Mensistensi Sains Modern dan Cara Menjaga Islamisasi Sains Dengan Tidak Bersikap Sentimentil


Ada beberapa orang yang masih belum benar dalam memahami dan mempraktikkan islamisasi sains. Misalnya, mereka masih saja menolak dan mengklaim temuan ilmu alam (misalnya dalam hal ini astronomi) menggunakan teori konteks yang turun dari langit. Ini bukan suatu bentuk Islamisasi sains, melainkan suatu sikap sintesis terhadap sains.

Karena pada dasarnya islamisasi sains tidak terbatas pada mensintesis sains modern dengan ilmu langit, tetapi juga membangun pandangan kata baru yang bertumpu pada epistemologi Islam.

Sebagai seorang Muslim, saya percaya bahwa semua jenis produk ilmiah berasal dari Allah tersirat atau dinyatakan dalam Al-Quran (baca: Al-Ghazali, Ihya 'Ulumuddin, juz 1). Jadi, ini mungkin tidak ada dikotomi antara sains dan agama.

Perbedaan antara sains dan agama terletak pada metodenya. Jika sains menghubungkan terjadinya hal-hal dengan alasan yang secara rasional-empiris-dekat, sedangkan sains agama menghubungkan terjadinya sesuatu dengan sebab indoktrinasi dloruri, yakni Allah.

Jika seorang ahli agama ditanya mengapa hujan turun dari langit lalu menjawab itu adalah sunatullah yang tertulis dalam Al-Quran, jawaban ini tidak sepenuhnya benar. Berbeda jika orang yang menjelaskan ini adalah seorang ilmuwan, ia akan memberi jawaban misalnya, hujan turun karena ada proses matahari menyinari air di permukaan bumi, lalu menyebabkan air menguap ke langit, adakalanya terjadi pemadatan udara, ketika atmosfir tidak kuat menahan beratnya uap yang menggumpal lalu ia akan menjatuhkan cairan kembali ke bumi karena tarikan gravitasi.

PUSAT ILMU PENGETAHUAN

Sentimentil dari kata "sentimen" dalam KBBI ditafsirkan sebagai 1). pendapat atau pandangan seseorang yang didasarkan pada perasaan berlebihan terhadap sesuatu. 2). Emosi berlebihan. 3). Iri hati tidak bahagia dan benci. 4). Reaksi yang tidak menyenangkan.

Sikap sentimen terhadap sains dapat diartikan juga sebagai keputusan dalam menyikapi perbedaan sains dan agama, disertai dengan ledakan perasaan emosi, kecemburuan, balas dendam yang berlebihan. Sehingga ia menolak kebenaran sains yang terbukti. Sikap seperti itu jauh dari nilai kebenaran. Jika Anda tidak setuju dengan sains, Anda harus menjaga kode etik untuk toleransi sains. Jangan membantah temuan sains dengan menggedor argumen Tuhan.

ILMU PENGETAHUAN ISLAM

Dalam bahasa Arab, istilah Islamisasi ilmu pengetahuan dikenal sebagai "Islamiyat al ma'rifat" dalam bahasa Inggris disebut "Islamization of knowledge". Islamisasi sendiri adalah istilah yang menggambarkan berbagai upaya dan pendekatan antara etika Islam dan berbagai bidang pemikiran modern. Banyak cendekiawan Muslim telah memfokuskan diri pada upaya mengislamisasi sains, termasuk Syekh Muhammad Naquib al-Attas, Isma'il Raji al-Faruqi, Ziauddin sadar.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa istilah Islamisasi ilmu pengetahuan melalui pendekatan sains dan upaya menyatukan sains Islam yang di dalamnya tentu tetap mempertimbangkan aspek nilai, wahyu dan sifat. Tidak dalam sikap yang tidak berlebihan, seperti sentimentil dengan berpikiran tertutup terhadap sains modern terutama ilmu pengetahuan yang datang dari barat. Jika ada sesuatu yang salah, tentunya bukan pada jenis pengetahuannya, tetapi lebih pada siapa yang menggunakannya dan untuk apa pengetahuan itu diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Wallahu a'lam

Post a Comment

0 Comments