(3) Remaja-Nabi-Muhammad, Perjalanan Ke Syam Pertama


PERJALANAN KE SYAM YANG PERTAMA

Suatu saat Abu Thalib mengajak Muhammad melakukan perjalanan ke Syam bersama sebuah kafilah dagang Quraisy. Paman yang sangat mencintai merasa usia beliau sudah cukup untuk pergi dan mengenal dunia luarKala itu beliau berusia 12 tahun. Pada perjalanan kali ini, mereka hanya singgah di Bostra, sebuah kota yang di lewati kafilah dagang Quraisy sebelum sampai di Syam.Di kota itu kafilah tersebut bertemu dengan seorang pendeta yang tinggal di gereja, ia bernama Buhaira, menurut ibnu ‘Asyakir ia tinggal di daerah al-Kufru, sekitar enam mil dari kawasan Basrah.

Disaat rombongan kaum Quraisy singgah di sebelah gereja Buhaira, ia menyambut mereka dengan baik. Padahal, sering kali para kafilah dagang berlalu lalang melintasi kawasan tersebut, ia tak pernah perduli pada mereka dan tak sepatah katapun  keluar darinya untuk menyapa kafilah-kafilah tersebut. Namun, pada tahun itu  ia nampak aneh, tak seperti biasanya, ia begitu ramah pada kafilah orang Quraisy. Setibanya disana, kafilah berteduh dibawah pohon, dan Buhaira melihat awan  teduh menaungi pohon itu, dan anehnya pohon tersebut menjulurkan rantingnya untuk meneduhi Muhammad. Kala ia melihat peristiwa itu, seketika itu ia beranjak dari dalam gerejanya.

Al-Hafidz Abu Bakar mengatakan bahwa Buhaira seketika itu menghampiri Muhammad yang berada dalam kafilah kaum Quraisy, lalu memegang tangannya sembari berkata “Pemuda ini adalah pimpinan semua mahluk”. Mendengar apa yang baru saja dikatakan, para pemuka Quraisy menyahut “apa yang  kau ketahui tentang semua ini?”. Buhaira melanjutkan “Sungguh, saat kalian mendekati ‘Aqabah tak ada satupun pepohonan dan bebatuan kecuali bersujud padanya (Muhammad), mereka tidak akan bersujud kecuali hanya kepada seorang nabi. Dan aku telah mengetahui tanda kenabian yang berada dalam di antara kedua punggungnya bagian bawah”.

Kemudian Buhaira kembali ke tempatnya menyuruh seseorang membuat makanan dan menyuguhkannya pada kafilah tersebut. Dan ia mulai menyapa mereka “Aku telah membuat makanan untuk kalian semua wahai orang-orang Quraisy. Dan aku ingin kalian datang, baik yang tua, muda, merdeka, atau budak”. Ada seorang dari kafilah menyahut “Wahai Buhaira, Demi Allah, anda nampak aneh hari ini, anda tidak pernah hal ini pada kami sebelumnya, padahal kami sering melintasi kawasan ini. Apa yang terjadi pada anda hari ini?” Ia menjawab “kamu benar, tapi kalian semua adalah tamuku. Dan aku ingin memuliakan menjamu kalian semua untuk menikmati hidangan yang telah aku sediakan”. Para rombongan semua berkumpul. Namun, lain halnya dengan Muhammad, ia justeru mundur kebelakang diantara para rombongan, lantas berteduh dibawah pohon. Dikarenakan  ia merasa masih terlalu muda.

Layaknya harimau yang mengintai mangsanya, Buhaira mulai menebar pandangan kesegala arah. Namun, ia tak melihat Muhammad diantara kumpulan tamu-tamunya. Merasa seseorang yang dicarinya tidak kelihatan batang hidungnya, spontan ia berkata “Wahai orang-orang Quraisy! Jangan sampai diantara kalian ada yang tertinggal untuk menikmati hidanganku.” Merekapun menyahut “Wahai Buhaira, kami tidak meninggalkan siapapun, kecuali seorang yang masih muda belia. Ia bersama rombongannya dibelakang sana”. “janganlah kalian melakukan hal itu” sahut Buhaira, lalu ia melanjutkan “Panggillah ia kemari untuk menikmati hidangan ini” Seorang dari kafilah menyahut “Demi Lata dan ‘Uzza, tak masalah bagi kami seandainya putera Abdullah bin Abdul Muthallib tidak ikut menikmati hidangan bersama kami”. Tak sepatah katapun terucap dari mulut Buhaira, ia melangkahkan kaki ke arah Muhammad. Sejurus kemudian mereka berdua telah bercampur baur bersama kafilah yang sedang menikmati hidangan sang tuan rumah.

Sejak awal, Buhaira mengamati perihal nabi dengan teliti. Ia mengamati seluruh tubuh Muhammad, dan ia dapat mengenali sifat-sifat sang nabi yang telah diketahuinya lewat kitab suci yang menjadi pegangannya. Saat para rombongan usai menyantap hidangan, mereka beristirahat ditempat yang terpisah, Buhaira menghampiri Muhammad dan berkata padanya “Wahai pemuda, Demi Lata dan ‘Uzza, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tentang sesuatu yang telah aku ketahui”. Kemudian Nabi Muhammad menjawab “Janganlah anda menanyakan apapun padaku atas nama Lata dan ‘Uzza. Demi Allah, tak ada sesuatu apapun yang paling membuatku marah  kecuali hal itu”. Buhaira melanjutkan “Demi Allah, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tentang sesuatu yang telah aku ketahui”. Lantas Buhaira memenuhi pemintaan nabi. “Sekarang tanyalah sesuatu padaku.” Sahut  muhammad. Lalu Buhaira mulai menanyakan tentang kebiasaan saat beliau tidur, dan tentang hal-hal lain. Dan Muhammad menjawab apa adanya. Ternyata, jawaban yang ia lontarkan sesuai dengan apa yang telah diketahui oleh sang pendeta, yaitu mengenai sifat-sifatnya. Sejurus kemudian ia melihat pada punggung Muhammad, disana terdapat cap kenabian.

Ibnu Ishaq mengetengahkan cerita, ketika Buhaira telah selesai bebincang-bincang dengan Muhammad lantas ia menghampiri pamannya seraya berkata “Apa hubungan anak ini denganmu?”. “ia anakku” jawab Abu Thalib. “Tidak mungkin ayah anak ini masih hidup”. Sanggah sang pendeta dengan mantap, hal tersebut memaksa  Abu Thalib untuk mengatakan hal yang sebenarnya “kamu benar, ia adalah anak saudaraku”. “Apa pekerjaan ayahnya?” lanjut sang pendeta penuh selidik. “Ayahnya telah meninggal dunia saat ia masih dalam kandungan bundanya” sahut Abu Thalib.  Mendengar apa yang baru disampaikan Abu Thalib, Buhairapun mengiyakan  “Kamu benar, bersegeralah engkau bawa ia pulang kerumah. Lindungi ia dari orang-orang yahudi. Demi Allah, seandainya orang yahudi mengetahui apa yang aku ketahui tentangnya. Maka, mereka akan menyakitinya. Keponakanmu ini memiliki kelebihan yang luar biasa”. Mendengar hal itu, Abu Thalib segera pulang setelah selesai berdagang. 

Post a Comment

0 Comments