Bagaimana Sikap Kiyai Nusantara Terhadap Wahabisme

Bagaimana Sikap Kiyai Nusantara Terhadap Wahabisme

Wahabisme (Wahabiyah) adalah gagasan dalam Islam yang dipromosikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1111-1206 H). Awalnya, pemahaman ini dikembangkan di Najd, wilayah Hijaz Timur (sekarang Arab Saudi). Berkat dukungan Muhammad bin Saud (emir wilayah Dar'iyyah, Hijaz, yang kemudian mendirikan kerajaan Arab Saudi), Wahhabisme berkembang di seluruh Hijaz, bahkan menjadi pemahaman resmi Kerajaan Arab Saudi, yang pada waktu itu " diekspor "ke seluruh dunia.

Gagasan utama Wahabisme adalah kemurnian tauhid: menyembah Tuhan tanpa unsur penyembahan pada berhala. Pada tingkat berikutnya, Wahabisme mempertimbangkan musyrik umat Islam yang mengunjungi makam, berwasilah (memohon untuk Tuhan melalui Nabi), memperingati kelahiran Nabi Muhammad, mencari berkah para roh suci, dan sebagainya.

Bagi Wahabisme, ritual tersebut adalah bid'ah (tindakan yang tidak dilakukan oleh Nabi dan tidak ditemukan dalam Al-Qur'an dan As-Sunah). Berdasarkan hadits "semua bidat sesat, dan semua bidah masuk neraka", maka Wahabisme yang merujuk pada Alquran dan Hadits secara harfiah menganggap umat Islam yang melakukan ritual dianggap sesat, kafir dan penyembah berhala.

Di sisi lain, banyak Muslim melakukan ritual seperti itu, termasuk Muslim di nusantara, yang merupakan anggota ahli Sunnah wal Jamaah. Pada saat itu, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan menulis buku berjudul Ad-Durar as-Suniyyah fi Radd 'al al-Wahabiyah (Mutiara Sunni dalam Konflik Wahlmicritic).

Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan (1232-1303 H.) adalah kyai dari Nusantara. Mufti Mazhab Syafi'i di Masjid Haram adalah murid dari Sheikh Nawawi al-Bantani, Kyai Muhammad Saleh Darat, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan Kyai Khalil Bangkalan. Dalam buku Ad-Durar as-Suniyyah f Radd 'al-Wahabiyah, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan di satu sisi membela  amaliyah Ahli Sunnah Wal Jamaah, dan di sisi lain mengkritik gagasan Wahabisme.

Ritual Sunni yang didukung oleh para guru Kyai Nusantara adalah di antaranya melakukan ziarah ke makam Nabi, tawasul, istighatsah, peringatan maulid Nabi, menghadap makam rasul sambil berdoa, syafaat, mendoakan orang mati dengan berdoa, dan mencari berkah dari yang mulia. Sisi Wahhabi yang dikritik oleh Sheikh adalah takfir dan masalah di balik kesalahan Wahabisme.

Buku Mahaguru Ulama Nusantara itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Agus Khudlori (alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir). Penerbit Turos Pustaka, Jakarta. Dalam cetakan pertama (2015), buku itu berjudul Menolak Sekolah Wahabi. Dalam cetakan kedua (2017), Perpustakaan Turos memberinya judul Note of Thought Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan tentang Wahabisme.

Perubahan pada judul harus dihargai. Karena, judul cetakan pertama tampak kurang elegan, dibandingkan dengan judul cetak kedua. Judul pertama lebih jelas menunjukkan isi umum buku, tetapi cenderung emosional. Sementara gelar kedua lebih netral dan terkesan akademis.

Buku terjemahan itu memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan teks aslinya. Sayid Ahmad menulis buku itu tanpa aliran, sementara penerjemah buku membuat bab-bab terpisah untuknya. Naskah asli buku itu penuh dengan pengulangan, sementara penerjemah membuatnya lebih sistematis sambil mengantisipasi pengulangan yang tidak perlu.

Buku ini penuh dengan argumen tekstual. Sangat penting untuk menghadapi Wahabi tekstual. Bagi Muslim Nusantara yang mencintai tahlilan, sholat, ziarah kubur dan orang saleh, buku ini bisa menjadi pedoman untuk menjalani ritual yang ada dengan argumen yang kuat.

Lebih dari itu, Wahhabisme sering mengklaim yang paling benar dan memaafkan orang lain. Pada tingkat tertentu, ini tidak hanya menimbulkan kesombongan agama, tetapi juga kekerasan atas nama Islam. Bukankah sikap seperti itu menciptakan kekacauan sosial dan merusak citra Islam? Pada titik itu, sebuah buku yang mengkritik sikap yang didorong oleh Wahhabisme penting untuk dibaca. 

Post a Comment

0 Comments