Soal Pembakaran Bendera HTI, Ustadz Abdus Shomad Ternyata Seorang Muslim Moderat


Tidaklah suatu peristiwa besar di dalam agama Islam terjadi melainkan untuk ‘menguji’ sampai dimana batas toleransi dan ilmu pengetahuan seorang muslim pada agamanya.

Nabi Muhammad Saw subuh-subuh setelah turun dari langit membawa kabar berita kepada halayak Makkah untuk melaksanakan solat lima waktu sehari semalam, peristiwa isro mikroj ini begitu menggemparkan, sehingga Muhammad dilecehkan oleh kapir Quraisy.

Ada seorang kapir yang kemudian datang dihadapan Nabi, mengatakan 'wahai Muhammad coba engkau angkat kaki kananmu, lalu Nabi mengangkatnya, lalu 'angkat juga kaki kirimu', Nabi terdiam, kata Nabi, jika aku mengakat kedua kaki ku maka aku akan jatuh. dengan tertawa penuh kemenangan si kapir ini berteriak, wahai Muhammad, untuk mengangkat kedua kakimu saja engkau tidak bisa apalagi jika engkau terbang sampai ke langit ke tujuh.

Peristiwa Isro Mikroj ini sekaligus menandai 'ujian' Allah terhadap keimanan seorang Muslim, karena munculnya peristiwa inilah, banyak orang muslim yang baru saja masuk islam telah murtad keluar lagi dari Islam.

Para Sahabat kebingungan mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad telah sampai dari langit ke tujuh pada subuh tadi, percaya tapi setengah percaya, akhirnya merekapun ragu-ragu akan kebenaran berita tersebut lalu sekonyong-konyong datang kepada Abu Bakar, mereka memutuskan untuk pergi kepada Abu Bakar dan menceritakan perihal tersebut.

Apakah Abu Bakar percaya kepada omongannya Muhammmad? begitu kira-kira pertanyaan para Sahabat, apa jawaban dari Abu Bakar, “Jika ia (Muhammad Saw) berkata demikian, maka itu benar”. Sehingga Nabi menjuluki Abu Bakar dengan sebuah Hadis yang terkenal,  “Seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya lebih berat iman Abu Bakar.”

Apa yang sesungguhnya terjadi pada kasus pembakaran bendera HTI yang dibakar oleh kaum pemuda Banser pada hari santri 22 Oktober, sesungguhnya tak lain untuk 'menguji' sampai dimana batas keimanan seseorang. Dalam hal ini saya tertarik untuk membasas dan menempatkan UAS atau Ustadz Abdus Shomad dalam menilai bagaimana ia menanggapi peristiwa besar ini, apakah ia akan lebih cenderung ke HTI ataukah masih berjiwa NU?

Pernyataan miring beberapa kawan saya soal UAS dengan mengatakan “Jangan dengarkan UAS karena dia HTI Pendukung Khilafah” pada hari ini terjawab sudah, ternyata UAS tidak mendukung khilafah yang semestinya, justru pada kasus pembakaran bendera itu, UAS menyebutkan bahwa memang ada 3 Madzhab yang memperbolehkan untuk ‘membakar’ tulisan lafadz jalalah atau tulisan agung demi menghormatinya. Hal senada yang jauh2 hari juga sudah disampaikan oleh ketua umum PBNU Said Aqil Siradj.

UAS cenderung berada ditengah sebagai muslim moderat yang tidak mau terlalu ekstrim (pundamentalis) atau terlalu ke kiri (liberalis), Pada Ahirnya UAS juga mendukung agar orang yang membakar bendera HTI untuk disuruh bertaubat karena bagaimanapun disana ada lafadz Allah yang diagungkan, tapi sekaligus menyeru agar sekelompok umat islam jangan memfitnah banser yang merupakan basis dari santri yang membakar bendera.

Peristiwa pembakaran bendera HTI menyimpulkan beberapa makna dari saya, tentang UAS, pikiran saya agak sedikit berubah kali ini, ternyata UAS bukan seperti yang saya duga selama ini, ia memang berkarakter dan berjiwa Ahlus Sunnah wal Jamaah dan berjiwa NU. UAS ingin mengikuti perintah Allah untuk tetap berada di tengah (moderat) tidak terlalu condong ke HTI atau FPI juga tidak terlalu condong ke NU agar dirinya bisa diterima semua kalangan “Allah berfirman: “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu, ummatan wasathan”.

Wasathon: Umat pertengahan. Sumber lengkapnya bisa anda saksikan di video ini

Post a Comment

0 Comments