidah 'Aisyah atas istri-istri nabi seperti keutamaan tsarid  atas makanan yang lain. Ia juga pernah melihat malaikat jibril dan mendapatkan salam darinya. Nabi tidak pernah menikahi gadis perawan kecuali dia. Selain itu nilai lebih yang dimiliki Sayidah 'Aisyah ra. dibandingkan dengan istri-istri beliau juga sempat ter-ekspose dalam riwayat hadist sebagai berikut: “Abu Umar meriwayatkan dari sayidah Aisyah ra dan beliau berkata: saya bersaing dengan istri-istri nabi Saw. dalam empat hal. Pertama hanya saya istri yang berstatus perawan diantara istri-istri nabi. Kedua semenjak beliau menjadi suami ku al-Qur'an hanya turun dirumahku. Ketiga setiap ada permasalahan yang berkenaan dengan ku maka turunlah al-Qur'an dan nabi membacanya dan yang ke empat sebelum nabi meminangku jibril datang kepada nabi sebanyak dua kali dengan membawa bentukku.” 



**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments