Kisah Nabi Muhammad, Hijrah Ke Habasyah Etiopia (Bag 4 Selesai)


PEMBATALAN PERJANJIAN

Dalam situasi yang seperti ini tidak ada rasa prihatin yang mencuat diantara orang quraisy, kecuali Hisyam bin 'Amr bin Harist bin 'Amr bin Luay al-Amiry  ia adalah putra saudara laki-laki Nadlah bin Hisyam bin Adbul Manaf dari jalur ibu sehingga Hisyam pada bani hasyim masih ada hubungan kerabat, selain itu ia meruapakan sosok terpandang diantara qaumnya.

Perhatiannya dibuktikan suatu hari ia pergi menemui Zuhair bin Abi Umayyah bin Mughiroh bin 'Abdullah bin Umar bin Mahzum, sedangak ibu Zuhair adalah 'Atikah binti abdul Mutholib dan berkata "wahai Zuhair, apakah kau bisa makan dengan enak, memakai pakaian semaumu dan menikahi siapa saja. padahal paman-pamanmu tidak bisa membeli atau menjual apapun dan tidak bisa menikah dan dinikahi?. aku berjanji, demi Allah, seandainya saja mereka (bani hisyam dan bani mutholib) adalah paman abu jahal. Kemudian engkau mengajaknya(abu Jahal) untuk melakukan seuatu yang pernah Abu Jahal  perintahkan kepadamu, maka pasti abu jahal selamanya tidak akan menurutimu".

Zuhair menjawab ”Celaka kau Hisyam!, Apa yang bisa ku perbuat. aku hanya seorang diri. Demi Allah seandainya ada seorang laki-laki yang mendukungku, pasti aku akan bangkit untuk merusak perjanjian itu.”
Hisyam menjawab"kamu telah menemukan laki-laki itu "
Zuhair bertanya "siapa pria itu?".
  Hisyam menjawab " akulah, orangnya!".
Zuhair berkata "kalau begitu, Ayo kita cari orang yang ketiga”.

Kemudian Hisyam pergi menemui Al Muth'im ibn 'Adi. Hisyam berkata pada Al Muth'im ibn 'Adi "wahai muth'im! apakah kau akan merusak persaudaraan diantara Bani Abdi Manaf. kau sudah tahu apa yang terjadi, dan sepakat dengan orang Quraisy!. Sungguh, demi Allah! seandainya kau bisa merusaknya, maka lakukanlah!”.

Muth'im menjawab "celaka kau, apa yang harus kulakukan, sedangkan aku hanya seorang diri".
  Hisyam menjawab "kau tidak sendiri. kau telah menemukan dua  teman”.
"Siapa orang itu "tanya Muth'im.
"Saya" jawab Hisyam.
“Siapa yang satunya lagi.!”, tanya Muth'im
Hisyam menjawab "Zuhair ibn Abi Umayyah".
Muth'im berkata"kalau begitu, marilah kita mencari teman yang keempat!”.
Merekapun menuju kerumah Abu al Buhkturi ibn Hisyam dan berbicara seperti apa yang telah dibicarakan kepada Muth'im.
Abu al Bukhturi berkata "apakah ada orang yang akan membantu kita ? .
Hisyam menjawab "ada".
  Abu al Buhkturi bertanya "siapa dia?".
Hisyam menjawab  Zuhair ibn Abi Umayyah, Mut'im ibn  Ady dan saya juga bersamamu .
Abu al Buhkturi berkata "ayo kita cari orang yang kelima".
Hisyampun menemui Zam'ah ibn al Aswad ibn al mutholib bin asad untuk mengutarakan  tujuannya.
Zam'ah berkata "apakah ada yang akan membantu".
Hisyam menjawab "ada".
Merekapun berkumpul pada malam hari didataran tinggi Makkah untuk merusak perjanjian yang merugikan itu.
Zuhair berkata "saya yang akan memulainya”.

Kemudian Bangkitlah lima pemuka Quraisy untuk merusak surat perjanjian yang mengandung unsur penganiayaan itu. Mereka adalah
1. Hisyam bin ‘Amar ibn Harits Al-‘Amiri
2. Zubair ibn Abi Umayah Al-Makhzumi, (ia adalah Putra bibi Nabi yang bernama ‘Atikah binti 'Abdul Mutholib)
3. Al-Muth'im ibn ‘Adi An-Naufaliy
4. Abu Al-Bukhturiy bin Hisyam Al-Asady
5. Zam'ah ibn Al-Aswad Al-Asady.
Keesokan harinya Zuhair thowaf di Baitullah. Ia menghadap ke seluruh penduduk Makkah seraya berkata"wahai penduduk Makkah! apakah kalian bisa makan dengan seenaknya dan memakai baju semaunya,  sedangkan Bani Hasyim dalam kesengsaraan, tidak bisa membeli dan menjual apapun. Demi Allah! aku tidak akan tinggal diam sebelum aku dapat menyobek kertas perjanjian itu.”

  Ketika itu Abu jahal berada disekitar masjid. Mendengar itu dia lamgsung berkata "demi Allah! kau berbohong, aku yakin kau tidak akan merobek lembaran itu".

Zam'ah ibn Aswad berkata"Demi Allah! kaulah yang pendusta, sejak dulu sebenarnya saya tidak setuju atas perjanjian itu.”

Abu al Buhkturi menambahi "Zam'ah benar, saya juga tidak rela”.
Muth'im berkata "mereka berdua benar, sedangkan orang yang tidak sependapat dengan mereka maka dialah yang berdusta. aku tidak pernah ikut campur atas perjanjian itu”.

  Sedangkan Hisyam mengatakan hal yang sama. Setelah itu, Abu Jahal berkata "Keaadaan ini sebenarnya telah diputuskan sebelumnya dan telah dimusyawarahkan diluar majlis ini". Saat itu Abu Tholib berada disekitar Masjid. Muth'im ibn ‘Ady mengambil lembaran perjanjian itu dan akan menyobeknya. Di luar dugaan, ternyata lembaran-lembaran itu telah habis dimakan rayap, dan yang tersisa hanya kalimat bismika Allahumma ( hanya dengan nama-Mu, ya Allah ….!)

Sedangkan menurut ibnu Hisyam: Sebagian Ahli Ilmu menuturkan bahwa Rasulullah pernah berkata kepada paman beliau Abi Tholib "Wahai paman sebenarnya Allah telah mengutus rayap untuk merusak kertas perjanjian yang penuh kedloliman itu, kecuali nama Allah". Lantas Abu Tholib bertanya "apakah Tuhanmu memberitahukan hal ini, "ya" jawab Nabi. Lantas Abu Tholib berkata "Demi Allah, tidak akan seorang yang akan menyakiti engkau". Hal ini disampaikan oleh Abu Tholib karena ia siap untuk melindungi beliau nabi dalam keadaan apapun, dan ia sangat percaya dengan apa yang beliau nabi katakan.

Dalam satu keterangan, Abu Tholib bersama kaumnya dari Bani Mutholib bergegas menuju masjid, tempat berkumpulnya kaum Quraisy. Kaum Quraisy  merasa ada yang tidak beres dengan kedatangan Abu Tholib. mereka mengira bahwa Abu Tholib bersama kaumnya keluar dari pemboikotan karena tidak kuat dengan kesengsaraa yang dialaminya, sehingga mereka datang untuk menyerahkan Nabi Saw.

Di hadapan kaum Quraisy, Abu Tholib berkata “telah terjadi sesuatu hal diantara kalian semua yang tidak akan aku sebutkan padamu, ambillah kertas yang bertulisankan perjanjian itu, mungkin saja akan ada perdamaian diantara kita”.

Abu Tholib berkata semacam itu, karena khawatir kaum Quraisy melihat surat perjanjian tersebut sebelum saatnya. Kaum Quraisypun menurunkan kertas perjanjian itu. dengan perasaan kagum dan yakin bahwa nabi akan diserahkan pada mereka. kertas itu diletakkan diantara mereka.

Kaum Quraisy berkata ”Sudah saatnya bagi kalian semua untuk menerima dan kembali pada satu keputusan yang bisa menyatukan  kaummu. Sesungguhnya perpecahan diantara kita, hanya karena seorang laki-laki yang kalian jadikan sebagai pemimpin, untuk menghancurkan kaum Quraisy dan keluargamu”.

  Abu tholib berkata ”kedatanganku kemari hanya untuk memberitahukan sesuatu yang patut kalian ketahui. Sesungguhnya putra saudaraku, Muhammad memberi tahukanku tentang sesuatu, ia tidak pernah berbohong padaku. Ia mengatakan, bahwa Allah telah menghancurkan lembaran perjanjian yang berada ditangan kalian, dan telah mengapus semua asma Allah yang terdapat di dalamnya. Yang tersisa hanya tulisan-tulisan yang berisi penghianatan, memutus hubungan kekeluargaan dan rasa saling menolong pada kami. Sekarang jika berita yang dibawa oleh putra saudarakku ini benar-benar terjadi sesuai dengan yang dia dikatakan, ingatlah kami tidak akan menyerahkannya selamanya sampai kami mati. Namun, jika perkataanya bohong maka Muhammad akan aku serahkan pada kalain untuk kalian bunuh atau untuk dipermalukan”.

Mendengar tawaran Abu Tholib mereka berkata “baik, kami setuju dengan tawaranmu”. Mereka pun segera membuka lembaran perjanjian. Ternyata, berita yang disampaikan Nabi saw. sesuai dengan kenyataan. Melihat hal itu kaum Quraisy terkejut lantas mereka berkata “demi Allah!, ini tidak lain hanyalah sihir Muhammad”.

Mereka terdiam, dan bersikukuh pada keputusannya. Mereka tetap akan selalu berusaha menyakiti Nabi saw. Salah satu kaum  dari bani Abdul Muthoib berkata “sesungguhnya yang patut dikatakan pembohong  dan tukang sihir adalah Kalian bagaimaman tidak, kita semua tau bahwa kesepakatan pemboikotan kalian justru lebih dekat dengan sihir, sementara kalian mengatakan sihir dari kita. padahal kami yakin bahwa kesepakatanmu semua identik dengan sihir. Seandainya kesepakantanmu bukan termasuk sihir, maka pasti lembaran perjanjian itu tidak akan rusak. Selain itu,  lembaran itu juga berada ditangan kalian semua, yang hilang kan asma Allah, sedangkan isi perjanjiannya kan tetap utuh, sebenarnya yang penyihir  itu, kami ataukah kalian semua ?”.

Setelah itu, orang-orang di sekitarnya dari golongan bani abdul manaf, bani Qusshoy dan pemuda-pemuda dari kalangan Quraisy yang terlahir dari bani Hasyim yaitu al-Bukhtury, al-Muth'im bin 'ady, Zuhair bin abi Umayyah bin Mighiroh , Zam'ah bin al-Aswad, Hisyam bin Amr dari bani 'Amir bin Lu'ay mengatakan kata sepakat "kita semua telah terbebebas dari semua ketentuan yang terdapat dalam lembaran itu". Kesepakatan ini disambut gembira oleh orang-orang yang sebelumnya telah tertekan dengan pemboikotan ini. Selain itu, raja Najasy juga memberikan sambutan baik atas dibatalkanya pemboikotan ini.

Menurut al- Wakidi, Bani Hasyim dan Bani Muthollib keluar dari tempat pemboikotan pada tahun 10 kenabian, tepatnya 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Selisih antara wafatnya Abu Tholib dengan Nabi keluar dari pemboikotan hanya sedikit (karena tak lama kemudian sayyidah Khodijah wafat).

Yang mengalami penderitaan bersama Nabi saw adalah bani Hasyim dan bani Mutholib, baik yang islam maupun yang kafir , selain Abu Lahab, ia memilih tetap bersama dengan kaum Quraiys. Sedangkan bani Abdi Syams dan bani Naufal -yaikni dua putra bani abdi manaf- tidak ikut bersatu dengan mereka. Dari sinilah para ulama merumuskan bahwa yang dimaksud dengan keluarga Nabi saw adalah bani Hasyim dan bani Mutholib, bukan Abdi Syams dan Bani Naufal. sehingga Nabi Muhammad saw membagikan sebagian dari harta rampasan perang hanya kepada Bani Hasyim dan Bani Mutholib.

UTUSAN DARI NAJRAN

Setelah Nabi Muhammad  keluar dari tempat persembunyian, datanglah beberapa utusan kaum Nasrani Najran yang telah mendengar berita tentang keberadaan nabi dari para sahabat yang hijrah ketanah Habasyah, lantas mereka menghadap nabi sehingga mereka dapat mengetahui sifat-sifat nabi sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kitab-kitab mereka. Jumlah mereka kurang lebih 20 orang laki-laki, kemudian beliau membacakan Al-qur'an kepada mereka sehingga mereka beriman pada beliau nabi.

Mengetahui hal itu lantas Abu Jahal mencacimaki mereka seraya mengatakan ”aku tidak melihat golongan yang lebih dungu dibanding kalian, kalian di utus hanya untuk mencari tahu tentang  laki-laki ini (Nabi Muhammad), sungguh aneh kenapa kalian justru berpindah agama karenanya”. Mereka menjawab “semoga keselamatan atasmu,  kami tidak akan berbuat bodoh sepertimu, apa yang kalian lakukan adalah urusan kalian, dan biarkan kami melakukan apa yang menjadi  pilihan kami”.
Berkaitan dengan hal ini Allah menurunkan Surat Al-Qoshos :

Artinya: "Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: "Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar Perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi Kami amal-amal Kami dan bagimu amal-amalmu, Kesejahteraan atas dirimu, Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil".

Dan ketika penduduk Makkah merasa tidak mampu untuk mengalahkan nabi, dan tidak mungkin bagi mereka untuk menentang hujjah beliau, lantas mereka menuduh nabi melakukan sihir, berdusta, gila dan hanyalah seorang peramal. Semua itu merupakan perbuatan orang yang lemah yang tidak punya rasa malu (atas keingkarannya) untuk mengungkapkan ”Wahai Allah, jika Qur'an ini benar berasal dari-Mu maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami Adzab yang pedih”.

 ada beberapa versi mengenai jumlah anggota rombongan yang berangkat pertama. versi yang kuat menurut Ulama ‘Iroqiy (ulama yang berasal dari Irak) , mereka terdiri dari 12 laki-laki dan 5 perempuan. (lihat :Subulul Huda wa ar-Rosyad; juz. II hal: 363)
 Subulul Huda wa ar-Rosyad; juz. II hal: 363
 Siroh Ibn Hisyam 1/330
 Kaum yang pertama hijrah ke Habasyah meliputi berbagai keturunan yang berasal dari Makkah antara lain; keturunan Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi manaf bin Qusai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Gholib bin Fih’r: Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah dan isterinya (Ruqoyyah binti Rasulullah Saw,). Dari keturunan bani Abdi Syams bin Abdi Manaf: Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams beserta isterinya (Sahlah bin Suhail bin Umar). Bani As’ad bin Abdi Al-Uzza bin Qusay: Zubair bin Awam bin Hawailid bin Asad.

**Sumber tulisan:

Buku "Lentera Kegelapan"
Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw
Karya Legendaris Siswa Tamatan Lirboyo 2010

Post a Comment

0 Comments