(1) Kisah Dakwah Nabi Muhammad, Dakwah Dengan Sembunyi



DAKWAH DENGAN SEMBUNYI-SEMBUNYI.

Saat itu da'wah berlangsung dengan sembunyi-sembunyi karena khawatir mengejutkan orang-orang Quraisy dengan peristiwa besar, yang bisa mengakibatkan mereka sulit menerima agama islam. Maka Nabi Muhammad saw tidak mengajak untuk masuk agama islam melainkan kepada orang-orang yang dipercaya Nabi.

Dari golongan perempuan yang pertama kali menerima islam adalah Sayyidah Khadijah ibnti Khuwailid Khadijah adalah orang pertama kali masuk islam. Keislaman Khadijah bermula dari cerita yang disampaikan oleh Maisyarah, seorang pembantu beliau yang mendampingi perjalanan nabi ke Negara Syam untuk membawa dagangannya, tentang kejadian-kejadian yang dialami oleh Maisyaroh dari awan yang selalu melindungi beliau dari teriknya matahari dan kabar yang disampaikan oleh Rahib yang bernama Nestor. Dan melihatnya Khadijah pada dua sosok Malaikat yang selalu melindungi beliau ketika kembali dari Syam yang kedua. Dari situlah  kekaguman khadijah pada nabi semakin kuat yang mana sebelumnya ia  telah mengagumi sifat-sifat mulia beliau. Hingga Khadijah pun meminta nabi untuk melamarnya. Setelah pernikahan berlangsung beberapa lama, Allah memberikan wahyu pada beliau dengan mimpi-mimpi yang nyata dan berlangsung selama enam bulan.

Setelah itu Allah menghendaki Nabi agar mendekatkan diri kepada-Nya. Dipilihlah gua Hira' tempat untuk menyendiri (berkhalwat). Menurut satu riwayat yang disampaikan oleh imam nawawi, cara ibadah beliau sewaktu berada digua hira' adalah dengan bertafakur atas keagungan tuhan. Menurut sahabat Jabir beliau bertempat disana selama satu bulan. Nabi bersabda: saya bertempat tinggal digua hira' selama satu bulan. Nabipun hanya sesekali pulang kerumah untuk mengambil bekal. Pada suatu malam ketika nabi tertidur datanglah malaikat jibril dan berkata ‘ bacalah !’ ‘ aku tidak bisa membaca’ jawab beliau. Pada saat itu malaikat jibril mendekapku dengan sangat erat sekali sampai aku merasakan ajalku telah tiba. Jibril meminta nabi membaca sampai empat kali dan nabi menjawab dengan jawaban yang sama. Setelah malikat jibril meminta untuk membaca yang keempat kalinya, nabi menjawab ‘apa yang harus kubaca,’ aku menjawab semacam itu agar maliakat jibril tidak mengulangi permintaanya padaku. Lalu malaikat jibril membacakan surat Al isra' ayat 1 sampai 5 dan akupun menirukannya sampai selesai. Setelah itu seolah-olah tertulis sebuah tulisan dan saya keluar dari goa Hira'. setelah berada ditengah gunung saya mendengar dari langit ‘wahai Muhammad engkau adlah utusan Allah dan saya adalah jibril.’ Sayapun melihat kearah langit dan melihat Jibril berupa sosok seprang laki-laki yang telapak kakinya berih berada di ufuk langit. Jibril berkata lagi ‘Wahai Muhammad, kau adalah utusan Allah dan Aku adalah jibril.’ Kemudian aku berhenti dan terus memandangnya dan aku arahkan  pandanganku keseluruh arah langit. Namun saya tidak melihat kesuatu arah kecuali Malaikat Jibril tampak dihadapanku. Saya berhenti tidak maju dan kembali kebelakang, hingga Khodijah menyuruh seseorang mencariku. Lalu orang-orang yang diutusnya sampai dipuncak bukit makkah dan mereka kembali kepadanya dan saya masih tetap diam ditempat sampai malaikat jibril pergi meninggalkan. Kamudian aku kembali kerumah Khodijah, sesampainya disana aku disambut hangat olehnya. Aku duduk bersandar kepadanya. Khadijahpun berkata ‘wahai Abal Qasim dimana saja engkau berada?’ demi Allah! sungguh aku telah menyuruh orang mencarimu sampai mereka tiba dipuncak Makkah dan mereka kembali tanpa membawa hasil apapun". Kemudian aku menceritakan dengan kejadian yang aku lihat seraya Khodija berkata ‘berbahagialah wahai putra pamanku. Dan tetap teguhlah, demi tuhan yang menguasai jiwa Khodijah,sungguh aku berharap agar engkau kelak menjadi seorang nabi yang diutus pada umat manusia’.

Tak lama kemudian Khodijah pergi menuju kediaman Waraqah ibn Naufal Ibn Asad Ibn Abdil Uzza Ibn Qushay, ia adalah putra pamannya. Saat itu Waraqah telah memeluk agama Nashrani dan membaca serta memahami kitab-kitab agama samawi dan ia pernah mendengar dari orang-orang yang mengerti isi dari kitab Taurat dan Injil. Khadijah menceritakan kejadian yang disampaikan Nabi bahwa beliau, melihat dan mendengar Malaikat Jibril. Seketika Waraqah ibn Naufal berkata ‘Qudus Qudus, demi Tuhan yang menguasai jiwa Waraqah sungguh jika engkau membenarkannku wahai Khodijah telah datang seorang utusan yang besar dari malaikat yang dulu pernah datang pada Musa. Dan sesungguhnya Muhammad adalah nabi yang diutus kepada semua umat. Katakanlah padanya agar teguh. Khadijahpun kembali kerumahnya menemui Nabi dan menceritakan ucapan Waraqah ibn Naufal’”.

Setelah nabi selesai dari Khalwatnya, beliau melakukan pekerjaan seperti biasanya. Beliau thawaf di sekitar Ka'bah. Tiba-tiba bertemu dengan Waraqah ibn Naufal yang juga sedang melakukan thawaf. Waraqah menghampiri nabi dan berkata ‘wahai putra saudaraku, ceritakanlah padaku kejadian yang kau lihat dan yang kau dengar. Nabi menceritaknnya. Selanjutnya Waraqah berkata, demi tuhan yang menguasai jiwaku sesungguhnya engkau Muhammad adalah nabi utusan Allah dan malaikat Jibril pembesar malaikat yang dulu datang pada Musa, datang kepadamu. Sungguh engkau akan didustakan, disakiti, diusir dan diperangi oleh kaum Quraisy. Demi Allah  jika aku hidup dihari itu niscaya aku akan menolongmu". kemudian dia mendekatkan kepalanya lalu mencium nabi. Setelah itu nabi kembali ke rumah Khadijah.

 Ibnu ishaq meriwatkan dari ismail ibn Abi Hakim yaitu seorang yang dimerdekakan oleh keluarga zubair bahwa ia mendapatkan cerita tentang Khadijah Ra saat menuji kebenaran wahyu nabi Muhammad. Khadijah berkata pada nabi "wahai putra pamanku, bisakah engkau bercerita padaku tentang malaikat jibril yang menemanimu digua hira' saat ia datang padamu". Nabi menjawab "ya". Khadijah berkata “apabila malaikat Jibril datang padamu mohon beritahulah aku". Kemudian Malaikat Jibril datang pada nabi Muhammad seperti biasanya. Seketika itu nabi memanggil khadijah dan berkata "Wahai Khadijah! ini , Jibril telah datang padaku". Khodijah berkata "kemarilah suamiku dan duduklah diatas pahaku yang sebelah kiri”. Kemudian nabi duduk bersandar diatasnya. Khadijah berkata "Apakah kau masih melihatnya?"  nabi menjawab "ya". Khadijah berkata "suamiku beralihlah pada sebelah kananku". Nabi beralih diatas paha sebelah kanan Khadijah. Kemudian Khadijah berkata "apakah kau masih melihatnya ?" Nabi menjawab "ya". Khadijah berkata lagi "sekarang kumohon duduklah engkau dipangkuanku". Kemudian nabi berpindah dan duduk diatas pangkuan Khadijah. Khadijahpun berkata "apakah kau masih melihanya?" Nabi menjawab "ya".  Khadijah kemudian meletakkan kerudungnya sehingga wajah dan kepalanya terbuka dan Nabi masih duduk dipangkuannya. Khodijah berkata Pada nabi "apakah engkau masih melihatnya?” Nabi menjawab "tidak" Khadijah berkata "teguhkanlah dirimu wahai putra pamanku dan berbahagialah, demi Allah sesungguhnhya yang datang kepadamu adalah malaikat, bukan syaitan”.

 Ibnu Ishaq juga menceritakan hadits ini pada  Abdullah ibn Hasan. Mendengar hadits ini Abdullah ibn Hasan berkata "aku juga mendengarkan ibuku Fatimah binti Husain menceritakan hadits tentang Khadijah ini, hanya saja ibuku mengatakan bahwa Khadijah memasukkan nabi kedalam baju kurungnya. Saat itulah Jibril hilang dari pandangan nabi Muhammad. Khadijah berkata pada Nabi "sesungguhnya makhluk yang datang padamu adalah malaikat jibril bukan Syaithan”.

Ibnu Hisyam meriwatkan bahwa Malaikat Jibril suatu ketika datang pada nabi dan berkata "ucapkanlah salam dari Allah pada Khadijah". Nabi bersabda "Wahai khadijah, ini Malakat Jibril, ia mengucapkan salam untukmu dari Tuhanmu". Khadijahpun berkata "Allah adalah dzat yang suci dari semua sifat segala kekurang, dan hanya darinyalah keselamatan dan semoga juga pada malaikat jibril”.
Bahkan ia adalah orang yang pertama kali masuk islam secara mutlak. Tidak ada yang mendahuluinya, baik dari golongan wanita ataupun laki-laki. Ibnu ishaq berkata: urutan ini mengikuti pendapat yang paling berhati-hati. tapi Imam as-Siraj al-Bulqini berkata : Orang yang pertama kali masuk islam adalah waraqah ibnu Naufal, karena saat wahyu pertama kali diturunkan pada masa ketika ia masih hidup. Waraqah juga membenarkan dan beriman setelah nabi diangkat menjadi Rasul. Berdasar pada pendapat yang mengatakan bahwa antara pengangkatan menjadi nabi  dan Rasul bersama dalam satu waktu. Tapi jika berpijak pada pendapat yang mengatakan bahwa muhammad saw berstatus seorang  Rasul tidak bersamaan dengan pengangkatan sebagai Nabi, maka Waraqah ibn Naufal juga termasuk orang beriman pertama kali karena ia telah mengetahui Nabi dari Kitab Injil. Pendapat ini juga didukung oleh sekelompok 'ulama, bahkan mereka juga memasukkan Waraqah kedalam golongan Sahabat Nabi.

Ali ibn abi Thalib adalah Orang yang pertama kali beriman dari golongan anak kecil . Saat itu ia berumur delapan tahun (menurut pendapat yang kuat). Menurut al-Kalabi, Ali ibn Abi Thalib pada saat itu berumur Sembilan tahun sedangkan menurut ibnu hamid dari salamah dari ibnu ishaq, ali masuk islam saat berumur sepuluh tahun. Status islamnya adalah sah walaupun dia belum baligh, karena ketika permulaan islam, semua hukum hanya terkait dengan tamyiz (bisa membedakan antar yang baik dan jelek) seseorang tidak harus baligh. Sedangkan pendapat Ibnu ishaq mengenai proses islamnya sayyidina Ali dikisahkan : ketika Nabi menyebarkan ajarannya, Ali berkata "Wahai Muhammad apa ini dan apa yang kau lakukan?". Nabi menjawab "ini adalah agama yang dipilih oleh Allah. Allah telah memilih para rasulnya untuk menyebarkan agamanya. Aku mengajakmu mengesakan Allah dan jangan sekali-kali menyekutukannya.dan jangan pula menyembah Latta Uzza". Ali berkata "ini adalah hal yang belum pernah ku dengar sebelumnya. dan aku tidak bisa memutuskan sebelum menceritakan hal ini pada ayahku." Setelah mendengar ucapan  Ali, nabi melarangnya untuk menceritakan hal ini sebelum waktunya. Nabi berkata "Wahai Ali jika kau tidak menghendaki islam jangalah kau menceritakan ajaran ini pada siapapun, simpanlah untuk dirimu." Mendengar penuturan nabi semacam itu, Ali semalaman tidak bisa memejamkan mata sekalipun, hingga Allah membukakan pintu islam untuknya. Keesokan harinya Ali mendatangi nabi dan bertanya apa yang harus ia lakukan untuk memenuhi ajaran islam yang ia bawa. Nabi berkata "bersaksilah bahwa tiada tuhan selain allah dan jangan sekali-kali menyekutukannya. Ingkarilah Latta dan Uzza." Sayyidina Ali melakukan apa yang telah diperintah oleh Nabi Muhammad saw dan tidak menampakan keislamannya karena takut pada ayahnya.

Sayyidina Ali mengerjakan shalat bersama nabi dan membenarkan semua ajaran yang dibawa oleh nabi. Ibnu ishaq menuturkan bahwa sebagian ahli ilmu mengatakan : setiap tiba waktu sholat, Nabi dan Sayyidina Ali keluar menuju perbukitan Makkah untuk melakukan Shalat bersama-sama. Mereka bersembunyi agar orang-orang Quraisy dan pamannya, Abu tholib, tidak mengetahui ritual yang mereka kerjakan. ketika sore hari mereka berdua kembali. Dan hal semacam ini mereka kerjakan sampai beberapa waktu. Ketika pada suatu hari Abu Thalib lewat di sekitar tempat yang dijadikan persembunyian untuk melakukan shalat nabi, tiba-tiba Abu Thalib terpeleset dan jatuh pada tempat dimana Nabi sedang melakukan Shalat bersama Ali.

Melihat nabi dan putranya melakukan sesuatu yang belum pernah ia lihat maka ia berkata "Wahai putra saudaraku, ajaran apa yang sedang kau lakukan ?". Nabi berkata "wahai pamanku, ini adalah agama Allah swt. Agama malaikatnya. Agama utusan-utusannya, dan agama bapak kita, nabi Ibrahim as. Allah mengutusku dengan membawanya. Sedangkan aku sebagai utusanNya. Dan engkau wahai pamanku, adalah orang yang paling berhak untuk menolongku dan menerima ajaranku". Abu Thalib berkata "Wahai putra saudaraku, aku tidak akan mungkin meninggalkan agama dan ajaran nenek moyangku. Tapi demi Allah aku tidak akan tinggal diam atas apa yang akan terjadi padamu selama aku masih hidup."  Abu Thalib yang mengetahui anaknya mengikuti ajaran nabi lantas brkata padanya "agama apa yang kau ikuti itu?". Ali menjawab "Wahai ayahku, agama yang kuyakini ini adalah agama yang mengajarkan untuk beriman kepada Allah dan Rasulnya serta perintah untuk melaksanakan Sholat". Abu Thalib berkata "jika agama itu mengajak kepada kebaikan, maka teruskan keyakinanmu”.

Kesaksian tentang shalatnya Ali Ibn Abi Thalib, dari Afif ibn  Qais pernah menceritakan suatu kejadian yang dialaminya, suatu hari ketika ia datang ke Makkah , Afif berkata “saya adalah seorang pedagang yang datang ke mina pada musim haji sedangkan Abbas ibn Abdul Muthalib juga seoang pedagang seperti saya. Kami melakukan transaksi jual beli sepertti biasa. setelah melakkukan jual beli, selang berapa waktu saya keluar bersama Abbas, kami melihat ada seorang laki-laki yang keluar dari kemahnya, lantas dia melakukan shalat dengan menghadap Qiblat, dibelakangnya menyusul seorang wanita dan melakukan hal yang sama, dan di susul oleh seorang anak laki-laki yang masih belum baligh. Lalu saya bertanya pada Abbas ‘wahai Abbas agama apa itu, aku belum pernah tahu tentang agama ini?’ Abbas berkata ‘Dia adalah Muhammad ibn Abdullah yang meyakini dirinya adalah utusan Allah. dan negeri Kisra serta Kaisar akan berada dalam genggamannya. perempuan itu adalah khadijah ibnti khuwailid yang beriman pada Muhammad, sedangkan anak itu adalah putra pamannya yang juga beriman pada Muhammad’. Afif berkata ’seandainya aku beriman pada hari itu niscaya saya akan menjadi laki-laki kedua yang masik islam”.

Saat itu sahabat Ali tinggal bersama Nabi Muhammad saw. Hal ini terjadi karena orang-orang Quraisy saat itu dilanda kelaparan sedangkan Abu Thalib adalah orang miskin dan memiliki banyak anak. Nabi Muhammad saw berkata kepada pamannya, ‘Abbas ibn Abdul Muthalib "Sesungguh Abi Thalib memiliki banyak anak, dan sekarang semua orang dalam keadaan kesulitan. mari kita ringankan beban hidupnya dengan mengasuh sebagian putranya."

 Nabi Muhammad saw dan 'Abbas berangkat kerumah Abu Thalib. sesampainya di sana mereka berdua mengutarakan maksudnya. Akhirnya Abbas mengambil Ja'far ibn Abi thalib sedangkan Nabi Muhammad saw mengambil Ali  yang saat itu hampir mendekati baligh. Ali selalu mengikuti  apa yang di lakukan nabi saw dan tidak pernah mengikuti perbuatan orang- orang Jahiliah.

Ajakan Nabi Muhammad saw juga diterima oleh Zaid ibn Haritsah ibn Sarhabil al-Kalabi. Zaid adalah budak yang di merdekakan oleh Nabi Muhammad saw. dia akhirnya dikenal dengan Zaid ibn  Muhammad,  sebab saat itu Nabi Muhammad saw membeli Zaid lalu memerdekakan dan mengangkatnya menjadi anak. Pada waktu itu anak angkat dianggap seperti anak kandung, sehingga bisa mewaris dan diwaris hartanya.

Zaid ibn Haritsah masuk islam dan melaksanakan shalat setelah Sayyidina Ali ra. ibnu ishaq  berkata : Zaid ibn Haritsah ibn Syarhabil ibn Ka'ab ibn Abdi al-Uzza ibn 'Imri'il Qais al-Kalabi adalah seorang budak yang dimerdekakan oleh nabi saw". Dalam satu riwayat di jelaskan, bahwa keponakan Khadijah yang bernama hakim ibn hizam datang ke Makkah dari Negara Syam dengan membawa  budak yang banyak, di antaranya adalah zaid bin haritsah. saat itu Zaid belum mencapai usia dewasa. zaid dijual oleh Kabilah Qain ibn Jisr setelah mereka menjadikannya sebagai budak. Hakim ibnu Hizam berkata pada Khadijah ra "Wahai bibiku, silahkan pilih salah satu dari mereka. Mana yang engkau sukai, maka ia menjadi milikmu".

Setelah mengamati dengan seksama Khodijah memilih Zaid lalu mengambilnya. Pada suatu ketika Nabi saw melihat Zaid bersama Khodijah. Lalu beliau meminta zaid dari Khodijah dan memerdekannya, ia pun dijadikan anak angkat  beliau Nabi saw. Kejadian ini, sebelum nabi menerima wahyu. Pada suatu musim haji, Kabilah Haritsah bertemu dengan Zaid di Makkah dan Zaid berpesan kepada Hujjaj, salah satu rombongan itu agar memberi tahukan kepada bapak dan ibunya bahwa dia bersama Muhammad, seorang ayah yang mulia di Makkah.

 Disisi lain Haritsah, ayahnya Zaid sangat gelisah dengan kepergian putranya, akhirnya dia mendengar bahwa puteranya, zaid berada dibawah asuhan Nabi Muhammad Saw. Haritsah bersama saudaranya memutuskan untuk mendatangi Nabi dengan tujuan mengambilnya dari nabi. Mereka berdua pergi menuju Makkah dengan mencari kediaman al-Amin, Muhammad saw.

Seketika itu Haritsah mendatangi nabi untuk mengambilnya dari nabi. Pada saat tiba disana mereka berdua berkata pada Muhammad saw ”Wahai putera Abdul Muthallib! Wahai putera pemuka kaumnya !kamu adalah penduduk tanah suci Haram , kamu membebaskan dan memberi nafkah pada seorang tawanan, kami datang untuk mengambil putera kami, bebaskanlah dia , bersikaplah arif dalam menerima tebusannya.”

Nabi mengetahui hubungan kekeluargaan antara Zaid dengan ayahnya, . nabi memberi pilihan pada Zaid untuk menetap bersama nabi atau ikut bersama ayahnya. Zaid menjawab "Saya ingin bersamamu wahai Muhammasd". Sejak saat itu Zaid selalu  bersama Muhammad sampai beliau diangkat menjadi utusan.

Di awal penyebaran islam ini 'Ummu Aiman tercatat sebagai perempuan yang pertama kali masuk islam. Dia adalah  seorang wanita yang merawat Nabi Muhammad saw dan akhirnya dinikahkan dengan Zaid ibn Haritsah.

Sedangkan orang yang pertama kali  menerima da'wah Nabi Muhammad saw dari selain keluarga beliau adalah Abu Bakar ibn Abi Quhafah ibn 'Amir ibn Ka'ab ibn Sa’ad ibn Tayyim ibn Murrah at-Tayyimi al-Qurasyiyi beliau adalah teman dekat Nabi Muhammad saw sebelum diangkat menjadi nabi. Abu Bakar juga telah mengetahui dengan baik sifat-sifat Nabi Muhammad saw, sehingga saat Nabi Muhammad saw memberi berita bahwa Allah telah mengutusnya, Abu Bakar langsung beriman dan berkata "Engkau adalah orang yang sangat jujur, saya bersaksi tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah utusan-Nya ". Suatu riwayat menuturkan kisah keislamannya Abu Bakar. Telah diceritakan: Dari golongan laki-laki merdeka yang masuk islam adalah Abu Bakar. Memang beliau bukan yang pertama masuk islam akan tetapi islamnya beliau yang paling besar manfaatnya, yang paling bersar pengaruhnyya. Sebab beliau adalah seorang tokoh yang dimuliakan, kaya, dicintai oleh kaumnya dan tiada hanti-hentinya menyebarkan islam. Syaikh Yunus dari Ibnu Ishaq berkata “suatu hari Abu Bakar  datang untuk menemui nabi lalu ia berkata “Apakah benar yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy, wahai Muhammad!, bahwa engkau telah meninggalkan tuhan-tuhan kita. Menganggap bodoh kita dan mengkufurkan ayah-ayah kita.” Nabi menjawab ”Benar, saya adalah utusan Allah dan nabinya. Allah mengutusku untuk menyampaikan Risalah dan saya mengajakmu hanya menyembah Allah yang haq. Demi Allah, sungguh dialah Dzat yang haq wujud-Nya. Saya mengajakmu, wahai Abu Bakar!,  untuk menyembah kepada-Nya yang maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan tidak menyembah tuhan selain-Nya. Serta selalu taat kepada-Nya.” Lalu nabi membaca sebuah ayat dalam Al Qur’an. Mendengar hal itu Abu Bakar terdiam dan langsung menyatakan diri masuk islam serta ingkar dengan berhala-berhala yang menjadi sesembahan kaum Quraisy.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Nabi bersabda “Setiap orang islam yang kuajak untuk masuk islam selalu ragu dan berfikir kecuali Abu Bakar.” Nabi bersabda “sesungguhnya Allah telah mengutusku untuk kalian semua, tapi kalian semua berkata ‘engkau pembohong’ kecuali Abu Bakar, sebab ia membenarkankanku”.

Saat itu Abu Bakar ra adalah seorang pemimpin yang diagungkan dikalangan orang Quraisy, hartawan, berakhlak mulia, dermawan dicintai kaumnya dan baik pergaulannya. Kedudukan Abu Bakar ra disisi nabi seperti halnya seorang patih bagi raja. Nabi Muhammad saw selalu bermusyawarah kepadanya dalam semua perkara dan Nabi Muhammad saw berkata tentangnya "Saya tidak pernah mengajak  seseorang memeluk agama islam melainkan ia berada dalam kesesatan selainAbu Bakar."

Abu Bakar juga mengajak kepada orang-orang yang ia percaya dari pembesar-pembesar kabilah Quraisy dan ajakan itu di terima oleh beberapa orang diantaranya adalah :
'Utsman ibn 'Affan ibn Abi Al 'Ash ibn Umayyah ibn Abdi Syams ibn Abdi Manaf al-Umawi al-Qurasyiy. Saat pamannya (Hakam) mengetahui bahwa ia telah masuk islam maka pamannya mengikat Tangan beliau kebelalakang dan pamannya berkata  "Apakah engkau membenci agama nenek moyangmu dan berpindah pada agama baru!? Demi Allah! saya tidak akan melepaskanmu sampai kamu meninggalkan agama baru yang telah kamu peluk.” 'Utsman Berkata " Demi Allah, saya tidak akan meniggalkannya dan saya tidak akan memisahkan diri darinya."  setelah Hakam melihat keras dan keteguhan pendirian Utsman dalam memegang kebenaran, maka ia membiarkannya dan saat itu ‘Utsman hampir berusia tiga puluh tahun.
Zubair ibn 'Awam Ibn Khuwailid ibn Asad ibn Abdi Al 'Uzza ibn Qushay al-Qurasyiy dan ibunya, Shafiyah binti Abdul Muthallib. Paman Zubair saat itu mengikatnya dan meletakkannya ditengah-tengah asap api agar ia kembali kepada agama nenek moyangnya, tapi Allah swt memberi keteguhan iman dan saat itu ia belum melewati usia baligh.
Abdur Rahman ibn 'Auf ibn Abdi al-'Auf ibn al-Harist ibn Zuhrah ibn Kilab al-Qurasyiy al-Hasyimiy. Pada zaman Jahilyah ia bernama Abdu ‘Amr (yang artinya hamba ‘Amr) lalu Rasulullah mengganti namanya dengan Abdur Rahman (artinya hamba Allah yang maha pengasih). Imam ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abdurrahman ibn Auf ia berakata : Setahun sebelum diutusnya nabi saya pergi ke Yaman. Setiap kali ke Yaman saya selalu singgah kerumah Atskalan ibn ‘Awakim  Al Hamiri,  beliau adalah seorang yang sangat tua. Beliau menanyakan tetang berita Makkah, Ka’bah dan sumur Zamzam. Beliau berkata “Apakah ada seorang yang mengaku menjadi Nabi? Dan apakah ada seorang dari kalian yang berbeda agamanya?”. “tidak” jawabku. Pada kesempatan yang lain setelah nabi diutus saya berkesempatan untuk menemuinya lagi, sedangkan keadaanya sudah sangat buruk, pandangannya mulai berkurang. anak cucunya berkumpul disampingnya. Mereka berkata tentang kedatanganku. Akhirnya ia duduk disandarkan dan berkata “Sebutkan nasabmu wahai saudaraku dari bangsa Quraisy”. “Saya adalah Abdurrahman ibn Auf ibn Abdi ‘Adi ibn al-Harits ibn Zuhrah” jawabku. Atskalan berkata “Cukup-cukup, wahai keluarga bani Zuhrah! tidakkah aku memberikan berita gembira yang lebih baik dari pada harta dagangan?” aku menjawab “ya”. Atskalan melanjutkan ”Saya akan memberitahumu  tentang sesuatu yang menakjubkan. Sesungguhnya Allah telah mengutus pada bulan pertama seorang nabi yang berasal dari keluargamu. Allah meridlainya dan menurunkan kitab padanya serta memberinya pahala. Ia mencegah dari menyembah berhala dan mengajak pada agama Islam, ia memerintahkan kebenaran dan malakukannya, melarang dari kebathilan dan menghilangkannya”. Aku berkata dari keturunan siapakah nabi itu? “ Atskalan menjawab ”ia dari Bani Hasyim dan kamu semua adalah keluarganya, wahai Abdurrahman!  berbuat baiklah, segera kembalilah, berimanlah dan tolonglah dia”
Sa’ad ibn Abi Waqash, nama Abi Waqash adalah Malik ibn Uhaib ibn Abdi Manaf ibn Zuhrah ibn Kilab al-Zuhri Al Qurasyiy. Saat ibunya, Hamnah ibnti Abi Sufyan mengetahui bahwa ia masuk islam, maka ibunya berkata  "Wahai Sa’ad! aku telah mendengar bahwa kamu telah pindah agama, demi Allah! saya tidak akan berlindung dari panas dan dingin dan aku haramkan makanan serta minuman bagiku sampai kamu mengingkari Muhammad." Hamnah, ibunda Sa’d ibn Abi Waqash terus begitu selama tiga hari, lalu Sa’d datang kepada Rasulullah saw untuk  mengadukan keadaan ibunya. maka turunlah surat al-'Ankabut  ayat  8 untuk memberitahukan masalah itu

Artinya: Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Allah swt memerintahkan agar berbuat baik kepada kedua orang tua,  baik mereka beriman ataupun kafir.Tapi jika keduanya mengajak syirik,  maka kita tidak boleh mentaatinya, karena semua hak atau kewajiban, baik besar maupun kecil, akan hilang ketika bertentangan dengan perintah dan larangan Allah swt. Serta kita tidak boleh mentaati makhluk Allah dalam hal maksiat.
Kemudian pada akhir ayat Allah berfirman "Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, (baik yang beriman ataupun yang kafir), lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (maka aku akan membalasmu  semua dengan balasan yang semestinya). Pada akhir ayat ini terdapat dua faidah:
pertama peringatan bahwa balasan atas amal itu diserahkan pada Allah, maka kamu jangan memikirkan kekerasan watak kedua orang tuamu karena mereka berdua syirik. kamu harus tetap berbakti pada mereka berdua selama tidak melanggar perintah dan larangan Allah. Kerana baktimu kepada mereka akan aku balas dengan pahala dan perbuatan syirik mereka akan aku balas dengan siksa.
Kedua, dorongan agar berpegang teguh pada agama agar tidak mendapatkan siksaan di akhirat nanti.

Sahabat Thalhah ibn Ubaidillah ibn Utsman ibn Amr ibn Ka'ab ibn Sa'ad ibn Tayyin ibn Murrah at-Taiyyimi al-Qurasyi. Thalhah mengenal nabi Muhammad saw dari seorang pendeta yang telah menyebutkan sifat-sifat beliau. Thalhah ibn Abdullah berkata: Pada suatu hari saya datang kesebuah pasar di tanah Bashrah, tiba-tiba seorang Rahib di katelnya berkata “Tanyakanlah kepada orang yang berada di pasar, apakah terdapat seseorang dari tanah Haram?” Talhah berkata “ya, Saya.”  Rahib berkata “Apakah Ahmad telah lahir?” Saya menjawab ”Siapa Ahmad?” Rahib menjawab “putra Abdullah ibn Abdul Muthallib, ini adalah bulan dimana dia keluar, dia adalah nabi akhir zaman, dilahirkan ditanah Haram dan hijrah ke tanah Nakhl, Hurrah Mubakh (Madinah ), Cepatlah kau temui dia !”  Thalhah melanjutkan ”Setelah itu aku selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh Rahib itu, lantas aku bergegas pulang ke Makkah dan aku mencari tahu apakah ada suatu hal yang baru”. Orang Quraisy menjawab ”ya. Muhammad yang terpercaya itu mengaku menjadi nabi dan Abu Bakar adalah orang yang mengikutinya.”

lantas aku menemui Abu Bakar dan menenyakan perihal kabar yang disampaikan oleh orang Quraisy bahwa Abu Bakar telah mengikuti Muhammmad . Abu Bakar menjawab ”Benar. Pergilah, temuilah dia dan ikuti dia, karena dia hanya mengajak kepada kebaikan”.  Thalhah pun menceritakan pengalamannya bertemu dengan Rahib kepada Abu Bakar. selanjutnya mereka berdua pergi menemui nabi dan Thalhah mendengar dari Rasulullah saw perkataan-perkataan yang bermanfaat baginya dan ia menilai bahwa agama islam ini adalah agama yang kokoh dan terhindar dari kekurangan seperti ajaran yang dipeluk oleh orang-orang Arab Jahilyah,  maka ia segera masuk islam. Thalhah menceritakan pengalamannya bertemu Rahib saat di Bashrah, Nabi pun bahagia mendengar cerita yang disampaikan Thalhah.

Setelah mendengar berita keisalaman Abu bakar dan Thalhah ibn Abdillah, Naufal ibn al-‘Adawiah , saat itu ia dijuluki Singa Quraisy  menangkap dan mengikat mereka berdua pada satu tali dan Bani Tayyim tidak melindunginya dan membiarkanya, oleh sebab itu Abu Bakar dan thalhah ibn disebut dengan al-Qarinain (dua orang yang bersaudara ). Olehkerena itu nabi berdoa “Ya Allah lindungilah kami dari (kejahatan putera al-‘Adawiah”
Shuhaib Ar Rumi, dia adalah seorang budak. 'Amar ibn Yasir Al 'Anasy, dan ibunya (Sami'ah). 'Amar ibn yasir berkata : "saya melihat Rasululloh saw, beliau tidak bersama siapapun lima hamba sahaya, duaorang wanita dan Abu bakar".
Abdullah ibnu Mas'ud ia adalah pengembala kambing milik salah satu orang musyrik Quraisy. Saat ia melihat ayat-ayat yang bersinar dan misi yang dibawa Rasululloh saw yang terdiri dari akhlaq yang mulia, maka ia meninggalkan menyembah berhala dan selalu bersama Rasulullah saw. Abdullah Ibnu Mas'ud adalah orang yang sering masuk kerumah Rasulullah saw seakan dengan  tanpa halangan dia sering berjalan bersama Rasulullah saw, menutupi saat Rasulullah saw mandi, membangunkan saat beliau tidur, memakaikan kedua alas kaki saat Rasulullah saw berdiri, dan ketika nabi Muhammad saw duduk maka Abdullah memasukkan kedua alas kaki nabi Muhammad saw pada kedua lengannya.
Abu Dzar al-Ghifari, beliau adalah orang arab badui, fasih dan manis tutur katanya. Saat ia mendengar bahwa nabi Muhammad saw telah diutus, maka ia mengutus saudaranya seraya berkata "Datanglah ke lembah ini (Makkah/Tihamah), lalu kabarilah saya tentang seorang laki-laki yang menyangka bahwa ia adalah seorang nabi dan mendengarkan berita dari langit dan dengarkanlah ucapannya kemudian datanglah padaku." Berangkatlah lelaki tersebut atas perintah Abu Dzar menuju ke Makkah dan mendengarkan perkataan nabi Muhammad saw. Kemudian ia kembali pada Abu Dzar dan berkata "Saya melihatnya memerintahkan berakhlaqul karimah dan ia berkata dengan perkataan yang bukan berbentuk sya'ir." Abi Dzar berkata "kamu tidak memuaskan keinginanku." Lalu Abu Dzar menyiapkan bekal dan menyiapkan Gereba yang berisi air. Sesampainya di Makkah ia langsung menuju Masjidil Haram dan mencari Nabi Muhammad saw, padahal ia belum mengenalnya.  Abi Dzar tidak mau bertanya tentang Nabi Muhammad saw karena ia tahu bahwa orang-orang Quraisy membenci pada setiap orang yang memanggil Rasulullah saw.

Ketika malam tiba , maka Ali melihatnya dan dia tahu bahwa Abi Dzar adalah seorang pengelana. Kemudian Ali mempersilahkannya untuk bermalam dirumahnya, mereka berdua sama-sama tidak bertanya tentang sesuatu (karena tradisi orang arab ketika ada tamu maka tidak akan bertanya pada tamunya tentang alasan kedatangannya kecuali setelah tiga hari). Setelah datang waktu pagi maka Abi Dzar membawa Gereba dan perbekalannya ke Masjidil Haram. Ia bertempat disana sampai sore hari untuk mencari nabi Muhammad saw namun saat itu ia tidak melihat beliau lalu ia kembali kepenginapannya dan bertemu dengan Ali. Ali berkata "Silahkan kembali ke tempat penginapan yang telah disediakan?".

Dihari ketiga Abu Dzar ditanya oleh Ali akan maksud kedatangannya  "Aku mohon engkau bercerita, sebenarnya apa maksud kedatangnmu?" Abi Dzar menjawab "Akan aku ceritakan maksud kedatanganku asal engkau berjanji mau memberitahuku akan Rasulullah."  Abu Dzar lantas bercerita tentang maksud kedatangannya, bahwa ia telah mendengar ada seorang nabi yang telah diutus didaerah makkah. Ali berkata "Sesungguhya berita itu benar, laki- laki itu adalah Rasulullah saw. Besok pagi ikutilah aku, jika aku berangkat maka ikutilah aku sampai masuk pada suatu tempat." Kemudian Ali Melakukan rencananya dan Abu Dzar  mengikuti hingga keduanya masuk di kediaman nabi Muhammad saw, begitu mendengar ucapan nabi, Abu Dzar langsung  masuk islam ditempat itu. Rasulullah berkata padanya "Kembalilah pada kaummu dan beritakan pada mereka sampai perkaraku datang." Abi Dzar berkata "Demi Dzat yang jiwaku dalam kekuasaannya sungguh aku akan menampakkan risalah ini diantara mereka."

Tak lama kemudian Abu Dzar keluar sampai datang ke Masjidil Haram kemudian ia berteriak dengan suaranya yang keras "Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya nabi Muhammad adalah utusan Allah." Mendengar perkataan itu orang-orang langsung memukulinya sampai ia terbaring dan Abbas datang dengan menelungkupkannya. Abbas berkata "Celaka kalian! Apakah kalian semua tidak tahu bahwa laki-laki ini berasal dari suku Ghifar sedangkan jalur perdagangan kalian ke negeri Syam melewatinya." Keesokan harinya Abu Dzar mengulangi kata- katanya dan lagi- lagi orang Quraisy memukulinya.
Sa'id ibn Zaid al-'Adawi Al Qurasyi dan istrinya Fathimah ibnti al-Khattab (saudari sahabat Umar) Ummul Fadhl, Lubabah ibnti al-Harist al-Hilaliyah beliau adalah istri Abbas ibn Abdul Muthallib, 'Ubaidah ibn al-Harist ibn Abdul Muthallib ibn Hasyim beliau adalah putra paman nabi Muhammad saw, Abu salamah ibn Abdil Asad al-Makdzumi al-Qurasyi, putera bibik, saudari ayahanda nabi Muhammad saw  dan istrinya. Ummu salamah, Utsman ibn madz'un dan Abdullah Arqam ibnu Abdil Arqam al-Makdzumi al-Qurasyi.
Khalid ibn Sa'id al-'Ash ibn Umayyah ibn Abdi Syams al-Umawi al-Qurasyi. Bapaknya, Sa'id adalah kepala kaum Quraisy. bahkan Saat Sa'id memakai surban, maka orang-orang Quraisy tidak berani mengenakan surbannya, karena untuk memuliakannya. Sebelum masuk islam, Khalid ibn Sa'id telah bermimpi di dalam tidurnya bahwa ia akan terjatuh kedalam neraka Hawiah, lalu dikejar oleh Rasulullah saw, dan Rasulullah menyelamatkannya. Kemudian khalid datang kepada Rasulullah saw dan bertanya I nabi Muhammad saw menjawab "Saya mengajakmu untuk beribadah kepada Allah swt Yang Maha Esa,  tiada sekutu bagi-Nya, serta untuk melepaskan ajaran yang kamu peluk yakni menyembah batu; karena batu- batu itu tidak mendengar dan tidak melihat, ia tidak membahayiakan dan tidak bermanfaat, berbuat baik kepada kedua orang tuamu, tidak membunuh anakmu karena takut fakir, tidak mendekati perbuatan keji baik yang tampak atau yang samar, tidak membunuh seseorang yang diharamkan Allah swt kecuali dengan hak, tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih baik sampai mencapai umur dewasa, menyempurnakan takaran atau timbangan dengan adil,  adil didalam ucapanmu walaupun engkau mengadili kerabatmu, menepati janji- janjimu. Berita masuk islamnya khalid sampaui terdengar pada ayahnya. Lalu ayahnya mengutus beberapa orang untuk mencarinya hingga sampai ketemu dan dibawa kepadanya. Akhirnya khalid tertangkap dan dibawa kehadapan ayahnya. ia disiksa Bahkan ayahnya berkata “Demi Allah!  saya tidak Akan memberimu makan”.  khalid menjawab “jika engkau tidak memberiku makan, maka aku akan hidup dengan rizki yang telah diberikan Allah.” Selepas itu Khalid pergi meninggalkan ayahnya.
Lalu ia pergi menuju Rasulullah saw, hidup bersama dan pergi bersembunyi dari ayahnya di lembah-lembah Makkah. Akhirnya keislaman Khalid diikuti oleh saudaranya Amr ibn Sa'id.

Demikianlah orang-orang mulia itu masuk islam padahal Rasulullah saw tidak mempunyai pedang yang digunakan untuk menaklukkan mereka. Nabi juga tidak mempunyai harta benda yang lebih, sehingga orang- orang mulia ini berani dan rela  meninggalkan orang tua mereka dan hidup bersama  nabi. Bahkan kebanyakan mereka lebih kaya dibanding Rasulullah saw seperti Abu Bakar, Utsman, Khalid ibn Sa’id dll.

Orang-orang yang mengikuti agama Rasulullah saw dari hamba sahaya justru memilih disiksa dan mengikuti Rasulullah saw padahal jika mereka ikut tuannya maka mereka lebih tentram hatinya dan lebih nikmat kehidupannya. Kalau kita mau berfikir secara adil , tanpa terbawa oleh rasa cinta fanatik serta tidak terbawa oleh rasa benci,maka kita bisa menyimpulkan bahwa Semua itu tidak lain hanya karena hidayah Allah swt yang telah dianugerahkan pada mereka sehingga mereka mampu memahami kesesatan agama yang telah diikutinya selama ini dan melihat kebenaran pada agama yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Jumlah orang sahabat yang masuk islam selama nabi berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi kurang lebih ada 46 orang. Mereka adalah sebagian orang – orang  yang mendapatkan gelar As Sabiqunal Awwalun ( orang yang pertama masuk islam ) mereka mendapatkan ampunan dari Allah swt sebagaimana termaktub di dalam Qs. At Taubat ayat 100

Artinya: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Dakwah sembunyi-sembunyi yang telah nabi lakukan selama 3 tahun. Saat beliau berusia kurang lebih 43 tahun, Bermula dengan diturunkannya Qs.Al Muddatsir ayat 2

Artinya: "Bangunlah, lalu berilah peringatan!"

  Dan perintah ini berakhir sampai Allah memerintahkan beliau berdakwah dengan terang-terangan dengan diturunkannya Qs. Al Hijr ayat 94

Artinya: "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik".

Pelajaran yang bisa dipetik atas dakwah secara samar yang dilakukan oleh beliau Nabi adalah sebagaimana kita ketahui bahwa nabi seakan- akan mengajarkan kepada kita bagaimana metode dakwah secara mendasar. Dakwah tidak harus dilakukan dengan menggunakan kekuatan militer maupun menggunakan Bom seperti yang telah dilakukan oleh islam garis keras. Nabi mencontohkan metode dakwah semacam ini tidak lain dengan mempertimbangkan realita keadaan yang ada disekitarnya. Pun pula menggunakan akal yang sehat setiap kali akan menentukan metode dan sarana yang paling tepat untuk mencapai maksud dan tujuan dakwah. Selain menjalankan semua bentuk ikhtiar, mereka juga tidak boleh lupa untk hanya bertawakal kepada Allah swt. Artinya seseorang yang menghendaki untuk melakukan dakwahnya jangan sampai mengandalkan kekuatan akal dan ikhtiar semata. Dan juga hanya bertawakal kapada Allah tanpa pernah berikhtiar. Sebab yang demikian ini akan mencemari ketulusan iman seseorang terhadap Allah swt apalagi menggunakan BOM. Tindakan seperti ini juga bertentangan dengan watak dakwah islam. Disinilah terlihat dengan jelas bahwa Muhammad bukan hanya sekedar nabi pembawa risalah melainkan Nabi yang ahli dalam mengatur kebijakan setrategi yang sudah dalam kapasitasnya sebagai seorang Nabi.

Post a Comment

0 Comments